
Nina bergegas pulang dengan hati senang setelah mendapatkan lamaran yang terucap langsung dari mulut Logan. Meskipun nada ucapannya dingin, Nina tidak masalah. Ia yakin, Logan akan melunak secara bertahap.
Begitu sampai rumah, Nina menemui Tita yang baru saja selesai menghubungi seseorang. "Tita!" serunya memanggil.
Tita menoleh tak minat, tak beranjak, menunggu Nina menghampirinya.
"Tita, cari cincin tunanganku yang dulu!" perintah Nina berseru riang.
Alih-alih menyambut kegembiraan yang dirasakan sahabatnya, Tita malah menghela napas tak senang. "Nin, apa kau harus melakukan ini demi mendapatkan Logan?"
Senyum Nina memudar sejenak, agak tersinggung mendengarnya. Namun kali ini, ia tidak peduli pada kritikan orang. Ia menimpali dengan jawaban yang membungkam Tita. "Logan sendiri kok yang melamarku tadi."
Tita nyaris ternganga. Yang didengarnya ini ... betulkah? Jelas-jelas ia mendengar sendiri dari mulut Logan, bahwa pria itu mencintai Anna. Tapi kenapa pria itu goyah.
Nina tersenyum menang karena berhasil menutup komentar Tita. Lantas, Nina berjalan menuju sofa, dan duduk di sana. Namun, Tita masih tak habis pikir dan penasaran, sehingga Tita mencecar Nina seraya mengikutinya.
"Kau mengancamnya?" tudingnya.
Nina menoleh cepat, benar-benar kesal. "Kau pikir aku ini apa?" sahutnya gusar, lalu menghempaskan diri pada punggung kursi. "Hah! Seharusnya aku rekam tadi, supaya kau percaya kalau Logan benar-benar melamarku."
Dahi Tita mengernyit karena sangking kerasnya berpikir. Jika itu benar, apa Logan benar-benar takluk pada Nina demi perusahaan? Lalu, bagaimana dengan Anna?
"Terus Anna...." gumam Tita prihatin.
Nina mendecak, kesal mendengar nama wanita itu. "Mereka sudah resmi bercerai!" sahutnya sewot. "Udahlah! Cepat cari cincinku! Aku ingin memperlihatkan pada semua orang kalau aku dan Logan kembali bertunangan. Aku berpikir, tak perlu melakukan pesta tunangan. Kan udah tunangan waktu itu. Aku pengin langsung nikah aja!"
Terserahlah Nina, umpat Tita dalam hati. Wanita itu sudah tertutup mata hatinya oleh cinta buta yang beracun, sehingga tak tahu mana yang benar dan salah.
__ADS_1
Tita balik kanan, terpaksa melakukan apa yang diperintahkan Nina dengan setengah tidak niat. Apa yang bisa dilakukan? Membantah? Menasihati Nina? Tidak ada gunanya. Logan yang memilih untuk mendekat pada Nina.
...💍...
Sejak berada di rumah, Anna sering bergeming di kamar. Ia bosan dengan pertanyaan seputar pernikahannya yang kandas, dan sindiran mama yang terus memojokkannya.
Mending di kamar saja, tiduran ranjang empuk, dan nonton drakor di laptop. Namun, hari ini ia bertekad untuk berleha-leha. Cukup istirahatnya dan sedih-sedihnya!
"Saatnya nyari duit!" serunya pelan, bersemangat. Lalu, mulai mencari nomor kontak seseorang yang ada di ponselnya.
Nomor itu dihubunginya. Dalam waktu singkat, orang itu mengangkatnya teleponnya dengan seruan riang.
^^^"Hai, An. Ada apa nih?"^^^
"Em ... lowongan yang waktu itu ... masih berlaku nggak?"
^^^"Lowongan kerja yang mana? Oh! Yang bagian marketing itu? Masih kok. Emang kenapa? Aaaaaaahhh! Jangan bilang, lo mau lamar kerja di sana?"^^^
^^^"Bisa banget! Tapi, apa lo siap tinggal di luar negri?"^^^
"Lah! Emangnya kali ini aja gue jadi TKI di negri orang?"
^^^"Hehehe. Ya, tapi ini kan beda, bukan di Singapur. Ini lebih jauh lagi, Sis!"^^^
"Bagen! Please, bantu gue ya, Rin."
^^^"Iya. Em ... tapi. Gimana sama suami lo? Dia setuju?"^^^
__ADS_1
"...."
^^^"Kok diem? Kenapa, An?"^^^
"Em ... gue udah cerai, Rin."
^^^"CERAI? Kok bisa?"^^^
"Nanti aja gue ceritain."
^^^"Em ... oke. Ya udah. Nanti gue kirim chat syarat-syarat apa aja yang diperluin."^^^
"Thanks, Rin. Lo emang selalu jadi obat sakit hati gue!"
^^^"Hehehe, lebay lo!"^^^
Percakapan itu berakhir, Anna menutup teleponnya. Yerin mengirim pesan tak lama kemudian. Anna membaca pesan itu, dan segera bersemangat membuat CV di laptop.
Dari sore tatapannya berkutar di laptop. Dan saat waktu makan malam masuk, ia sudah selesai dengan kegiatannya itu. Anna sudah berpengalaman, sehingga pandai membuat CV yang menyakinkan meski koneksi dari Yerin membuatnya mudah untuk diterima bekerja.
Anna menguap seraya merenggangkan tubuhnya setelah menutup laptop. Kemudian, ia beranjak menuju dispenser di sisi dekat pintu. Saat ia meneguk setengah gelas air, pintu kamarnya diketuk dari luar, lalu terdengar seruan Tasya.
"Kak, ada tamu buat Kakak!"
Anna tertegun dengan pipi menggembung karena di dalam mulutnya penuh dengan air. Tamu? Siapa? Ranti kah? Yah, sudah lama ia tak bertemu dengannya. Tapi, kalau memang itu dia, biasanya Ranti menghubunginya dulu sebelum ke bertamu di rumah.
Anna turun ke bawah setelah meletakkan gelasnya di atas galon. Kata Tasya, tamunya menunggu di teras depan. Dengan rasa keingintahuan, Anna segera menghampirinya. Sosok tamu itu adalah Kenan.
__ADS_1
Malam itu, cuaca mendung dan dingin. Tapi, masih saja ada nyamuk yang mencari makan. Anna tercengang sejenak, lalu terkekeh saat melihat Kenan tengah duduk di kursi plastik seraya menepuk-tepuk nyamuk yang mengerubunginya.
Tak lama kemudian, Kenan menyadari kehadirannya, lalu tersenyum malu seraya melambaikan tangan. "Oh! Hai, Anna!" sapanya renyah. Saat merasakan gigitan nyamuk, lantas Kenan menepuk pipinya hingga nyamuknya tewas.[]