
Setiap pagi, yang dilakukan Diana adalah membersihkan kebun bunganya yang terletak dalam rumah kaca. Nina menghampirinya, bergeming di belakangnya seraya memperhatikan mamanya yang tengah memotong duri mawar merah.
Dikira, akan lama bagi Diana untuk menyadari keberadaannya, Nina malah terkejut karena mamanya ternyata sudah tahu jika dirinya sejak tadi berdiri di sana. Padahal, Nina ingin mengejutkannya.
"Ada apa? Mau merengek lagi?" sindir Diana, tega sekali menikam anaknya dengan ucapan begitu.
"Nggak. Aku cuma mau mengunjungi Mama aja," jawab Nina, tersenyum polos.
Diana menyangka bahwa itu hanya sangkalan, padahal ekspresi Nina terlihat sedang senang. "Oh. Apa kau mau mengejek Mama yang ternyata tak berhasil membujuk Logan?"
Ih! Malah berpikir negatif tentang anaknya. Nina memanyunkan bibirnya sejenak karena jengkel. "Mama negative thinking mulu sih? Emang salah kalau aku mau menemani Mama di sini?" sahutnya protes.
Diana tertawa tanpa menoleh. "Gabut banget! Lebih baik kamu berlatih piano sana!"
"Ngusir ceritanya?" goda Nina, jahil.
Sontak Diana menoleh tajam, jengkel melihat Nina yang malah mencemoohnya begitu. "Mana ada Mama bermaksud begitu. Mama hanya menyuruhmu melakukan hal yang berguna." Diana menggerutu seraya membuka sarung tangan dan berjalan menuju sebuah kursi kayu bercat putih yang dilengkapi sebuah meja dan sebuah kursi lagi.
Diana mencuci tangannya meski tadi memakai sarung tangan. Lalu, ia duduk di kursi kayu itu, di mana Nina sudah duduk di sana menunggunya.
Pelayan yang sejak tadi di sampingnya menghidangkan dua cangkir teh mawar untuk keduanya. Diana menyeruputnya setelah teh dituangkan ke dalam cangkir.
"Nina," kata Diana setelah meletakkan cangkirnya kembali ke meja. "Soal Logan, Mama akan cari cara supaya Logan cepat-cepat menyetujui perjanjian itu."
__ADS_1
"Dengan cara apa?" cecar Nina cepat, tersenyum sinis. "Membujuk tante Elina? Kayaknya akan sulit. Tante Elina sangat mendukung hubungan Logan dan Anna."
Diana diam saja, kartu AS-nya sudah ditebak. "Jadi, kau punya rencana?" tanyanya, entah ini menguji atau meledek Nina.
Nina tersenyum penuh percaya diri. Dia tak memberikan jawaban, dan malah menyeruput tehnya yang suhunya tak lagi terlalu panas. Diana mengernyit, penasaran melihat reaksi Nina atas pertanyaannya itu.
Sepertinya, Nina punya rencana lain. Dan Diana sangat senang jika Nina bisa berpikir tanpa merengek padanya.
...💍...
Anna keluar rumah setelah berpamitan dengan Elina seraya menelepon Logan. Hari ini, Anna punya janji temu mendadak dengan temannya, makanya ia meminta izin pada Logan sebelum pergi.
Logan mengijinkannya, bahkan membolehkan Anna menyetir sendiri sebab Anna terus-terusan merengek agar diizinkan mengendarai mobil. Namun, seorang satpam menghampirinya dan menghentikannya saat Anna akan membuka pintu mobil.
"Nyonya," serunya memanggil, praktis Anna berbalik.
"Di luar, ada nona Nina yang mau bertemu dengan Nyonya," jawab satpam itu.
Anna mengernyit heran. Nina? Dia sudah kembali Jakarta? Tapi, kenapa dia mau menemuinya?
"Ya udah, suruh dia masuk," kata Anna tanpa mengundang rasa curiga.
"Katanya, Nyonya disuruh keluar. Nona Nina ingin mengajak Nyonya ke suatu tempat," tukas satpam itu.
__ADS_1
Memangnya, ada urusan soal apa, sampai Anna disuruh menemuinya di tempat lain. Terpaksa, Anna menyanggupinya. Anna berjalan menuju pagar rumah seraya mengirim pesan pada temannya yang hendak ditemuinya agar mengundur waktu pertemuan.
Nina sedang berada di dalam mobil ketika Anna sampai di luar. Wanita itu membuka kaca jendela, tersenyum ramah dan berseru, "Anna, masuklah! Aku akan membawamu ke kafe terdekat."
Anna menghela napas berat. "Kenapa nggak ngomong di sini aja? Memangnya mau bahas soal apa?" cecarnya agak gusar.
"Kayaknya, kurang nyaman ngomong di rumah. Apalagi, ada tante Elina di rumah," jawab Nina, alasannya justru semakin mencurigakan.
"Emangnya kenapa kalau mama Elina sampai mendengarnya?" sahut Anna sinis.
"Mama Elina", dulu panggilan itu Nina yang membuatnya. Sekarang, Anna yang menyebut wanita itu dengan panggilan yang sama. Entah mengapa ... terdengar menjengkelkan.
"Bahasan kita agak berat." Nina menghela napas pelan. "Aku takut, bisa memperburuk kesehatan tante Elina, kalau beliau sampai mendengarnya."
Anna menatap Nina lamat-lamat seraya berpikir keras. Alasan ini ... Anna rasa ini cuma trik Nina agar berhasil menariknya pergi bersama dengannya. Apa maunya Nina sebenarnya? Semoga saja, dia tidak melakukan rencana kotor padanya.
Tanpa mengatakan setuju atau tidaknya, Anna membuka pintu mobil yang ada di samping kemudi. Ia duduk bersebelahan dengan Nina tanpa memandangnya, apalagi mengajaknya bicara. Lagipula, Nina juga tak ingin berakrab ria dengan orang yang sudah merusak hubungannya dengan kekasihnya.
Namun, Nina tersenyum saat berhasil membuat Anna mau mengikutinya. Lantas, ia melajukan mobil menuju sebuah kafe berlantai dua, dan bercat serba coklat.
Aroma kopi dan cokelat menyeruak kala Nina membuka pintu kafe. Anna melihat-lihat seisi kafe, mengagumi dekorasinya yang minimalis dan estetik, lalu pelanggan yang cukup ramai di lantai satu.
Nina mengajaknya ke lantai dua, di mana hanya ada beberapa orang yang duduk di sana. Rupanya, Nina punya selera yang sama, duduk di meja dekat jendela.
__ADS_1
Anna tak memedulikan kesamaan mereka. Begitu ia duduk di kursi itu, ia langsung mencetuskan sebuah pertanyaan bernada dingin. "Apa yang ingin kau bicarakan?"
Nina tersenyum mencemooh. "Kau sangat tidak sabaran, ya? Oke, setelah kopi pesanan kita datang, aku akan langsung masuk ke topik pembicaraan."[]