Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Kejutan


__ADS_3

Ini yang dibilang sibuk?


Apa tidak ada alasan lain? Jika memang lebih memilih untuk bersama dengan mantan daripada dengan istri sahnya, kenapa tidak bilang saja yang sejujurnya?


Anna mendengus, memandang rendah pria pengecut yang jadi suaminya itu. Logan hanya mematung, panik, tak tahu harus bersikap apa.


"Lho, Anna? Kenan? Sedang apa kalian di si ... au! Kepalaku sakit banget!" desis gadis berwajah campuran bule itu, rasa sakit di kepalanya menyerang lagi.


Logan terpaksa beralih pandang, spontan mendekap Nina yang tubuhnya terhuyung. Posisi mereka saat ini adalah dua orang asing yang hanya bertukar nama. Jadi, Anna pun mulai melakukan perannya dengan hati pedih.


"Kenan, yuk, kita masuk!" kata Anna, memutar arah tubuhnya pada Kenan.


Pria berdarah Turki itu tertegun sejenak, dan mulai mengerti situasinya. Dengan agak canggung, ia mendekati Anna, menghela pelan pinggang Anna untuk pergi bersama dengannya masuk ke dalam rumah sakit.


Meski tak rela Anna bersama dengan Kenan, Logan harus tetap menahan diri melihat mereka pergi dengan mesra di depan matanya.


"Logan, ayo masuk! Aku sudah tidak bisa menahan rasa sakit di kepalaku," tegur Nina lirih, kadang meringis kesakitan.


"Iya, ayo kita pergi." Logan mengangguk pasrah.


Langkahnya enggan memasuki rumah sakit sambil memapah Nina. Sosok Anna dan Kenan telah lenyap dari pandangan. Arah mereka pun juga saling bertolak belakang.


...💐 ...


Di dalam lift, Anna terdiam dan merenung. Lagi, ia harus kecewa karena dibohongi. Kenan yang ada di sisinya merasa bersalah karena telah membohonginya.


Kenapa harus begini jadi? Anna pasti akan marah padanya.


Kenan melirik Anna dengan grogi dan ragu. Namun, pada akhirnya keberaniannya maju untuk mengatakan:


"Anna, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu."


Anna melirik sinis sekejap, tapi pada amarahnya surut karena Kenan sendiri sudah meminta maaf. "Nggak apa-apa. Posisi kamu sebagai sahabatnya pasti sangat sulit."


Hening sejenak, Kenan merangkai kata dalam otaknya. "Sebenarnya, aku sama Logan belum baikan. Logan meminta pertolongan padaku, tapi aku tidak tahu kalau dia ternyata ingin pergi bersama dengan Nina. Yang dia bilang hanya: bahwa dia sedang ada urusan."

__ADS_1


Terkejut lagi, tapi cuma bisa menghela napas. "Aku paham." Anna mengangguk, tersenyum getir. "Tidak perlu merasa bersalah lagi."


Kenan tetap masih resah. Jadi, ia hanya diam sambil keluar dari dalam lift dan berjalan bersama menuju ke ruangan dokter kandungan. Kenan menuntun Anna untuk duduk di kursi yang ada di depan ruangan. Hanya ada mereka berdua di sana karena Anna adalah pasien terakhir, sebelum jadwal praktek dokter itu selesai.


Pasien sebelum Anna sudah selesai diperiksa. Wanita hamil tua keluar bersama dengan suaminya, terlihat bahagia sambil saling memandang dan sang suami mengelus perut buncit istrinya. Anna melirik pada perutnya yang belum terlihat membuncit, matanya menyendu, lalu tangannya mengelus lembut perutnya.


Sayang sekali, anak ini tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Sebenarnya, Anna juga iri, tapi tak ingin membayangkan hal itu bisa terjadi karena situasi di antara mereka yang tidak memungkinkan.


Logan ... masih mencintai mantannya.


Anna menghela napas panjang. Tak disadari, bahwa Kenan sejak tadi memperhatikannya dengan prihatin. Seorang suster keluar dari dalam ruangan, memanggil Anna diambang pintu. Dengan dibantu oleh Kenan, Anna beranjak dari kursi. Namun, ponsel Kenan berdering saat akan mengantarkan Anna masuk ke dalam ruangan.


"Anna, aku terima telepon dulu, ya," kata Kenan, agak tergesa karena telepon itu dari kliennya.


Anna mengangguk seraya tersenyum. Baginya, tidak apa-apa jika Kenan tidak masuk ke dalam ruangan. Dokter pria paruh baya menoleh pada Anna, begitu suster menuntunnya masuk. Ia merentangkan tangannya ke arah sebuah kursi di depannya seraya berkata, "Silakan duduk, Nyonya Anna."


Anna membalasnya dengan senyuman dan anggukkan seraya duduk di kursi. Tak ada percakapan sejenak karena dokter sibuk menulis. Kemudian, ia menatap Anna, setelah selesai menulis dan memberikan berkasnya pada suster yang satunya.


"Nyonya datang sendirian? Di mana suaminya?" tanya dokter itu, menjalin jemarinya di atas meja.


Dokter dan Anna menoleh kaget pada sosok Logan yang muncul tanpa diduga. Anna heran, kenapa dia ke sini? Bukannya dia bersama Nina?


"Oh, maaf, Dokter," kata Logan kemudian, tertegun menyadari sesuatu hal yang salah.


Maka, Logan keluar lagi seraya menutup pintu. Ia berdiri di depan ruangan sejenak, memperbaiki bentuk jasnya, mendeham, lalu mengetuk pintu. Setelah itu, ia kembali membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Ia berjalan menuju meja sang dokter. Kelakuan ajaib Logan ini mencengangkan semua orang, termasuk Anna yang menggeleng heran.


"Dokter, perkenalkan. Saya Logan Jonathan, suami dari wanita ini," kata Logan, mengulurkan tangannya pada dokter itu, tapi kadang sembari tersenyum melirik Anna.


"Ah ... iya. Silakan duduk." Dokter itu tergagap, menyambut uluran tangan Logan dengan masih belum lenyap ketercengangannya. "Baiklah, Nyonya dan Tuan. Kita bisa mulai pemeriksaannya. Baiklah, berapa usia kandungan Anda, Nyonya Anna."


"Tiga bulan, Dok," sahut Logan, baru saja Anna akan membuka mulutnya.


Dokter dan Anna tertegun menatap Logan sejenak, lalu ia melanjutkan pertanyaan selanjutnya. "Apa ada keluhan selama kehamilan, seperti morning sick atau flek."


"Morning sick ada, Dokter." Lagi, Logan yang menyahut kala Anna akan menjawabnya. "Tapi kalau flek ... Anna, apa kau mengalaminya?"

__ADS_1


Anna menatap lurus dengan merengut sambil melipat kedua tangan di dada. "Nggak!" sahutnya kesal.


Logan menoleh lagi pada dokter. "Katanya 'tidak', Dok."


Sang dokter terkekeh sambil menulis hasil jawaban Logan di sebuah buku. "Iya, tadi sudah dijawab oleh nyonya Anna. Lalu, ada keluhan lain?"


"Tidak ada. Paling hanya lelah dan pusing," jawab Anna, Logan diam karena tidak tahu jawabannya.


Namun, kemudian ia langsung menyerobot dengan pertanyaan. "Dokter, apa suaminya bisa juga terkena morning sick?"


"Apa Anda mengalaminya?" tanya dokter balik, kini berhenti menulis dan tertegun memandang Logan.


"Pernah. Saya merasa pusing dan mual sesekali," jawab Logan, melirik ke arah lain sambil mengingat.


"Iya, benar. Suami juga mengalami hal yang sama, bahkan juga bisa mengidam." Tak ada pertanyaan lagi, dokter menutup buku lalu beranjak dari kursi. "Nah, sekarang Nyonya silakan berbaring di ranjang, biar saya periksa keadaan bayinya, ya."


Sikap Logan berlebihan. Dia sigap sekali menggendong dan membawa tubuh Anna keranjang. Anna jelas terkejut, tapi suster dan sang dokter justru terpana padanya.


"Dokter, sekalian USG, ya," pinta Logan setelahnya.


...💐 ...


Seorang dokter wanita muda berhijab memberikan secarik kertas pada Nina seraya berkata, "Keadaan Nona baik-baik saja, hanya perlu istirahat dan minum obat.


Nina menatap laporan hasil tes kesehatannya dengan mimik datar tanpa bisa dibaca, kemudian ia tersenyum pada dokter itu sebelum beranjak dari kursi. "Terima kasih, ya, Dok. Saya permisi dulu."


Lantas, Nina keluar dari ruangan itu. Ia cukup kecewa karena diperiksa tanpa ditemani oleh Logan, sebab pria itu tiba-tiba mendapat telepon dari klien penting. Tapi tidak apa, ia masih bisa bersama dengannya sebelum Logan mengantarkannya pulang.


Namun, ia malah tertegun ketika di depan ruangan tidak mendapati sosoknya. Malah, di sana hanya ada Kenan, yang tengah berdiri seraya melambaikan tangan dengan santai ke arahnya.


"Hai, Nina," sapa Kenan.


"Kenan?" seru Nina bingung, alisnya naik sebelah. "Ngapain kamu di sini? Mana Logan?"


Kenan memasukkan kedua tangannya di saku celana, lalu menghampirinya. "Logan udah pulang. Dia suruh aku buat antarkan kamu."

__ADS_1


Nina bertambah tercengang dengan mata membulat. Logan, kenapa dia tega melakukan hal ini padanya? Apa dia nggak tahu kalau ia sedang sangat ingin berduaan dengannya?[]


__ADS_2