Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Cemas


__ADS_3

Anna membeku dengan mata membulat, lalu hatinya seakan tergelitik oleh seekor kupu-kupu yang sedang berterbangan. Logan menjauh perlahan dengan kaku darinya. Kecupan itu usai, Anna memandangi pria itu dengan tercengang sekaligus gugup.


"Aku pergi," pamit Logan canggung, kemudian berlalu dari hadapannya.


Anna memutar tubuhnya perlahan. Pipinya memerah, degup jantungnya masih kencang seperti orang sehabis berlari, menatap punggung kekar Logan yang semakin menjauh.


"Apa-apaan dia itu ... tadi?" gumamnya, masih berusaha menyangkal. "Tidak, dia pasti begitu karena ada mata-mata orangtuanya."


Tapi di mana? Dan Anna malah penasaran dengan menoleh ke segala arah tempat itu, mencari keberadaan seseorang yang ia sebut "penguntit".


...☘...


Semangkok bubur telah habis. Perut Anna telah terisi oleh makanan enak, meskipun awalnya ia tidak menginginkannya. Ia menikmati bubur di dalam kamar, dengan ditemani teh pahit hangat yang ia minta dari seorang pelayan sebelum kembali ke dalam kamar.


Ia menatap ke luar, langit biru, matahari menyingsing dengan cerahnya. Suhu di kota Manchester sekitar 22 derajat celsius, cukup hangat untuk awal musim semi yang indah.


Terpikir olehnya untuk jalan-jalan sendiri di kota ini. Yah, daripada bosan sendirian menunggu Logan yang masih bertemu dengan klien. Itu juga nggak tau kapan baliknya. Siapa tahu, klien Logan mengajaknya "having fun" ke mana gitu? Atau Logan terbesit untuk singgah ke rumah mantannya?


Anna tertegun. Eh! Kok ngomongin mantannya Logan, malah hatinya jadi dongkol gini, ya? Tidak mungkin kan kalau ia cemburu? Ia tertawa geli jika hal seperti itu sampai terpikirkan olehnya.


"Cemburu? Ya, kali?" gumamnya membantah, lalu tertawa. "Tau, ah! Waktunya jalan-jalan. Mana, ya, tasku?"


Anna menghampiri nakas yang ada di sisi kiri ranjang, membuka sebuah laci tempatnya menyimpan tas tangan abu-abu miliknya. Lantas, ia pergi keluar hotel. Tidak perlu jauh-jauh, cukup jalan kaki ke arah sebuah taman yang ada di dekat hotel.


Sejak tadi, ia sudah mengintai taman itu. Terlihat ada pepohonan rimbun berdaun merah muda, taman bunga yang mulai bermekaran, dan burung-burung yang berterbangan di sekitar tempat itu. Beberapa orang tampak bersantai, anak-anak kecil berlarian dengan dibimbing oleh orang dewasa begitu ia memasuki taman.


Anna memilih untuk menyusuri jalan setapak yang terdapat pepohonan rimbun. Selfie? Terpikirkan ide itu sambil merogoh tasnya. Tapi kemudian, ia tertegun.


"Hape-ku mana? Kok nggak ada?" gumamnya panik. Ia mencoba mengingat, lalu beberapa detik kemudian ia menepuk jidatnya. "Oya! Kan aku letakkan di atas meja? Aduh! Pelupa banget sih gue?"

__ADS_1


Anna mendecak, kesal karena pikunnya kambuh di saat yang tidak tepat. Namun, untungnya di dalam tas ia menyimpan sebuah kamera digital. Jadi, pakai saja yang ada.


Beberapa foto selfie dan foto pemandangan ia ambil. Ia melompat riang, semua hasil fotonya bagus. Lalu, ia melihat seorang nenek sedang duduk di sebuah bangku taman dekat air mancur. Di tangannya terdapat sepotong roti, yang ia sobek sedikit demi sedikit untuk dilemparkannya ke arah kerumunan burung-burung


Sepertinya menyenangkan melakukan hal itu. Tapi, ia tidak mempunyai sepotong roti. Jadi, ia hampiri saja nenek itu, berdiri di dekatnya sambil melihat burung-burung berebutan memakan remahan roti. Senyumnya terkembang


...☘...


Pertemuan dengan Mr. Hans berjalan dengan lancar. Kesepakatan kerjasama tercipta. Kini, Logan bisa bernapas dengan lega karena semua urusan sudah selesai. Namun, Gery malah membuat kepalanya pening karena menyampaikan sesuatu padanya.


"Pagi tadi di perusahaan yang ada di Jakarta, saya mendapat kabar kalau nyonya Charlote mendatangi tuan besar Matthew."


Logan berhenti berjalan di lorong sebuah restoran sambil mengernyit, memutar badan ke arah Gery. "Apa yang dilakukan nenek tua itu?" tanyanya penuh kecurigaan.


"Sepertinya, nyonya Charlote meminta hak atas warisan kakek Anda," jawab Gery, perawakannya yang sangat serius, membuat ucapannya terdengar meyakinkan.


Logan menarik napas dalam-dalam, lalu menghelanya. Ibu tiri dari ayahnya itu berulah lagi. Namun, ia tidak mau terlalu memikirkan karena ayahnya pasti akan mengatasi hal ini.


"Halo, Tante Aurellie. Apa kabar?" jawabnya, berhenti sejenak karena menunggu Gery membukakan pintu mobil untuknya.


"Baik, Logan. Apa kau sibuk? Kudengar dari kakak iparku, kau sedang berbulan madu ke Manchester?" balas wanita berambut pirang yang berumur sekitar 35 tahunan itu.


"Ya, begitulah." Logan menjawabnya ketika sudah duduk di dalam mobil. "Bagaimana kabar om Juan dan si kembar?"


"Baik juga kok. Oya! Mumpung ada di Inggris, mampir ke London dong. Kakak mau bikin pesta barberque di rumah minggu ini. Ajak istrimu menginap di rumahku."


"Baiklah. Aku akan mampir ke sana. Tapi kalau soal menginap, aku tidak yakin soal itu. Takutnya, Anna merasa tidak nyaman." Saat ia berbicara seperti itu, mobil yang dikemudikan oleh Gery telah keluar dari tempat parkir restoran ini.


"Canggung sudah biasa, nanti dia juga akan merasa nyaman kok," sanggah Aurellie, mencoba meyakinkan Logan. "Lagian, aku lihat Anna orangnya supel kok. Kau tahu, dia mudah akrab denganku waktu aku ajak dia mengobrol di pesta pernikahan kalian. Jangan sungkan. Ajaklah dia ke sana. Si kembar pasti menyukainya."

__ADS_1


Logan menolak dengan segan karena tidak mau Aurellie tahu soal rumah tangga tanpa cinta dengan Anna. Yang tahu soal ini hanya orangtuanya dan keluarga Anna saja.


Akan tetapi, ia berpikir ulang. Jika menolak, tidak enak juga dengan tante baik hatinya itu. Mungkin, tidak ada salahnya jika menyetujui undangan Aurellie itu.


"Baiklah. Aku akan segera ke London sekitar Sabtu ini," jawab Logan, setelah sekian lama merenung.


Aurellie tersenyum lebar. "Baiklah, aku tunggu, ya."


Logan menutup telepon setelah mengucapkan sapaan. Ponsel masih di dalam genggaman, ia menimbang-nimbang untuk menghubungi Anna atau menemuinya di hotel.


Maksud hati bukan untuk mengajaknya berkeliling seharian di kota Manchester, tapi ingin mengajaknya makan siang. Lagipula, ia ingin istirahat sejenak, dan membaca beberapa e-mail penting.


Mobil sudah berhenti di area parkir hotel. Logan pun turun dari mobil, setelah Gery membukakan pintu untuknya.


"Gery, kau boleh istirahat sekarang," kata Logan setelahnya.


"Baik, Tuan. Oya, saya akan kembali ke Jakarta besok sore," sahut Gery seraya menundukkan kepala sedikit.


Logan menganggukkan kepala. Syukurlah jika pria itu mau kembali ke Jakarta segera. Gery memang orang kepercayaannya, tetapi ia bisa saja mematuhi ayahnya untuk mengawasinya. Makanya, ia lega karena tidak harus berpura-pura mesra dengan Anna.


Kedua pria itu berjalan bersama menuju kamar masing-masing. Logan yang tidak tahu bahwa Anna pergi, masuk ke dalam kamar hotel, melonggarkan dasi sambil memasuki ruang tidur, lalu meletakkan tasnya di atas ranjang.


Logan tiba-tiba mengernyit, menyadari suasana sepi di kamar ini. Sejak tadi, ia tidak menemukan sosok Anna. Lalu, ia melirik ke arah kamar mandi. Mungkin gadis itu ada di dalam sana?


Oke, mungkin saja, sehingga Logan dengan santai mengganti pakaiannya dengan kaus putih tipis dan celana kolderoi. Namun, ia menjadi curiga karena selama itu Anna tak kunjung keluar dari kamar mandi. Tidak mungkin kan dia tertidur di dalamnya?


Karena penasaran, akhirnya Logan menghampiri kamar mandi. Diketuknya perlahan pintu kamar mandi sambil berseru memanggil. "Anna! Kau di dalam?"


Tidak ada sahutan, bahkan ketika Logan mengetuk pintu untuk kedua kalinya. Ia mendelik, langsung panik. Pikirnya, mungkin Anna pingsan di dalam sana. Maka, ia pun buru-buru menekan knop pintu, yang ternyata tidak dikunci.

__ADS_1


Jantungnya telah berdetak kencang karena cemas. Namun, saat ia periksa, kamar mandi dalam keadaan kosong. Ia menghela napas sambil menyingkapkan poninya dengan frustrasi.


"Ke mana perginya dia?"[]


__ADS_2