Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Tak Peduli bagaimanapun dia, I stay Love You


__ADS_3

"Kamu udah makan? Jangan lupa makan siang dan minum susunya, juga vitaminnya, ya."


Anna tertegun heran, tumben sekali Logan berubah perhatian begini padanya. Sebelum-sebelumnya sih perhatian juga, tapi tidak seterang ini. Apa Logan sedang berusaha membujuknya agar tidak bercerai? Apa gunanya? Bukankah Logan tak mencintainya? Ah!


Lantas, ia mengetik pesan balasan untuk Logan. Hanya saja, ibu jarinya tiba-tiba membeku karena pikiran ragu yang muncul.


"Harus banget, ya, balas pesannya dia?" gumamnya.


Gengsi ah! Karena itu, Anna memutuskan untuk tidak mengirim pesan balasan itu, meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu berjalan meninggalkan kamarnya.


Saat menuruni tangga, ia mendengar suara TV, sepertinya ayah dan mama sedang menonton sebuah drama siang yang tayang tiap jam segini. Ia bermaksud nimbrung, tapi sebelumnya ia berjalan ke dapur dulu untuk mengisi mug warna hijau toska kesayangannya dengan segelas air.


Kemudian, ia menghampiri mereka sambil mencuri dengar ucapan mereka. "Perempuan itu seperti Anna—beruntung banget mendapatkan suami yang baik," komentar mama, praktis langkah Anna tiba-tiba berhenti.


Ayah mengangguk setuju. "Walaupun pada awal pertemuan aku tidak menyukai Logan, tapi setelah melihat dia perhatian pada Anna, aku jadi tambah suka padanya." Hanya saja, gurat resahnya timbul setelahnya, bersamaan dengan helaan napas. "Cuma, aku khawatir kalau Anna sampai tergoda untuk pindah agama karena mencintai suaminya."


Anna tersenyum geli. Hal seperti itu tidak akan terjadi. Ia masih cukup waras untuk mempertahankan keimanannya.


"Ayah nggak usah khawatir, Logan tidak mungkin membujuk Anna untuk pindah agama. Ayah kan tau, Anna itu rajin ibadahnya," bela mama, yang diamini oleh anggukan kepala Anna.


Tentu saja Logan tidak akan melakukan hal itu. Biar dia kasar, dia tidak akan pernah membujuknya melepas keyakinan yang sudah Anna anut sejak kecil. Tapi ... eh! Kenapa ia malah ikutan membela, malah memuji pria itu?


"Ya ... mudah-mudahan aja, ya, Ma," timpal ayah kemudian, setengah yakin.


Mama menghela napas, termenung. Ada lagi ucapan yang mengganjal di dalam pikirannya. "Nggak banyak orang nikah beda agama sampai awet pernikahannya. Lihat aja artis-artis di TV, banyak yang bercerai karena beda keyakinan. Mama nggak mau Anna dan Logan begitu, mereka harus mempertahankan pernikahan mereka. Ya ... walaupun pernikahan mereka didasari karena Anna telanjur hamil."


"Ya Ma, kan mereka bukan artis. Banyak loh, orang biasa yang nikah beda agama, tapi pernikahan mereka langgeng," timpal ayah, mencoba menyeka keresahan istrinya.


"Kita serahkan saja pada Allah. Jika memang takdir, insya allah, pasti pernikahan mereka akan awet sampai maut memisahkan."


Anna menunduk muram sambil mengelus perutnya yang mulai agak membuncit. Takdir yang diharapkan oleh orangtuanya, sayangnya tidak akan pernah terkabul.


Pernikahan Anna dan Logan sudah kacau sejak awal, dan sekarang akan diambang perceraian, jika terbukti Logan berselingkuh.


Tak tahan air mata menggenang di pelupuk matanya. Bagaimana ini? Ia tak tega jika mereka sampai tahu bahwa pernikahan anak mereka segera kandas.


Ayah dan mama kembali terdiam, berhenti membahas soal Anna dan Logan. Anna menyeka air matanya, berusaha bersikap tenang. Pikirnya, sekarang saatnya ia muncul di antara mereka.


Namun, ponsel di tangannya bergetar, Anna mendecak. Dikira Logan yang meneleponnya karena ia tidak membalas pesannya tadi.


Alih-alih nomor telepon suaminya, justru yang nomor asing yang tertera di layar ponselnya. Matanya membulat, heran.


"Siapa, ya?" gumamnya heran, lalu tanpa membuang waktu mengangkat telepon itu. "Halo, ini siapa, ya?"


Tak terdengar suara apa pun, tapi saat dicek telepon masih tersambung. Apa ini cuma telepon iseng?


"Halo? Ini siapa?" ulang Anna, jengkel. "Kalau nggak mau ngomong, saya tutup nih—"


"Tunggu dulu!" Dengan cepat, seseorang di ujung telepon menyahut. "Nyonya, saya Arga. Apa bisa kita bertemu? Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda."


Dari ucapannya yang gugup, tapi terdengar cukup serius. Anna penasaran, topik apa yang ingin dibicarakan?


"Bicara di sini saja," cetus Anna sambil membawa mugnya, lalu duduk di salah satu anak tangga paling bawah.


"Tapi ini sangat penting. Tenang aja, saya nggak macam-macam kok. Saya mau menunjukkan sesuatu hal pada Anda." Pria itu buru-buru menyahut. Sepertinya, dia paham kalau Anna tidak mempercayainya.


"Em ... bagaimana, ya?"

__ADS_1


"Nyonya, saya ingin menunjukkan sebuah bukti penting yang berkaitan dengan suami Anda."


Tak sia-sia pria itu ngotot untuk membujuknya. Bibit rasa penasaran tumbuh dengan cepat. "Oke, saya akan mengatur tempat dan waktunya," ucap Anna, tanpa ragu menyetujuinya.


"Tapi, Nyonya, kalau bisa hari ini. Karena saya akan kembali ke Bali sore nanti." Pria itu bernegosiasi lagi.


"Oke, setuju!" Tanpa pikir panjang, Anna langsung berseru begitu. "Saya akan share-lok tempat pertemuan kita. Sore ini, pukul ... 15:00."


Kata sepakat tercipta, setelah itu Anna langsung menutup telepon. Jam di dinding menunjukkan pukul 14:17. Ditenggaknya airnya sampai habis, gegas ia kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan tak lupa memesan taksi online.


Arga adalah saksi penting yang akan menguatkan keraguannya akan perselingkuhan Logan. Oleh sebab itu, secepat kilat ia bersiap-siap, bahkan berlari menuruni tangga begitu taksi pesanannya datang.


Suara langkahnya terdengar oleh ayah dan mama. Mereka tercengang melihat anaknya melintas secepat itu, lalu mama berseru cemas sebelum Anna mencapai pintu.


"Anna, pelan-pelan jalannya! Nanti kamu jatuh. Kamu kan lagi hamil."


"Iya, Anna." Ayah turut menegur. "Lagian, kamu ngapain sih, lari-larian gitu? Mau ke mana kamu?"


Anna berhenti sejenak dan menoleh pada orangtuanya. "Yah, Ma, aku pergi dulu, ya. Ada urusan mendadak."


Ayah dan mama tercengang menatap kepergiannya. Heran, hal mendesak apa yang membuat Anna berlari sekencang itu?


...💍...


Sekitar 15 menit, Anna sampai di restoran cepat saji yang menjadi lokasi pertemuannya dengan Arga. Ia berdiri di dekat pintu masuk, mengedarkan pandangan ke segala arah sambil membaca pesan yang dikirim pria itu tadi.


Baju hitam, bertubuh tinggi dan kurus, kulitnya kuning langsat. Ciri-ciri yang disebutkan dalam pesan itu mirip seperti ciri-ciri pria yang sedang duduk di meja pojok yang mengarah ke kasir. Apa dia yang bernama Arga?


Kakinya melangkah perlahan menghampiri pria itu. Begitu sampai di depannya, ia menyapa dengan ragu. "Arga, ya?"


Anna jadi canggung untuk duduk di kursi yang ditunjukkan oleh uluran tangan pria itu, sementara Arga kembali duduk di tempatnya. Katanya ada yang mau dibicarakan, tapi pria itu malah diam. Apa Anna saja yang berinisiatif untuk mulai duluan saja percakapan ini?


"Em ... langsung aja kali, ya? Jadi, apa yang mau Anda bicarakan dengan saya?"


Mata belok pria itu menatapnya dengan grogi. Entah mungkin dia merasa ragu mau mengucapkan cerita awalnya dari mana.


"Em ..." Jari pria itu bergerak gelisah dan kembali menunduk. "Maafkan saya, Nyonya. Seandainya saya tahu bahwa nyonya Nina punya niat buruk pada pria beristri, saya tidak akan mau menerima tawaran dari wanita itu."


Bukan hal yang mengejutkan baginya, pria ini memang orang bayaran. Tapi yang mengherankan, kenapa Nina melakukan hal serendah itu?


"Lalu?"


Arga mengangkat wajahnya dengan mata terbelalak. Hebat, wanita ini tetap tenang setelah mendengar hal ini?


"Nona Nina meminta saya untuk melakukan perintahnya tanpa memberitahukannya sejak awal." Arga kembali bercerita. "Saya pikir, tugas saya hanya menghidangkan dan mengantarkan makanan pesanannya di kamar wanita itu, tapi saya tidak tahu kalau dia akan melakukan hal yang tidak wajar. Saya diperintahkan untuk menghubungi tuan Logan dengan mengaku sebagai asisten Mr. Morelli, lalu saya disuruh membuka pakaian tuan Logan, dan meminta saya untuk memfoto wanita itu bersama tuan Logan dengan pose yang tidak pantas."


Anna syok, hal keji itu sanggup terpikirkan oleh wanita berkelas seperti Nina? Apa cinta telah membutakannya?


"Lalu, kamu mengirim foto itu ke saya?" gumamnya tercekat.


Arga mengangguk. Sambil mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya, ia berkata, "Untuk berjaga-jaga, saya membuat video dokumentasi dengan kamera tersembunyi, jika sewaktu-waktu wanita itu merugikan saya."


Pintar juga pria itu. Dia merekam diam-diam semua aktifitas di kamar hotel yang dipesan Nina. Terlihat jelas semua adegan di sana, termasuk percakapan yang terjadi antara Logan dan Nina pada malam itu. Anna menonton video itu tanpa berkedip setiap detik pun, tak ada satu pun adegan yang dilewatkannya.


Kemudian, ia termenung dengan pikiran yang berkecambuk. Harus ia akui, Logan tidak pernah membohonginya. Bahkan, tidak pernah ada niat dalam diri pria itu untuk menodai pernikahan dengan perselingkuhan.


"I love you, Anna...." Ia membeku, ketika mendengar igauan Logan yang terekam dalam video itu.

__ADS_1


Apa yang didengarnya tadi? Pria itu mencintainya? Benarkah?


Air mata menggenang, disertai oleh senyuman. Pengakuan cinta yang meskipun tak langsung dinyatakan dari mulut Logan membuatnya begitu bahagia.


Tugasnya hanya sampai sini. Arga beranjak dari kursi, setelah menyimpan kembali ponselnya dalam saku. "Nyonya, sekali lagi saya minta maaf. Hanya itu bukti yang saya punya. Terserah jika Anda mau percaya atau tidak, tapi saya beritahukan pada Anda, suami Anda sangat setia pada Anda."


Ucapan Arga memekarkan bunga di dalam hati Anna. "Terima kasih. Saya tidak pernah menyalahkan Anda. Saya justru bersyukur karena Anda mau mengungkapkannya," ucap Anna, tersenyum haru.


Arga pamit pergi. Selang beberapa saat kemudian, Anna mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi pria itu. Bagaimanapun, hal ini harus dibicarakan. Namun....


Anna membeku ketika ibu jarinya akan menekan tombol "call". Ia menghela napas, tangannya melemas dan terjatuh di atas paha.


"Aku jadi merasa bersalah karena sudah menuduh Logan. Bagaimana kalau Logan malah berbalik marah?"


Langkahnya melemas melewati jembatan penyebrangan. Sudah 10 kali ia menghela napas dengan wajah murung. Rasa bersalah menggerogoti hatinya, sampai air matanya menggenang.


Apa pria itu akan memaafkannya? Ucapan dan sikap buruknya waktu itu, kalau diingat membuatnya kesal pada diri sendiri. Mampukah ia berhadapan dengannya nanti?


Anna terisak sambil menyeka air matanya yang mengalir. "Aduh, kok jadi cengeng gini, sih?" gerutunya.


Jauh di depan, ia melihat sosok seorang pria berbadan tinggi dan berpakaian tuxedo hitam. Namun, pandangannya mengabur karena air mata. Anna mengucek matanya, hingga sosok itu semakin terlihat jelas dan dekat.


Lama-lama raut wajahnya berubah, terkesima bahwa sosok itu adalah Logan. Pria itu tersenyum, memposisikan diri di hadapan Anna yang sedang tercengang.


Lidah seakan kelu, tak dapat lagi air mata ini ditahannya. Pria itu hanya menunggunya sampai mengucapkan sepatah kata pun. Namun, Anna tetap bersikeras untuk bungkam.


"Katakan saja apa yang ingin kamu ucapkan," kata Logan, tak sabaran ingin mendengar kata yang keluar dari bibir Anna.


"Maaf," gumam Anna, suara hampir tak terdengar, apalagi sambil menunduk.


"Apa?" goda Logan, pura-pura tidak dengar.


"Aku minta maaf," ulang Anna, suaranya lebih keras.


"Au awawawa? Kamu ngomong apa sih?" cemooh Logan.


Menjengkelkan! Anna mendesis sembari menyipitkan mata. Tidak kedengarannya? Oke! Sambil mengangkat kepalanya, ia berseru keras sembari mengulangi kata tadi.


"Aku minta maa—"


Secepat kilat, pria itu mendekatkan wajahnya. Dan ... sebuah ciuman manis mengejutkan Anna. Ia mendelik, tetapi tetap mematung menikmati ciuman singkat itu. Keterkejutan itu berlangsung cukup lama. Pria itu tersenyum puas melihat reaksinya itu.


"Kamu—"


"Yuk, pulang!" Logan mengulurkan tangan, menunggu Anna menggenggamnya. "Kita lanjutkan ciuman kita di rumah."


"Ih! Apaan, sih?" seru Anna, tersipu.


"Hmm! Masih malu aja."


Memang! Apalagi, pria itu belum juga menyatakan cintanya. Tapi, Anna tak mau memuaskannya dengan jawabannya.


Anna menyembunyikan rasa malunya dengan menggandeng tangan Logan, lalu menariknya menyusuri jembatan sambil tersenyum bahagia.


Terserah, mau mengaku atau tidak. Anna bisa merasakan cinta Logan dari tatapannya, senyuman, dan semua sikapnya. Ia ingin terus bahagia bersama dengan segala perbedaan di antara mereka.


Karena ini adalah "takdir"![]

__ADS_1


__ADS_2