Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Salah Paham


__ADS_3

Tawa dua orang pria menggema di sebuah gudang yang sumpek. Anak dan bapak itu baru saja mengirim sebuah video dan pesan ke nomor ponsel Logan.


"Dia pasti panik," cemooh Tama, lalu tertawa lagi.


"Pasti dong," sahut Pak Manto, mengusap air mata yang ada di ujung matanya. "Sekarang, kita tunggu bagaimana reaksinya."


Yang benar saja, dalam beberapa menit, telepon masuk dari Logan muncul pada layar ponselnya. Mereka malah tertawa, alih-alih mengangkatnya.


"Biarkan saja dulu. Biar dia jadi mati kepanikan," kata Pak Manto, begitu nada deringnya berhenti berbunyi.


Namun, sepertinya Logan tidak tinggal diam. Dia mengirim sebuah pesan ke nomer pak Manto. Keduanya tertegun.


"Logan kirim pesan!" seru pak Manto.


"Baca, Pak!" suruh Tama, penasaran dengan isi pesan itu.


"Apa mau kalian? Kenapa kalian mengancam saya?"


"Ini ... kita balas atau tidak, Pak?" tanya Tama, setelah membaca pesan itu dan melirik bapaknya.


Pak Manto hening untuk menimbang tindakannya. "Kita balas saja."


Jemari Pak Manto bergerak lambat mengetik pesan itu. Tama jadi tak sabaran, dan berceletuk.


"Lama banget ngetik gitu doang!"


Pak Manto tersinggung sambil menatap Tama. "Bapak nggak kelihatan hurufnya. Lagipula, Bapak nggak kayak kamu, yang sibuk terus main hape." Sindirannya berhasil membuat Tama terdiam.


Akhirnya, pesan itu selesai diketiknya, kemudian ia kirim. Beginilah isi pesannya: "Tidak muluk-muluk sih. Tapi saya tidak yakin kalau Anda mau menurutinya."


Dan ini balasan dari Logan: "Kalian mau berapa? Saya akan berikan uang sebanyak apa pun yang kalian minta."


"Oh. Jadi dia benar-benar serius, ya? Oke," gumam Pak Manto, mencemooh, lalu mengetik pesan lagi.


"Pabrik gula di Purwakarta itu, apa Anda sudah menjualnya?"


"Apa hubungannya dengan Anda?" Balas Logan dengan cepat.


"Begini saja. Jika Anda tidak menjual pabrik itu, saya akan menghapus semua rekaman video itu. Tapi kalau Anda menolak, jangan salahkan saya kalau video itu tersebar."


"Brengsek! Jangan main-main dengan saya!" Logan meradang.


"Saya sangat serius, lho. Coba Anda pikirkan lagi hal ini baik-baik!"


Pak Manto tersenyum puas setelah mengirimkan pesan terakhirnya. Lantas, ia membuka ponselnya, mengambil sebuah sim card, lalu mematahkannya.


Tama yang bingung pun bertanya, "Kenapa dipatahin, Pak?"


"Dia pasti bakal melacak kita dan menghubungi polisi," jawab Pak Manto, mengacungkan kartu sim yang sudah bengkok. Kemudian, benda itu dibuangnya.


"Oh, iya," sahut Tama setuju sambil manggut-manggut dan tersenyum. "Bapak pintar juga, ya?"


"Iya, dong. Siapa dulu? Pak Manto!" sahut pria setengah baya itu membanggakan diri.


"Iya, iya. Eh! Tapi, Pak. Kalau Logan mau menghubungi kita, bagaimana? Kan sim card-nya dibuang."


Tama itu kadang pikirannya agak lambat, tapi tidak bodoh juga. Ucapan polosnya itu memang benar adanya, dan pak Manto terhenyak setelah memikirkan ulang.


"Aduh!" Pak Manto menepuk jidat. "Benar juga. Eh! Tapi nggak usah khawatir, masih ada waktu buat kita untuk bernegosiasi dengannya. Kalau dia masih tidak mau menyetujui kesepakatan kita—"


Dikeluarkannya flash disk dari saku bajunya, lalu diacungkannya sambil tersenyum licik. "Benda ini yang akan beraksi nanti. Kita buat pria itu hancur dan menyesal akan keputusannya."


"Iya!" sahut Tama, mengangguk mantap.


...🍀...


Logan kembali ke ruangan dengan ekspresi gusar. Kenan langsung menoleh padanya, begitu ia memasuki ruangan. Namun, Kenan heran melihat reaksi pria itu setelah keluar tadi. Apa pesan yang diterimanya tadi membuatnya suasana hatinya jadi buruk?


"Maaf, Pak Edo sudah menunggu lama," kata Logan sungkan, berusaha ramah.


"Tidak apa-apa, Pak Logan," jawab pria bertubuh gemuk itu, diselingi oleh tawa. "Jadi, bagaimana kesepakatan kita soal pabrik ini?"


Logan terdiam cukup lama memikirkan keputusan apa yang diambil. Pasalnya, ia cukup ciut juga dengan ancaman dari orang misterius itu.

__ADS_1


Orang-orang yang ada di ruangan mengernyit heran melihat Logan yang cukup lama hening. Kenan pun berinisiatif menyenggol lengannya pelan, lalu mendekati wajahnya sambil berbisik:


"Cepat, apa keputusan yang kamu ambil? Mereka sepertinya sudah tidak sabar."


Logan menoleh sedikit sambil mendengarkan, lalu melirik pak Edo. Sepertinya, yang dikatakan Kenan memang benar. Ia tidak boleh membuang waktu seorang pebisnis ulung itu.


"Baiklah, Pak. Maaf, sebelumnya. Tapi setelah saya berpikir ulang, saya menunda penjualan pabrik itu dulu," kata Logan, praktis membuat semua orang menoleh kaget padanya.


"Logan?" tegur Kenan, yang sama sekali tak mengerti dengan jalan pikiran pria itu.


Pak Edo tampak marah, lalu berseru keras. "Apa yang Anda lakukan? Anda baru saja meminta saya untuk cepat-cepat membeli tanah itu. Tapi kenapa sekarang berubah pikiran? Anda benar-benar sudah membuang-buang waktu saya!"


Logan tak mengatakan apa pun, bahkan tak meminta maaf. Pria tua itu langsung berdiri dengan bantuan tongkatnya, lalu meninggalkan ruangan ini dengan ekspresi tak senang sambil memaki-maki.


Tak ada yang bisa dilakukan lagi. Logan menghela napas sambil bersandar di punggung sofa, sementara Kenan menatapnya dengan heran bercampur kesal.


"Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba begini?" tanya Kenan, agak sewot.


Seandainya Kenan tahu bahwa wanita yang didekatinya saat ini berkomplot dengan pria yang mengancamnya. Namun, ia tidak mungkin menjelaskan hal itu.


Logan menghela napas, keluar dari ruangan ini, tak mengindahkan pertanyaan Kenan. Tentu saja, Kenan jadi kesal. Dia menyusul sambil berseru memanggilnya.


"Logan! Logan!"


Kenan berhasil meraih pundaknya, membuat Logan berhenti melangkah dan menoleh padanya sedikit.


"Jelaskan padaku dulu!"


"Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun!" tukas Logan dingin, dengan geram tertahan.


Jika sudah begitu, Kenan tidak bisa memaksa. Mungkin memang butuh waktu bagi pria itu untuk tenang dan menceritakan hal yang membuatnya segeram ini.


...☘...


Tak hentinya Nina mengulas senyum ketika melihat jejeran gaun-gaun cantik, sampai ia bingung untuk memilihnya.


"Tante," katanya, menghampiri Elina yang sedang melihat sebuah tuxedo yang disodorkan oleh seorang pegawai butik. "Bagus tidak gaunnya?"


"Bagus kok."


Namun, Nina masih ingin melihat-lihat gaun yang lain. Maka, ia pun berbalik, menghampiri rak lain.


"Mama. Mama."


Elina tertegun mendengar suara seorang anak lelaki. Ia menoleh ke arah lain, mencari sumber suara itu.


"Mama. Mama." Suara itu kembali terdengar. Air muka Elina sontak berubah menjadi pucat.


"Morgan?" gumamnya, lalu tanpa sadar melangkah meninggalkan tempat itu.


Kakinya membawanya entah ke mana, seperti orang linglung sambil memanggil-manggil, "Morgan, Morgan. Kamu di mana, Nak?"


Elina sudah keluar dari area butik, berjalan di trotoar. Keringat mengalir mengalir di seluruh tubuhnya, terisak, terus memanggil nama anaknya.


"Mama, Mama...."


"MORGAN! MORGAN!" jerit Elina histeris.


Semua orang yang sedang berada di sekitar jalan menatap aneh padanya, bahkan tak mau mendekat karena menyangka Elina orang stress.


Denyut di kepalanya timbul. Elina memegangi kepalanya, lalu perlahan jatuh berlutut di atas trotoar yang keras.


"Morgan ... Morgan ... Kamu di mana...," lirihnya parau karena isakan. "Mama kangen kamu, Nak ... Jangan pergi...."


Di saat semua orang tak peduli dan hanya menatap, ada seorang wanita muda bergegas menghampirinya. Terasa tangan hangat menyentuh pundaknya. Suara lembut yang terdengar cemas menyapa.


"Ibu kenapa?" tanyanya.


Elina menoleh, matanya yang nanar menatap gadis manis asing, tenggelam dalam keterpanaannya.


"Saya Anna. Ibu nggak usah khawatir, saya bukan orang jahat," kata gadis itu. "Ayo, kita cari tempat duduk yang nyaman. Wajah Ibu pucat banget."


Gadis itu seakan memiliki sihir. Ketika tangannya gadis itu menghelanya untuk beranjak, Elina menurut. Ia pun tak masalah saat Anna membawanya ke sebuah warung kecil yang terdapat sebuah kursi panjang dan tempat nan teduh.

__ADS_1


Anna membelikan dua botol air mineral dingin, yang kemudian diberikan pada Elina. Anna melirik ke arah tas tangan Elina karena mendengar suara dering ponsel wanita itu.


"Bu, hape-nya bunyi. Mungkin telepon dari anak Ibu," tutur Anna lembut. "Lebih baik, Ibu angkat dulu teleponnya. Anak Ibu pasti panik mencari-cari Ibu."


Elina menatap Anna seraya memikirkan ucapannya, yang menurutnya ada benarnya. Lantas, dikeluarkan ponselnya dari dalam tas.


"Halo."


"Mama di mana?" sahut seorang pria di sana, suaranya terdengar panik. "Kok Mama pergi tiba-tiba gitu sih?"


"Maaf, ya, Sayang. Mama akan kembali ke butik. Kamu jangan khawatir, ya."


"Tidak. Biar aku yang jemput Mama ke sana. Sekarang, aku sedang berada di jalan."


Elina terdiam, lirikan matanya mengarah pada Anna yang tengah memainkan ponselnya. "Tidak usah. Lebih baik, kamu tetap di kantor saja," tutupnya.


Anna menyimpan kembali ponselnya di dalam tas. "Tante, saya akan temani Tante ke sana, ya."


Elina tersenyum lembut, sehingga guratan kecantikannya terpancar. "Apa tidak merepotkan?"


Gadis itu menggeleng dan tersenyum tulus. "Nggak kok. Kenapa harus merasa direpotkan? Saya nggak tega melihat Ibu di jalan sendirian dalam keadaan kayak tadi."


"Ya, sudah. Kalau begitu, bisa antarkan saya ke butik Eleanor?"


.


.


.


Logan sudah ada di butik, menunggu dengan resah sambil berjalan mondar-mandir. Nina duduk di sebuah sofa putih, melirik Logan dengan cemas.


Lalu, Nina beranjak dari sofa, menghampiri Logan. Kedua tangannya mengusap lembut lengan kanan kekar pria itu. "Logan, ayo duduk. Percaya deh sama Tante Elina, dia pasti bisa ke sini sendiri dengan selamat."


Logan menoleh. Ketika menatap paras cantik kekasihnya, amarahnya ditahannya. "Bagaimana aku nggak cemas. Mama itu—"


Suara bel di pintu masuk membuat Logan dan Nina menoleh. Elina dan Anna muncul dari sana. Ibunya menatap Logan dengan tersenyum, tetapi Logan malah tercengang melihat ibunya bersama dengan Anna.


"Mama," panggil Logan, langkahnya yang panjang dan cepat menghampiri sang ibu, lalu langsung memeluknya.


Logan langsung memberondong pertanyaan, setelah melepas pelukannya. "Mama ke mana aja? Kenapa Mama menghilang tiba-tiba?"


Elina tahu anaknya sangat cemas. Maka, ia pun tersenyum untuk menenangkannya. "Nanti Mama ceritakan. Oh, iya! Ini Anna. Dia yang sudah menyelamatkan Mama tadi."


Tatapan yang tidak ramah, dan Anna menyadari hal itu. Seolah bara api kemarahan menyala di mata pria itu dan rahangnya pun mengeras.


Tanpa menoleh pada Elina, Logan berkata dengan geram tertahan. "Mama sama Nina dulu, ada yang mau aku bicarakan dengan gadis ini."


Ada apa ini? Elina tercengang melihat tatapan tak biasa Logan pada Anna, apalagi Logan membawanya pergi.


Setelah mereka sampai di luar, Logan menggenggam lengan Anna, menariknya dengan kasar ke sebuah tempat yang agak jauh dari butik.


Anna meronta dan menjerit. "Lepaskan saya! Tangan sakit, Pak!"


Logan menghempaskan tangannya, begitu mereka sampai di tempat parkir yang sepi. "Jadi, ini cara licik kamu untuk mengancam saya?" tuduh Logan, geram.


"Mengancam?" Anna mengernyit. "Apa maksud Bapak?"


Logan memperlihatkan beberapa buah pesan dari nomer misterius pada Anna. "Ini hasil perbuatan kamu, 'kan?"


Anna tercengang melihat cuplikan video pemerkosaan yang dilakukan Logan padanya waktu itu. Setelah itu, ia menatap pria itu lagi.


"Pak, Demi Allah, saya tidak melakukan hal itu," terang Anna. "Lagipula, saya tidak punya nomor Bapak—"


Tanpa dapat dihindari, Logan memegang kedua lengan Anna, dan refleks mendorong tubuhnya hingga membentur tembok.


"JANGAN SEBUT-SEBUT NAMA TUHAN!" potongnya. "Apalagi dengan sumpah atas perbuatan tercela kamu!"


Kenan yang baru saja kembali ke butik setelah pencarian Elina, melihat Logan dan Anna di sana. Ia terkejut dan sontak menghampiri mereka, kala melihat Logan mendorong Anna.


"Logan! Apa-apaan ini?!"


Logan dan Anna spontan menoleh pada Kenan.[]

__ADS_1


__ADS_2