
Diana dan Nina sudah berangkat ke Singapura dengan perjalanan sore dari Bandara Soetta. Pagi harinya, mereka langung meluncur ke rumah sakit, di mana Diana memiliki seorang kenalan dokter yang bekerja di sana.
Diana berkonsultasi dengan dokter itu, lalu Nina melakukan pemeriksaan. Ponsel Diana berdering setelahnya. Ekspresinya terlihat gusar, mendecakkan lidah, enggan untuk menjawabnya.
Namun, akhirnya Diana memutuskan menjawab telepon itu, dengan meminta izin keluar dari ruangan pada dokter terlebih dahulu. Diana menjauh, berdiri di sebuah lorong yang sepi, di mana terdapat jendela kaca besar yang menghadap taman belakang rumah sakit.
"Ya, halo. Ada apa? Saya sedang sibuk," sahut Diana ketus.
"Nyonya, saya mendapatkan informasi bahwa pak Logan tengah menyelidiki pak Juan," kata pria di ujung sambungan telepon itu.
"Apa?" seru Diana panik, lalu sontak terhenyak karena tak ingin ada orang yang mendengar pembicaraannya. Maka dari itu, ia melanjutkan dengan agak berbisik. "Cepat cari dia sebelum orang-orang Logan mendapatkannya! Pastikan kau membungkam dia ... kalau perlu, habisi dia!"
"Baik, Nyonya."
Diana langsung menutup teleponnya, gugup sembari melirik ke sekelilingnya. Ia merasa aman, tak ada orang di sekitar tempat itu. Namun, Diana masih saja cemas. Buru-buru ia kembali ke ruangan Nina berada.
...💍...
Pria bertopeng hitam yang hanya memperlihatkan mata tajamnya. Dia mengintai pak Juan pada tengah malam di pinggiran kota Istanbul.
Tadinya, dia hanya ingin menculik dan membunuh pak Juan dengan tenang. Akan tetapi, pak Juan telah mengetahui keberadaannya, sebisa mungkin berlari darinya.
Namun, lawan pria paruh baya itu adalah seorang pemuda yang sudah terbiasa memburu manusia atas perintah dari penguasa berduit banyak. Terkejarlah pak Juan dengan mudah, menyudutkannya di sebuah gang.
Pak Juan panik, dan sepertinya tahu siapa yang memerintahkan pemuda itu untuk mengejarnya. Pak Juan tak mau mati cepat, yang bisa dilakukannya hanya memohon dan bersimpuh di hadapan sang pembunuh.
"Tolong, ampuni saya. Saya berjanji akan melakukan apa pun. Saya akan menutup mulut saya," mohon pak Juan menangis ketakutan seraya bersujud beberapa kali.
Pria itu bersiap menekan pelatuk pistol, dan berkata, "Tak perlu. Karena saya yang akan menutup mulut Anda."
"TOLONG JANGAN ... TIDAAAAAAK!"
__ADS_1
DOR!
"Aaaaaakkhhh!"
Jeritan keras itu bukan berasal dari pak Juan, melainkan dari pria yang akan membunuhnya. Pak Juan mengangkat kepalanya dan membuka mata, spontan tercengang melihat penjahat tadi terkapar dengan betis kanannya yang terluka.
Lalu, beberapa orang datang menyergap pria itu, dan dua orang lainnya membantu pak Juan untuk berdiri. Pak Juan awalnya terheran karena dia diselamatkan. Namun, saat Gerry menghampirinya, wajahnya kembali pucat pasi.
"Pak Juan, Anda ditangkap karena telah menyelewengkan dana perusahaan. Tapi, hukuman Anda akan diberi keringanan, jika mau bekerja sama dengan kami," kata Gerry, mengulurkan tangannya ke arah pak Juan.
Bekerja sama? Pak Juan ragu menatap uluran tangan itu. Ia kurang paham maksud dari Gerry. "Bekerja sama bagaimana maksudnya?" tanya pak Juan agak tergagap sangsi.
"Saya akan menjelaskannya di tempat lain," jawab Gerry, lalu memberi isyarat pada kedua pria yang di samping kanan-kiri pak Juan agar membawanya pergi dari tempat ini.
...💍...
Gaeun baru turun dari bis, lalu bergegas ke gedung yang merupakan tempatnya bekerja. Saat hampir mencapai pintu masuk, Gaeun berhenti melangkah dan menyipit karena melihat pemandangan yang tak biasa.
Gaeun agak mendekat, hingga rasa penasaran membawanya ke hadapan Anna dan Logan. Gaeun menyapa, spontan Logan dan Anna menoleh berbarengan padanya.
"Annyeong hasseo. Eonni? Nugu... (Kak, ini siapa?)."
Anna melirik cemas, lalu menyeringai seraya berkata, "Em ... igeo...."
Logan mengulurkan tangan di hadapan Gaeun sembari tersenyum percaya diri. "Hello, my name is Logan. Take care my wife, please," jawabnya, sengaja pakai bahasa Inggris, yang membuat Gaeun melongo sejenak untuk mengartikannya.
"Ah ... 'my wife'? So you..." gumam Gaeun yang agak terkejut, lalu menoleh pada Anna untuk mengkonfirmasi apa yang disimpulkannya. "Eonni, imi ihonhangeo aniya? Geuraeseo, eonje geuwa gyeolhonhaesseo? (Kak, bukannya Kakak udah bercerai? Lalu, kapan Kakak nikah sama dia?)."
Anna mengamit lengan Gaeun, dan berbisik, "Najunge seolmyeonghagessseumnida (nanti aku jelaskan)." Anna tersenyum pada suaminya seraya berkata, "Sayang, pergilah. Nanti kau terlambat ke bandara."
"Baiklah." Logan mengelus lembut kepala Anna, lalu mengecup puncak kepalanya hingga membuat Gaeul terkejut sekaligus meleleh melihat kemesraan mereka.
__ADS_1
Logan masuk ke dalam mobil, dan Anna menyeret Gaeun yang masih terpana pada Logan. Gaeun menanyakan bagaimana Anna bertemu dengan Logan, dan kapan mereka menikah.
Anna hanya tak menjawab, membuat Gaeun merajuk karena Anna tak menepati janjinya untuk menjelaskan hal tadi. Tapi, pada akhirnya Anna menjawab seadanya. Dia mengakui bahwa dirinya dan Logan kembali rujuk.
"Mwo?!" seru Gaeun takjub, lalu sontak menutup mulutnya dengan tangannya.
Anna melotot menegurnya. Untung saja di dalam lift itu hanya ada mereka berdua. "Wah, daebak! Neohuideul wae ihonhae? Geuneun maeu jalsaeng-gyeotgo bujacheoleom boyeotda. Naega neolamyeon nohji anh-eulgeoya. (wah, keren! Kenapa kalian bercerai? Dia tampan dan juga kaya. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan melepaskannya)."
Anna hanya meringis. Jika saja Gaeun tahu penyebab perpisahan Anna dengan Logan, apa Gaeun akan berkomentar seperti itu?
"Keundae ... nampyeon eolguli wae nachigji? (BTW ... kenapa wajah suamimu terlihat familiar?)," cerocos Gaeun lagi, membuat Anna terhenyak. Apa Gaeun menyadari bahwa Logan mirip dengan Woojin?
...💍...
Di sebuah ruangan 3×3 meter, dengan cahaya temaram, pak Juan di sekap di sana semenjak ditangkap oleh Gerry. Di ruangan itu hanya ada sebuah meja dan dua buah kursi yang saling berhadapan. Pak Juan tengah tertidur seraya duduk di salah satu kursi itu.
Pak Juan terhenyak kala mendengar pintu satu-satunya ruangan ini terbuka. Gerry masuk ke dalam, disusul oleh Logan. Pak Juan menegak. Tapi, saat melihat Logan, wajahnya pusat pasi seperti melihat sosok yang lebih menyeramkan dibanding hantu. Dia menenggelamkan wajah, menghindari tatapan tajam Logan.
Logan duduk di hadapannya, sementara Gerry berdiri di sampingnya. Dalam hening, Logan menatap pak Juan yang semakin terintimidasi. Logan menggebrak meja, pak Juan terhenyak.
"Lebih baik kau jelaskan semuanya tanpa kutanyakan," kata Logan, suara beratnya dalam dan dingin, cukup menciutkan nyali pria paruh baya itu.
Pak Juan malah beraksi berlebihan. Dia beranjak dari kursi, bersimpuh di depan Logan seraya menangkupkan kedua tangannya. "Pak, tolong ampuni saya. Saya lakukan ini karena seseorang ingin menjatuhkan Anda," jawabnya gemetaran.
Gerry mengernyit, terkejut. Tapi Logan sepertinya sudah tahu soal itu, jadi dia tak menanyakan siapa sosok yang dimaksud pak Juan.
"Gerry, buat dia bicara, dan rekam kesaksiannya," perintah Logan, lebih memilih menoleh pada Gerry, dibandingkan dengan baj*ngan yang telah menghancurkan hidupnya dan pernikahannya.
"Baik, Pak," sahut Gerry.
Lantas, Logan beranjak dari kursinya dengan acuh tak acuh, mengabaikan seruan memelas pak Juan yang masih bersimpuh di tempatnya, meminta keringanan atas perbuatannya.
__ADS_1
...[]...