Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Salah Tuduh


__ADS_3

Sebuah berkas yang terdiri beberapa lembar kertas diberikan oleh seorang pria muda yang terlihat cukup cerdas. Dia adalah sekretaris kedua Logan.


Logan mengambil berkas itu dan membacanya dengan dahi mengernyit. Kemudian, ia menatap pria yang sedang berdiri di dekat mejanya. "Kamu yakin ini laporan asli?"


"Tentu saja, Pak," jawab pria itu dengan tegas. "Nona Anna memang ditempatkan di kamar 101, sedangkan kamar Anda ada di nomer 201."


Logan merenung dan bergumam, "Tidak mungkin. Saya diantarkan oleh pelayan...." Tiba-tiba, ia tertegun.


Kalau memang salah kamar, pelayan itu tidak mungkin memiliki kunci yang sama, kecuali kalau dia punya niat buruk dan memakai kunci cadangan.


Logan memangku dagunya, dan menghela napas panjang. "Kalau memang begitu? Apa motifnya melakukan itu?"


"Maksudnya, Tuan?" tanya sekretarisnya, mengernyit heran.


Logan terkesiap, mengingat sesuatu. "Pak Evan, saya mau lihat rekaman CCTV yang saya minta itu."


Evan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah flash disk, yang kemudian diserahkan pada Logan. Tanpa buang waktu, Logan memutar rekaman CCTV saat malam ia mabuk dan masuk ke kamar Anna.


Rekaman itu sangat jelas, tetapi Logan masih belum menemukan sesuatu yang mencurigakan. Wajah si pelayan pun tak tampak di CCTV karena mengambil posisi agar wajahnya tak terekam. Si pelayan itu terlalu pintar agar tidak bisa diselidiki.


Logan memukul mejanya, menggeram kesal. Keningnya dipijat sambil bersandar di punggung kursi. "Kalau begini, bagaimana bisa kita mencari pelayan itu?" gumamnya gusar.


Evan berpikir sejenak. "Apa Bapak ingat bagaimana wajah dan nama pelayan itu?"


Lantas, ia beranjak mendekati Logan, membuka beberapa lembar, dan berhenti di sebuah dokumen "data-data pegawai yang bertugas" pada hari itu.


"Coba Bapak cari mereka di sini," kata Evan lagi.


Logan mencari rupa si pelayan dari berbagai foto dan identitas orang itu. Beberapa saat kemudian, ia menghela napas, putus asa.


"Tidak ada," gumamnya kecewa.


"Kalau namanya?" tanya Evan.


Namanya? Agak susah sepertinya, karena saat itu ia dalam keadaan mabuk. Namun, ia mencoba mengingatnya lagi sampai dahinya mengkerut.


Matanya terpejam erat, melafalkan nama yang ada di name tag pelayan itu. "Sep ...ti ... tian Ha ... lim. Ya! Septian Halim!" Tiba-tiba membuka matanya, berseru, lalu menatap Evan.


"Septian Halim," ulang Evan, bergegas mencari nama itu di dokumen. Setelah ketemu, ia menunjuk sebuah foto. "Apa dia orangnya?"


"Bukan," jawab Logan, melihat foto seorang pria berpipi tirus, mata sipit dan sayu.


Kedua pria itu semakin bingung. Kenapa bisa seperti ini? Apa Logan yang salah mengingat nama pelayan itu? Atau....


Logan menyipitkan mata. Dengan cepat, tatapannya beralih pada Evan. "Pak Evan, tolong selidiki pria yang bernama Septian Halim itu!"


...☘...


Malam yang menyenangkan. Kenan mengantarkan Anna sampai di depan pagar rumahnya. Mata Anna membulat saat melihat motor matiknya sudah terparkir di dalam garasi.


"Motorku sudah sampai di rumah," kata Anna, setelah menoleh kembali pada Kenan. Senyum senang sekaligus lega terkembang. "Makasih, ya."


"Sama-sama," jawab Kenan, tersenyum. "Jadi, udah percaya kan kalau sopirku itu bisa dipercaya?"


Anna mengangguk. Bahkan, ia juga percaya untuk membuka hatinya untuk mengenal pria itu.


"Besok, aku jemput, ya?" pinta Kenan.


Tapi tidak untuk sampai sejauh ini di awal pertemanan. Rasa canggung kembali di sekitar Anna.

__ADS_1


"Em ... Nggak usah. Nanti kamu terlambat ke kantor," jawab Anna segan.


Kenan tertawa renyah. "Santai aja. Aku kan bosnya."


Meskipun begitu, Anna tetap tidak ingin semua orang berpikir yang tidak-tidak tentangnya, apalagi sebagai pegawai baru di perusahaan itu.


"Next time, okay?" jawab Anna, tersenyum hambar. "Aku mau masuk ke dalam dulu, ya. Hati-hati di jalan."


"Oke." Seakan tidak ada kekecewaan yang tergambar di wajahnya, Kenan tetap tersenyum sambil melambaikan tangan pada Anna.


Namun, pria itu tak kunjung beranjak, Anna bertanya-tanya dalam hati dan berkata, "Ya, udah. Kamu pulang deh. Udah malam."


Kenan terkekeh. "Aku mau memastikan kalau kamu udah masuk ke dalam rumah dengan selamat. Habis itu, baru aku pulang."


Konyol, tapi menggemaskan. Ya, sudah kalau maunya begitu. Anna masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi, walaupun rasanya kikuk jika seperti ini.


Begitu pintu rumahnya ditutup, Anna mengintip lewat jendela, penasaran apakah Kenan benar-benar pulang setelah ia masuk ke dalam rumah.


Memang benar, Kenan masuk ke dalam mobil setelah Anna sudah berada di dalam rumah. Akan tetapi, Kenan tidak langsung menjalankan mobilnya.


Pria itu menoleh pada rumah Anna, termenung dan bergumam lirih, "Susah sekali menaklukan hati kamu Anna."


...🍀...


Logan frustrasi mencari pria yang bernama Septian Halim. Belum lagi, hari pertunangannya dengan Nina semakin dekat.


"Septian Halim, siapa kamu sebenarnya?" gumamnya geram, jemarinya yang terkepal diletakkan di dagunya.


Pikirannya buntu, hingga menyalahkan dirinya dan menduga seseorang yang kemungkinan sengaja menjebaknya.


Lantas, ia beranjak dari kursi, kakinya yang jenjang menyusuri lorong ini dengan cepat tanpa melihat siapa pun yang sedang menyapanya.


Padahal, kemarahannya memuncak, tetapi sedikit mereda ketika melihat ruangan hampir kosong. Astaga! Logan lupa kalau sekarang waktunya jam makan siang.


Tubuhnya yang atletis berputar. Bertepatan saat itu, ia terlonjak melihat Bu Eka tiba-tiba ada di hadapannya.


Wanita itu menaikkan kacamatanya, tersenyum tipis. "Ada apa Bapak kemari?"


"Ah, tidak." Logan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, menjawab gugup. "Aku hanya mencari asistenmu yang namanya...."


"Anna?" sahut Bu Eka.


"Iya. Di mana dia?"


"Biasanya dia ke mushala. Saya baru dari ke sana," jawab Bu Eka, di dalam benaknya mulai bertanya-tanya. "Apa Bapak ada urusan sama dia? Mau saya sampaikan?"


Alih-alih mendengarkan Bu Eka, Logan merutuk di dalam hati, "Dasar sok alim! Akan aku ungkap wajah sebenarnya di balik topengnya itu!"


Entah apa yang ada di dalam pikiran Bu Eka, melihat atasannya main pergi dari hadapannya dengan derap langkah kencang seperti Buto Ijo yang ingin menangkap Timun Mas.


Memang, Logan ingin menangkap gadis itu, meminta pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukannya. Seolah dibutakan oleh amarah, begitu melihat Anna keluar dari mushola, Logan memburunya bagai kilat.


Logan mencegatnya. Begitu cepat tangannya menyergap bahu Anna, membenturkannya dengan kasar ke tembok. Anna meringis kesakitan, menjatuhkan tas yang berisi mukena dan sajadah.


"Apa-apaan ini?!" sergah Anna, matanya menyalak gusar.


"Itulah yang ingin aku tanyakan darimu," desis Logan dengan suara parau yang membuat Anna menggigil. "Apa-apaan semua ini? Kamu yang merencanakan jebakan pada malam itu, 'kan?"


Kepalan tangan Logan menghentak tembok marmer putih, tatapannya beringas, semakin mendekatkan wajahnya. Anna mendelik, debaran jantungnya semakin cepat.

__ADS_1


"Aku di sini juga korban," gumam Anna, tatapannya goyah. "Apa masuk akal kalau saya mengorbankan diri untuk melakukan itu?"


Alasan! Logan justru tersenyum sinis mendengarnya. "Masuk akal, jika kamu melakukannya demi uang."


Anna menunduk sambil memejamkan mata. "Astagfirullah. Apa segila itu saya sama uang?"


Ia mendongak, memberanikan diri menatap kedua mata Logan yang masih menyala oleh kebencian. "Pak, saya tidak melakukan itu!" tegasnya.


"Bohong! Mengakulah—"


"Logan?" panggil seorang wanita bersuara lembut menyapa telinga pria itu.


Logan dan Anna menoleh. Sontak, Logan mendelik menemukan seorang wanita cantik yang telah terpatri di dalam hatinya, berdiri tak jauh dari mereka.


Nina memiringkan kepalanya, heran, sama halnya dengan pandangan orang-orang yang ada di sekitar, yang melihat pada Logan dan Anna.


Sebelum Nina berpikir macam-macam, Logan melepaskan tangannya dari pundak Anna, lalu berbisik, "Hari ini, kamu lolos."


Anna mendelik dan bergidik. Pria itu mengeluarkan aura yang membuatnya menggigil dan mati lemas. Namun anehnya, tatapannya lembut ketika bersama dengan kekasihnya.


Logan membawa Nina pergi. Sempat pria itu menoleh ke belakang, menatap tajam pada Anna beberapa detik.


Anna mematung, bergumam dengan bulu roma yang meremang. "Pria yang menyeramkan." Lantas, ia jongkok, memungut tas kecil warna toska miliknya.


Pikirannya tiba-tiba tersentil. Putaran ingatan kembali pada tudingan Logan tadi. "Kenapa jadi begini? Kok bisa-bisanya tuduh aku?" gumamnya.


🍀


Melihat laki-laki yang dicintainya bertatapan dengan gadis lain, bukan berarti Nina hanya bisa diam. Tentu saja ia ingin tahu, apalagi Logan tidak menjawabnya tadi.


Mereka memasuki ruangan kerja Logan, barulah Nina mencetuskan sebuah pertanyaan:


"Sayang, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa yang kalian bicarakan tadi? Kenapa kamu terlihat marah padanya?"


Logan mendelik panik. Rasa bersalah seakan tercekat di dalam tenggorokannya agar untuk tak mengatakan yang sebenarnya. Ia berpaling sambil berjalan ke kursinya untuk menstabilkan emosi. Setelah itu, ia kembali menatap Nina sambil tersenyum ringan.


"Dia karyawan baru, yang masih suka buat kesalahan. Makanya aku memarahinya. Tenang saja, ini hanya masalah pekerjaan."


Mungkin Logan sudah pandai berakting, makanya Nina tidak meragukan alasannya itu. Jika Nina tersenyum, artinya kecurigaan telah melebur.


"Maaf, aku telah berpikir yang bukan-bukan tadi," gumam Nina, menunduk sesal.


"Pikiran yang bukan-bukan? Soal apa?"


Nina bergerak lembut, bergeser ke samping pria itu dengan senyuman penuh sensual yang begitu manis. Merangkul bahunya, lalu membungkuk sedikit. "Lupakan saja," bisiknya.


Biasanya, hati Logan akan bergetar, yang membawanya hanyut dalam ciuman penuh gairah. Namun, pikirannya dipenuhi oleh perasaan bersalah karena yang terjadi malam itu menurutnya adalah sebuah penghianatan cintanya pada Nina.


Nina mengharapkan kecupan itu, tetapi Logan memalingkan wajah. Padahal, jemari Nina menghela dagunya perlahan agar menghadap ke arahnya sehingga bibir mereka saling bersentuhan.


Hal yang tak biasa ini membuat Nina kaget dan bertanya-tanya. Tak pelak, ia menatap wajah Logan untuk mencari makna dari sikapnya itu.


Pintu terketuk dari luar. Logan berseru agar seseorang di depan sana untuk masuk ke dalam. Nina segera menyingkir, ketika Evan yang muncul dari balik pintu itu.


"Laporkan!"


"Begini, Pak. Saya sudah menemukan lokasi—" Namun Evan berhenti saat melirik pada Nina sejenak, lalu mendeham. "Saya menemukan tempat pria itu tinggal."


Logan mengerti maksud Evan. Pencarian Septian Halim memang Logan rahasiakan dari siapapun, termasuk pada Nina.

__ADS_1


Ia menganggukkan kepala. "Cari dia, dan bawa ke sini!" perintahnya, dengan tatapan dingin tapi penuh dengan api kemarahan.[]


__ADS_2