Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Harapan Besar Mama


__ADS_3

Kenan mengantarkan Anna sesuai dengan janji. Anna menawarkannya untuk masuk ke dalam, tapi Kenan tampak berpikir ragu.


"Em ... kayaknya nggak deh. Nanti disangka yang bukan-bukan sama orangtua kamu," jawab Kenan seraya tertawa renyah.


Anna turut tertawa mendengar selorohan itu, lalu menjawabnya, "Nggak kok. Malah, mama dan ayahku bakal memperlakukanmu dengan baik."


Menarik, tapi Kenan tetap pada jawaban awalnya. "Next time deh. Hari ini, aku mau mengunjungi tempat lain. Titip salam aja buat orangtuamu dan Logan."


"Ya udah, hati-hati menyetirnya, ya?" kata Anna, lalu Kenan masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengannya.


Anna pun membuka pagar rumah yang tak terkunci. Saat ia menapaki satu demi satu anak tangga yang menuju pintu masuk, ponselnya berdering. Anna tertegun bahwa yang meneleponnya adalah Logan.


"Apa dia sudah baca pesanku?" gumamnya sembari meneruskan langkahnya, lalu menjawab telepon Logan. "Halo, Logan...."


"Kenapa kau tidak menungguku?"


Suara sahutan Logan keras sekali menghentak telinganya, sampai Anna terkejut dan spontan menjauhkan ponsel dari telingannya. "Apa sih? Tiba-tiba marah gitu?" gerutu Anna pelan sambil menatap kesal layar ponselnya, kemudian kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. "Aku pikir kau sibuk."


"Siapa yang bilang gitu?" tukas Logan geram.


"Ya ... habis teleponmu tidak dijawab-jawab. Ya udah, aku simpulkan begitu," balas Anna, jadi ikutan jengkel. Karena tak mau orangtuanya mendengarnya bertengkar dengan Logan di telepon, Anna memilih bergeming di depan pintu.


"Ya, setidaknya kau tunggu aku sebentar. Aku jadi kesal waktu kau bilang sedang bersama dengan Kenan."


Lha? Kenapa pria ini? Dia kesurupan lagi? Bukannya hubungan pertemanannya dengan Kenan sudah kembali akur?


"Kenapa harus kesal pada Kenan? Jangan kekanak-kanakkan lagi deh, Logan. Kenapa harus mencemburui sahabat sendiri? Kau tidak percaya padaku?"

__ADS_1


Kata-kata ajaib yang membekukan lidah Logan seketika. Gadis itu menghantamnya dengan rasa bersalah karena diduga telah mencurigainya. Mampuslah kau, Logan! Bersiaplah menerima kemarahan Anna yang sebentar lagi meledak!


"Bu ...bukan begitu," jawab Logan terbata-bata, mulai menciut mendengarkan nada bicara Anna yang mulai meninggi.


"Sekilas info aja! Saat ini aku sedang berada di rumah orangtuaku. Dan nanti, aku pulang naik taksi online aja. Sekian!" Setelah mengatakan semua kejengkelannya itu, lantas Anna menutup teleponnya.


Anna mendengus keras setelah menekan tombol "reject" dengan kasar. Sudahlah! Kedatangannya ke rumah orangtuanya bukan untuk menunjukkan wajah gusarnya saat ini. Ia ingin menemui mereka dengan perasaan senang.


Sebelum tangannya menyentuh handel, Anna menyingkirkan raut wajah garangnya, lalu tersenyum. Baru akan mengetuk, pintu sudah dibuka dari dalam. Anna terkejut, begitu juga dengan mama yang muncul di hadapannya.


"Eh, Anna?" seru mama, keterkejutannya berganti dengan senyuman riang. "Ayo, masuk!"


Anna langsung mengamit lengan mamanya seraya masuk ke dalam. Mama mulai berceloteh mengenai keadaannya dan soal menantu tampannya yang tak tampak bersamanya.


Anna menjelaskan satu per satu, dan soal Logan, ia jawab sambil duduk di ruang tamu. "Dia lagi sibuk. Aku datang ke sini sama temanku."


"Udah, tapi dia nggak mau," sahut Anna, protes karena ibunya menoyor pelan lengannya.


"Jadi, Logan udah mulai masuk kerja?" Tiba-tiba mama menghembuskan napas kecewa dan muram. "Padahal, ada yang mau Mama sampaikan sama dia."


Karena pertengkaran tadi, Anna jadi bete jika membahas soal Logan. Ia tetap menimpali mama dengan nada bicara yang sebisa mungkin tak menunjukkan kekesalan. "Ngomong aja sama aku, nanti aku sampaikan."


Ayah kebetulan lewat di ruang tamu seraya membawa mug berisi kopi hangat yang asapnya masih terlihat mengebul di udara. Ia melihat dari kejauhan istrinya begitu bersemangat mengatakan sesuatu pada Anna.


"Anna, di kampung Mama ada seorang ahli pengobatan yang bisa mengobatimu. Kamu sama Logan bisa punya anak lagi."


Anna tersenyum paksa. Sebegitu inginnya mama memiliki cucu, sampai mencari tahu soal pengobatan alternatif agar dirinya hamil lagi. Namun, mama tak menyadari bahwa hatinya kembali terluka jika membicarakan soal anak.

__ADS_1


Ayah menggelengkan kepala, heran melihat istrinya yang mendesak Anna tanpa memikirkan duka yang baru dialaminya. Maka, ia menghampiri kedua wanita itu, dan menyela.


"Ma, Anna kan baru kehilangan anak, biarkan dia tenang dulu," ujar ayah seraya duduk di antara kedua wanita itu.


Mama menoleh tak setuju. "Tapi, Anna nggak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Lagipula, kapan lagi Anna bisa memulai pengobatan? Umurnya udah 28 tahun, dan Logan sudah 31 tahun. Jika ditunda-tunda, mereka akan semakin lambat mempunyai anak."


Ayah kalah berdebat, tak tahu lagi harus menasihati istrinya tanpa menimbulkan pertengkaran. Akhirnya, ia cuma bisa menggerutu pelan seraya mendekatkan gelas di bibirnya. "Dia sendiri yang ngebet pengin punya cucu, umur Anna yang dijadikan alasan."


"Apa?!" sahut mama marah, ternyata dengar juga gerutuan ayah.


Ayah terkejut mendengar bentakkan mama, hampir saja kopi yang diminumnya muncrat. Diam-diam Anna terkekeh, lalu menenangkan mama.


"Udah, ya, Ma, Yah. Soal itu, akan aku bicarakan dengan Logan," katanya asal saja, daripada mama mencerewetinya terus soal pengobatan itu.


Betul juga, raut wajah mama kembali cerah dengan senyuman lebar seraya kembali menatap Anna. Mama terlalu memberi harapan besar di tangan Anna. Namun, Anna sendiri tidak yakin harapan itu bisa diwujudkannya. Saat ini, ia hanya wanita bercangkang kosong.


...💍...


Anna pulang ke rumah setelah makan malam di rumah orangtuanya. Mama memasakkan gado-gado padang yang enak sekali. Anna sampai lahap menyantapnya.


"Ma, aku pulang dulu, ya?" pamit Anna seraya mencium tangan mama dan ayah.


"Hati-hati, ya, Nak," timpal mama, tersenyum bahagia karena bisa menjumpai anaknya meski sebentar. "Logan jemput kamu?"


Wajah Anna muram sejenak. "Aku naik taksi online. Tapi, belum aku pesan sih?" jawabnya mengalihkan.


"Tapi, itu bukannya Logan?" seru mama, matanya menyipit sembari menunjuk pada sosok seorang pria yang sedang keluar dari mobil."

__ADS_1


Anna menoleh pada pagar yang sedang dibuka oleh Logan. Ia tercengang tak percaya. Logan tak menurut, padahal Anna sudah bilang untuk jangan menjemputnya. Tapi, pria itu malah ke sini. Ini diluar dugaan.[]


__ADS_2