Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Melamar


__ADS_3

Kenan datang ke kantor Logan beberapa hari kemudian, setelah mendengar Anna kembali ke rumah orangtuanya dan perceraiannya.


Sebelum ke sini, Kenan pernah menghubungi Logan. Tidak diangkat, tapi setelahnya nomornya diblokir. Ia berpikir Logan masih murka, makanya ia ke kantornya untuk menemui pria itu.


Logan masih belum datang, Kenan menunggu di dalam ruangannya. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Logan muncul, Kenan mengalihkan perhatiannya pada foto pernikahan Logan dan Anna yang masih terpajang di meja.


Logan mendengus kasar dengan tatapan tak senangnya, lalu masuk ke dalam ruangan dengan acuh tak acuh. Kenan tahu dia dicueki, maka ia melesat mendekatinya seraya mencecar.


"Aku dengar, Anna kembali ke rumah orangtuanya," tanya Kenan basa-basi.


Hati Logan panas, tapi tetap tak menimpali. Ia meraih figura foto pernikahannya, yang kemudian ia lempar ke tong sampah, lalu duduk di kursi kebesarannya.


Kenan menatap sedih pada figura yang dibuang Logan. Berarti yang didengar Anna bukanlah candaan belaka. "Logan, yang kau lihat waktu itu ... kau sudah salah paham...."


Logan menggapai patung porselen di mejanya, kemudian dilemparkannya ke lantai. Sontak Kenan terkejut, menatap kepingan porselen itu hancur.


Kenan menatap Logan dengan gugup, sementara pria itu tetap bergeming seraya membuka sebuah berkas. Kenan tahu, Logan sedang berdalih.


"Logan, Anna melakukan itu pasti karena...."


"Kau mau keluar dari sini..." tukas Logan dingin bercampur geram, seraya menoleh garang pada Kenan. "Atau aku hajar."

__ADS_1


Kenan bergidik seraya menelan air liurnya. Kemurkaan Logan kali ini tidak main-main. Tatapannya seolah ingin menghabisi Kenan di tempat.


"Oke," sahut Kenan agak gugup. "Tapi, aku harap kau pikirkan lagi...."


"Apa yang mau dipikirkan lagi!" sergah Logan seraya menggebrak meja. "Dia yang ingin bercerai! Jika kau bahas soal dia lagi, persahabatan kita benar-benar putus!"


Jika memilih, lebih baik persahabatan mereka putus, daripada melihat Anna dan Logan berpisah karena kesalahpahaman. Namun, ia tahu saat ini Logan tak bisa diajak bicara. Jadi, ia pun memilih mundur dan pergi dari ruangan.


Logan tak melirik sedikitpun pada Kenan yang telah beranjak dari ruang kerjanya. Setelah mendengar suara pintu ditutup, Logan menghela getir, lalu memijat keningnya.


Entah kenapa, lirikannya tiba-tiba teralihkan pada tong sampah yang ada di sudut meja kerjanya. Sesal dirasa setelah membuang foto itu. Namun, ia harus bisa membuang perasaannya juga, sebab Anna menginginkan perceraian ini.


Sebenarnya, Logan masih belum siap kembali bekerja. Masalah ini membebani pikirannya. Ia tak bisa berkonsentrasi sama sekali.


Pintu ruangannya diketuk, Logan mendesis karena terusik. Siapa sih yang ingin menemuinya saat ini?


Terpaksa, Logan berseru tanpa mengubah posisinya. "Masuk!"


Nina pun muncul, Logan melirik sejenak lalu berdecak. Di dalam hati ia bersungut-sungut, "Kenapa dia datang di saat tak tepat?"


Nina menyangka Logan tak mengetahui kedatangannya, maka Nina berpikir untuk mengejutkan pria itu. Nina berjingkat di belakangnya, lalu memeluk lehernya seraya berseru manja.

__ADS_1


"Logaaaaaan. Lagi apa?"


Alih-alih terkejut, Nina malah disambut dingin oleh Logan. "Ada apa ke sini?"


Nina menegak kecewa, tapi hanya sekejab karena ia tahu awalnya akan seperti ini dulu. "Aku ingin menemuimu."


Alasan! Logan yakin, wanita ini ingin membahas soal perjanjian mereka. "Kau sudah dengar aku dan Anna sudah bercerai, 'kan? Apa kau puas?" ucapnya sinis.


Selama mengenal Logan, tidak pernah sekalipun Logan bersikap begini padanya. Nina cuma bisa berusaha sabar dan maklum. Ia akan berusaha lebih keras lagi menaklukan pria itu.


"Aku sedih mendengarnya, tapi Anna sudah membuat keputusan bijak. Dia tahu akan kekurangannya, tindakannya untuk mundur memang benar," jawab Nina merasa ucapannya tepat, padahal justru dia membuat kecerobohan.


Logan menahan kegeramannya dalam hati. Ia mengarahkan tatapan tajamnya pada Nina sejenak, sebelum akhirnya ia berdiri di hadapan Nina.


Wanita itu terkesiap, waspada dan sontak melangkah mundur. Ia gugup sebab Logan mendekat padanya. Tatapan serius Logan semakin membuat jantungnya berdebar kencang, dan matanya membulat.


Nina spontan beringsut kala tangan Logan menggapai puncak kepalanya. Senyum dingin nan misterius terulas di bibir pria itu. Ketegangan di hati Nina memudar sedikit, tetapi menimbulkan tanda tanya dalam benak.


Apa arti senyuman itu? Dan kenapa tiba-tiba jemari Logan menyentuh rambutnya?


Semua itu terjadi beberapa saat, hingga Logan akhirnya berkata, "Kau ingin menikah denganku, 'kan?"

__ADS_1


Lebih aneh lagi bertanya soal ini. Tapi, Nina tetap menjawab dengan kikuk. "I-iya." Anggukknya.


"Baiklah. Kalau begitu, kita menikah."[]


__ADS_2