Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Melamar?


__ADS_3

Anna melangkah pelan begitu sampai di ruang tamu dengan tercengang. Matthew, Elina, Logan sedang duduk di hadapan ayahnya, yang juga tercengang dengan kedatangan tamu asing dari keluarga berada itu.


Mama sedang ada di sampingnya, menyenggol lengan Anna dan mencoba membisikkan sesuatu ke telingnya. "Mereka siapa? Mau apa mereka ke sini?"


Anna hanya menggeleng sebagai jawaban. Habisnya, baik Logan maupun kedua orangtuanya, tidak ada yang memberitahu. Ini benar-benar sangat mendadak!


Tasya datang ke ruang tamu sambil membawa nampan yang berisi 4 cangkir teh. Sebelum ke sana, ia melirik ke arah kakaknya dengan penuh arti, lalu menghampiri meja dan menyuguhkan tehnya untuk tamu mereka.


Elina menoleh ke arahnya begitu menyadari kedatangannya. Ia pun tersenyum, lalu melirik anaknya. "Logan, bawa Anna ke sini," perintahnya dengan suara halus dan lembut.


Logan tercengang sejenak, beranjak dari kursi dengan kikuk. Dihampirinya Anna, lalu mengulurkan tangan ke arahnya ketika ia sampai di depannya.


"Ayo, ikut aku," ujarnya setengah hati.


Bingung, tapi juga canggung. Semua anggota keluarganya pasti bertanya-tanya soal perlakuan Logan itu. Anna menatap uluran tangan itu sejenak, ia menerimanya, dan membiarkan pria itu membawanya ke sebuah sofa untuk duduk di sampingnya. Mamanya pun langsung duduk di samping ayah setelah itu.


Suasana ruang tamu hening sejenak. Elina memberi tanda pada Matthew, agar memulai perbincangan mereka. Matthew mengangguk mengerti, menjalin jemarinya, lalu mendeham.


"Maaf, kedatangan kami ke sini tanpa diberitahukan dulu," kata pria itu tenang, dengan senyuman tipis ala kadarnya.


Ayah tersenyum canggung, berkata sambil melirik pada mama sejenak, yang juga tersenyum. "Tidak apa-apa. Tapi, boleh kami tahu maksud dari kedatangan kalian ke sini?"


"Sebelumnya perkenalkan, saya Matthew. Ini istri saya, Elina. Dan yang di sana anak saya, Logan," kata Matthew sambil menunjuk. "Kami datang ke sini ingin melamar Anna untuk anak kami."


Lamaran? Hal yang tak pernah diduga sebelumnya. Anna dan Logan bahkan sampai terkejut, sambil saling nenatap. Rencana ini sepertinya tidak diketahui oleh Logan. Sejak perjalan mereka ke rumah ini, Elina dan Matthew tidak memberitahukan apa pun padanya. Ayah dan mama juga kaget dan kehilangan kata sesaat, tetapi kemudian mereka tersenyum walaupun masih bingung.


"Maaf, Pak, Bu. Sebelumnya, kalau saya boleh tahu, apakah Anna dan Logan sudah pernah berpacaran? Ini mendadak sekali. Selama ini, Anna tidak pernah memberitahukan soal pacarnya, apalagi membawanya ke rumah," kata ayah, melirik mama, yang menimpalinya dengan anggukkan.


"Oh, begini, Pak," sahut Elina, meletakkan cangkir teh di atas meja. "Logan ini adalah bos di perusahaan tempat Anna bekerja. Mereka memang belum lama saling mengenal, dan tidak pernah punya hubungan apa pun. Tapi, karena sesuatu hal telah terjadi, maka kami memutuskan untuk menikahkan mereka berdua."


Anna dan Logan tertunduk, sementara ayah dan mama mengernyit bingung. Apa maksudnya dengan "sesuatu hal telah terjadi"? Memangnya, ada apa di antara mereka berdua?


Ayah dan mama melemparkan tatapan pada Anna dan Logan. Sebagai seorang ibu, firasatnya sangat kuat. Mama berpikir, pasti suatu hal yang buruk terjadi pada mereka. Namun, ia berharap, apa yang dipikirkannya tidak pernah terjadi. Mama membuang jauh-jauh firasat buruk itu, dan kembali mendengarkan suaminya berbicara.


"Maksud Ibu apa, ya?" tanya ayah.


Elina melirik suaminya. Mereka cukup lama terdiam karena merasa ragu untuk mengatakannya. Anna memainkan jemarinya resah, matanya terpejam erat karena terlalu takut jika Elina mengatakan hal yang sebenarnya. Logan pun sama gugupnya. Beberapa kali dia mendesah, duduknya tidak tenang.


"Kemarin, saya sudah bicara pada Anna soal ini. Katanya, Anna belum mengatakan keadaannya karena takut terjadi sesuatu pada orangtuanya," ucap Elina, membuat ayah semakin penasaran. "Begini, Pak, Bu. Sebenarnya Anna ... sedang mengandung anaknya Logan."


Anna membuka matanya lebar-lebar. Semua sudah dikatakan. Lalu, bagaimana dengan reaksi orangtuanya? Pelan-pelan Anna menaikkan kepala. Ia tersentak, tatapan dingin ayah mengarah padanya. Anna memalingkan wajah lagi, tak sanggup menatap ayah. Dan mama, entah bagaimana keadaannya?


"Ma? Mama kenapa?" jerit Tasya, membuat Anna sontak berpaling pada mamanya.


Mama sedang berada dalam pelukan ayah, dengan Tasya berlutut di depannya. Adnan berdiri di dekat mereka, khawatir juga, tapi tidak melakukan apa pun.


Mama....


Anna akan beranjak, tetapi Logan mencegahnya dengan menggenggam tangannya. Anna mengernyit heran, pria itu memberi isyarat dengan gelengan kepala. Dia tahu situasinya sangat tidak baik sekarang, anggota keluarga Anna tengah menuding mereka dengan tatapan dingin. Logan menghela pelan untuk kembali duduk, membiarkan situasi tenang dulu.


Anna menurutinya, tetapi hatinya tersiksa melihat mamanya anfal karena hal mendengar aib dari salah satu anak kebanggaannya. Ia hanya bisa duduk, saat ayah dan kedua adiknya membawa mama ke kamar. Anna menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya, tangisannya langsung pecah.


Elina dan Matthew jadi iba. Logan yang ada di samping Anna hanya terdiam sambil meliriknya. Kalau dibilang iba, ya, tentu saja. Namun, apa yang bisa dilakukannya. Hubungannya dengan Anna tidak sejauh itu. Jadi, tidak mungkin ia membawa Anna dalam pelukannya.


Anna sedang hamil, Elina tidak bisa melihat Anna dalam keadaan ini. Akhirnya, ia melakukan sebuah tindakan. Ia beranjak ke kursi, akan menghampiri Anna. Namun, ia mematung, karena Logan tiba-tiba menghela kepala Anna ke dalam dadanya dan tangannya merangkul pundaknya.


Anna tertegun, tangisannya terhenti sejenak. Perasaan hangat menjalar dalam hatinya. Tapi, tetap saja ia bingung. Kenapa tiba-tiba pria itu melakukan hal ini? Apa dia sedang memperlihatkan sisi lembutnya?

__ADS_1



Ayah memasuki kamar sambil membawa segelas air. Namun, ia berhenti di ambang pintu, berdiri sambil memperhatikan mama tengah bergelung di ranjang. Istrinya tampak murung, lalu lama-kelamaan terisak dan mengeluarkan air mata.


Ayah menjadi iba, kembali meneruskan langkahnya dengan hati tegar. "Ma," panggilnya, duduk di tepi ranjang, lalu meletakkan air di atas nakas samping ranjang.


Mama terkesiap, menyeka air matanya, lalu perlahan bangun. Dengan sigap, ayah membantunya untuk duduk, kemudian memberikannya gelas berisi air putih hangat.


"Apa masih sesak dadanya?" tanya ayah, setelah mama selesai menenggak airnya sedikit.


"Sudah mendingan," lirih mama, lemah.


Mereka berdua hening dalam pikiran masing-masing. Hati mereka sama-sama hancur dengan apa yang terjadi pada Anna, sampai bingung harus berbuat apa. Namun....


"Ma, kita tidak tahu apa yang terjadi. Anna pasti punya alasan kenapa dia hamil sebelum menikah," kata ayah, pelan dan tercekat di tengah kata.


"Alasan apa? Mama sudah capek mendengarnya. Sudah beberapa kali dia berbohong? Dan sekarang, dia mengandung anak dari bosnya—" Air mata mama meleleh lagi, dadanya terasa sesak, dan suaranya serak ketika kembali berkata, "Kenapa dia suka sekali mencoreng nama baik keluarga kita."


"Bukan seperti itu, Ma," tukas ayah, perlahan memberi pengertian. "Mama tahu, Anna selalu rajin beribadah. Dia seperti itu pasti karena telah terjadi sesuatu—"


"Masa bodo!" jerit mama, tangisnya semakin histeris. "Terserah! Mama udah capek! Urus saja anak kesayangan Ayah itu!"


Jeritan mama terdengar sampai luar, membuat Anna terkejut dan menoleh ke arah suara keras itu. Mama pasti sangat marah. Anna menunduk lesu, dengan sisa tangisannya.


Ayah kembali ke ruang tamu untuk menemui tamunya. Wajahnya kuyu, gerakannya lambat karena tubuhnya lemas. Namun, ia masih bisa tersenyum menghadapi tamunya, berusaha berbicara setenang mungkin.


"Maaf, istri saya sakit. Kita bisa membicarakan kembali soal ini."


"Tidak apa-apa, Pak," jawab Matthew, sopan.


Elina kemudian membantu suaminya bicara. "Iya, Pak. Kami mengerti, istri Bapak pasti sangat syok. Tapi, saya mohon agar Bapak jangan menyalahkan Anna. Kehamilannya ini bukan maunya Anna dan Logan. Ini murni kecelakaan."


"Iya," sahut Matthew, kemudian melayangkan tatapan penuh arti pada anaknya. "Logan, jelaskan!"


Logan menaikkan wajahnya sedikit, ragu menatap pria paruh baya itu, yang sedang menunggunya memberikan penjelasan. Matanya sempat melirik Anna yang sedang menundukkan kepala. Jemarinya bergerak gelisah. Entah mengapa, kali ini keberaniannya seakan menciut.


"Nak, Logan. Tolong jelaskan!" tagih ayah.


Perlahan, Logan menaikkan wajahnya, meliriknya sejenak, tapi kembali menurunkan tatapannya ke bawah. "Pak, ini bermula dari pesta pernikahan yang diadakan di kapal pesiar di Singapura, satu bulan yang lalu."


Logan menceritakan semuanya tanpa melewatkan satu kejadian pun, dan sedetil-detilnya. Bahkan, ia juga memberikan penjelasan mengenai para komplotan yang menjebaknya, hingga pemerkosaan itu terjadi.


Rahang ayah mengeras, mengepal tangannya, dan mata yang menyalak marah. Suasana suram berubah, Anna dan Logan merasakan atmosfir itu. Apa sudah waktunya ia berlutut mohon ampunan padanya, sebelum pria itu memuntahkan kemarahannya?


"Pak, saya mohon maaf. Semua itu terjadi karena kecelakaan dan ketidaksengajaan. Saya siap bertanggung jawab atas Anna dan anak yang ada dikandungannya. Jika Anda menginginkan pernikahan, saya siap!"


Anna menoleh terkejut. Tidak menyangka pria itu akan sampai berlutut. Ayah sendiri sampai lumer kemarahannya, dan menyuruh Logan untuk berhenti melakukan hal itu. Apa Logan berhasil meluluhkannya?


"Sudah berhenti, kembalilah ke tempat duduk kamu," kata ayah, malah jadi canggung.


Logan menganggukkan kepala, kembali duduk di tempatnya. Ayah menghela napas, memijat keningnya yang terasa pening. Di dalam keheningannya, ayah berpikir keras. Semua yang didengarnya terasa seperti tidak masuk akal, rumit, dan membuatnya bingung.


Sekarang, ia harus bagaimana? Ia bimbang. Apakah pantas menyerahkan Anna pada pria yang memperkosanya? Apa mental Anna akan baik-baik saja? Namun, kehamilan Anna sudah mencoreng nama baik keluarga. Hanya pernikahan yang bisa menyelamatkan wajah mereka, sebelum perut Anna semakin membengkak.


"Anna, Ayah mau tanya," kata pria itu, setelah kepalanya mulai mendingin. "Apa kamu bersedia menikah dengan dia?"


Gadis itu menoleh pada tunjukkan ayahnya, yang mengarah pada Logan dengan tercengang. Menikah? Ia tidak bisa menjawab itu, karena ayahnya sendiri belum tahu soal rintangan lain yang ada di antara dirinya dan Logan.

__ADS_1


"Ayah, sejak awal aku tidak memikirkan soal itu. Karena...."


"Karena apa?" desak ayah.


"Karena ... aku dan Logan berbeda keyakinan."


Ayah bertambah syok, menepuk keningnya. Benar-benar tidak habis pikir, cobaan apalagi ini? Namun, kesusahan yang dirasakannya segera disingkirkan. Elina maju ke depan untuk memberikan solusi.


"Bapak tidak perlu risau," kata Elina. "Kami tahu kalau Anna memiliki iman yang kuat terhadap keyakinannya, begitu juga dengan Logan. Jadi, kami sudah memikirkan cara, supaya mereka tetap menikah."


Anna dan Logan menatap terpana pada Elina dan Matthew. Mereka niat sekali menyatukan dua insan itu, tanpa diduga sudah mencarikan solusinya.


"Anna dan sekeluarga tidak perlu memikirkan apa pun, biar keluarga kami yang mempersiapkan pernikahan Anna dan Logan," kata Matthew menambahkan. "Bapak dan ibu terima beres saja."


Ucapan pasangan itu bagai angin segar yang mengurangi kepenatan ayah. Kalau memang seperti itu, dengan senang hati ayah menyetujui kesepakatan.


"Baiklah. Saya akan bicarakan hal ini pada istri saya," kata ayah, semringah.


Matthew dan Elina tersenyum bahagia, sama halnya dengan ayah. Namun, momen itu tidak menular pada Anna dan Logan. Keduanya menunduk, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hasil akhirnya sudah diputuskan. Mau tak mau, siap tak siap, mereka harus menerima hal ini meski hati mereka bertentangan.


Selama percakapan tadi berlangsung, Tasya diam-diam mendengarkannya. Ia duduk pada anak tangga, yang tempatnya tidak terlihat oleh siapa pun. Ia masih tidak menyangka mendengar semua itu. Benar-benar mengejutkan! Sungguh malang nasib kakaknya. Kenapa hal buruk itu bisa sampai terjadi padanya?



"Menikah dengannya?" Renung Anna, dengan dagu bersandar di atas meja.


Ia menghela napas. Bagaimana bisa dua orang keras kepala yang tidak saling cinta berada dalam lingkaran hubungan yang sakral itu? Ia tidak yakin hubungan ini bertahan lama.


Ia menguap lebar. Kehamilan ini sering membuatnya mengantuk. Tadinya, ia beranjak ke ranjang untuk tidur, tetapi suara ketukan pintu kamar menahannya.


Dibukanya pintu kamar, sontak ia terkejut melihat mamanya di depan pintu sambil membawa segelas jus mangga. Terharu rasanya, sampai tak sadar kalau air mata sudah menggenangi matanya.


"Terima kasih, Ma," kata Anna sambil mengambil minuman itu. Ia menunduk, rasa bersalah hinggap di hatinya. "Maaf, Ma," ucapnya getir.


Hatinya bagai tertusuk duri tajam, tetapi ia tetap memaksakan senyum, mulai ikhlas dengan semua yang terjadi.


"Tidak apa-apa," kata mama. "Mama sudah mendengar semuanya dari ayah."


Anna semakin menundukkan kepalanya. Getir sekali rasa bersalah ini. Beribu kata "maaf" tidak akan cukup untuk menyembuhkan luka mama.


Mama menunduk, mengela napas panjang. "Mama dan ayah terpaksa setuju menikahkan kamu dengan Logan. Ini bukan karena keluarga itu mau mengurus semuanya, tapi karena kehamilan kamu. Mama juga tidak mau anak kamu terlahir tanpa orangtua lengkap."


Orangtua lengkap. Memikirkannya membuat Anna menjadi murung. Ia sendiri tidak yakin kalau pernikahan terpaksa ini akan bertahan lama.


"Jadi, Mama juga setuju aku menikah dengan laki-laki yang tidak seiman?" tanya Anna, menyakinkan mamanya sekali lagi.


Mama menelan air liurnya, yang seakan tercekat di tenggorokannya. Pertanyaan yang sulit untuk dijawab. "Terpaksa Mama menyetujuinya."


Anna meletakkan gelas berisi jus di tempat lain. Dengan hati yang begitu sakit, dan air mata yang mulai meleleh, perlahan Anna berlutut di depan mama. "Maaf, Ma...," isaknya. "Anna sudah mengecewakan Mama dan ayah."


Hati mama mencelus, sampai air matanya menggenang di pelupuk matanya yang keriput. Namun, ia tak berlama-lama larut dalam suasana menyesakkan. Menyeka air matanya, seperti menyingkirkan kesedihan itu. Ia mengulurkan tangan, membantu Anna untuk berdiri.


"Kamu ngapain, sih? Kamu lagi hamil," tegur mama, mulai lagi mengeluarkan kegalakannya. Kedua ibu jarinya mengelap air mata yang mengalir di mata dan pipi Anna sambil berkata, "Jangan nangis terus, ah! Kasihan bayi kamu."


Omelan mama seakan sebuah hiburan bagi Anna. Senyumnya terkembang, meskipun tangisannya masih tersisa dan perlahan menghilang. Lalu, dipeluknya wanita itu sejenak, dan melepaskannya ketika tangisannya mulai reda.


"Udah, habiskan jus kamu, habis itu istirahat, ya," kata mama.

__ADS_1


"Iya, Ma." Anna mengangguk.


Mama menyuruhnya masuk ke kamar, setelah itu barulah ia pergi dari sana. Meskipun mama sudah menerima semua itu, Anna tetap masih belum tenang. Pernikahan. Apa ia sanggup menjalaninya?[]


__ADS_2