Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Stay With Me


__ADS_3

"Berdansalah denganku."


Semua orang ternganga menatap ke arah pria itu. Agak mengherankan bagi mereka yang mengenal sosok Logan yang dingin mau meminta hal seperti itu pada orang lain. Kenan saja sampai tak percaya, dan nenatap wajah pria itu lamat-lamat.


"Tapi, Kak," buru-buru Jeane berdiri dan protes. "Aku yang mengajak Kak Anna duluan."


"Tidak! Aku yang ingin berdansa dengan Kak Anna!" Jane tidak mau kalah.


Kedua gadis itu menjadi ribut lagi untuk memperebutkan Anna, sehingga Aurellie jadi kewalahan dan bingung.


"Diam!" seru Logan, bentakkannya membuat kedua gadis itu bungkam. "Aku suaminya, jadi akulah pasangannya—seperti orangtua kalian."


Logan menepuk-tepuk dadanya sambil berkata tegas. Si kembar jadi kuyu, kecewa karena Anna tidak bisa berpasangan dengan mereka. Melihat mereka beraksi begitu, Anna jadi iba.


"Terus, siapa yang mau berpasangan denganku?" ratap Jeane, yang juga ditimpali anggukan oleh Jane.


"Sama aku aja!" seru Kenan, mengacungkan tangannya. "Aku tidak ada pasangan nih. Kalian berdua mau berpasangan sama aku?" Jeane dan Jane sontak menegakkan badan dan menoleh pada Kenan dengan mata membulat.


"Dansa bertiga?" tanya Jeane, heran. Kenan mengangguk sebagai jawaban.


"Iya. Bisa kok berdansa bertiga. Mau nggak?"


Aurellie tersenyum. Untuk mendukung keputusan Kenan, ia berdiri dan berseru riang. "Nah! Karena sudah punya pasangan masing-masing, gimana kalau mulai aja dansanya? Juan, pasang musiknya!"


Pria bule berambut pirang itu mengacungkan jempol, lantas menghampiri laptop yang sudah terpasang oleh speaker berukuran sedang yang ada di meja lain. Kenan menghampiri kedua gadis kembar itu, mengajak mereka ke tempat yang lapang.


Kini, meja itu hanya tinggal Anna dan Logan, yang saling menatap dengan isi pikiran yang berbeda. Logan mengulurkan tangannya, dan Anna menatap ragu uluran tangan itu. Anna memandang Logan yang wajahnya memerah, serta matanya yang agak berat untuk dibuka. Pria itu mabuk?

__ADS_1


"Kamu yakin mau berdansa denganku?" tanya Anna. "Kamu sedang mabuk."


"Aku tidak mabuk!" tukas Logan langsung.


Bantahan yang tetap saja meragukan Anna. Namun, pria itu memaksa. Logan meraih tangan Anna, kemudian diletakkan di atas telapak tangan besarnya. Logan menghelanya agar mau berdiri dan membawanya ke lantai dansa.


Aurellie dan Juan memasuki lantai dansa, musik riang diputar. Logan melingkarkan tangannya ke pinggang Anna, sementara tangan kanannya menggenggam tangannya yang lain. Keduanya bergerak perlahan, seakan ini adalah dansa dengan musik romantis.


Hal ini menarik perhatian Kenan. Padahal, ia yang bermaksud mengajak Anna untuk menjadi pasangan dansanya, tapi tidak bisa membantah karena Logan yang menawarkan Anna. Dan lagi Logan menegaskan bahwa Anna adalah "istrinya". Tentu, ia tak berkutik.


Anna canggung dan bingung. Ia tak berani menatap Logan yang sedang menatapnya. Jantungnya berdebar tak terkendali, langkahnya kikuk dan kaku.


"Ada apa dengan wajahmu, sampai segan menatapku?" tanya Logan, setengah bergumam.


"Tidak ada," jawab Anna, masih menunduk dan suaranya agak bergetar.


Entah ini gimmick atau bukan, Logan melepaskan genggaman tangan kanannya, lalu dia menghela dagu Anna ke atas secara perlahan agar ia bisa menatapnya. Anna tertegun, wajahnya memerah. Tatapan pria itu tak bisa dibacanya, sehingga ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Logan padanya.


Jarak bibir mereka tinggal satu senti. Anna tidak sanggup memenjamkan mata, membiarkannya menatap wajah pria itu. Ia menunggu Logan mengecup bibirnya. Akan tetapi, yang terjadi kepala Logan tiba-tiba terjatuh ke pundak Anna.


Mata Anna mendelik, spontan menahan badan Logan yang berat, memekik pelan. "Logan! Logan!" seru Anna, menepuk pelan bahu pria itu.


Aurellie dan Juan berhenti berdansa, begitu juga dengan Kenan dan si kembar. Mereka menghampiri Anna dan Logan, kecuali si kembar, lalu Kenan dengan sigap membantu menopang tubuh Logan. Akan tetapi, Logan menepisnya, bersusah payah menegakkan badannya.


"Jangan sentuh aku! Dan jangan sentuh istriku!" sergahnya, menunjuk pada Kenan.


Kenan mengangkat kedua tangannya, tercengang. Aurellie dan Juan saling berpandangan, heran dengan sikap Logan. Mereka menyadari raut wajah tak senang Logan terlihat sejak kedatangan Kenan. Apa Logan dan Kenan sedang ada masalah?

__ADS_1


Anna jadi jengah dengan sikap pria itu, dan buru-buru berkata, "Maaf, saya permisi ke kamar dulu. Sepertinya, Logan agak sedikit mabuk."


"Apa mau saya bantu, Anna?" tanya Juan.


"Tidak apa-apa. Saya akan membawanya ke sana sendiri," sahut Anna, menyeringai enggan.


Aurellie khawatir. "Tidak, Juan akan membantumu. Tubuh Logan kan berat, apalagi kau sedang hamil. Takutnya kau terjatuh karena tidak bisa menahan badannya."


Itu juga yang dikhawatirkan Anna. Akhirnya, ia mengangguk setuju pada ide Aurellie. Lalu, Juan meletakkan tangan Logan di pundaknya, merangkul pria itu sambil membawanya keluar dari halaman belakang bersama dengan Anna.


Pembantu di rumah ini juga turut membantu dengan menunjukkan kamar untuk Logan dan Anna. Sesampainya di ranjang, Juan meletakkan tubuh Logan. Pria itu menghela napas setelah menopang tubuh Logan yang berat.


"Terima kasih, ya, Om," ucap Anna, tersenyum getir karena merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa. Kalau begitu, saya permisi keluar." Juan melangkah pergi dan menutup pintu kamar.


Anna menghela napas menatap pria itu sambil berkacak pinggang. "Udah dibikin ge-er, sekarang malah nyusahin orang kayak gini?" gerutu Anna, suaranya sengaja agak kencang karena yakin tidak ada satu pun yang mendengarnya. "Kenapa sih, harus pakai mabuk segala?" Anna melanjutkan omelannya. "Apa karena sangking kesalnya sama teman sendiri? Kenapa kamu harus peduli jika aku dekat dengan Kenan? Toh, aku juga nggak peduli kalau kamu balik lagi ke mantan kamu."


Anna mendengus, pandangannya teralihkan pada sepatu Logan. Lalu, beranjak ke ujung ranjang, bermaksud melepaskan sepatu dan kaus kaki pria itu, lalu meletakkannya ke sebuah rak yang ada di dekat pintu kamar. Ia menghampiri Logan lagi, merenggut sambil membuka jam tangan Logan.


"Ada aja!" dengusnya. "Mabuk siang bolong gini! Bisa nggak sih, menghilangkan kebiasaan ini? Benar ya kata Kenan. Bir bikin orang jadi aneh, tapi Logan masih juga meminumnya."


Di dalam hati, Anna jadi menyesali kebiasaan Logan ini. Seandainya Logan tidak mabuk saat pesta di kapal pesiar, mungkin kehamilan ini tidak terjadi. Ah! Tuhan melarang umatnya untuk mengatakan "seandainya". Yang terjadi waktu itu sudah berlalu, yang harus dilakukannya adalah menerima nasib. Selalu saja, ia tekankan begitu.


Hanya saja, Anna masih tidak rela menerima nasibnya. Punya suami ganteng, memang bukan nasib buruk bagi semua orang. Akan tetapi, Anna tidak menginginkan pernikahan karena paksaan. Sikap dingin pria itu membuatnya keki. Siapa yang akan tahan seperti itu?


Sudahlah.

__ADS_1


Balik lagi dalam kenyataan. Pesta belum usai, Anna ingin kembali bergabung ke dalam pesta itu. Lagian, mau ngapain lagi di sini? Melototin Logan tidur? Kayak kurang kerjaan aja.


Anna beranjak. Namun, tangan Logan dengan cepat menangkap tangannya. Anna tersentak dan langsung menoleh. Pria itu tidak membuka matanya, tetapi ia berkata seperti orang yang sedang mengigau. "Tetaplah di sini, bersama denganku."[]


__ADS_2