Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Kenyataan Yang Harus Diterima


__ADS_3

Pria keras kepala, bikin sebal. Anna tidak akan menurutinya. Setelah ganti baju tidur, ia tidak akan tidur seranjang dengannya.


Namun, ketika Anna baru selesai memakai gaun tidurnya, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Ia menoleh, terkejut sekejab, lalu kemudian tertawa keras melihat penampilan Logan yang muncul dari balik pintu.


"Tinggal pakai peci aja, terus pergi deh masjid buat solat jumat," cemooh Anna, di sela-sela tawanya.


Logan merenggut kesal. "Ya, habis mau gimana lagi? Celana ayah semuanya kekecilan dan kependekkan. Ya udah, mama kasih aku sarung. Tapi lagi pula, lumayan juga pakai ini, aku merasa bebas hanya dengan memakai ****** ***** saja "


Senyuman nakal Logan membuat Anna panik dan cemas. Ia berpikir bahwa pria itu akan melakukan sesuatu dengannya di ranjang ini, sementara dirinya sudah jijik padanya kerena Logan telah bercampur dengan Nina waktu itu.


"Aku mau tidur di kamar Tasya, kamu tidur di sini," kata Anna, dingin, sambil menutup pintu lemari.


Oh, tidak akan ia biarkan! Logan bergegas cepat mundur untuk menutup pintu kamar, lalu menguncinya. Anna kalah cepat, Logan mengacungkan anak kunci sambil tersenyum mencemooh. Ia semakin meledek gadis itu, dengan menyelipkan anak kunci di balik lipatan sarung yang ada di pinggangnya.


"Coba saja ambil. Maka kau akan melihat sesuatu yang bagus di balik sarung ini," ledek Logan, kepala Anna makin panas dibuatnya.


Anna mendesis panjang, melampiaskan kekesalan untuk menenangkan diri agar tidak marah dan jadi bahan ledekan Logan. Baiklah, terserah apa maunya Logan. Kini, ia lakukan kemauannya di sini.


"Kau ngapain?" tanya Logan, heran melihat Anna menggelar sebuah karpet dan kasur kapuk warna hijau di lantai. "Jangan bilang kamu mau tidur di sana. Nggak! Nggak boleh! Kamu mau membahayakan bayi kita?"


Logan renggut bantal yang dipegang Anna, lalu dilemparkan ke ranjang. Sangking geramnya, ia melipat kasur dengan ditendang-tendang, menggulung kembali karpetnya, dan meletakkannya kembali ke sudut ruangan dekat lemari.


Malam ini, tidak ada tawar menawar! Anna tidak boleh menolak jika Logan menggendongnya ke ranjang. Dan Logan tidak akan peduli, sekalipun Anna meronta ketika ia memeluknya sambil berbaring di ranjang.


"Logan, lepasin nggak?!" kata Anna, nadanya mengancam.


"Nggak dengar," olok Logan sambil memejamkan mata, malah mempererat pelukannya.


Pasrah, Anna hanya dapat mengernyit jengkel. Apa boleh buat, terpaksa ia tidur seranjang dengan pria itu meski kemarahannya akan sulit mereda dalam waktu lama.


Namun, percuma dipaksakan, ia tetap tidak bisa tidur. Jadi, untuk beberapa saat matanya nyalang. Pemandangan yang hanya bisa dilihat hanya wajah Logan. Akan tetapi, ia berusaha tak melihat wajah tampan itu, mengalihkan lirikannya ke bawah atau ke samping sampai bola matanya pegal.


Sulit sekali untuk tidak menatap wajah suaminya. Wajah oriental Logan memikat ketika sedang terpulas, sehingga Anna terhipnotis menatapnya dalam beberapa saat.


Ah! Apa yang kulakukan? Gumamnya dalam hati, tiba-tiba tersadar bahwa dirinya baru saja larut memandang wajah Logan. Ia kesal setengah mati. Bisa-bisanya tertarik pada wajah tampan pria itu. Daripada begini, lebih baik Anna memejamkan mata. Mungkin saja lama-lama ia ketiduran.


Ketika mata Anna sepenuhnya terpejam, giliran mata Logan yang menyalang. Rupanya, ia belum tidur sejak tadi. Ia menikmati keisengan yang dilakukannya pada Anna.

__ADS_1


Entah gadis itu sudah tidur atau tidak, Logan ingin memandangi lamat-lamat wajah Anna. Tangannya terangkat, akan diarahkan ke pipi Anna. Namun, ia tak mau membangunkan gadis itu, sehingga ia tarik kembali tangannya.


Bibirnya melengkungkan senyum, bahagia melihat wajah istrinya sedekat ini. Lalu, lama-lama senyumannya memudar. Kebahagiaan mereka masih belum sempurna karena kesalapahaman yang ada di antara mereka.


...💍 ...


Tahu Logan kembali ke Jakarta, Nina berencana menyusulnya. Ia bergegas membereskan barangnya, memesan tiket pesawat via online—tak peduli seberapa mahalnya.


Tita datang ke kamar di saat yang tepat. Ketika melihat Nina tergesa-gesa menyeret kopernya, sontak ia merentangkan kedua tangannya dan memblokir jalannya.


"Mau pergi ke mana lo?" cecar Tita, mengintimidasi.


"Mau balik ke Jakarta," jawab Nina. "Please, minggir. Gue udah pesan tiket, dan dua jam lagi pesawat mau berangkat nih!"


"Cancel tiketnya, gue mau bawa lo balik ke London."


Cukup tegas bagi Nina untuk tidak meneruskan langkahnya. "Kenapa gue harus ke London? Ada konser lagi? Kapan? Masih lama, 'kan?" cerocosnya, mencoba bernegosiasi.


Tita mendecak dan melipat kedua tangannya di dada. "Mau masih lama atau nggak, lo tetap harus ke London. Bahkan, lo nggak boleh lagi menginjakkan kaki lo di Jakarta!"


"Tapi gue juga sahabat lo," tukas Tita, tak terintimidasi sedikitpun dengan ucapan Nina yang bernada ancaman.


"Sahabat?" dengus Nina, tersenyum sinis. "Mana ada sahabat yang cuma demi keuntungannya sendiri? Lo nyuruh gue terima konser dengan alih-alih melupakan Logan."


"Itu semua memang demi lo, Nin," sangkal Tita cepat, tak terima dengan tudingan.


Namun, Nina tidak mau dengar, malah semakin jadi menyudutkan Tita. "Kalau aja lo dulu nggak nyuruh gue buat ikut lomba di London, yang nikah sama Logan itu gue, bukan Anna!"


Tita tersenyum menang, sementara Nina melotot dengan wajah memucat karena menyadari kelalaiannya. Akhirnya, Nina sendiri yang mengakui kesalahannya, Tita tak perlu mendesaknya lagi.


Pandangan Tita mengertaknya, sehingga Nina tak berani untuk menghadapinya dan berusaha menghindarinya. Tita tidak akan semudah itu membiarkannya lolos, sigap ia menghalangi Nina dan memegangi tangannya.


"Kapan ingatan lo balik? Apa lo cuma pura-pura amnesia?"


Seketika Warna rona wajah Nina memutih. Dia sadar keadaannya mulai terjepit, tetapi Nina tetap pada pendiriannya. "Ngomong apa sih lo?" alihnya, menghempas kasar pegangan tangan Tita.


Tita kembali meraih tangan Nina dengan cepat sembari berseru geram. "Nina! Tolong hentikan ini! Jangan ganggu rumah tangga Logan dan Anna."

__ADS_1


"Tau apa sih lo?!" jerit Nina meradang, hingga Tita hampir jatuh karena Nina menghempaskan dengan kuat. "Lo mana ngerti sama perasaan gue! Yang lo tau cuma uang dari hasil kerja keras gue."


"Justru gue yang lebih ngerti perasaan lo!" bentak Tita, tersulut untuk kemarahannya. Namun, kemudian ia mengela napas panjang. Tak bisa ia menghadapi Nina dalam keadaan begini. "Nina, gue pernah nanyain Logan begini: 'apa lo cinta sama Anna?' Dan lo mau tau apa jawabannya?"


Nina membeku dengan perasaan gugup, seakan firasat buruk muncul. Namun, keyakinannya bahwa Logan hanya mencintainya terlalu besar, sehingga jawaban yang akan didengarnya pasti "tidak".


"Dia bilang, 'iya, aku mencintai Anna'," lanjut Tita, raut wajah serius seperti yang diperlihatkan Logan padanya waktu itu.


Tita tahu bahwa hati Nina pasti hancur. Ia mendekati Nina yang jatuh terduduk dalam keterpurukan, mendekapnya ketika dia menangis keras sambil bergumam.


"Nggak mungkin! Logan cuma cinta sama aku. Nggak mungkin secepat itu dia melupakan cinta kita."


Tak ada kata yang bisa menghiburnya, Tita hanya bisa mendekap dan membelai punggungnya meski tidak akan membuat Nina terhibur. Yang dibutuhkan oleh gadis ini adalah ketenangan, dan kesendirian.


Mulai saat ini, ia harus bisa belajar untuk 'merelakan'.


...💍 ...


Bali, pulau yang memiliki sejuta keindahan sekaligus kemegahan di beberapa tempat. Salah satu tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan adalah di Ubud.


Perdesaan asri masih ada di sana, termasuk rumah sederhana yang ditempati oleh seorang ibu dan putranya.


Pagi yang asri, rumah itu kedatangan tamu. Seorang wanita paruh baya bergegas meninggalkan masakannya di dapur, lalu mendatangi pintu depan sambil berseru:


"Siapa, ya...?" Wanita itu tercengang, melihat tamu yang tak biasa ini.


"Selamat pagi, Bu. Perkenalkan, saya Gery," kata pria berjas hitam dan rapi itu sambil membetulkan kacamatanya.


"Pa ... pagi," jawab wanita itu masih terperangah. Kemudian, ia merentangkan tangannya ke dalam rumahnya. "Silakan masuk, Bli."


Gery tersenyum ramah. Mulutnya akan menjawab, tapi seseorang dari dalam berseru sambil keluar dari dalam bilik.


"Siapa, Bu?" Pria berkulit kuning langsat itu tertegun melihat pria asing yang datang bertamu sepagi ini.


Karena hanya memakai celana pendek dan belum mandi, pria itu tersenyum malu sambil menganggukkan kepalanya singkat.


Gery melonggokkan kepalanya sedikit, menatap ke arah anak si pemilik rumah. "Maaf, mengganggu. Apa Anda yang bernama Arga Wicaksana?"[]

__ADS_1


__ADS_2