Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Tidak Mungkin!


__ADS_3

Anna menutup matanya erat, menahan sakit akibat tubuhnya dihentakkan oleh Logan ke dinding. Ia menjerit kecil, menatap wajah tampan itu dengan mata menyala-nyala.


"JANGAN SEBUT-SEBUT NAMA TUHAN!" bentak Logan. "Apalagi dengan sumpah atas perbuatan tercela kamu!"


Tercela? Rahang Anna mengeras, lalu memberontak sebisanya. Namun, pria semakin mempererat pegangannya hingga Anna merasa kesakitan.


"Lepaskan saya! Anda sudah keterlaluan, Tuan Logan yang terhormat!" sergah Anna. "Saya lelah mengulang kata yang sama, kalau 'saya tidak menjebak Anda'! Saya juga korban. Anda memperkosa saya, kenapa saya yang Anda salahkan? Anda bilang saya menjebak Anda? Apa untungnya buat saya? Kenapa saya melakukan itu?" Anna menyipitkan mata, lalu berkata agak berbisik dengan nada sinis. "Tuduhan Anda tidak berdasar!"


"DIAM!" teriak Logan membentak, menggoncangkan tubuh Anna dengan keras hingga kepala belakang Anna terantuk ke dinding.


Benci, itulah yang tercermin dari kedua tatapan mata dua insan itu, seakan tidak akan ada kata "damai" di antara mereka.


Kenan baru saja sampai di butik, menyusul karena diberitahukan bahwa Elina sudah ditemukan. Gema bentakan Logan terdengar, dan ia langsung mengernyit sambil mendekati arah suara.


"Logan lagi bentak siapa, ya?" gumamnya, melangkah dengan cepat.


Alangkah terkejutnya Kenan saat melihat Logan tengah berlaku kasar pada Anna. "Logan! Apa-apaan ini?!" seru Kenan geram.


Kenan berjalan cepat menghampiri mereka. Tangan Logan yang menggenggam lengan Anna langsung dihempaskan kasar oleh Kenan.


"Kenapa kamu kasar sama dia?" tanya Kenan.


Logan membuka mulut sambil menunjuk pada Anna. "Dia—" Namun tiba-tiba, Logan bungkam karena tak mungkin mengungkapkan aibnya.


Anna tahu Logan enggan mengatakan hal yang sebenarnya. Maka, ia menyela, "Nggak ada masalah apa-apa kok."


Kenan menoleh pada Anna. "Kalau nggak ada masalah apa-apa, kenapa Logan berbuat kasar sama kamu?"


Anna mengatupkan bibirnya, terdiam dalam beberapa saat. "Em ... cuma salah paham aja kok."


Logan tersenyum sinis. Harus ia akui, wanita itu memang pandai membaca situasi. Ia sendiri juga akan bertindak, daripada keceplosan lagi nanti.


"Kenan," katanya, lalu melirik Anna dengan senyum mencemooh. "Sebelum memilih pasangan, sebaiknya kamu harus mengenalnya lebih jauh lagi, dan ... hati-hati."


Anna menggigit bibir bawahnya, geram menatap kepergian pria itu. Tentu saja ia tahu, kalau ucapan itu sindiran untuknya.


"Dia ngomong apa sih?" tanya Kenan heran, memperhatikan sahabatnya itu menjauh. Kemudian, Kenan menoleh pada Anna. "Eh, iya! Kamu tidak apa-apa?"


Anna menggeleng, tersenyum hambar. "Aku baik-baik aja."


"Maaf, ya. Dia emang agak sensitif kalau terjadi sesuatu sama tante Elina—" Lalu, Kenan tiba-tiba teringat pada sesuatu. "Oh, iya! Bagaimana kabarnya tante Elina, ya? Katanya sudah ketemu?"


"Iya, udah. Sekarang dia ada di dalam." Anna buru-buru menjawab.


Kenan mengernyit, heran. "Kok kamu tahu?"


"Soalnya, aku yang menemukan tante Elina di jalan," ujar Anna. "Kondisinya memperihatinkan. Dia jongkok di trotoar dengan tangan memegang kepalanya, dan wajahnya pucat. Kelihatan seperti linglung gitu."


Kenan juga tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya Logan. Ia berpikir cukup keras, hingga akhirnya menyimpulkan bahwa Elina sedang tidak enak badan.


"Em, Kenan," panggil Anna kemudian. "Aku permisi mau balik ke kantor lagi. Next time kita ngobrol lagi."


Baru saja, Anna akan melangkahkan kaki, Kenan memanggilnya, dan spontan akan meraih tangannya. "Anna!" Lalu, Anna menoleh. "Biar aku antarkan kamu, ya."


"Nggak usah," tolak Anna. "Lebih baik kamu balik ke kantor aja."


Tuh kan ditolak lagi. Tapi Kenan tidak menyerah. "Bareng sekalian. Please, An. Jangan tolak kemurahan hati aku ini, ya."


Anna terkekeh. Pria ini benar-benar narsis sekali. Namun, melihat wajah Kenan yang memelas, ia jadi tidak enak hati. Lantas, ia menghela napas, terpaksa mengalah lagi.


"Ya, sudah." Anna mengatakannya sambil mengangguk.

__ADS_1


Kenan mengembangkan senyum gembiranya yang jarang tampak karena sudah berhari-hari tidak bertemu dengan gadis incarannya ini. "Ya, udah. Yuk, kita ke mobilku!"


Anna menggangguk. Dipersilakan Anna untuk jalan duluan menuju mobil mewah warna putih, lalu, ia menyusul dan berjalan di sampingnya dengan hati riang dan bersemangat.


Mobilnya terparkir tak jauh dari tempat ini. Begitu sampai di sana, Kenan membuka pintu mobil bagian samping kemudi untuk Anna, lalu ia bergegas masuk ke dalam mobil bagian kemudi.


Ketika mobil melaju meninggalkan butik, Kenan jadi gugup dan bingung. Topik pembicaraan apalagi yang akan ia angkat? Padahal, kemarin malam itu mereka cukup akrab.


Namun, sebuah ide meragukan muncul, dan Kenan tiba-tiba berceletuk, "Kamu sudah makan siang?"


Anna menoleh dan tersenyum simpul. "Udah tadi. Kenapa memangnya?"


Kenan memejamkan mata, jengkel dengan pertanyaan konyolnya. Ya, iyalah, Anna sudah makan. Jam makan siang kan sudah lewat.


"Ah, nggak apa-apa. Aku kira belum," jawabnya, menyeringai.


Namun, malah kejadian memalukan terjadi dalam sedetik kemudian. Suara perut Kenan yang keroncongan malah bunyi. Mana suaranya kencang lagi! Anna saja tertegun mendengarnya, lalu terkekeh sambil menutup mulutnya.


"Kamu belum makan siang?" tanya Anna.


Kenan nyengir malu. "Habisnya, karena Logan minta aku mencari tante Elina, aku nggak sempat makan siang."


"Ya, udah. Nanti, makan siang di kantin kantor aku aja," saran Anna.


Seketika, wajah Kenan berbinar cerah, seakan seperti mendapat harapan yang sangat besar. "Apa kamu mau nemanin aku makan?"


"Kayaknya, nggak deh." Anna menggeleng ragu sambil tersenyum getir.


Karena Anna harus menemani bu Eka menemui klien sambil makan siang, ia jadi tidak sempat salat. Rencananya, setelah ini ia akan ke mushola untuk salat dan langsung bekerja.


"Yah, Anna." Kenan memelas. "Kenapa sih kamu selalu menolak aku? Cuma minta ditemanin makan siang aja kok."


"Lho? Waktu ajakan makan malam kemarin, saya terima, 'kan?" sahut Anna polos.


Memang sih. Tapi Anna kembali ragu untuk dekat dengan pria ini, walaupun ia merasa kasihan juga dengan perjuangan tulusnya mau mendekatinya.


"Next time?" bujuk Anna, setelah beberapa saat berpikir.


Kenan menghela napas panjang. Pas sekali mobilnya berhenti karena lampu lalu lintas sedang menyala merah. Ia menoleh, menatap Anna lamat-lamat.


"Kurang dari satu jam ini, kamu udah dua kali bilang 'next time', lho," protesnya. "Apa nggak ada yang bisa ngomong yang lain selain kata 'itu'?"


"Oh? Bagaimana kalau 'lain kali'?" Anna mengatakannya sambil terkekeh.


"Sama aja, Mbak!" sahut Kenan, gemas. Kemudian, ia bergumam agak keras. "Pengin aku cubit deh, nih, pipinya!"


Anna tertawa kecil, lucu sekali Kenan berakting pura-pura merajuk seperti itu. Lampu hijau menyala, dan ketika mobil kembali dilajukan, Anna berkata dengan masih ada sisa tawa.


"Oke deh! Akan aku pikirkan kapan bisanya."


"Ah! Itu sih lebih parah lagi kasih harapan palsunya," celetuk Kenan. "Tapi, nggak apa deh. Cuma jangan protes kalau aku teror terus."


Selorohan Kenan membuat Anna terkekeh, kemudian mengangguk. "Hmm ... tapi, nggak janji."


🍀


Elina tengah menikmati teh hangat plus madu yang dihidangkan oleh pemilik butik. Ketika melihat Logan datang, langsung saja meletakkan cangkir teh di meja dan beranjak dari sofa.


"Mana Anna?" tanyanya, heran.


"Dia sudah pulang," jawab Logan setengah hati.

__ADS_1


"Logan," ujar Elina lembut, tangannya diletakkan pada lengan Logan, lalu dielusnya dengan lembut. "Anna gadis baik. Dia yang menemukan Mama di jalan, memberikan Mama minum, bahkan menawarkan diri untuk mengantarkan Mama."


Logan jengkel mendengar semua hal tentang gadis itu. Kalau saja Elina tahu, gadis yang dibicarakannya itu penipu yang sedang berusaha memerasnya bersama dengan kawanannya.


"Mama tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi Mama menjelaskan semua ini agar tidak terjadi salah paham," kata Elina lagi.


"Mama," gumam Logan, tatapannya melembut, meletakkan kedua tangannya di bahunya, berdiri agak membungkuk. "Kenapa Mama bisa tiba-tiba menghilang tadi?"


Itu juga yang ingin diketahui oleh Nina. Wanita itu berhenti menyesap tehnya, memasang telinga untuk mendengarkan jawaban dari Elina.


Elina terdiam, lalu melirik ke arah sekitar, terutama pada Nina. "Mama mau pulang dan istirahat. Kita bisa bicarakan hal ini nanti, ya."


Nina kecewa. Padahal, ia penasaran akan alasan yang membuat calon ibu mertuanya menghilang.


"Ya, sudah." Akhirnya, Logan setuju. "Kalau semua belanjaannya sudah dibayar, kita langsung pulang."


🍀


Anna membaringkan diri di ranjang, kakinya menjuntai ke bawah, digerakkan secara bergantian.


Tatapan yang mengarah ke langit- langit kamar, berubah menjadi sebuah lamunan, memikirkan sesuatu yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Sebuah kata terngiang di telinganya, yang diucapkan oleh Kenan.


"Sabtu besok, mau tidak menjadi pasanganku di pesta pertunangan Logan?"


Anna menghela napas dari mulutnya perlahan. "Mau sih. Tapi...." Mulutnya tiba-tiba menguap lebar. "Baru juga sore, tapi udah ngantuk," gumamnya.


Memang! Meskipun begitu, Anna tak langsung memejamkan matanya. Hal tadi masih terpikirkan dan dipertimbangkan matang-matang sebelum menyetujuinya.


Detik pun perlahan bergulir, mata Anna semakin berat, hingga tak sadar bahwa akhirnya ia terjatuh dalam tidurnya. Namun, seakan waktu berlalu dengan cepat, ia pun tersentak karena batuk.


Batuk yang datang tiba-tiba dan tanpa henti, membuatnya sampai ingin muntah. Buru-buru ia keluar kamar, menuruni tangga, lalu masuk ke kamar mandi.


Anna membungkuk di atas westafel, mengeluarkan semua isi perutnya yang tidak bisa ditahannya. Lalu, ia memutar keran, begitu air keluar, ia membasuh mulutnya.


Apa ini? Tidak pernah sekali pun Anna batuk sampai seperti ini. Apa jangan-jangan....


Anna menatap bayangannya di cermin yang separuhnya dipenuhi oleh uap. Raut wajah bingung dan ketakutan terlukis di sana.


"Nggak mungkin kan aku...."


Anna memegangi kepalanya. Gila rasanya memikirkan kemungkinan buruk yang sama sekali tidak diinginkannya.


Ia terhenyak, dan sontak menoleh pada pintu rumah yang diketuk. Siapa tamu yang datang? Kenapa tak ada seorang pun yang membukanya? Apa semua anggota keluarganya sedang pergi?


Anna keluar kamar mandi menuju ruang tamu. Langkahnya ragu, rumah ini seakan mencekam tak seperti biasanya. Ketika ia sampai di depan pintu, ia mematung dengan tangan mengarah ke handle pintu.


Mata Anna terpejam, rasa cemas itu dihempaskan sejauh mungkin. Ia berusaha untuk tenang, menarik napas dalam-dalam, lalu menghelanya. Barulah, ia menekan handle pintu dan membuka pintunya.


Ia tercengang mendapati seorang pria yang dari awal menatapnya sinis dan penuh kebencian, kini tersenyum menatapnya.


"Pak Logan? Ada apa Bapak ke sini? Dan dari mana Bapak tahu alamat rumah saya?" tanya Anna, semakin bingung.


Logan tak mengatakan apa pun. Setelah merogoh saku jasnya, Logan mengulurkan tangannya, memberikan sebuah benda pada Anna. Alih-alih menerima, Anna hanya melihatnya dengan mata mendelik.


Apa yang dilihat oleh Anna hingga membuatnya terkejut bukan main?


Sebuah test pack yang terdapat dua garis merah!


Ia mendongak, beralih tatapannya pada Logan dengan penuh tanda tanya. "Apa maksudnya ini?"


"Selamat. Kamu hamil Anna," jawab Logan, senyumnya melebar.

__ADS_1


"Apa?" gumam Anna, tidak percaya. "Tidak mungkin! Tidak mungkiiiiiin!"[]


__ADS_2