
Rumah yang begitu jauh, terletak di daerah pinggiran kota. Anna menghela napas beberapa kali saat perjalanan karena betapa membosankannya pria di sampingnya ini.
Rasanya mata ini begitu berat, ingin tidur sejenak. Akan tetapi, kalau ia tidur, pria itu tidak tahu jalan menuju rumahnya.
Di perempatan jalan itu, sedikit lagi menuju rumahnya. Anna pun agak berseru, "Setop, Pak. Sampai sini saja."
"Apa ini rumahmu?"
"Eng ... saya cuma mau diturunkan di sini." Anna mencoba mencari alasan, karena tidak mau pria itu tahu di mana rumahnya.
Tapi, pria itu malah membantahnya. "Tidak, aku akan mengantarkanmu sampai rumah."
Anna tidak akan membiarkan itu. "Tidak!" teriaknya tiba-tiba, membuat Logan menoleh. "I ... itu! Itu rumah saya."
Jelas sekali kalau Anna sangat gugup, dan Logan tidak mempercayainya. "Di mana rumahmu?"
"Saya sudah bilang di sana, 'kan?" jawab Anna setengah kesal, setengah memelas. "Sudah kelewatan, Pak."
"Kamu tidak mau memberitahukan alamat rumahmu yang asli karena takut aku mengetahuinya, 'kan?" tebak Logan, sinis.
"Iya! Karena kamu itu cowok berbahaya, sadis, nggak berperasaan, yang mungkin bakal menerorku dan keluargaku!" gumam Anna di dalam hati.
Anna berpikir untuk mencari ide agar bisa melepaskan diri dari pria itu. Dan aha! Senyumnya terkembang saat melihat sebuah warung sembako di pinggir jalan.
"Setop! Setop! Setop!" seru Anna tiba-tiba, cukup kencang, hingga sontak membuat Logan menginjak rem. "Saya turun di sini. Mau beli ... em ... roti."
"Kamu lapar?" tanya Logan. "Akan saya belikan, kamu tunggu sini!"
Apa pria itu tahu isi pikirannya? Buru-buru Anna mencegah. "Pak, Pak, Pak! Saya aja yang beli."
"Bilang aja kamu mau kabur, 'kan?" tuding Logan.
Anna terhenyak. Duh, ketahuan! "Bukan gitu. Yang saya maksud, rotinya itu bukan makanan, tapi ... Pembalut...," suara Anna memelan karena agak malu mengucapkannya. "Bapak nggak mungkin membeli 'itu', 'kan?"
Logan terlihat sedang berpikir. Anna tersenyum, menyangka bahwa Logan terpengaruh. Tapi nyatanya....
"Aku akan membelikannya. Lagipula, aku mau beli minuman," kata Logan, senyumnya lebar tapi menandakan sebuah sindiran.
Anna mendecak kesal. Aduh, gagal! Kalau begini, bagaimana lepas dari pria itu? Apa getok aja kepalanya sampai pingsan?
Logan keluar dari mobil, menghampiri warung kecil itu. Di sebelah kiri etalase warung berdiri sebuah show case yang penuh dengan minuman-minuman dingin. Diambilnya dua botol minuman rasa teh dari sana, kemudian diletakkan di atas etalase.
"Ini dua, roti cokelatnya dua, dan pembalut satu pak," urai Logan sambil mengambil dompet dari dalam saku celananya. "Berapa totalnya, Bu?"
Ibu yang punya warung sempat bingung lalu tersenyum kecil saat Logan menyebutkan "pembalut". Pikirnya, Logan suami yang baik karena membelikan benda penting buat istrinya.
Setelah membayar semua belanjaan itu, Logan kembali masuk ke dalam mobil. Dia lega karena Anna masih di dalam mobil sambil tersungut-sungut.
Pikiran kabur memang ada di benak Anna tadi. Tapi, pria itu cukup cerdas, karena pintu mobil dikunci saat dia keluar.
"Nih!" Logan memberikan kantong berisi roti, pembalut dan minuman. "Makan rotinya."
"Nanti aja di rumah," kata Anna seraya meletakkan bungkusan itu di dashboard mobil.
"Kalau kataku makan sekarang, ya, sekarang!" sahut Logan, nada bicaranya agak meninggi. "Saya atasan kamu, lho. Kamu harus nurut."
Maksa banget! Anna jadi semakin jengkel. Gatal sekali rasanya ingin membalas ucapannya. "Tapi sekarang kita sedang tidak di kantor, Pak. Jadi, terserah saya mau melakukan apa pun."
Gadis keras kepala, Logan sudah lelah menanggapinya. Lebih baik, ia mengunyah rotinya saja daripada mengomel.
"Pak, tolong turunkan saya di sini," pinta Anna, setengah hati melunak.
"Saya tidak akan mengubah keputusan saya," timpal Logan, dingin.
Anna menghela napas. "Ya, sudah. Bapak jalankan mobilnya. Saya mau pulang karena sudah mengantuk."
Logan menoleh, memasang wajah mengesalkan. "Siapa kamu berani memerintah saya? Pacar bukan, apalagi istri."
Anna membuang muka, melipat kedua tangannya. "Kalaupun saya jadi istri Bapak, saya juga nggak bakal bisa memerintah Bapak," celetuknya sangat pelan.
__ADS_1
Logan memiringkan kepala, mencoba menengok wajah Anna. "Kamu bilang apa?"
Anna terkesiap dan menoleh cepat. "Ng ... nggak ada!" sahutnya cepat, lalu menyeringai untuk meyakinkan pria itu.
Roti dan minuman sudah ludes dilahap oleh Logan. Sekarang, ia menghidupkan mesin mobil, lalu melajukannya perlahan karena Anna bilang kalau rumahnya ada di dekat di kompleks ini.
Anna menunjuk sebuah rumah kecil berpagar biru tanpa teras. "Berhenti di rumah itu, Pak!" serunya sembari menunjuk.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Logan, skeptis, memelankan laju mobilnya.
Anna manggut-manggut, tapi raut wajahnya tak meyakinkan. "Saya tinggal di sini. Memangnya menurut Bapak saya tinggal di rumah mewah? Saya bukan orang kaya," sindirnya.
"Makanya kamu berani menipu saya malam itu?" sindir Logan cepat.
Lagi-lagi! Panas telinga Anna mendengarnya. "Apa maksud Bapak?" tanyanya, menoleh dengan tatapan tajam.
"Ya, karena kamu miskin, kamu menipu saya dengan berpura-pura jadi korban pemerkosaan agar bisa memeras saya. Iya, 'kan?"
Bahas itu lagi? Tidak bosan-bosannya apa ini orang? Anna sampai capek hati karena harus kesal terus karenanya. Anna mendengus kencang dan memjamkan matanya erat.
"Pak! Kalau memang saya memeras Bapak, saya pasti sudah minta uang sama Bapak. Tapi, saya tidak melakukannya, 'kan?" sahut Anna dengan geram tertahan, padahal kemarahannya sudah mencapai ke ubun-ubun.
"Memang. Tapi pria yang membayar kamu untuk menjebak saya malam itu," balas Logan, tak mau kalah.
Uuuuh! Anna sudah lelah dengan perdebatan ini. Kini, terserah pada pria itu mau menyebutnya apa, ia sudah muak. Lantas, Anna membuka pintu mobil dengan kasar. "Terima kasih atas tumpangannya," kata Anna, nadanya agak menyindir.
Anna turun dari mobil, berjalan pincang menuju pagar rumah itu. Namun, ia hanya berdiri di sana. Ya, gimana mau masuk ke dalam rumah, ini bukan rumahnya kok.
Akan tetapi, Logan masih belum juga melajukan mobilnya, memperhatikan Anna yang masih bergeming di sana. "Ya, sudah. Kamu masuk sana!" seru Logan.
Oh, rupanya pria ini masih tidak percaya? Memang tak mudah menipu pria itu.
Anna pun menoleh dan tersenyum, berusaha menahan kekesalannya. "Ya, saya akan masuk. Bapak silakan melajukan mobilnya, dan hati-hati di jalan, ya." Dan cepat pergi dari sini! Tambahnya dalam hati.
"Baiklah." Logan mengalah, kemudian menghidupkan mesin mobil tetapi tidak langsung dilajukan. Ia berkata dulu pada Anna sebelum pergi, "Ingat. Meskipun saya tidak memiliki bukti keterlibatan kamu atas kejadian malam itu, bukan berarti kamu bebas. Saya akan tetap mengawasi kamu!"
Akhirnya, pergi juga pria itu. Anna berdiri di sana, memastikan mobil Logan menjauh. Anna menghela napas lega, begitu mobil Logan menghilang di balik belokan pertigaan.
Suara anjing menggonggong terdengar dari rumah ini. Anna terlonjak kaget sambil menoleh. "Aduh, bikin kaget aja!"
Anjing itu menggonggong lagi, membuat Anna panik. Daripada disangka maling sama orang, Anna buru-buru pergi dari tempat ini menuju rumahnya yang terletak sekitar 100 meter dari dari sini.
Saat ia sampai di rumah, hanya ada mama yang duduk di sofa dengan TV menyala. Sebelum menghampirinya, Anna berusaha berjalan normal dan menutupi keningnya yang benjol dengan poni.
Anna berjalan perlahan menghampiri mamanya. Pas dilihat dari dekat, Anna mendengus. "Hmm ... Kebiasaan nih, Mama. Nyalain TV, tapi malah ketiduran."
Dan Anna pulalah yang mematikan TV, lalu membangunkan sang ibu dengan menepuk-tepuk pelan bahunya.
"Ma, kalau mau tidur, di kamar aja," kata Anna dengan lembut.
Mamanya tersentak, sontak melihat ke arah anak perempuannya itu. "Udah pulang kamu, Nak?" Lalu, ia memberikan tangannya untuk disalami oleh Anna.
Anna tersenyum lembut. "Mama nungguin Anna? Kan Anna udah bilang nggak usah nungguin. Anna punya kunci cadangan kok."
"Ya, udah. Mama mau tidur di kamar," kata mama seraya beranjak dari sofa. "Kamu juga deh istirahat di sana."
Anna merangkul mamanya. Keduanya berjalan bersama keluar dari ruang tamu. Namun, siapa yang bisa menyembunyikan sesuatu dari sang ibu? Mamanya curiga melihat jalan Anna yang pincang.
"Kamu kenapa?" tanya mama, memperhatikan kaki Anna.
Anna terhenyak, panik. "Em ... nggak apa-apa—" jawabnya agak menggantung.
"Ayo, duduk. Sini, Mama pijitin." Mama menarik tangan Anna, membawanya ke sofa.
Namun, kemudian mama terhenyak melihat pergelangan tangan Anna memerah. Tak hanya satu, mama juga melihat tangan kiri anaknya dalam keadaan yang sama, lalu meraihnya dan memperhatikannya dengan perasaan cemas.
"Ini kenapa, Anna?" tanya mama, mengernyit, nada bicaranya agak sedikit meninggi.
Anna langsung menarik kedua tangannya, gelagapan saat menjawab, tanpa berani menatap sang mama. "Nggak apa-apa, Ma. Ini karena...."
__ADS_1
"Karena apa?" desak mama marah.
Anna bingung harus jawab apa. Tidak mungkin ia menceritakan hal yang sebenarnya. "Karena ... karena gelang yang aku beli online terlalu ketat dan kecil sama aku. Dipakai seharian jadi gini deh."
Entahlah, apa senyuman riang palsu yang Anna perlihatkan ini mampu menyakinkan mama? Anna melirik ekspresi mamanya dari ujung matanya, berharap ucapannya berhasil. Namun, sepertinya mama tampak ragu, walaupun akhirnya percaya juga.
"Huh! Makanya, kalau beli itu yang langsung aja di toko. Ini pakai beli online segala. Jadi kekecilan, 'kan?" seru mama, setengah mengomel.
Anna terkekeh. "Iya, Ma. Habisnya, gelangnya lucu."
"Idih, nih anak! Mentang-mentang kerja, duit dibuang-buang gitu aja! Udah sini! Mama urutin kaki kamu!"
"Nggak usah, Ma. Aku tidak apa-apa," tolak Anna, menahan langkahnya.
Tapi Mama tetap memaksa. Mama menekan pundak Anna supaya duduk di sofa, sementara wanita itu mengambil obat pijat.
Mama kembali dengan membawa obat gosok. Saat akan menuangkan minyak itu, Anna mencegahnya lalu merenggut botol minyak itu dari tangannya.
"Biar aku aja yang pijat kaki aku. Mama istirahat deh."
Mama tidak memaksa. Maka, dibiarkan Anna memijat pergelangan kakinya sambil mengoleskan minyak gosok.
"Kenapa bisa jadi begini?" tanya mama, cemas melihat kaki anak keduanya itu memerah
Anna memutar bola matanya, berpikir. "Em ... tadi aku terpeleset di kamar mandi kantor. Aku yang nggak hati-hati, lupa kalau pakai sepatu hak tinggi, terus buru-buru masuk ke kamar mandi."
"Makanya, kamu harus hati-hati, jangan seradak-seruduk kalau mau melakukan sesuatu," seru mama, tak sengaja memukul bagian kaki Anna yang sakit.
Sontak, Anna menjerit kesakitan. Mama langsung kaget, lalu panik sampai latah. Mamanya meminta maaf pada Anna berkali-kali atas ketidaksengajaannya melakukan hal itu.
...🍀...
Logan, Kenan, dan Evan melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan. Evan mengatakan bahwa pemilik perusahaan Trijaya Group ingin bertemu dengannya mengenai kesepakatan yang pernah ia tawarkan.
Pria yang umurnya mungkin setua ayahnya itu sudah sampai di ruangan itu, tengah duduk di sofa bersama dengan sekretarisnya dan pengacaranya.
"Selamat pagi, Pak Edo," sapa Logan, mengulurkan tangan dan menjabat tangan pria itu.
"Selamat pagi, Pak Logan," balas pria itu, sigap langsung berdiri menyambut Logan.
Logan mempersilakan tamunya untuk duduk. Evan langsung mengeluarkan sebuah berkas, yang kemudian diletakkan di atas meja.
"Ini adalah rincian soal tanah bekas pabrik gula itu," terang Logan.
Pengacara pak Edo meraih berkas itu, lalu memperlihatkannya pada kliennya sambil berbincang-bincang sedikit. Pak Edo menganggukkan kepala, merasa tertarik dengan penawaran yang diberikan oleh Logan.
Namun, sebelum itu mencapai kesepakatan, ada sebuah pertanyaan yang ingin disampaikannya. "Em ... Kenapa Anda ingin menjualnya?"
"Karena pabrik itu—" Bunyi ponsel Logan membuatnya berhenti berucap. "Maaf, sebentar, Pak."
Logan mengambil ponselnya yang ada di dalam saku jas, lalu memeriksa pesan masuk yang berisi sebuah video dari nomer yang tidak dikenal.
"Video apa ini?" gumamnya, akan menekan tombol "play". Namun, gerakannya terhenti saat membaca pesan yang muncul di bawah video itu.
"Kalau Anda tidak ingin video skandal Anda dengan wanita ini tersebar, maka Anda harus menuruti permintaan saya."
Logan mendelik. Video skandal? Jangan-jangan video....
"Maaf, Pak Edo. Saya mau pergi keluar sebentar," katanya, meminta izin.
Semua orang saling menatap bingung. Mereka bisa melihat kerutan kecemasan di wajah Logan, seperti sedang ada masalah yang menimpanya.
Logan menjauh dari tempat itu, bersembunyi di sebuah ruangan menuju pintu darurat. Napasnya tersenggal-senggal, gugup, sekaligus tegang.
Ditatapnya layar ponselnya, dengan ibu jari di atasnya. Ia menelan air liurnya, menegang ketika mulai menekan tombol "play".
Ternyata benar! Para penipu itu akhirnya bergerak dengan mengirimkan video pemerkosaan yang dilakukannya terhadap Anna di kapal pesiar malam itu.
"SIAL!" teriaknya, membanting ponselnya.[]
__ADS_1