
Seperti dugaan Logan, Anna sudah bangun Subuh tadi, tapi tidak tidur lagi. Ia berada di dalam kamar dengan resah, kadang melirik ke arah pintu dan ponsel. Terbesit pula untuk menghubungi pria itu, tetapi urung karena takut mengganggu.
Akhirnya, ia hanya memilih menunggu dengan sejuta penasaran yang berusaha dienyahkan. Suara pintu terbuka berbunyi. Spontan saja, ia berbaring dan pura-pura tidur. Ia menyadari bahwa untuk apa melakukan semua ini? Bukankah ia tak peduli jika pria itu tak pulang semalaman? Namun apa daya, tubuhnya refleks melakukan ini, dan sudah terlambat juga untuk bangun karena Logan sudah ada di hadapannya.
"Anna, maafkan aku." Ketika kata itu terucap, jemari kiri Anna bergerak tanpa Logan sadari. Setelah itu, Logan pergi ke kamar mandi. Anna menunggu jeda sampai terdengar pintu kamar mandi tertutup, barulah kedua matanya terbuka.
Lantas, ia terbangun dan duduk. Dihelanya napas dari mulutnya, termenung muram seraya bergumam, "Ke mana kamu semalam, Logan?"
Jawaban itu ia dapatkan dari sebuah pesan singkat lewat Whatsaap yang masuk ke ponselnya beberapa detik kemudian. Ia menoleh ketika ponselnya berbunyi dan layarnya menyala, lalu diraihnya benda itu. Ia mengernyit membaca pesan dari nomor asing yang berbunyi:
"Apa kamu ingin tahu ke mana perginya suamimu semalam?"
Tak lama, nomor itu mengirimkan sebuah foto. Mata Anna langsung mendelik, air mata pun merembes menggenangi matanya dalam sekejab. Bagaimana tidak menyakiti hatinya, foto yang dilihatnya adalah foto Logan dan Nina yang sedang berpelukan di ranjang dengan tubuh tanpa busana dan hanya ditutupi selimut. Yang dikira Anna tentu adalah: Logan dan Nina telah tidur bersama semalam.
Tangan yang memegang ponsel seketika melemah, lalu terjatuh di atas pahanya. Tak sanggup lagi ia menahan air mata, tetapi ia tak bisa melihat begini di depan Logan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Ketika mendengar suara langkah pria itu dan ia melihat sosoknya yang hanya berbalut dengan handuk putih di pinggangnya, Anna langsung berusaha tersenyum setelah menyeka air matanya.
"Anna, kau sudah bangun?" Pertanyaan pertama yang meluncur dari bibir pria itu, sesaat melihat Anna.
"Iya, aku ngantuk banget. Aku pergi ke kamar mandi dulu, ya," kata Anna, senyuman getir tipisnya membuat Logan tertegun heran.
Anna turun dari ranjang, tak melihat sedikitpun pada Logan ketika melewatinya. Sikap ini terasa janggal pada pria itu, apalagi ketika Anna terkejut melihatnya muncul dan buru-buru mematikan layar ponselnya tadi. Sepertinya, Anna menyembunyikan sesuati darinya. Tapi apa?
...š ...
__ADS_1
Logan mengajak Anna sarapan di restoran yang terdapat sebuah pondok. Ayam betutu begitu menggoda perut Anna, tetapi senyumannya tak kunjung tampak.
Tak seperti perkiraan Logan, dikira Anna akan senang diajak makan di sini. Apa karena Anna sudah biasa dengan pemandangan di Bali?
"Habis ini, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke pantai?" saran Logan, berharap ada respons baik dari Anna.
"Terserah," sahut Anna, acuh tak acuh mengaduk makanannya.
Logan kecewa, tapi tercengang. Kenapa lagi gadis ini? Perasaan dia tidak membuatnya murka? Ah! Apa jangan-jangan karena semalam ia tidak kembali ke kamar?
Pria itu meletakkan sendok dan garpunya di atas piring, mendeham untuk menarik perhatian Anna. Namun, Anna tak kunjung menatapnya. Maka, Logan terus-terusan mendeham beberapa kali, hingga terbatuk.
Alih-alih bertanya atau memberi perhatian, Anna menuangkan air di gelas Logan, lalu menyodorkannya. "Nih, minum," kata datar dan dingin.
Hening. Anna dengan tenang menikmati makanannya, tetapi Logan sudah tak nafsu untuk menghabiskan sisa makanan di piring. Otaknya dipenuhi oleh dugaan, pertanyaan, dan keputusan yang bimbang.
Akhirnya, ia tak tahan. Logan memulainya dengan berkata, "Aku minta maaf." Gerakan sendok Anna berhenti, tapi tak menyahuti karena mendengarkan ucapan Logan yang selanjutnya. "Semalam aku tidak pulang karenaā"
"Apa itu penting?" potong Anna, yang tak mau mendengar alasan pria itu. Ia tahu, Logan pasti tidak akan menceritakan hal yang sebenarnya tentang kejadian antara dirinya dan Nina.
"Aku menceritakan ini karena kau marah padaku," sahut Logan, gusar, tidak suka ucapannya disela.
Anna mendengus, barulah menatap Logan, tetapi dengan kemarahan yang membara di matanya. "Kalaupun aku marah, kenapa kau harus peduli? Aku cuma istri di atas kertas!"
Logan mengebrak meja sekalian sontak berdiri. "Kenapa kau selalu bilang seperti itu?" tukasnya, tak bisa menahan kemarahannya lagi.
__ADS_1
"Memang benar kenyataannya begitu kok," jerit Anna, beranjak dari kursinya. "Kita menikah karena anak ini!"
"A...." Logan terhenti, ingin sekali ia membantah apa yang dipikirkan Anna itu. Namun, ia belum bisa mengatakannya sekarang dalam keadaan seperti ini. Makanya, perlahan ia tekan amarahnya, menghela napas panjang, kemudian berkata lagi dengan nada melunak. "Aku nggak ngerti, kenapa kamu marah begini? Kalau memang karena semalam aku nggak pulang, aku akan menjelaskannya.
Anna memejamkan mata, hatinya seakan terasa perih. Kemudian, ia menyahuti ucapan itu dengan cepat. "Nggak usah! Kalau yang aku dengar cuma sebuah kebohongan, lebih baik kamu nggak usah jelasin apa-apa."
Logan mendelik, tercekat, seakan hatinya ditancapkan oleh sebuah panah. Apa maksud Anna itu? Apa dia mengetahui sesuatu? Ia hendak menanyakannya, tetapi Anna berlari pergi tanpa ia ketahui bahwa gadis itu menangis dalam keadaan hati terluka.
"Anna! Anna!" serunya memanggil, lalu Logan menyusulnya.
Anna semakin mempercepat laju larinya, hingga akhirnya mereka sampai di area kolam renang. Mata Anna mengabur karena air mata, apalagi ia berjalan tanpa melihat ke depan. Tentu saja, ia tak menyangka seorang pelayan sedang berada di depannya, dan ia pun menabrak pelayan itu. Namun yang terjadi, Anna tak dapat menyeimbangkan tubuhnya, dan alhasil ia tercebur ke dalam kolam renang.
"ANNA!" jerit Logan histeris.
Logan berlari sekencangnya, lalu langsung menceburkan diri ke kolam renang. Ia berenang menggapai tubuh Anna, lalu menggendongnya ke tepi kolam dengan bantuan orang lain yang saat itu berada di dekat mereka.
"Anna! Anna! Kau tidak apa-apa?" tanya Logan cemas, melihat Anna terbaring sambil mengatur napas dan kadang terbatuk.
Seorang pelayan datang untuk memberikan sebuah handuk. Langsung saja Logan menyambar handuk itu, lalu membalutkannya ke tubuh Anna.
"Ayo, kita pergi ke kamar," ajak Logan, merangkul dan mengangkat tubuh Anna untuk berdiri.
Tak ada penolakan, meskipun kemarahan masih menyala di hati Anna. Ia mengikuti ucapan Logan, berjalan bersama ke kamar mereka.
Ketika hal ini terjadi, ternyata Nina juga ada di tempat kejadian. Dia melihat rasa peduli Logan pada Anna, yang membuat api cemburu membara.[]
__ADS_1