
Sebuah pintu terbuka sangat pelan, sampai suara deritnya tidak terdengar. Anna berjingkat ke luar kamar, perlahan menuruni tangga. Namun, ia mendongak dulu ke bawah, memperhatikan keadaan sekeliling sebelum kembali menuruni tangga.
"Aman," gumamnya sangat pelan, mungkin cuma semut lewat yang bisa mendengarnya.
Entah pada ke mana para penghuninya, keadaan rumah sangat sepi dan sunyi pada jam 3 sore ini. Apa mungkin ayah dan mama sedang istirahat siang, dan Adnan sedang asyik main game di kamar. Ah, terserahlah! Yang penting, ia bisa keluar rumah hari ini. Sebab, semenjak para penghuni rumah tahu bahwa ia sedang hamil, selama tiga hari ia terkurung di rumah.
Ini kesempatannya untuk keluar rumah. Dengan sudah mengenakan pakaian rapi, ia berjalan tanpa suara ke arah pintu, mengambil sepasang sepatu tanpa hak, lalu menghampiri pintu.
Berhasil! Akhirnya, sampai juga di depan pintu. Tangannya meraih gagang pintu, menekannya perlahan sambil menatap waspada ke belakangnya. Ia menghela napas, knop pintu tak mengeluarkan suara sedikitpun! Setelah itu, ia membuka pintu sedikit demi sedikit sambil menengok ke belakang, baru menegakkan badan ketika pintu sepenuhnya terbuka.
Ia menoleh ke depan, sedetik kemudian terhenyak. "Ah!" Ia menjerit pelan, spontan menutup mulutnya.
Logan ternyata berdiri di depan pintu, dengan tangan terangkat akan mengetuk pintu. Sepertinya, pria itu baru datang. Tapi, kenapa ia tidak mendengar suara mobilnya.
"Logan?" Anna setengah berseru, jengkel karena pria itu mengagetkannya. "Kamu ngapain di sini?
Pria itu menurunkan tangannya, menatap Anna dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Kamu mau ke mana?"
"Bukan urusan kamu!" sahut Anna ketus. "Minggir!"
Anna mengibaskan tangannya. Namun, alih-alih menyingkir dari hadapannya, Logan berseru sambil mengetuk pintu.
"Selamat sore! Pak! Bu!"
Anna panik, dan buru-buru menutup mulut pria itu. "Apa-apaan sih?" tegurnya dengan suara berbisik.
Logan pun tak mau mengalah, mencoba menghela tangan Anna dari mulutnya, dan berseru lagi, sampai mama akhirnya keluar dari dalam kamar.
"Eh, Logan?" sapa wanita itu.
Mendengar suara mamanya, Anna tersentak, praktis berbalik sambil menurunkan tangannya. Dia tersenyum lebar, Logan juga tersenyum sopan sambil membalas sapaannya.
"Selamat sore, Bu." Logan langsung meraih tangan mama, lalu menciumnya.
"Tumben banget ke sini? Ada apa, ya?" Belum sempat habis pertanyaannya, tatapan mama teralihkan pada anaknya. "Anna? Kamu mau ke mana? Udah rapi aja?"
Duh, gawat! Semoga mama tidak curiga kalau Anna mau keluar diam-diam. Ayo Anna, coba pikirkan alasan yang tepat! Namun, sepertinya hal itu tidak perlu. Logan melirik gelagat Anna yang terdiam gugup. Sepertinya, ia berpikir untuk membantunya.
"Begini, Bu" kata Logan, lalu merangkul pundak Anna, dan merapatkan tubuhnya ke arahnya. "Saya mau mengajak Anna keluar. Apa Ibu bisa mengizinkannya?"
Anna mengernyit sambil melirik Logan. Apa-apaan pria itu? Apa dia sedang mencoba modus? Ia merasa tidak nyaman begini, dan menjaukan mencoba menjauhkan tubuhnya. Akan tetapi, Logan kembali menghelanya lagi ke dalam pelukannya. Anna mendengus, menyerah pada akhirnya.
"Ya udah, boleh kok," jawab mama. "Tapi ingat, nyetirnya hati-hati, ya. Anna kan lagi hamil."
Sungguh mengesalkan! Mama malah mengizinkan Logan membawa Anna. Padahal, Anna berharap kalau mama tidak memperbolehkan. Soalnya, ia merasa firasat buruk. Lihat saja senyumnya Logan yang misterius, Anna merasa kalau Logan akan menerkamnya hidup-hidup.
"Siap, Bu. Saya akan berusaha untuk berhati-hati," sahut Logan, tersenyum simpul.
Anna memberontak, tak mau dihela oleh Logan. Mama kembali ke dalam rumah, lalu menutup pintu. Seperti permintaan Anna, Logan melepaskan rangkulannya.
"Ayo, kita pergi!" kata Logan, berjalan duluan dengan tangan dimasukkan ke dalam saku.
"Kita mau ke mana?" seru Anna, masih bergeming di tempatnya.
Logan berhenti, melirik Anna dari samping bahunya. "Ikut aja."
Apa? Dengus Anna dalam hati sambil melipat kedua tangannya di dada. "Kalau tujuannya nggak jelas, aku tidak mau ikut! Nanti kamu malah bawa aku ke jurang," tudingnya.
Dasar perempuan! Menyebalkan sekali! Logan terpaksa berbalik menghampirinya, lalu meraih tangan Anna. Tatapannya bikin Anna bergidik, apalagi dengan ucapannya.
"Sekalipun ke neraka, kamu tetap harus ikut! Itu perjanjian pernikahan antara istri dan suami!"
"Mana ada yang seperti itu?" balas Anna, mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Logan.
Ada atau tidaknya, Logan tidak peduli. Tanpa menjawabnya, ia menarik Anna hingga ke depan mobilnya. Pegangan tangan pria itu sangat kuat. Semakin Anna meronta, semakin kuat genggamannya.
"Lepaskan! Tanganku sakit, Logan!" jerit Anna.
__ADS_1
Mereka berhenti ketika sampai di depan mobil. Genggaman Logan melonggar, dan Anna langsung menghempaskan tangannya. Pria kasar! Lihat tangan Anna yang memerah ini! Anna memeganginya, sambil meringis.
Logan membuka pintu mobil, memberi isyarat dengan kepalanya. "Kalau kamu tidak mau mendapatkan perlakuan kasar, turuti perintah saya! Sekarang, kamu masuk ke mobil!"
Anna meliriknya tidak yakin. Siapa yang menjamin, pria sedingin dia tidak akan berbuat kasar lagi? Dan pria itu juga tidak jelas mau membawanya ke mana. Takutnya, Logan memiliki rencana untuk melenyapkannya.
"Iya!" sahutnya. "Tapi harus jelas dulu, kamu mau bawa aku pergi ke mananya?"
Logan mendecakkan lidah. "Yang pasti aku tidak akan membawamu ke jurang ataupun ke neraka. Puas?" sindirnya ketus.
Seberapa keras pun pria itu menyakinkannya, Anna tetap saja ragu padanya. Namun, ia tetap ikut dengannya karena tak mau diperlakukan kasar lagi. Bagaimanapun, ia harus memastikan bayi yang ada di rahimnya dalam keadaan baik.
Prasangka buruk Anna terhadapnya perlahan memudar ketika mobil melaju di jalan yang tak asing baginya. Logan membawanya ke vilanya. Namun, untuk apa dia membawanya ke sini? Anna jadi khawatir sejak pria itu memasuki pekarangan vila.
Apa dia mau melakukan sesuatu padanya? Pria itu jadi lancang dan berprilaku aneh sejak acara lamaran waktu itu. Dan tadi, pria itu juga menyentuhnya meski hanya sekadar merangkul. Bisa saja, dia akan mengajaknya berhubungan intim karena mereka akan segera menikah.
Pipi Anna memanas, sampai ronanya berubah merah jika memikirkan hal itu. Ah! Jangan sampai hal itu terjadi! Gara-gara pikiran paranoid itu, Anna sampai tak mau turun dari mobil.
Logan membuka pintu mobil untuknya. Anna hanya menoleh dengan mata menyipit. Alis Logan naik sebelah. Apa lagi yang salah dengan gadis ini?
"Silakan turun?"
"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Anna, alih-alih menuruti Logan.
"Memangnya, kamu pikir apa? Aku mau melakukan sesuatu yang aneh padamu?" sindir Logan, lalu tersenyum sinis. Jari telunjuknya di arahkan ke kening Anna, mengetuk-ketuknya berkali-kali sambil berkata, "Otak ini, apa hanya memikirkan hal-hal yang kotor?"
Apa sih? Kurang ajar! Anna menepis tangan pria itu, wajahnya cemberut. Bete banget! Terserah, apa pun alasan Logan membawanya ke sini. Lantas, ia turun, melewati Logan dan berjalan duluan sambil menghentak-hentakkan kaki.
Logan ingat akan pesan Elina, agar memperlakukan Anna dan bayinya dengan baik. Ia menyusul Anna, kemudian tangannya menyusup ke pinggang Anna.
Tuh, 'kan? Kelakuan pria itu aneh lagi dan tak bisa ditebak. Anna berhenti berjalan, melirik tangan Logan yang tengah merangkul pinggangnya dengan dahi mengernyit.
"Apa maksudnya ini?" tanyanya, agak ketus.
Banyak tanya sekali gadis ini! Sudah tahu Logan malas menjawab pertanyaan yang seperti ini! Tak peduli seberapa berisiknya gadis ini menagih jawabannya, Logan menghela Anna untuk masuk ke dalam vila.
Seorang pelayan membuka pintu, menyambut mereka dengan senyuman ramah dan membungkuk hormat.
"Sudah, Pak."
Persiapkan apa? Logan kembali membuat dahi Anna mengernyit dengan semua sikapnya. Namun, Anna malas untuk bertanya. Toh, semua pertanyaannya akan terjawab juga.
Logan membawa Anna ke ruang makan. Anna tercengang, jalannya melambat saat melihat meja makan sudah dipenuhi oleh beberapa hidangan. Perlahan, ia menoleh pada Logan dengan bibir sedikit terbuka.
Apa ini persiapan yang dimaksud oleh Logan? Dia ke sini ingin mengajaknya makan bersama?
Logan sadar pada tatapan Anna yang mengarah padanya. Ia menatap balik, lamat-lamat, hingga tanpa sadar arah tatapannya turun ke bibir mungil Anna.
Jantungnya berdebar. Teringat kembali ketika ia ******* ganas bibir itu, pada saat malam pemerkosaan terjadi. Ia masih ingat rasanya; begitu manis, mengundang berahinya untuk semakin bergejolak.
Oh, tidak. Pikirannya melayang. Dan kini, perasaan yang sama pada malam itu timbul. Setan menghasutnya terus, untuk kembali mencicipi bibir merah jambu itu. Dorongan yang tanpa disadarinya, perlahan membuatnya memajukan wajahnya.
Anna mengernyit, bingung karena pria itu terus mendekatkan wajahnya. Ia pun menjauhkan wajahnya. "Apa yang mau kamu lakukan?" tanyanya menegur.
Logan mematung, lalu mendelik. Ia tersadar dari hasutan berahi yang membara di dalam dadanya. Spontan, ia menjauhkan wajahnya, kembali menghela Anna sampai ke meja makan.
Dengan sigap, Logan menyeret bangku yang akan diduduki oleh Anna. Gadis itu tertegun, kemudian dibuat terpukau oleh Logan yang menghelanya duduk dengan lembut. Setelah itu, Logan duduk di bangku yang ada di sampingnya, membalikkan piring yang di hadapan Anna.
Ada apa dengan hatinya? Semua perlakuan hangat Logan hari ini membuat jantung Anna berdetak tak keruan. Mungkinkah, ia mulai terpengaruh? Oh, sadar Anna! Logan pasti melakukan semua ini atas suruhan Elina.
"Kamu makan apa?" tanya Logan, membuat Anna tertegun, lalu melihat semua hidangan di atas meja makan.
Em ... oke! Semua hidangan di sini semuanya enak dan mewah. Namun, Anna sama sekali tidak berselera. Logan menunggunya, tapi lama-lama mulai kesal.
"Kamu mau makan apa? Biar aku ambilkan," tagihnya, menahan geram.
"Logan," Anna memangku dagunya dengan tangan. "Kamu tahu kan kalau wanita hamil suka mengidam."
__ADS_1
Hal soal kehamilan sudah Logan pelajari semenjak membicarakan rencana memiliki momongan dengan Nina. "Iya, memang apa hubungannya dengannya makanan?"
"Em...."
Em? Apalagi tingkah gadis ini? Awas saja kalau meminta yang aneh-aneh!
"Apa?" tanya Logan, mulai tidak sabar.
Anna menurunkan tangannya, melirik Logan. "Ah, nggak jadi. Kamu ketus begitu."
Logan menghela napas, mencoba tenang. Bagaimanapun juga, yang dihadapinya adalah wanita hamil yang selalu sensitif.
"Baiklah. Kamu mau apa?" tanya Logan, pelan dan berusaha lembut.
"Em ... aku ingin makanan yang lain," jawab Anna ragu.
Sudah ia duga. Logan menghela napas jengkel. "Makan apa?"
"Aku ingin sate madura," jawab Anna.
"Apa?" Logan setengah berseru. "Ah! Oke!"
Logan akhirnya memanggil pelayannya. Terpaksa, ia harus merepotkan si pelayan agar membelikan seporsi sate madura. Akan tetapi, Anna buru-buru menyela.
"Maaf, tapi saya maunya kamu yang beli," ucap Anna agar ragu, lalu tersenyum lebar.
Mata Logan terpejam erat karena sangking kesalnya. Belum menikah tapi sudah merepotkan begini. Kalau bukan karena orangtuanya dan bayi itu, Anna akan merasakan ledakan kemarahannya.
"Oke," sahutnya menahan geram. "Kita sekalian makan di sana."
Anna tersenyum. Melihat pria itu menahan marahnya menyenangkan juga sepertinya. Ia beranjak dan berjalan di belakang Logan yang berjalan cepat.
Entah sengaja atau tidak, Logan kesal menyadari Anna berjalan lambat. Ia berhenti berjalan, menunggu sampai Anna menghampirinya. Lalu, ia meraih tangannya dan menariknya mengikuti laju jalannya yang cepat sampai ke mobil.
Heran, dia kasar lagi. Apa karena kesal pada permintaannya tadi? Anna jadi tidak enak. Apa batalkan saja beli sate maduranya? Ah, tidak. Anna pikir, pria itu akan kesal lagi.
Dengan bantuan GPS Logan melajukan mobilnya ke sebuah restoran yang menyediakan menu yang diminta Anna.
Sebenarnya, Anna melihat warung sederhana yang menyediakan sate madura, tapi tidak ia katakan karena menyadari kelakuannya sudah keterlaluan.
Restoran itu ramai, untung dapat tempat duduk. Logan memesan seporsi sate madura untuk Anna, dan soto ayam untuknya.
"Puas?" sindir Logan, sinis.
"Saya belum makan. Jadi, saya belum bisa menilainya," jawab Anna.
Waktu sudah terbuang, dan Logan tak perlu banyak basa-basi lagi. "Papa dan mama akan datang lagi ke rumahmu untuk membicarakan hari pernikahan kita."
Lalu, ia harus apa? Mama sudah memberikan kode soal hal itu padanya tadi. "Apa bisa kalau kita tidak menikah?"
Logan memiringkan kepala, ekspresinya datar. "Tidak."
Anna mengernyit. Heran, kenapa sekarang justru Logan bersikap sebaliknya? Dulu, bukannya dia tidak ingin menikahinya? Ia harus tanya lagi untuk memastikannya.
"Maaf? Tadi Bapak bilang—"
"Saya ingin kamu melahirkan bayi itu dan jadi istri saya," tegas Logan.
Serius? Hati Anna jadi tersentuh, tapi tercengang juga. Hanya saja, hatinya ragu lagi. Apa Logan benar-benar tulus atau karena paksaan papanya?
Logan beranjak dari kursinya setelah itu. "Saya ke toilet dulu."
Hidangan datang tak lama kemudian. Senyum Anna merekah, meraih sendok, tak sabarnya menyantap makanan itu. Kebetulan yang tak terduga, Kenan juga makan siang di sana hari ini. Kenan melihatnya sesaat memilih tempat duduk. Maka, dihampirinya meja Anna.
"Anna, apa kabar?" sapanya.
Baru saja Anna akan menyuapkan seiris daging ke dalam mulut, tapi berhenti karena sapaan dari suara yang terdengar tidak asing di telinganya. Lantas, ia menoleh, tersenyum pada pria itu.
__ADS_1
"Hai, Kenan."
Tanpa mereka sadari, Logan sudah keluar dari kamar mandi, melihat calon istrinya bersama sahabatnya dengan rahang mengeras.[]