Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Ayah Kandung Logan?


__ADS_3

Jika mengenal seseorang yang menyenangkan, kenangan manis walau kebersamaannya hanya sekejab akan terus membekas. Anna tak pernah terganti di hati Elina. Nomor Anna masih tersimpan di kontak ponselnya.


Selama ini, mereka terus berkomunikasi, seperti yang dilakukannya hari ini. Saat itu, Anna akan beranjak makan siang. Tiba-tiba ponselnya berdering kala menikmati bekal nasi ayam di meja kerjanya sendirian.


Anna tertegun sejenak melihat nomor kontak yang muncul di layar ponselnnya. Senyum riangnya terulas, gegas diangkatnya telepon itu.


"Halo, Nona Elina."


Elina tertawa kecil. "Halo, Anna. Apa kabar?"


"Baik. Mama apa kabar?"


"Baik, Sayang. Kamu sedang apa? Mama mengganggu?"


"Nggak kok. Aku lagi ..." Anna berpikir seraya melirik bekal makan siangnya. Mungkin, lebih baik tak berkata yang sebenarnya agar tidak mengganggu suasana hati Elina. "Aku baru selesai makan siang. Mama udah makan siang?"


"Udah kok. Sendirian."


Anna mencelus mendengar suara kuyu Elina. Entah apa yang dilakukan Nina, sehingga membiarkan ibu mertuanya sendirian. Eh! Kenapa ia memikirkan hal buruk tentang Nina? Mungkin saja Nina sedang sibuk, makanya Elina makan sendirian.


"Lho? Emang papa ke mana?" tanya Anna kemudian.


"Papa bekerja menggantikan Logan yang sedang dinas ke luar negri."


"Em ... Nina?" Suara Anna mengecil sebab ragu mau menanyakannya.


"Dia sibuk latihan untuk konsernya."


Anna lega, tapi bersalah juga karena telah berpikiran negatif. Maaf, ya, Nina.


"Apa kamu kesulitan cari makanan di sana? Mama dengar, di sana jarang yang jual makanan halal."


"Uh, iya nih, Ma. Apa aku pindah ke Turki aja, ya, supaya nggak susah nyari makanan?" sahut Anna berseloroh.

__ADS_1


"Jangan dong? Tambah jauh deh jarak kita?" timpal Elina, malah khawatir.


Anna terkekeh. "Nggak kok, Ma. Aku bawa bekal sendiri dari rumah. Yah... ada sih yang jual makanan halal di sini, tapi aku lebih suka masak sendiri. Biar hemat gitu."


"Hmm ... kamu kesulitan di sana, ya? Ya udah, Mama kirimin uang buat kamu, ya?"


"Nggak usah, Ma," cegah Anna cepat, tak disangka mantan ibu mertuanya malah serius menanggapi candaannya. "Aku tadi cuma bercanda. Aku nggak kesulitan soal uang. Gajiku cukup kok."


"Syukurlah. Em ... Mama jadi kangen ke Seoul. Mama jadi pengin ke sana lagi."


"Ya udah, ke sini aja. Biar aku temanin Mama makan bareng. Tapi, Mama yang masak, ya?" seloroh Anna lagi seraya terkekeh.


Elina tertawa. "Dasar kamu! Iya, nanti Mama bikinin makanan."


"Nanti aku juga bantuin deh."


"Bantuin apa? Bantuin makan aja?"


Anna tertawa kecil, kemudian melirik pada seorang karyawan yang masuk ke dalam ruangan. Waktu makan siang sepertinya akan selesai, sementara ia belum menghabiskan makanannya. Padahal, Anna belum puas mengobrol dengan ibu mertuanya. Huh! Kenapa hal yang menyenangkan selalu terasa singkat waktunya.


"Oke. Tapi, Anna. Mama minta satu permintaan."


"Permintaan? Boleh. Apa pun yang Mama minta, akan aku sanggupi."


Anak itu benar-benar punya kepribadian yang menyenangkan. Elina dibuat tergelak lagi olehnya. "Benar, ya? Kalau gitu, kamu bisa nggak ziarah ke makam ibu kandungnya Logan?"


Selama menikah dengan Logan, Anna hanya sekali di ajak ziarah ke makam ibunya. Anna tidak akan keberatan jika diminta melakukannya. "Kata orang Korea jawabnya gini: 'keureumnyo!'. Dengan senang hati aku sanggupi. Lagi pula, aku memang ada rencana mau ke sana pada saat hari peringatan kematiannya."


"Syukurlah kamu mau. Terima kasih, ya, Nak."


Anna menutup teleponnya, meletakkan ponselnya, lalu kembali melahap makanannya. Teringat pada ucapan Elina tadi. Anna mengunyah perlahan seraya berpikir, lalu memeriksa kalender yang ada di meja.


"Ah! Besok hari peringatan kematiannya," gumamnya agak terkejut.

__ADS_1


Besok libur kerja, mungkin Anna akan ke sana untuk mengisi waktu liburnya yang biasanya terbuang dengan menonton maraton drama Korea.


Woojin sejak tadi di samping Anna. Ia tampak tenang, tak mengusik wanita itu, meskipun sempat mendengar percakapan Anna. Namun, sepertinya ia kesulitan untuk menyesuaikan janjinya pada Anna. Tak bisa sedikitpun Woojin tak melirik Anna. Wanita itu selalu menarik baginya. Kalau begini, bagaimana bisa ia menyerah pada Anna?


...💍...


Hari hampir menjelang siang. Komplek pemakaman di wilayah Dongjak-gu cukup banyak dikunjungi oleh pelayat, termasuk Anna.


Anna menyanggupi janjinya pada Elina. Dengan berpakaian blus putih dan rok sebetis berwarna toska, Anna mengunjungi komplek makam seraya membawa sebuket bunga lily putih.


Makam ibu kandung Logan berada di bagian sebelah Barat. Sesampainya di sana, ia tertegun melihat sebuket bunga diletakkkan di atas makam.


"Apa ada yang ziarah tadi?" gumam Anna heran.


Anna mendekat, lalu menyandarkan buket bunga di depan nisan. Anna menangkupkan kedua tangannya, memejamkan mata, dan mulai melafalkan doa.


Entah doa ini akan sampai pada Tuhan, karena ibu kandung Logan berbeda agamanya dengan Anna. Tapi Anna berharap, semoga doanya didengar oleh Tuhan.


Anna beranjak setelah berdoa. Ia membungkuk dalam, sebelum berbalik dan pergi. Namun, saat ia itu seorang wanita muda dan seorang pria paruh baya berada di hadapannya. Keduanya membungkuk pada Anna, lalu pria tua itu bertanya padanya.


"Nuguseyo? Yeogi mudhin saram-eul asimnikka? (Anda siapa? Apa Anda kenal dengan wanita yang dimakamkan di sini?)"


"Annyeong haseumnika. Naneun Anna imnida. Yeogie mudhin yeojaneun nae jeonnampyeon-ui eomeonida (Halo. Begini, saya Anna. Wanita yang dimakamkan di sini adalah ibu dari mantan suami saya)," jawab Anna terpana sejenak.


"Jeonnampyeon? Musun ... nae adeulgwa gyeolhonhaetdan mal-inga? Park Woojin? (Mantan suami? Maksudnya, kamu pernah menikah dengan anak saya? Park Woojin?)"


Anna mengernyit dengan mulut sedikit terbuka. Park Woojin? Apa yang dimaksud itu Logan? Yah! Anna ingat di mana ia pernah mendengar nama itu. Elina pernah menceritakan sedikit riwayat Logan saat masih kecil. Dan Logan pernah diberi nama Park Woojin.


"Nde. Hajiman, jigeum-eun chaetaegdoen hu ileum-i byeongyeongdoe eotseumnida. Ileum Logan Jonathan. (Tapi, namanya sudah berubah sejak diadopsi. Namanya Logan)," jawab Anna tercekat, entah mengapa rasanya lupa pada kosakata Korea yang dihafalnya.


"Jeongmalyo? Nuga geugeoseul chaetaeg haessseumnikka? (Benarkah? Siapa yang mengadopsinya?" tanya pria itu bersemangat, hingga menyadari bahwa ia melupakan sesuatu. "Mianheyo. Naneun adeul-e daehan iyagileul deul-eotgi ttaemun-e neomu heungbunhaetseumnida. Sogaehada. Jeoneun Park Jiwon-imnida. Geurigo je ttal Park Yeonji imnida. (Maaf. Saya terlalu bersemangat sebab mendengarkan cerita tentang anak saya. Perkenalkan. Saya Park Ji Won. Dan ini anak perempuan saya, Park Yeon Ji)." Seraya tersipu pria itu memperkenalkan dirinya dan wanita muda di sampingnya.


"Oh, nde." Anna hanya membungkuk singkat pada keduanya seraya tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Keureom, Park Woojin-e daehae allyeojuseyo? (Jadi, bisakah kamu ceritakan soal Park Woojin pada kami?)," desak pria itu.[]


__ADS_2