Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Akan Kubawa kembali dirimu


__ADS_3

Keluarga ini sudah terbiasa bangun pagi. Anna turun ke dapur setelah mandi dan shalat untuk membantu ibunya masak menu sarapan.


Logan sudah mandi setelahnya, dan Anna sempat melihatnya masuk ke kamar mandi dengan mengalungkan handuk di leher.


Menu sarapan sudah siap dihidangkan di atas meja makan. Tasya yang mau pergi kerja, Adrian yang sudah bersiap berangkat ke kampus muncul di ruang makan berbarengan dengan ayah.


"Anna, panggil suamimu untuk sarapan," suruh mama.


Anna menaiki tangga setelah mengangguk. Ia berjalan menuju kamarnya, tapi hanya terdiam dengan tangan terangkat karena akan mengetuk pintu.


Rasa canggung ini enggan untuk menghadapinya. Apalagi, karena kejadian semalam. Pria itu tak mau melepaskan tubuhnya, terus memeluknya meski sedang tertidur.


Huh! Sebenarnya, perasaan apa yang dimiliki untuknya? Apa Logan merasa bersalah padanya? Anna menghela napas panjang, mencoba untuk tenang dan rileks agar bisa menghadapi pria itu.


Barulah ia membuka pintu kamar, tapi kemudian tertegun karena Logan sudah berpakaian rapi sambil menoleh ke arahnya. Keduanya terdiam beberapa saat, Anna canggung lagi.


"Sarapan sudah siap. Mama menyuruhmu untuk makan bersama," katanya kemudian, suaranya mengecil karena hatinya resah lagi.


"Em ... oke," sahut Logan, kemudian diam sejenak dan menoleh kembali ke cermin sambil membetulkan letak pakaiannya.


"Oya, aku sudah meminta sopir untuk membawakan kopermu ke sini. Kau boleh menginap di rumah orangtuamu sesuka hatimu."


Kenapa tiba-tiba begini? Bukankah kemarin Logan tak mengijinkannya? "Apa kau setuju kita pisah ranjang?" tanya Anna, agak tergagap karena masih tercengang.


"Aku nggak bilang begitu. Aku kasih kamu waktu untuk melepas rindu bersama dengan orangtuamu," sahut Logan, berbalik dengan ekspresi polos menjengkelkan. "Nanti, aku akan menjemputmu kembali ke rumah."


Ah! Terlalu cepat untuk takjub padanya. Ternyata Logan masih saja tidak menghargai keputusan dan perasaan Anna.


Pria itu berjalan mendekatinya ketika ia sibuk merutuk dalam hati. "Kau sendiri masih ingin menyembunyikan permasalahan kita, 'kan? Akan aneh jadinya kalau kita tiba-tiba pisah ranjang. Aku katakan padamu, aku akan memberikan sebuah bukti bahwa tudingan kamu terhadapku salah. Jadi, biarkan situasinya tenang dulu, baru kita bicarakan lagi."


Negosiasi yang mengintimidasi, tapi cukup ampuh untuk mengubah jalur pikiran Anna. "Baiklah, lakukan sesukamu. Aku akan mengikuti aturan yang kau sebutkan, selama aturannya tidak aneh." Ia menyetujui.


Bibir Logan melengkung lebar, tetapi malah membuat Anna merinding. Kan, pria itu berlaku aneh! Logan berdiri di sampingnya, lalu tiba-tiba merangkul pundaknya dan mendekapnya erat.


"Ya, udah. Yuk, kita sarapan!"

__ADS_1


...💐 ...


Nina duduk tertunduk menatap foto di ponselnya. Ibu jarinya membeku di atas tombol bergambar tempat sampah.


Cukup lama ia berada dalam keadaan begitu, hingga akhirnya ia menghela napas panjang. Apa memang harus begini? Menghapus foto mesranya dengan Logan saat mereka pacaran, apa menjamin bisa menghapus kenangan masa lalu mereka? Berat rasanya.


"Nin, yuk!" seru Tita sambil berjalan menghampirinya. Kemudian, setelah sampai di depannya, ia kembali berkata, "Aku udah check in."


Nina mendongak, buru-buru memasukkan ponselnya ke saku mantelnya, lalu beranjak dari kursi. Ia menyeret kopernya mengikuti langkah Tita yang ada di sampingnya.


Gurat senyum bahagia tergambar di wajah Tita, pikirnya Nina akan bisa membuka lembaran baru tanpa Logan. Akan tetapi, yang dirasakan Nina justru sebaliknya.


Senyuman tipisnya itu palsu, sama sekali tidak tulus, diperlihatkan agar Tita merasa senang. Mereka akan terbang kembali ke London.


Tita sudah memesankan tiket ketika sampai di Jakarta dan berpamitan dengan kedua orangtua Nina. Namun, tiket yang dipesan mendadak tidak memuaskannya.


Tita membeku, melihat nomor kursi di tiket dan tempat duduknya secara bergantian. Tampang memelasnya lantas diperlihatkan ke arah Nina.


"Nin, bangku gue sama elo jaraknya jauh banget," keluhnya terkulai lemas. "Kursi gue ada di deretan 4 dari kursi lo. Uuuuh!"


Tita menghela napas berat, wajahnya cemberut. "Tega banget lo ngomong gitu. Ya udahlah, gue mau ke kursi gue dulu deh!"


Keberangkatannya sekitar 10 menit lagi. Nina menunggu sambil mendengarkan musik dengan headphone, memejamkan mata perlahan untuk menikmati alunan nadanya. Lagu yang diputarnya adalah lagu "Say you won't let go" milik James Arthur.


Lagu yang menyenangkan untuk didengar, tetapi liriknya justru mengubah suasana hati Nina. Ketika lagu memasuki bagian reff, Nina bersenandung lirih.


Lama-lama suaranya tercekat, lalu isakan terdengar, hingga air mata menetes pelan dari matanya yang tertutup oleh kacamata hitam.


"Maaf, apa bisa kita bertukar tempat duduk?" kata seorang pria, yang entah sejak kapan menjadi teman sebangku Nina.


Tak ada tanggapan, mungkin gadis itu tidak mendengarnya. Maka, pria itu memanggilnya kembali sambil menepuk pelan pundak Nina.


"Mbak, Mbak!" Nina tersentak, tergesa membuka headphone dan kacamatanya, lalu menoleh pada pria yang ada di sampingnya, yang juga terkejut saat melihat wajahnya.


"Kenan?"

__ADS_1


"Nina?" seru pria itu berbarengan juga dengan Nina.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Nina setengah terkejut dan heran. "Ya, naik pesawat lah. Emang mau ke mana lagi?" sahut Kenan, santai sambil duduk di kursinya. "Emangnya nih pesawat punya embahmu, nggak boleh aku tumpangi?"


Masih saja pria itu bikin kesal. Nina merutuk dalam hati. Kenapa Logan mau saja bersahabat dengan pria seperti ini?


"Mau melarikan diri atau move on?" singgung Kenan, baru saja Nina akan mengenakan kembali headset ke telinganya.


Nina mendengus jengkel. "Apa urusanmu?" timpalnya ketus. Alih-alih tersinggung, Kenan tersenyum geli.


"Aku juga merelakannya," gumamnya, menarik perhatian Nina. Kemudian, cepat-cepat meralat. "Tapi bukan berarti aku mau kabur dari dia. Aku ke London ada urusan penting."


"Oh," gumam Nina, masa bodo.


Kenan menyandarkan kepalanya sambil menghela napas dan kemudian termenung. "Mereka sudah ditakdirkan. Jadi, sudah waktunya untuk merelakan."


Diam-diam, Nina mematikan volume suara, ternyata mendengarkan Kenan. Namun, ucapannya itu tidak ia setujui karena terdengar klise.


Maka, iapun menyahut sinis. "Tidak semudah itu melupakan."


"Memang." Jawaban yang menjengkelkan, sampai Nina menoleh cepat.


"Ya, terus?"


"Daripada cuma diam, lebih baik belajar merelakan." Sahutan yang keluar dari mulut Kenan terdengar omong kosong.


Sambil membetulkan headset, Nina berseru mencemooh. "Nggak usah berfilosofi kalau cuma bisa berteori."


Kenan tertawa kecil lagi sekejab, mendesah dan termenung lagi. "Nina." Rupanya, Nina belum juga menyetel musik di ponselnya, masih mendengarnya dan menoleh pada Kenan. "Aku nggak pernah nonton drama Korea, tapi pernah dengar kata ini," lanjut Kenan.


"Hmm ... kata apa?"


Pria itu memutar tubuh sedikit, mengepalkan tangannya sambil berseru, "Hwaiting!" Yang artinya "semangat!".


Namun, Nina menanggapinya dengan wajah datar, lalu membuang muka ke arah jendela. Sebenarnya, ucapan itu cukup membuat Nina terhibur, apalagi Kenan mengatakannya dengan mimik lucu. Alhasil, diam-diam Nina tersenyum geli.[]

__ADS_1


__ADS_2