
Anna melamun, duduk di atas ranjang dengan kaki menjulur lurus, matanya menyipit sambil bergumam, "Nggak! Pasti cuma akting?"
"Apanya yang cuma akting?" Suara pria itu menyusul, setelah terdengar suara derit pintu terbuka.
Anna terkesiap dengan wajah pucat, kikuk memperbaiki posisi duduknya. Sementara itu, Logan menghampirinya sambil membawa sepiring kue bolu dan susu cokelat.
"Terserah mau dianggap akting atau tidak," kata Logan dingin sambil menyodorkan piring berisi kue. "Tapi, makanlah ini."
"Mama yang nyuruh, ya?" tanya Anna, pada saat Logan meletakkan segelas susu cokelat di atas meja berlaci. Alih-alih menjawab, Logan memperhatikan ranjang yang ditempati oleh Anna.
Tangannya menepuk-nepuk kasur, tampak serius seperti sedang berpikir. "Kasurnya kecil banget," komentar Logan, Anna pun melirik padanya.
"Emangnya mau sebesar apa? Yang tidur cuma satu orang," cerca Anna pelan, memalingkan wajah, lalu menyantap kuenya.
Meski begitu, Logan tetap mendengarnya. "Apa nyaman untuk ditempati?" tanyanya alih-alih tersinggung.
"Bagi orang sepertiku, ranjang ini sudah sangat nyaman untuk ditiduri," sahut gadis itu dengan nada sarkas.
Perasa juga pria itu, sehingga ia menimpali dengan tatapan dingin. "Apa tidak bisa jawabnya tidak pakai nyolot gitu?"
Anna menoleh, tersenyum tidak tulus. "Aku biasa aja, kok. Cuma pertanyaannya aneh kayak gitu, emang mesti dijawab kayak gitu juga." Ketus, jelas dan menohok, seperti itulah yang terdengar oleh Logan.
Pria itu tak mau berdebat lagi, ia kembali berkeliling sambil melihat-lihat. "Kamu tidur pakai kipas angin?" tanya Logan heran, melihat benda itu berdiri tegak di dekat ranjang.
Anna menghela napas, tetap menjawab meski ogah-ogahan. "Kamar ini sudah cukup sejuk, tidak perlu AC lagi."
Sepertinya, Logan paham. Dia kembali menghampiri Anna dengan mulut terkatup rapat. Namun, tetap saja Logan mengganggu saat menikmati kue kesukaannya yang cokelatnya terasa lumer di mulut.
Logan mengibas-kibaskan tangannya, memberi isyarat pada Anna. "Tolong geser sedikit. Aku mau duduk."
"Songong," gerutu Anna tanpa suara, ogah-ogahan bergeser sedikit. "Kan bisa duduk di sebelah sana. Kenapa harus di tempatku sih?"
__ADS_1
"Bawel! Protes aja," balas Logan, ternyata malah membaringkan badannya di atas ranjang. Logan menggeser bantal yang diletakkan di tengah ranjang untuk ia pakai. Matanya terpejam sambil bergumam, "Aku mau tidur sebentar. Nanti sore, tolong bangunkan."
Bibir Anna manyun, kesal sekali karena pria itu berani-beraninya memerintah. Ia sengaja mendengus kencang agar pria itu tahu betapa geramnya ia. Kemudian, ia kembali mengunyah kuenya dan meminum susunya sampai habis.
Pria itu terlelap, Anna tak tega untuk membangunkannya. Jadi, ia yang akan mengantarkan piring dan gelas kotor ke dapur. Di sana, ia mendapati mama dan Tasya tengah mencuci piring.
"Mama nggak capek? Biar aku sama Tasya aja yang cuci piringnya," sapa Anna sambil meletakkan gelas dan piring kotor di westafel.
Mama tersenyum, langsung menyambar kedua benda yang dibawa Anna tadi. "Nggak usah. Kamu aja yang istirahat."
"Kan Mama udah capek masak dari tadi. Dipaksain kerja, nanti ngeluh sakit lagi."
"Tau nih Mama." Tasya ikut menegur. "Kak, tadi aku udah nyuruh mama buat duduk di ruang tamu sama ayah. Sedangkan soal piring kotor, biar aku yang cuci. Tapi eh ... mama tetap keukeh buat cuci piring. Katanya mama lagi senang."
"Senang kenapa?" tanya Anna, setelah tawa kecilnya reda.
Lirikan mata dengan senyum mencemooh Tasya mengarah pada mamanya. "Ya, apalagi kalau bukan karena kedatangan menantunya yang ganteng." Tasya tertawa bersama dengan mama, tetapi Anna hanya menyeringai karena terdengar menggelikan.
"Tapi ya, Anna. Suami kamu itu baik banget. Dia yang berinisiatif buat ngambilin kue, terus bikin susu hamil yang dia simpan dalam mobil. Nah, ini dia!" Mama meraih sebuah kotak kecil yang tingginya sekitar 6 inci dari dalam kulkas. Anna menerimanya dengan mata membulat. Sejak kapan pria itu kepikiran buat melakukan hal ini? "Dia juga lho, yang bikinin kamu susu," puji mama lagi, senyumnya lebih lebar.
Tsundere? Anna menyeringai lagi. Bahkan sebutan itu lebih menggelikan. Sejenak, Anna kemudian menatap lagi kotak merah muda yang dipegangnya sambil merenung. Apa benar Logan sepeduli itu? Atau dia melakukan ini karena disuruh ibu mertuanya?
Mama kembali ke ruang tamu bersama dengan Anna setelah mencuci piring, sementara Tasya pergi ke kamarnya. Mereka bertiga mengobrol sambil menikmati beberapa potong kue dan secangkir teh. Jam dinding menunjukkan pukul 3 sore, Anna menengok ke luar jendela.
"Yah, hujan," keluhnya bergumam kecil.
Ayah dan mama menengok ke arah yang sama, kemudian ayah berkomentar. "Biasanya sih, hujan deras cuma sebentar kok turunnya."
"Logan minta aku bangunkan dia. Soalnya, kita mau pulang kalau udah sore," kata Anna, suaranya terdengar cemas.
"Tunggu reda dulu," sahut mama. "Kalau hujan jalanan kan licin."
__ADS_1
Apa tunggu satu jam lagi aja, ya? Anna melirik sambil berpikir. Dan, okelah. Ia akan duduk di sini sampai acara FTV yang sedang ditontonnya selesai.
Pada pukul 4, TV dimatikan, Anna beranjak ke dekat jendela, mende*sah cemas melihat hujan semakin deras. Ia kembali mendekati orangtuanya, yang terlihat terbungkam.
"Kayaknya, kita nekat pulang aja deh," saran Anna, mau tidak mau.
"Tapi, kalau udah hujan deras begini, biasanya jalanan udah banjir." Mama berpendapat.
Kalau tahu gitu, mending tadi tidak usah menahan diri untuk pulang. Gerutu Anna dalam hati, lalu beranjak dari kursinya. "Aku mau bangunin Logan dulu ya, Ma, Yah."
Sepertinya tidak perlu, karena Anna berpapasan dengan Logan di tangga. Pria itu akan turun ke bawah sambil menguap.
"Sejak kapan hujan? Kok nggak bangunin aku?" tanya Logan, seakan protes dengan keteledoran Anna.
"Dari jam 3. Aku pikir, kita bisa pulang kalau hujannya udah reda," jawab Anna dengan suara kecil, sadar kalau ia telah salah perkiraan.
Logan hanya bisa mendengus karena segan marah di depan kedua orangtua Anna yang sedang memperhatikan mereka. Tangannya merogoh saku celananya, lalu menuruni tangga.
"Ma, Yah," katanya saat berada di depan mertuanya. "Saya sama Anna pulang dulu." Anna berhenti di belakangnya, tercengang. Ayah dan mama saling menatap kurang yakin.
"Sekarang?" tanya mama tampak tidak setuju. "Tapi hujan sangat deras, kemungkinan beberapa titik jalan sedang banjir."
"Tapi, kami harus pulang. Mama dan papa pasti khawatir," debat Logan, bersabar. Anna merasakan atmosfir perasaan Logan hampir meledak.
"Gimana kalau kita tunggu sebentar lagi sambil memantau jalan yang bisa lalui nanti?" sarannya, mendadak muncul di kepala. Tentu saja, mata tajam Logan sontak mengarah padanya, hingga Anna tersentak dan menyeringai sedikit.
"Ayah setuju." Anna lega, akhirnya ada pembelaan dari ayah.
"Atau ..." sahut mama bersemangat. "Logan, besok kamu masuk kerja?"
Pertanyaan yang membuat Logan mengernyit penuh tanda tanya. "Hari Senin, Ma," jawabnya.
__ADS_1
"Oya! Terlalu tanggung kalau masuk hari Sabtu," gumam mama. "Kalau begitu, bagaimana kalau Anna sama Logan menginap di sini?"
Keraguan tergambar jelas pada wajah pasangan pengantin baru itu. Pasalnya, keduanya memiliki masing-masing alasan untuk enggan menerima ide itu.[]