
Matthew kembali dengan wajah lelah. Sambil melonggarkan dasi dan membawa sebuah berkas, ia berjalan masuk ke dalam rumah.
Seorang pelayan menghampiri, lalu menyapa sambil agak membungkuk. Matthew mengangguk sejenak, lalu bertanya pada pelayan itu.
"Di mana istri saya?"
"Ada di dapur, Tuan besar," jawab si pelayan, tanpa berani mengangkat kepalanya.
Ternyata, wanita yang sedang dibicarakan baru saja memasuki ruang tamu, dan akan beranjak menuju kamar. Elina tertegun melihat suaminya, lalu tersenyum sambil menghampiri.
"Kau sudah pulang?" sapaannya meredam sedikit kekalutan di hati Matthew.
Matthew pun tersenyum tipis. "Kau sedang memasak? Apa yang kau masak?"
Elina menggandeng lengan suaminya sambil berjalan mengarah ke kamar yang ada di sebelah kiri mereka. "Gulai kepala ikan. Kau suka?" jawabnya bersemangat, senyum riangnya jadi tidak tega untuk mengabarkan hal yang mengecewakan.
Matthew membalas dengan anggukkan.
"Hari ini pasti melelahkan, ya?" tanya Elina, memperhatikan wajah kuyu Matthew. "Mau kubuatkan teh sebelum makan malam siap?"
"Ide yang bagus." Langkah mereka terhenti, tak jauh dari depan kamar mereka. "Kau buatkan aku teh, biar aku ke kamar duluan untuk mandi dan berganti pakaian."
Elina mengangguk, senyumnya lembut. Lantas, ia berjalan menuju dapur, sementara Matthew melanjutkan langkahnya ke kamar. Secangkir teh siap hanya dalam beberapa menit, Elina membawanya ke kamar mereka ketika Matthew masih berada di dalam kamar mandi.
Cangkir teh akan diletakkan di atas meja, tetapi kemudian Elina tertarik pada sebuah map cokelat yang ada di sampingnya. Ia mengernyit sambil memegang amplop itu. Seingatnya, bukankah ini amplop yang dipegang suaminya sejak tadi?
Elina membalik amplop itu, terdapat sebuah nama firma hukum beserta alamatnya. "Nama firmanya asing. Tumben sekali Matthew memakai jasa firma lain? Memangnya kenapa dengan pak Harun?"
Harun adalah nama pengacara kepercayaan Matthew, sahabat, sekaligus ayah dari Kenan. Entah apa yang terjadi dengan Matthew, sehingga memakai jasa firma lain. Elina akan menanyakannya nanti setelah suaminya selesai mandi.
Sesaat amplop itu masih berada di tangannya, Matthew baru saja keluar dari kamar mandi. Derit pintu terbuka terdengar, sehingga Elina menoleh pada suaminya.
Matthew terhenyak sejenak mendapati istrinya sedang memegang amplop itu. Tapi kemudian ia berekspresi tenang, meskipun di dalam pikirannya sedang bergelut mencari sebuah kata yang tepat.
"Aku cuma melihatnya saja," kata Elina, akan meletakkan kembali amplop itu ke meja.
"Baca saja," sahut Matthew datar, sehingga gerakan Elina membeku.
"Eh? Apa?" Elina tercengang bingung.
"Itu surat gugatan dari Charlote." Akhirnya, tidak ada sikap yang bisa diambil Matthew selain sebuah "kejujuran".
Mendengar kata "gugatan", membuat Elina bergegas mengeluarkan isi amplop dengan gugup. Ia mengambil beberapa lembar kertas, lalu membaca semuanya dengan dahi mengernyit.
"Dia menuntut hak atas perusahaan yang ada di London?" tanya Elina, agak terbata, menoleh pelan pada suaminya.
Matthew menunduk sambil mengangguk memelas. "Hmm ... ia ingin aku menyerahkan seluruh saham di perusahaan papa pada Aurellie dan dirinya. Padahal, pembagian warisan sudah jelas, dan dia juga sudah mendapatkan bagiannya. Benar-benar wanita tamak!" umpatnya sesal.
Yang hanya Elina pikirkan adalah rasa cemasnya pada Aurellie. "Apa Aurellie sudah tahu soal kabar ini?" tanyanya.
"Entahlah, aku belum sempat menghubunginya." Matthew menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, menghelanya panjang bersama dengan segala kerisauannya. "Entah, aku akan mengatakannya atau tidak. Aku iba pada Aurellie. Dia pasti merasa sedih dan enggan pada kita karena perbuatan ibunya. Lagi-lagi, Charlote membuatnya kecewa."
Elina juga mengkhawatirkan Aurellie, dan mengerti akan kerisauan hati suaminya. Tangan lembut dan penuh perhatian wanita itu mengusap lengan Matthew, meluruhkan sejenak kekalutan Matthew, hingga bibir pria itu membentuk sebuah senyuman tipis.
"Aku yakin, kau bisa melewati semua ini dengan keputusan yang bijak," ucap wanita yang telah Matthew nikahi selama 30 tahun lebih itu. "Apa kau sudah mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah ini?"
Matthew mengangguk. "Aku sudah menghubungi Harun. Besok, kami akan membicarakan soal ini."
Tidak ada yang Elina katakan selain menganggukkan kepala. Ia mempersilakan suaminya untuk menyesap tehnya, mengobrol sebentar, lalu beranjak ke ruang makan untuk makan malam.
...☘...
Pada hari Jum'at, Logan membawa Anna berpindah hotel yang ada di London. Sabtu pagi, mereka mengangkat koper mereka kembali ke dalam mobil, untuk dibawa ke tempat penginapan lain. Namun, Logan tidak memberitahukan hotel mana yang akan mereka tempati.
"Repot banget," oceh Anna, yang tidak tahan untuk menuntaskan rasa penasarannya. Mulutnya terkunci sejak Logan tak menjawab pertanyaannya. "Serius, ini kita mau ke mana lagi? Pindah-pindah hotel terus?"
Dan jawaban acuh tak acuh dari Logan, yang sembari sedang menyetir adalah: "Kau akan tahu. Nikmati saja pemandangannya."
Sok misterius! Membuat Anna sebal bukan main! Ya, terserah apa maunya pria itu. Anna merenggut sambil memalingkan pandangannya ke arah jalan yang ada di jembatan yang sedang mereka lewati. Pemandangan sungai yang mengkilat karena terkena sinar matahari, ampuh untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
Anna tercengang saat mobil memasuki sebuah area perumahan. Kali ini, mereka bukan menginap ke hotel? Apa Logan menyewa salah satu rumah mewah di sini? Atau pria itu mengajaknya ke rumah persinggahannya selama di London?
Wajah pria itu tak memberikan jawaban. Makanya, Anna berhenti memalingkan wajah ke arah Logan dengan ekspresi penuh tanda tanya.
__ADS_1
Logan menekan tombol klakson, lalu seorang satpam muncul, dan langsung membukakan pagar tinggi warna cokelat lebar-lebar. Fix! Anna yakin, satpam itu sudah mengenal Logan. Rumah ini pasti memang tempat persinggahan Logan selama di London.
"Kau tidak ingin bertanya lagi soal rumah ini?" tanya Logan, nadanya menyindir.
Anna tahu bahwa pria itu menyinggungnya yang begitu cerewet karena terus-terusan bertanya tadi. "Katakan saja, tidak perlu menyindirku," sahutnya ketus.
Logan tersenyum sambil menghentikan mobilnya di depan pintu masuk rumah ini. Lalu, Logan keluar dari dalam mobil, berjalan santai ke pintu mobil sebelahnya, membukakannya untuk Anna.
Anna masih memasang wajah merenggut sambil keluar dari mobil. Tak lama kemudian, ia menoleh pada pintu rumah yang dibuka oleh seorang wanita, yang menghampiri mereka sambil menyapa dengan penuh senyuman.
"Selamat datang, Logan, Anna. Mari masuk ke dalam."
Anna tercengang sejenak, lalu menatap Logan yang tampak tersenyum. Tentu saja, ini surprise yang menyenangkan. Anna tersenyum, membalas sapaan Aurellie meski masih agak terkejut.
"Tante, apa kabar," tanya Anna, lalu memeluk wanita dengan senyum seindah matahari yang menyapa pagi.
Aurellie melepas pelukan. "Baik, Sayang. Kabarmu bagaimana? Lalu, bayi kalian? Apa baik-baik saja dibawa ke tempat perjalanan yang jauh?" celotehnya, sampai Anna bingung mau jawab apa.
"Tante, mana om Juan?" tanya Logan, mengalihkan.
"Ada, lagi ada di halaman belakang bersama dengan si kembar. Dia sedang mempersiapkan tungku untuk pesta barberque," sahut Aurellie, penuh keceriaan.
Pesta barberque? Kejutan lain yang tidak disangka-sangka. Mata Anna membulat menatap Aurellie dan Logan secara bergantian. Kini, ia mengerti kenapa Logan mengajaknya ke sini.
......🦋......
Anna dan Logan memasuki rumah Aurellie yang cukup besar sambil mendengarkan ocehan si pemilik rumah.
"Logan sering ke sini kalau dia sedang ada kepentingan di London," cerita Aurellie. "Waktu kuliah, dia juga tinggal di sini."
"Oh, pantas," gumam Anna dengan suara sangat kecil sambil melirik Logan.
Semakin mereka melangkah ke dalam rumah, hidung Anna yang sensitif mencium aroma daging yang sedang di panggang. Beberapa meter lagi, mereka akan menuju halaman belakang. Mereka harus melewati sebuah teras yang pintunya sengaja dibuka.
Dari jauh, Anna bisa melihat seorang pria bule sedang membalikkan beberapa daging di atas pemanggang, lalu seorang dua gadis kecil berumur 8 tahun sedang berlarian.
Dua gadis kembar itu menoleh pada ibu mereka, yang tengah bersama dengan dua tamu. Mereka menghampiri Aurellie, lalu berdiri di hadapan Anna dan Logan. Wajah polosnya menatap heran pada Anna, yang tampak asing bagi mereka. Anna yang menyukai anak-anak, tersenyum lebar pada kedua gadis itu.
"Jane, Jeane, apa kalian masih ingat pada kak Logan?" Aurellie agak membungkuk, bertanya pada gadis yang wajahnya bule-nya tidak terbantahkan, dengan rambut pirang yang diwariskan dari sang ayah.
"Sure, aku masih ingat."
"But, aku tidak mengenal tante yang di sebelahnya," timpal Jeane selaras, dengan tampang polosnya.
Anna sedikit membungkuk di hadapan kedua gadis itu, tak tahan rasanya ingin menyapa mereka. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita kenalan dulu?" Lalu, ia mengulurkan tangan kanannya ke hadapan mereka. "Halo, aku Anna."
Jeane tanpa ragu menjabat tangan Anna sembari tersenyum. "Halo, Tante Anna, saya Jeane. Ini kakak saya, Jane."
Jane mengulurkan tangan setelahnya, tersenyum manis sambil mengucapkan namanya.
"Jeane, Jane," panggil Aurellie, sehingga kedua gadis itu menoleh padanya. "Kak Anna ini istrinya kak Logan. Jadi, kalian harus memanggilnya dengan sebutan kakak."
Gadis kembar itu mengangguk berbarengan. Anggota keluarga baru yang ramah mereka sambut dengan riang.
"Kak, kami sedang buat pesta barberque," kata Jeane, sepertinya begitu sangat antusias pada piknik dalam rumah.
"Iya," sahut Aurellie. "Kalau begitu, ajak kak Logan dengan kak Anna ke sana."
Jeane dan Jane beringsut ke samping Anna, menggenggam kedua tangannya, lalu menghelanya untuk ikut bersamanya ke depan ayah mereka.
Juan, suami Aurellie, menyadari keberadaan tamu mereka, mengalihkan pandangannya sejenak sambil menyapa kedua keponakan dari istrinya itu.
Aurellie benar-benar beruntung, memiliki seorang suami yang begitu baik, ramah, dan sayang pada keluarga meski sibuk bekerja. Di hari libur, ia menyempatkan diri untuk bersama dengan keluarga.
Logan membantu Juan untuk memanggang barberque. Kedua pria itu sangat akrab, apalagi jika membicarakan soal bisnis. Sementara itu, Anna bersama dengan si kembar membantu Aurellie untuk menyiapkan meja dan hidangan lainnya.
"Bagaimana kabarmu, Anna?" tanya Aurellie, ketika membentangkan sebuah taplak panjang bermotif kotak-kotak putih merah di atas meja. "Apakah bulan madumu menyenangkan?"
"Baik, Tante," jawab Anna, terpaksa tersenyum. "Bulan maduku dengan Logan menyenangkan. Beberapa tempat indah di Manchester telah kami kunjungi."
Entahlah, Anna harus mengatakan hal itu meski berbanding terbalik dengan kenyataannya. Selama di Manchester, Logan sekadar mengajaknya berjalan-jalan, tapi sikapnya tetap kaku dan dingin tidak selayaknya pasangan yang baru menikah.
Jeane datang sambil membawa sebuah piring yang berisi salad, yang kemudian diberikan oleh Aurellie. Ibunya menerima piring itu, lalu mengucapkan terima kasih. Kemudian, Aurellie menyuruhnya untuk mengambil piring yang berisi buah-buahan.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan kandunganmu? Apa perjalanan jauh membuatmu lelah?" tanya Aurellie, setelah Jeane berlompatan kecil sambil melangkah memasuki rumah.
"Lumayan, Tante, kandunganku baik-baik saja. Cuma, selera makanku berkurang terhadap makanan hotel," jawab Anna.
Aurellie tersenyum geli. "Oh, mungkin karena bawaan bayi," komentarnya. "Tenang, aku sudah membuat masakan Indonesia."
"Terima kasih, Tante," sahut Anna tersenyum sungkan. "Jadi merepotkan Tante nih."
"Nggak kok. Anak-anak juga suka makanan Indonesia. Sebentar, aku ambilkan, ya."
Matthew dan Elina sudah mengasuh Aurellie dengan baik. Sifat ramah dan menyenangkan, membuatnya cepat akrab dengan Anna. Kedua wanita itu berbincang sambil menuju dapur, membawa semangkuk besar soto ayam, dan semangkok besar nasi.
Jane sendiri membantu ibunya untuk membawa seloyang kue pie apel ke halaman belakang, kemudian kedua wanita itu mulai menata meja dengan meletakkan hidangan lainnya.
Selagi Juan mempersiapkan bumbu, Logan yang memanggang daging. Heran, kenapa tiba-tiba matanya melirik ke arah Anna, yang tengah tersenyum dan mengobrol dengan Aurelllie sambil menata meja.
Lama-lama, Logan terpana oleh senyuman Anna. Wajah cantiknya terpancar, hingga ia lupa pada daging yang sedang dipanggangnya.
Asap mengepul dari tungku, Juan menghampiri dan menegur Logan sambil menepuk lengannya. "Logan! Kau hampir membuat dagingnya gosong!"
Logan tersentak, mengalihkan pandangan pada tungku yang asapnya mengepul. Seruan kencang Juan yang lumayan fasih berbahasa Indonesia, membuat semua orang menoleh padanya.
Juan langsung mengambil alih, merebut penjepit dari tangan Logan, yang seketika mundur sambil batuk-batuk. Aurellie menghampiri kedua pria itu dengan cemas, lalu bertanya:
"Ada apa, Sayang? Apa dagingnya gosong?" Aurellie melirik daging yang sedang dibalik oleh suaminya.
Juan menoleh sambil tersenyum. Kesigapannya dalam mengatasi masalah, menyelamatkan daging supaya tidak gosong. "Hampir."
Para gadis kembar ikut menghampiri, lalu bergantian berseru.
"Daddy, apa dagingnya gosong?" tanya Jane.
"Aku tidak suka kalau dagingnya gosong. Tidak enak," timpal Jeane, berkomentar.
Juan terkekeh. "Don't worry, om Logan membuat dagingnya lebih matang sedikit."
Logan memalingkan wajah, tersipu. Hampir saja, ia membuat pesta barberque ini berantakan. Ia jadi penasaran, apakah Anna juga mencemooh sikap memalukannya ini? Ia menoleh pada wanita itu. Anna tengah meliriknya sambil terkekeh.
Ah, menyebalkan!
"Logan, kau duduk saja dulu, biar aku yang menyelesaikan sisanya," ujar Juan, setelah Aurellie mengajak anak-anak kembali ke meja. "Dagingnya hampir selesai dipanggang kok."
Logan melirik pinggan yang menyisakan dua potong daging barberque. Ia jadi tidak enak hati karena hampir mengacaukan acara yang dibuat oleh om dan tantenya itu.
"Maaf, ya, Om. Hampir saja aku membuat dagingnya gosong," ujar Logan pelan, berkecil hati.
"Never mind," jawab Juan, tersenyum lembut. "Mungkin kau sedang banyak pikiran. Istirahatlah."
Logan mengangguk, lalu mencari tempat untuk duduk. Sebuah ayunan besi ia pilih sebagai tempat untuk menjernihkan pikirannya yang kacau. Ia menghela napas resah, lalu menyentuh keningnya.
"Ada apa dengan diriku?" gerutunya.
Bayangan akan senyuman Anna tadi melintas lagi di dalam pikirannya. Namun, ia buru-buru menghela bayangan itu, hampir saja menggeram kencang jika ia tidak menyadari situasi dan tempatnya berada saat ini.
"Masa iya, aku terpesona sama Anna? Nggak mungkin!" bantahnya sangat pelan. "Harus akui, Anna memang cantik, tapi aku tidak menyukainya."
Setelah mengatakan hal itu, ia mendongak. Entah sejak kapan, Anna tiba-tiba berada di hadapannya sambil membawa segelas jus jeruk dan beberapa potong kue kering.
Sontak, Logan terlonjak, sampai ia spontan berdiri, dan kepalanya membentur tiang penyangga ayunan. Logan mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya. Anna menatapnya cemas sekaligus heran.
"Kau tidak apa-apa? Kenapa melihatku sampai kaget begitu?" tanya Anna.
Habis, datang tiba-tiba tanpa disadari. Logan memucat, panik jika wanita itu mendengar gumamannya tadi.
"Ngapain kamu ke sini?" tanyanya dingin, memalingkan wajah agar Anna tidak melihat ekspresinya yang gugup.
"Oh, aku hanya mau memberimu ini," jawab Anna sambil menyodorkan jus dan kue kering pada Logan. "Aku nggak tahu seberapa laparnya dirimu, sampai melamun tadi."
Logan menoleh, memasang wajah garang. "Kau meledekku?"
Anna menghela napas, jengkel. Diletakkan barang bawaannya ke sisi ayunan yang kosong sambil menyahut ketus. "Terserah, apa yang kaupikirkan tentang saya. Makanlah! Aku harus membantu tante Aurellie lagi!"
Anna memutar tubuhnya, dan Logan akan membalasnya. Namun, keduanya tiba-tiba tertegun kala melihat Aurellie memasuki halaman belakang sambil membawa seorang tamu lagi.
__ADS_1
Logan tercengang sejenak, lalu mengernyit kesal. "Kenan? Ngapain ke sini?"
Kenan mengedarkan pandangan ke sekeliling, hingga pandangannya terhenti pada Logan dan Anna yang sedang berada di ayunan. Tangannya melambai, senyuman ramahnya bagi Logan sangat misterius dan menjengkelkan.[]