
Begitu Logan berhasil membawa Anna ke kamar, ia langsung meminta Gery untuk mencari seorang dokter. Lalu, ia meminta Anna untuk berganti pakaian, dan berbaring di ranjang setelah itu.
Dokter datang tak lama kemudian bersama dengan Gery. Sontak Logan menarik dokter itu ke hadapan Anna. Wanita itu terdiam sambil berbaring, sang dokter bergegas memeriksa Anna atas desakan dari Logan.
Logan menunggu resah di samping Anna sambil memperhatikan cara kerja dokter. Begitu dokter itu menyimpan stetoskopnya, buru-buru Logan mencecarnya.
"Bagaimana keadaan istri saya dan bayi kami, Dok?"
"Tenang saja, Pak. Keduanya dalam keadaan baik," jawab dokter itu, mengulas senyum.
Pria itu menghela napas lega, beda dengan Anna yang membuang muka sambil bergumam mencemooh. "Ya, lagi dia yang lebay. Cuma kecebur di kolam doang."
"Apa?" sambar Logan, yang ternyata dengar juga suara Anna yang sekecil itu.
"Nggak ada, aku cuma ngomong sendiri," sahut Anna, judes.
Sabar-sabar, Logan. Pria itu bergumam sambil menghela napas. Untuk saat ini, ia akan menahan amarahnya dulu karena ia pikir kalau emosi wanita hamil sedang tidak stabil.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi," kata sang dokter, setelah menutup rapat tas yang menyimpan stetoskopnya. Kemudian, ia alihkan pandangannya pada Anna. "Ibu, tolong jaga kesehatannya dan banyak-banyak istirahat. Jangan terlalu dibawa stres, ya."
"Tuh, dengar, 'kan?" timpal Logan, apa-apaan sih? Ikut-ikutan menegur Anna, seakan dia tidak sadar kalau kelakuannya yang membuatnya stres.
"Terima kasih, ya, Dok." Anna tersenyum pada dokter, setelah menatap Logan dengan wajah cemberut.
Logan mengantarkan dokter itu sampai ke pintu, sementara itu Anna berbaring tapi dengan posisi membelakangi. Logan yang kembali ke ruang tidur, berhenti mendekati Anna. "Biarin aja deh dia istirahat dulu," gumam Logan, setelah menghela napas panjang.
Logan mengambil baju baru di lemari untuk mengganti bajunya yang basah. Anna memejamkan matanya erat-erat, sejak tadi ia berpura-pura tidur karena hatinya belum siap untuk menatap suaminya lagi.
Pria itu juga tak mau mengganggu Anna, apalagi Anna masih marah padanya. Maka dari itu, setelah berganti pakaian, Logan ke ruang depan, duduk di sofa sambil memainkan ponsel.
__ADS_1
...💍 ...
Tita baru bisa menyusul Nina, setelah menyelesaikan jadwal konser amal yang akan diselenggarakan di Bandung. Ia sudah menginjakkan kaki di hotel tempat Nina menginap sambil menyeret sebuah koper.
"Ke mana sih, dia?" decaknya jengkel, sejak tadi hanya mendengar nada tunggu dari nomor ponsel Nina. "Udah 7 kali ditelepon, masih nggak diangkat juga sih? Apa telinganya mulai bermasalah sejak kecelakaan? Masa nggak kedengaran juga nada ringtone-nya nyala?Ck! Apa di silent? Huh! Itu bukan kebiasaan dia."
Tita mencoba menelepon lagi, dan kali ini berhasil diangkat. Langsung saja, ia mencecar dengan sedikit mengomel. "Halo, Nina. Kenapa baru diangkat? Di mana lo sekarang? Gue udah nyampe di hotel tempat lo nginep nih."
"Halo, ini temannya Mbak yang punya telepon, ya?"
Lho kok, suara laki-laki? Tita mengecek ponselnya, takut salah tekan nomor telepon karena sangking kesalnya sama Nina tadi. "Benar kok, ini nomornya Nina," gumamnya, menjauhkan ponsel dari mulutnya. Kemudian, ia kembali mendekatkan ponsel ke telinganya dengan ragu. "Halo, ini siapa? Mana cewek yang punya nomor ini?"
"Saya pelayan di Hope Night Club, Mbak. Cewek yang punya hape ini lagi mabok, jadi saya angkat teleponnya," jawab pria itu.
Mulut Tita sontak ternganga lebar. Hah? Mabok? Ia menepuk keningnya. Kenapa lagi dia sampai kayak gini? Bikin masalah saja! "Huft! Oke! Tolong simpan hapenya, saya mau nyusul ke sana," dengus Tita, setelah itu langsung mematikan ponsel.
Saat itu juga, ia pun bergegas meluncur ke sana dengan memesan taksi online. Pukul 7 malam, waktu yang ditunjuk pada arlojinya. Bukan main kesalnya gadis itu. Berharap bisa melepas penat sesampainya di Bali, malah direpotkan dengan kelakuan Nina.
Lagian aneh-aneh saja, masih sore gini Nina sudah mabok. Apa yang terjadi padanya sih? Gerutunya dalam hati. Sewaktu dihubungi, suara bising klub malam belum terdengar sekali. Tapi sesampainya di sana, tempat itu sudah dipadati pengunjung, dan suara musik yang memekakkan memenuhi telinga.
Benar-benar mengherankan, para pencari hiburan jam segini sudah banyak berkumpul! Tita sama sekali tidak tertarik untuk larut dalam kesenangan mereka, ia menyusuri lautan manusia malam untuk mencari keberadaan Nina.
Dan, kesulitan yang dialaminya membuahkan hasil, Nina ada di meja bar sebelah utara dengan kepala terjatuh di atas meja dan tangan memegang gelas yang telah kosong. Tita itu mendengus keras, berkacak pinggang di samping Nina.
"Benar-benar, ya? Nina! Hoi, Nina!" panggilnya berteriak kencang, menepuk-tepuk lengan gadis itu.
Tak bangun juga, Tita menguncang-guncangkan lengannya dengan kasar. "Ninaaaaaaaa! Bangun kenapa? Suka banget sih, nyusahin temen?"
"Eng?" Nina mengangkat kepalanya, melihat dengan mata terbuka sedikit, kemudian menyeringai lucu. "Titaaaaa, my best friend," ceracaunya.
__ADS_1
"Ya, ya, ya. Sekarang, ayo, kita balik!" sahut Tita sinis, lalu meletakkan lengan Nina ke pundaknya.
"NO!" sergah Nina, menarik lengannya. "No, no! Aku masih mau di sini!"
Tita mendesis geram, lalu mendengus. Apa Nina nggak tahu kalau ia nggak betah di tempat terkutuk ini? Ia kehabisan akal. Sembari memikirkan cara, Tita melirik pada seorang bartender yang sedang melihat mereka sejak tadi.
"Mas! Mas, yang tadi angkat hapenya dia, 'kan?" tanya agak ketus karena sangking kesalnya pada Nina.
Pria kurus dan bermata sipit itu terkesiap, dan langsung merogoh saku celananya. "Iya, Mbak. Dan ini hapenya si mbak itu."
Ponsel itu diterimanya sambil mendecak. "Huft! Sejak kapan dia di sini?"
"Dari jam Magrib, Mbak," jawab si bertender, polos.
"Magrib?!" seru Tita kaget. "Mentang-mentang ... ck! Emang nih klub mulai buka jam berapa?"
"Dari sore. Tapi, belum buka untuk umum, cuma buat para karyawan buat siap-siap buka klub."
Tita menggeleng dan menepuk keningnya hingga beberapa kali. Ia berdiam diri sejenak, berpikir memanfaatkan si bartender untuk menggotong Nina ke mobil. Namun, Nina kembali menceracau, sehingga terhenti bibir Tita untuk mengatakan permintaannya pada si bartender.
"Apa hebatnya sih, perempuan itu? Hubungan aku sama Logan berjalan selama 3 tahun. Tapi ... perempuan itu bisa merenggut Logan dariku dalam waktu hanya 3 bulan?"
Awalnya Tita masa bodo dengan ucapan itu, tapi kemudian dia terhenyak karena menyadari sesuatu. "Nina? Lo tadi ngomong apa? Lo...."
"Perempuan licik! Pakai pelet apa dia, sampai Logan 'say to love' sama dia? Dia pura-pura jadi korban, terus hamil anaknya Logan biar bisa menikah sama dia karena Logan keluarganya kaya. Heh! Licik! Dasar siluman ular!"
Tita ternganga dengan alis naik sebelah. Tidak lama baginya untuk menyimpulkan bahwa ingatan Nina sudah kembali.
Waw![]
__ADS_1