
..."Begitu saja kau pergi, dan membuatku terluka...
...Tidakkah kau mendengar, rasa sedihku?"...
...***...
Pemberkatan akan dilakukan di sebuah gedung pada pagi harinya. Nina yang minta, karena ia tak mau ada yang menghalangi pernikahan, termasuk Anna.
Tapi ... apa iya?
Nina begitu bahagia memakai gaun warna putih yang begitu pas di tubuh langsingnya. Ia berdiri di depan kaca seraya memandangi dan memuja keanggunan dirinya.
Wajahnya telah dirias. Sekitar 30 menit lagi pernikahan akan dimulai. Namun, tiba-tiba Tita datang dengan wajah pucat dan napas terengah-engah. Ia menghampiri Nina, lalu berbisik.
"APA?! Logan tidak ditemukan?" pekiknya kaget, sontak beranjak dari kursi.
Oh! Apakah pernikahannya akan gagal kali ini? Nina memegangi kepalanya, dan tiba-tiba terhuyung. Tita sigap menopang tubuhnya.
"Logan... ke mana dia? Kenapa dia pergi di hari sepenting ini?" gumam Nina lirih.
...💍...
Langit cerah dan terik. Logan berdiri di anjungan, menatap langit itu dari sebuah kaca besar bening. Terlihat sebuah pesawat baru terbang meninggalkan bandara.
Mungkin itu pesawat yang ditumpangi Anna.
Matanya menyendu. "Kau akan pergi seperti ini, Anna?" gumamnya. "Baiklah. Semoga kau bahagia, Anna."
Gery sibuk menjawab telepon, lalu menghampiri Logan setelah menutup telepon. Logan bergeming meski tahu langkah pria itu mendekat padanya.
"Maaf, Pak. Tapi, kita harus pergi," kata Gery.
"Baiklah." Logan menghela napas seraya berbalik menghadap Gery. Kemudian, Logan berjalan duluan, Gery menyusul di belakangnya.
Kedatangan Logan ke bandara memang sengaja diperlambat. Ia tak ingin menghalangi keputusan Anna untuk pergi, dan ia menyusul ke bandara untuk mengucapkan selamat tinggal yang tak tersampaikan.
Meski hubungan ini berakhir, bukan berarti cinta ini akan hilang seperti yang dipinta Anna. Ia tak bisa melupakan cintanya pada Anna.
...💍...
...Seri 3: Lovers in Seoul...
****Enam bulan kemudian****.
"Annyeong! Aku lagi di Pulau Jeju nih!" seru Anna, melambaikan tangan di depan kamera ponselnya.
Orang yang ada di video call mendecak. Dia Yerina, sahabat Anna. "Ck! Apa lo cuma bisa mengatakan 'annyeong'? Padahal, sudah 6 bulan di sana," balas wanita itu meledek.
__ADS_1
"Wah! Nantangin? Lo mau lihat gue ngobrol sama salah satu penduduk di sana?" seru Anna, pura-pura kesal.
"Nggak usah pemer! Paling juga lo gelagapan pas ngobrol sama mereka?" Yerin bertambah mengejek.
"Wah! Bener-bener nih orang?" Anna menurunkan ponselnya, mendecak. "Coba cek akun tiktok gue deh! Banyak vlog-vlog gue yang lagi wawancara pake bahasa Korea!"
Yerin terkekeh. Tidak perlu dibuktikan, Yerin sudah lihat semua postingan vlog Anna di media sosial. Anna memang sudah lancar bahasa Koreanya sebelum kerja di negara itu. Yerin memang sengaja ingin meledek Anna sampai kesal benaran. Dan sepertinya Yerin berhasil.
"Nggak ada waktu buat lihat itu. Nggak penting! Mending turu," timpal Yerin, tak puas melihat reaksi jengkel Anna yang kurang greget.
"Ya udah. Gue kan cuma memberi saran," sahut Anna, sebisa mungkin tak terpancing oleh ledekan Yerin. "Udah dulu, ya? Bye!"
Yerin mau berkata lagi, tapi keburu ditutup video call-nya. Anna mendengus dan menggerutu sambil meletakkan ponselnya ke dalam tas.
"Ih, dasar Yerin! Dikira aku nggak tahu kalau dia sudah nonton vlog-vlog aku!"
Anna melirik pada air laut yang berkilau, lalu menatap langit. Sekarang hari terakhir liburannya dan hari sebelum memasuki musim gugur. Anna merapatkan mantelnya, angin membelai kulit dan rambut cokelatnya yang panjang.
Anna menyeka rambut itu dari wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinga. Lalu, termenung lagi menatap ujung laut tak bertepi. Bayangan ingatan muncul, kenangan Anna bersama Logan menghantui lagi. Anna merasa mata dipenuhi oleh air. Ia terkesiap dan buru-buru menyekanya.
"Sudah 6 bulan, tapi aku tak pernah bisa melupakanmu. Apa ini karma?" gumamnya, lalu menatap langit. "Tuhan, cinta ini menyakitkan. Bisakah kau buat aku lupa? Dia sudah bersama dengan orang lain."
Lalu, Anna menghela napas dan tertunduk. Ia sadar, tak ada gunanya mengeluh pada Yang Maha Kuasa. Takdir sudah ditentukan, dan sudah jadi penuntun hidup manusia. Mungkin, memang bukan waktunya untuk melupakan Logan. Atau ... memang Anna takkan bisa melupakannya?
"Ah, sudahlah!" gerutunya, lalu berbalik dan berjalan menjauhi pantai seraya menenteng sepatu ketsnya. Membiarkan kakinya memijaki pasir dan meninggalkan jejak di atasnya.
Ya, Logan!
...💍...
Kerja lagi! Alarm yang disetelnya terdengar menyebalkan. Anna mematikannya dengan agak kasar, lalu beranjak seakan tak rela lepas dari ranjangnya.
Liburan seminggu seakan baru saja dilewatinya. Kini, Anna harus melewati hari baru, bekerja lagi, dan menghadapi beberapa karyawan menyebalkan yang suka bicara di belakangnya.
Mereka tahu Anna diterima kerja karena koneksi Yerin, dan mereka iri tanpa melihat kemampuannya yang sudah dibuktikannya selama 6 bulan bekerja. Dan rasis kedua yang harus dihadapinya adalah, karena mereka tak suka pada orang yang berasal dari Asia Tenggara.
Masa bodo! Lagi pula, ada juga kok karyawan yang baik. Anna di Korea hanya 2 tahun, dan ia akan kembali ke Jakarta setelah kontrak kerjanya selesai. Anna akan bertahan dan tetap bersemangat!
Anna sudah selesai mandi, berpakaian, dan berdandan natural tapi tetap cantik. Buru-buru ia berlari ke halte bis yang ada di depan apartemen sederhana dan nyaman yang ditunjukkan oleh Yerin.
Bus biru berhenti di depan halte, Anna sigap beranjak dan bergegas masuk ke dalam bus bersama dengan beberapa penumpang. Anna menempelkan kartu yang ada di dekat sopir bus, lalu memilih tempat duduk.
Sama seperti di Jakarta, Seoul begitu sibuk di pagi hari pada hari Senin. Saat sampai di gedung tempatnya bekerja, para karyawan telah datang, antrean di depan lift cukup penuh. Anna tidak yakin akan mendapatkan ruang di dalam lift segera, mengingat beberapa menit lagi sudah mulai masuk kerja. Anna tak mau sampai terlambat!
Pintu lift terbuka, Anna bergegas masuk bersama dengan karyawan lainnya. Saat pintunya akan tertutup, seorang pria masuk ke lift. Namun, tanda bahwa lift penuh bersuara, suasana sedikit riuh seraya menatap pada pria berkacamata yang baru masuk tadi.
Anna juga menatap pada pria itu, merasa asing sekaligus kasihan. Beberapa orang menyuruhnya untuk naik ke lift lain, dan terpaksa pria itu menurut.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Anna ikut keluar dan berdiri di samping pria itu. Lalu, Anna beranjak ke depan lift di belakangnya, si pria mengikuti.
Anna bisa melihat dari ujung matanya bahwa pria itu sejak tadi memperhatikannya. Aneh dan risi. Anna menghela napas panjang. "Sin-ibsawon?" (Karyawan baru?)
Pria itu tertegun, kemudian spontan kikuk. "Ah ... ne!" (Ah ... iya)
Mereka diam lagi sampai lift terbuka. Keduanya masuk ke dalam. Anna yang canggung melirik arlojinya, kemudian memekik panik pelan. "Wah, gawat!"
Mendengar kata yang asing, pria itu menoleh dan tertegun. Anna yang menyadarinya juga spontan melirik risi padanya. Setelah memencet tombol lantai yang dituju, keadaan hening.
"Cheogi ... ellibeiteoeseo naelin iyuneun? Neodo geubhaji anhni?" (Kenapa Anda tadi keluar dari lift? Bukankah Anda juga sedang terburu-buru?).
Pria itu bertanya dengan berhati-hati, dan Anna menimpali dengan senyuman seraya menoleh padanya. "Geunyang ... naneun job-eun gong-gan-e issneun geos-eul joh-ahaji anhneunda." (Cuma ... saya tidak suka berada di ruang sempit)
Pria itu mengangguk paham. Lalu, bertanya lagi. "Eolgul-i nachseol-eo boinda." (Sepertinya wajah Anda terlihat asing). "Ani ... dangsin-eun hangug-in-i anin geos gatseubnida." (Maksudku ... Anda terlihat seperti bukan orang Korea).
Anna akan menjawab, tapi pintu lift keburu terbuka. Pria itu mengikutinya dan memburunya dengan sebuah pertanyaan. Dia ingin tahu di mana ruang kerja pemasaran tim 1.
Itu adalah ruang kerjanya. Kenapa pria itu menanyakannya? Apa dia ingin bertemu dengan seseorang di ruang kerjanya? Anna tak menanyakan hal itu, tetap mendampingi pria itu sampai ke tempat yang dimaksud.
"Igos-eun je jag-eob gong-gan-igido habnida. Jeondam gwanliin-ui bang-i issseubnida." (Ini juga ruang kerja saya. Di sana ruangan manager ekslusif). Anna menunjuk pada sebuah ruangan, lalu ia mengangguk untuk berpamitan pergi.
Anna berjalan menuju ke tempatnya, tanpa melihat bahwa pria itu pergi ke ruangan yang ditunjuknya. Saat Anna di mejanya, teman di sampingnya menyapa. Dia gadis muda yang cukup cerdas, ramah, dan ceria. Hanya dia yang Anna percaya.
"Annyeong, eonni." (Pagi, Kak).
"Annyeong." (Pagi juga).
Anna langsung menghidupkan laptop dan memeriksa berkas di meja. Namun, gadis bernama Ga-eun ini begitu gatal itu untuk mencecarnya.
"Eonni, yeop-e issdeon namja nuguya?" (Kak, pria yang tadi di sampingmu siapa dia?)
"Oh! Sin-ibsawon?" (Karyawan baru?) Anna menjawab dengan tidak yakin.
"Jinja?" Ga-eun beraksi hingga hampir berteriak karena kaget.
Anna menoleh heran. "Mwoyeo?"
Ga-eun terlihat frustrasi. Tak mungkin kalau pria berkacamata dengan rambut ikal berantakan, dan kumis tipis itu karyawan baru yang dibicarakan di ruangannya kemarin. Padahal, ia sudah membayangkan bahwa pria itu sangat tampan, dan ia berencana untuk berkenalan dengannya. Namun nyatanya, malah di luar ekspektasi!
Anna menunggu jawaban itu, dan ingin mendesak Ga-eun untuk menjawab. Tapi, ketua manager umum berdiri di depan meja kerja mereka dengan pria yang sedang dibicarakan tadi.
"Yeorebun!" seru manager umum, hingga semua orang menoleh padanya, kecuali Ga-eun yang tak sudi memperhatikan setelah tahu kenyataannya. "Sogaehabnida, geuneun uli tim-ui sin-ibsawon-ibnida." (Perkenalkan, dia karyawan baru di tim kita).
Anna tercengang. Pria yang tadi itu akan setim dengannya?
Pria itu tersenyum, pandangannya kini terarah pada Anna seraya berkata, "Cheoneun ... Park Woo-jin-imnida."[]
__ADS_1