
Hamil?
Anna membeku dengan mulut setengah terbuka. Awan kelam seakan memenuhi otaknya, lalu tubuh ini terasa seperti melayang jatuh dari ketinggian.
Masa baru pertama kali 'begituan' sudah....
"Tidak mungkiiiiiiin!" teriak Anna histeris, memegangi kepalanya. "Tidak! Tidak! Tidaaaaaaak!"
"Apanya yang 'tidak', Kak?"
Anna mendelik mendengar suara Tasya yang memanggil-panggilnya sambil mengguncangkan-guncangkan tubuhnya. Lantas, ia bergegas bangun, melihat sekitar kamarnya dengan tercengang.
"Syukurlah cuma mimpi," gumamnya, menghela napas lega.
"Kakak kenapa? Kesambet? Dari tadi aku bangunin, tapi nggak bangun-bangun, malah mengigau," tanya Tasya, cara bicaranya terdengar menyebalkan.
"Cuma mimpi," jawab Anna sambil kembali berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Eh, mau tidur lagi?" cegah Tasya tiba-tiba.
"Iyalah. Kan masih malam," jawab Anna.
"Emangnya sekarang masih jam 7 malam? Tuh, lihat! Udah jam 7 pagi tahu!" Tasya menunjuk pada jam dinding, dan Anna juga melihat sinar matahari yang masuk dari celah gorden yang menutupi jendela kamar.
Jam 7 pagi! Anna tersentak, dan langsung melompat dari kasur. Aduh, kalau kayak gini, alamat bakal terlambat. Kok bisa-bisanya bermimpi buruk kayak gitu, hingga membuatnya terlambat? Artinya, mimpi pembawa sial nih!
...🍀...
Pak Manto dan anaknya, Tama, sedang berjalan-jalan di dekat di sebuah pasar yang ramai. Mereka tertawa sambil melihat-lihat barang-barang yang dijajakan oleh penjual.
"Jadi, Sabtu besok kamu harus bersiap!" kata pak Manto, setelah menjabarkan semua rencananya pada Tama. "Kita nggak boleh gagal, apalagi sampai ketahuan."
"Tapi, Pak. Apa sebaiknya kita bikin kesepakatan kayak biasa aja? Kayanya, agak berisiko?" komentar Tama, suaranya mengecil saat menyatakan keraguannya.
"Ya, memang!" sahut pak Manto, yang memang tipikal gampang kesal. "Tapi kan Bapak sudah bilang tadi, 'kita harus hati-hati! Jangan sampai ketahuan!' Masa Bapak harus ulangin terus sih?" Kemudian, ia bergumam gemas, "Bisa berbusa nih mulut!"
Tama diam jika bapaknya itu sudah membentak. Bukannya ia tak mengerti maksud pria itu, tetapi ia hanya menyampaikan pendapatnya saja. Apa itu salah?
Karena tak mau berdebat lagi, mereka hanya diam sambil terus berjalan-jalan di sekitar kompleks kios buah dan sayuran. Tama yang sedang melihat-lihat di sebuah kios buah, tiba-tiba berhenti ketika menemukan sesosok wanita yang tampak familier. Pak Manto sudah berjalan beberapa langkah di depannya, dan Tama berseru memanggilnya.
"Pak! Pak! Sini deh!"
Pak Manto mengernyit, berjalan mundur sambil menggerutu, "Ada apa sih?"
"Itu...." Tama menunjuk seorang perempuan cantik dan tinggi bak model dan berambut pendek warna kemerahan. "Dia bukannya...."
"Itu Wanda, 'kan?" gumam Pak Manto, meneruskan ucapan Tama.
"Iya, Pak." Tama mengangguk. "Apa kita sergap dia sekarang?"
Pak Manto menyahut gemas. "Iyalah! Dia sudah menipu kita–nggak melakukan tugas, tapi bawa uang kita."
"Kalau gitu, ayo kita bergerak!" cetus Tama, yang disetujui oleh Pak Manto dengan anggukan kepala.
Kedua pria itu masuk ke dalam kios buah tanpa suara dan berpura-pura menjadi pembeli. Pak Manto berdiri di samping kanan Wanda, sementara Tama di samping kirinya.
Namun, mereka tidak langsung menangkapnya. Tak berapa lama kemudian, Wanda keluar dari toko, dan mereka mengikutinya. Ketika Wanda memasuki gang sempit, saatnya kedua pria itu mendekat, lalu menyergap kedua lengannya.
"Nah! Ketangkap kan lo sekarang?" sentak Pak Manto, membuat Wanda terlonjak kaget.
Wanda meronta. "Apa-apaan ini...?" Namun ketika melihat kedua pria itu, wajahnya berubah panik. "Ampun, Pak. Tolong lepaskan saya."
"Lepaskan?" dengus Tama. "Kamu sudah menipu kami tahu!"
"Iya!" timpal Pak Manto. "Kenapa kamu tidak melakukan tugas kamu? Duit kami malah kamu makan!"
__ADS_1
"Ampun, Pak. Saya akan jelaskan." Wanda memelas sambil menangkupkan kedua tangannya. "Jadi, waktu saya mau ke kamar itu, ada perempuan yang masuk ke sana. Saya pikir, Bapak ganti perempuan lain."
Kedua pria itu tercengang sambil saling menatap sejenak. Benarkah yang dikatakannya itu?
"Mana mungkin kami ganti perempuan lain," sahut pak Manto, masih tak percaya.
"Jangan-jangan kamu yang minta teman kamu untuk menggantikan kamu," tuding Tama. "Sementara kamu, malah menikmati uang itu sendirian, 'kan?"
"Sumpah, Pak. Saya tidak bohong," rengek Wanda. "Saya memang mau ke kamar itu, tapi ada pelayan yang antar perempuan lain ke kamar. Jadi saya pikir, tugas saya digantikan oleh perempuan itu."
Tama dan pak Manto jadi semakin bingung, bagaimana bisa hal itu terjadi? Lalu kemudian, Tama jadi teringat sesuatu, lalu berkata agak berseru:
"Pantas aja, waktu aku mau buka pintu dengan kunci yang aku dapatkan, pintu kamar itu tidak terbuka, Pak. Untung aja, aku punya kunci cadangan pintu itu."
"Jadi maksud kamu, Septian kasih kunci yang salah?" tanya pak Manto, agak berbisik.
"Saya dapatkan kunci itu bukan dari Septian, tapi dari pelayan lain. Saya tanya sama dia kunci kamar untuk Logan, dan saya nggak lihat nomor kamar yang ada di kunci itu."
Alhasil, keteledoran kecil Tama mendapatkan sebuah pukulan di kepala dari pak Manto.
"Dasar goblok!" maki pak Manto.
Tama mengelus kepalanya yang sakit, sementara pak Manto berfokus kembali pada Wanda.
"Terus, kenapa kamu tidak kasih tahu kita?" tanya pak Manto.
"Sudah. Tapi telepon Bapak tidak aktif," sahut Wanda, protes, menunjuk pada Pak Manto. "Sedangkan kamu, malah nggak diangkat."
Tama terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf. Hape aku silent karena takut ketahuan."
Terus, kalau sudah kayak gini mau bagaimana? Tama dan Pak Manto juga ikut salah, walaupun rencana mereka bisa dibilang berhasil.
"Karena kamu nggak melakukan tugas kamu, kembalikan uang kita," tagih Pak Manto, mengulurkan tangannya ke arah Wanda.
"Oh, nggak bisa balik lagi, ya?" ulang Pak Manto, menunjukkan wajah sangar yang membuat Wanda bergidik.
Pak Manto menghelanya hingga tubuhnya terhempas ke tembok. Tama juga menyudutkannya, sehingga Wanda semakin gemetaran.
"Mau kembalikan uangnya, atau nyawa melayang?" ancam Tama.
"I ... iya! Iya! Saya kembalikan," kata Wanda gagap.
Dengan tangan gemetaran, Wanda merogoh dompetnya. Entah beberapa lembar uang pecahan 50 ribuan dikeluarkan, lalu diberikan pada Pak Manto.
"Sisanya, saya kembalikan besok," katanya suaranya terbata-bata. "Saya permisi dulu...."
Pak Manto dan Tama tersenyum puas. Wanda terbirit-birit meninggalkan mereka.
"Pak," kata Tama kemudian. "Aku masih penasaran, kenapa kamar itu bisa diisi sama wanita itu, ya?"
"Entahlah." Pak Manto menaikkan kedua bahunya. "Yang penting sekarang, kita lakukan rencana kita selanjutnya."
...🍀...
Akhirnya, inilah yang dipilih oleh Anna. Ia memakai sebuah dress warna merah muda yang terlihat manis dipakai olehnya. Rambutnya yang panjang dan ikal dibiarkan tergerai.
"Cantik banget lo, Kak," puji Tasya, ketika Anna berjalan di ruang tamu.
"Mau ke mana, Kak?" tanya Adnan, adik bungsunya.
"Keeeepoooo," ledek Anna, dan Adnan memanyunkan bibirnya.
Deru mobil terdengar di luar rumah. Anna bergegas menghampiri jendela, mengintip mobil milik siapa yang berhenti di depan rumah.
Kenan turun dari mobil mewah itu. Anna tersenyum, dan berpamitan pada Tasya. Ia juga berpesan agar memberitahukan pada orangtuanya kalau ia pergi bersama teman.
__ADS_1
Tasya mengangguk, kemudian melanjutkan menonton TV. Namun, hatinya menggelitik untuk mencari tahu sesuatu. Lantas, ia melompat dari sofa, menghampiri jendela.
Adnan melihat tingkah kakak keduanya itu, dan menjadi penasaran. Ia pun berdiri di dekat Tasya, ikut mengintip dari jendela.
"Itu siapa, Kak?" tanya remaja itu, begitu melihat Anna sedang bersama dengan seorang pria tampan si pemilik mobil mewah.
"Astagfirullah!" seru Tasya, terkejut, lalu menoleh. "Ngapain lo di sini? Sana! Sana!"
"Kakak juga ngapain? Kepo aja sama cowoknya kak Anna," balas Adnan sinis, lalu pergi dari tempat itu.
Tasya menyalak marah, tapi tidak membalasnya. "Memangnya salah kalau pengin tahu soal cowok yang sedang dekat dengan kakaknya?" gerutunya.
...🍀...
Tamu telah hadir memenuhi ruangan, tinggal menunggu calon tunangan menunjukkan diri. Dan inilah saatnya, mereka menoleh ke arah pintu, melihat seorang wanita cantik bagai bidadari memasuki ruangan.
Nina tersenyum lebar. Tubuhnya yang langsing berbalut gaun putih panjang dan bahu terbuka dipandang kagum oleh para tamu. Ia melangkah menghampiri Elina, Matthew, dan kedua orangtuanya yang sedang berdiri di atas panggung kecil.
"Cantik sekali malam ini kamu, Nina," puji Elina, tersenyum.
"Tante juga cantik," balas Nina. "Oh, iya. Logan mana, Tante?"
Elina menaikkan bahunya, lalu menoleh ke sekeliling ruangan sama seperti Nina. "Entahlah. Mungkin masih bersiap-siap?" jawabnya ragu.
Memang. Logan sedang duduk sambil menundukkan kepala di ruang ganti khusus pria. Tangannya memukul meja, geram, lalu berteriak:
"Sial! Siapa mereka? Beraninya mereka bermain-main denganku!"
Logan kembali mendapatkan pesan dari nomor lain, tapi dari orang yang sama. Mereka mengancam akan menyebarkan video skandalnya dengan Anna, kalau Logan masih ingin menjual pabrik gula yang ada di Purwakarta.
"Tikus-tikus itu ... awas saja kalau tertangkap!" gumamnya geram dengan rahang mengeras.
Ponselnya berbunyi, sebuah telepon masuk dari mamanya. Ia melirik, menghela napas dan bersikap tenang sebelum menjawabnya.
"Halo, Ma."
"Logan, cepat masuk ke dalam ruangan. Sebentar lagi, acara akan dimulai," sahut Elina di ujung sana.
"Iya, Ma. Aku akan segera ke sana," tandasnya.
Logan beranjak dari tempat itu, memasuki ruangan dengan diusahakan tersenyum seperti biasa, menyapa, serta membalas sapaan dan ucapan selamat dari koleganya.
Kenan dan Anna memasuki ruangan, bersamaan dengan sampainya Logan di atas panggung. Anna tampak gugup. Bukan karena baru pertama kali datang ke pesta mewah seperti ini, melainkan karena ada perasaan tak nyaman di hatinya.
"Para hadirin yang terhormat," kata seorang pria yang ditunjuk sebagai pemandu acara, membuat seluruh tamu undangan menoleh padanya. "Malam yang indah ini, kita akan menjadi saksi bersatunya pasangan yang saling mencintai ini."
Nina dan Logan saling memandang. Wanita itu mengulas senyum bahagianya, sementara Logan hanya tersenyum kecut.
"Baiklah. Kita mulai saja tukar cincinnya, ya," kata MC lagi, yang kemudian disertai oleh suara tepukan tangan dari para tamu undangan.
"Anna," panggil Kenan, menoleh pada gadis di sampingnya. "Kita berdiri lebih dekat lagi, yuk!"
Anna tersenyum tipis. Sebenarnya, kakinya enggan beringsut ke sana, tapi ia tak mau Kenan menanyakannya.
Seorang gadis menghampiri Logan dan Nina, membawa sebuah nampan berisi dua kotak perhiasan. Logan dan Nina mengambil masing-masing cincin dari kotak itu.
Untuk giliran yang pertama, Nina duluan yang menyematkan cincin emas putih itu ke jari manis Logan dengan hati berbunga-bunga. Lalu, ruangan menjadi riuh oleh tepuk tangan.
Kini, giliran Logan. Diraihnya tangan kiri Nina. Dipandangi kekasih hatinya dengan penuh cinta, lalu mengarahkan cincin ke jari manisnya.
Spontan Anna memegangi dadanya, pandangannya sendu. Hati ini, entah mengapa merasa tak rela melihat pemandangan ini. Apa mungkin karena Logan pria pertama yang pernah menidurinya? Jadi, ia tak ingin pria yang sudah memiliki dirinya seutuhnya menjadi milik orang lain?
Ah, tidak seharusnya ia memiliki perasaan seperti itu! Logan memiliki seorang wanita yang tengah menunggu cincin itu disematkan ke jari manisnya, sebagai simbol bahwa Logan akan dimiliki olehnya secara utuh.
Namun, karena mungkin licin, cincin itu terlepas dari tangan Logan, dan menggelinding di lantai. Semua orang terkejut, menoleh ke arah cincin, yang kemudian berhenti tepat di depan sepatu berwarna putih milik Anna.[]
__ADS_1