
Anna dan Logan menatap ranjang kecil berseprai warna hijau bermotif kupu-kupu itu. Yakin, mau tidur berdua di tempat yang sempit ini?
Logan menghela napas, memutar tubuh ke arah jendela kamar. "Kapan sih, hujannya reda?" keluhnya kesal.
Anna meliriknya dari balik bahunya, menggerutu tanpa suara. "Nggak bakal berhenti, mau sampai berapa kalipun kamu mengeluh. Yang ada malah tambah deras."
Lelah berdiri, Anna duduk di sisi ranjang, melirik bantal yang hanya ada satu. Logan mengikuti arah pandangan Anna yang tengah mendekati lemari pakaian. Gadis itu mengeluarkan sebuah bantal dan sarungnya.
Logan baru mendekatinya, saat Anna sedang duduk sambil memakai bantal itu dengan sarungnya yang berwarna putih. Melihat hal ini, muncul sebuah spekulasi yang langsung ditanyakannya.
"Kau serius mau tidur di ranjang ini denganku?"
Anna menatapnya dengan sinis. "Apa kau mau tidur di lantai?"
"Ya, enggaklah. Dan aku juga tidak akan membiarkanmu tidur di lantai." Logan langsung menjawab pertanyaan, yang sudah diduganya telah terangkai di dalam otak Anna. "Tapi, apa kau yakin mau tidur seranjang bersamaku? Kau saja masih trauma pada ... ah, sudahlah!"
Anna paham, Logan pasti mengingat apa yang terjadi pada saat di hotel Manchester malam itu. Ia pun termenung sejenak, lalu tiba-tiba berdiri. "Ya udah, aku tidur di kamar Tasya aja—"
Sebelum Anna melangkah menuju pintu, Logan langsung meraih tangannya. Anna mematung dan tercengang sambil melirik genggaman tangan itu.
"Jangan!" cegah Logan. "Kau mau ditanyai oleh kedua orangtuamu?"
Memang merepotkan, sih. Pikir Anna membatin. "Tapi, kita tidak nyaman tidur di ranjang yang sempit."
Hanya helaan napas yang keluar dari mulut Logan. Meski begitu, ia tetapi tidak bisa membiarkan Anna membongkar borok pernikahan mereka yang buruk ini.
Logan beranjak ke tepi ranjang, duduk sambil termenung sejenak. "Tidur di sini saja ..." Logan menepuk-tepuk pelan ranjangnya. "Di sisiku."
Kerut bibir Anna menandakan tidak setuju. Dengan acuh tak acuh Anna berbalik sambil bergumam dalam hati. "Peduli amat sama yang dipikirkan mama dan ayah. Aku tidak mau tidur seranjang dengan Logan!"
Sebelum Anna melakukan itu, Logan akan mencegah lagi. Secepat kilat pria itu berlari di depan pintu, mencegat Anna. Tatapannya serius, tak gentar sedikit. "Tidak kataku!"
"Kenapa tidak?" tantang Anna sambil meletakkan tangan kanannya di pinggang.
"Kau mau membuatku malu?" gertak Logan, nada bicaranya mulai meninggi.
"Biasanya kamu nggak peduli soal itu?" balas Anna, sama sekali tak menciut. Logan menghela napas. Seandainya tidak diancam papa, mungkin ia tidak akan peduli soal ini.
"Pokoknya, aku bilang: tidak!"
Baik! Tatapan Anna menyipit. Dia bergerak cepat ke kanan sedikit, lalu beringsut ke kiri. Logan mengikuti gerakannya dan hampir saja terkecoh. Anna tidak hilang akal, ia menginjak jempol kaki Logan.
"Aduh, sial!" jeritnya, sontak memegangi kaki.
Senyum licik Anna terkembang, bergegas ia menuju pintu dan meraih knop. Kelengahan Logan hanya sekejab, pria itu lebih cepat meraih tangan Anna, langsung menariknya dalam pelukan. Anna terkejut. Namun, Logan kehilangan keseimbangan saat itu juga. Spontan ia mendekap tubuhnya, dan meletakkan tangannya di belakang kepala Anna.
Sedetik kemudian mereka terjatuh dengan punggung Logan mendarat di lantai. Mata Anna mendelik, jantungnya hampir copot saat detik-detik itu terjadi. Ia menegakkan kepalanya, menatap Logan yang tengah meringis.
__ADS_1
Padahal Logan yang terjatuh, tapi Anna yang ditanyai olehnya dengan suara parau. "Apa kau baik-baik saja?"
Anna terpana, matanya menyendu. "Kenapa kau melindungiku?"
Pertanyaan macam apa itu, Logan sampai tercengang. "Tentu saja aku harus. Kau sedang mengandung anakku, kau lupa?"
Mana mungkin Anna lupa, dan sudah menebak kalau alasan utamanya karena hal itu. "Tapi, kenapa tidak kau biarkan aku terjatuh supaya aku keguguran? Bukannya kau senang jika hal itu terjadi?"
"Bicara apa kau?!" tukas Logan, membentak dengan mata terbelalak tajam. "Menyingkirlah dari tubuhku! Tubuhmu berat, tahu!"
Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh. Terdengar suara mama, Anna buru-buru beranjak dengan was-was, Logan pun sama. Keduanya berdiri di depan pintu, mengibas-kibaskan pakaian mereka, lalu Anna membuka pintu.
Anna menyengir, melirik barang bawaan wanita itu. "Mama? Ada apa?"
Mata mama membulat. "Tadi, Mama mendengar suara dentuman keras. Apa yang terjadi?"
Logan dan Anna saling melirik grogi, bingung mencari sebuah alasan. "Ah, enggak kok, Ma. Tadi Logan berloncatan untuk menepuk nyamuk," jawab Anna tidak yakin, dan praktis alasannya itu membuatnya mendapatkan sebuah tatapan tajam dari Logan.
Aneh kedengarannya, sampai mama tak bisa berkata apa pun. "Oya, ini baju tidur buat Logan pakai."
Spontan mama berkata sambil memberikan pakaian yang dibawanya sejak tadi. "Baju siapa nih, Ma?" tanya Anna sembari menerimanya.
"Ini baju ayahmu dulu. Masih bagus dan layak pakai, kok. Ya, baru sekali pakai karena kamu tahu sendiri ayah kalau tidur cuma pakai sarung, nggak betah pakai baju tidur," jawab mama, tanpa ragu membuka kebiasaan suaminya di depan menantunya.
Anna menyeringai, malu hal itu didengar oleh Logan. "O, gitu. Em ... Ma. Apa Mama punya koyo?"
"Koyo?" Mama membeo, matanya membulat.
Anna kembali ke dalam kamar sambil membawa sebungkus koyo dan balsem. Logan terkesiap, saat tengah menatap dirinya di depan kaca setelah siap memakai piyama pemberian mama.
"Bajunya muat," komentar Anna sambil berjalan ke arah ranjang, lalu duduk di sana.
"Tidak juga. Celananya menggantung." Logan menunduk sejenak, memperhatikan celana piyama yang panjangnya di atas mata kaki.
Mulut Anna membulat tanpa suara. "Ya udah, sini duduk, terus buka baju," kata Anna, membuka bagian atas bungkusan koyo yang dibawanya.
"Mau ngapain?" tanya Logan, polos sekali, heran.
"Ck!" Anna menatapnya jengkel. "Badanmu sakit-sakit, 'kan? Nih! Aku tempelin koyo."
Koyo? Logan menatap benda yang diacungkan Anna dengan heran, karena baru pertama kali ia melihat langsung benda itu. Tanpa banyak protes, ia duduk membelakangi Anna, lalu membuka bajunya.
Putih dan kekar sekali punggungnya! Puji Anna dalam hati, diam-diam terpukau cukup lama. Logan tertegun menyadari tak ada sentuhan koyo yang menempel di punggungnya.
"Kenapa? Kau terpana dengan punggungku yang putih?" ledek Logan, menyeringai jail. Memang tidak bisa dipungkiri, tetapi Anna menyangkalnya.
Anna mendesis kesal sambil menempelkan koyo dengan memukulnya agak keras. "Iiih, pede banget!" serunya.
__ADS_1
"Au!" Sontak, Logan menggeliat dan menjerit. "Istri yang kejam! Suami lagi sakit, malah dipukul."
"Iya! Kenapa memangnya? Aku nih, memang nggak sama kayak Nina yang lembut dan perhatian itu," sahut Anna ketus, menempelkan koyo lagi, tapi tidak menepuknya dengan keras.
Ngomongin soal Nina, mulut Logan terkatup rapat sejenak. "Itu cuma pikiran kamu aja," lirihnya.
Anna mencibir. "Ngaku aja! Kamu masih cinta sama Nina, 'kan?"
Pertanyaan yang tidak bisa ditolelir kesabarannya. Maka, Logan pun menayahut dingin. "Memangnya kenapa kalau masih cinta? Cemburu?"
Anna langsung tertegun dan gerakan tangannya menekan-tekan koyo di punggung Logan terhenti. Cemburu? Entahlah, apa Anna menyebut sikapnya ini lantaran karena cemburu atau tersinggung.
Ia tak menjawab, malah beralih dengan mengambil lembaran koyo terakhir, lalu ditempelkannya sambil agak menekan ke bagian pinggang bawah sebelah kanan. "Yang sebelah ini sakit?"
Logan mendesis dan menggeliat. "Sudah tahu sakit, malah ditekan!" protesnya.
"Aku cuma mengurutnya sedikit supaya rasa sakitnya agak berkurang," tepis Anna, tapi tidak lagi ketus. "Sekarang tiduran, terus menelungkup. Aku mau pijitin pundak sama tangan kamu."
Logan melirik Anna dari atas pundaknya. "Sudah cukup, badanku udah enakan kok." Anna tidak peka kalau Logan bermaksud meminta untuk istirahat. Namun, Anna tetap memaksa.
"Tanggung! Udah, tiduran cepat! Abis ini aku mau tidur, nih!"
Dasar wanita yang suka mendominasi! Logan tak kuasa menolak lagi, dan akhirnya menurut. Anna mulai menggosokkan balsem ke pundak sebelah kanan Logan, lalu meremasnya agak pelan. Logan diam saja sambil menatap Anna, yang tampak serius memijat pudak dan lengannya yang terjulur di atas pahanya.
Anna tiba-tiba melirik sekejab, lalu berceletuk, "Kenapa ngeliatin aku sampai kayak gitu banget?"
Logan terhenyak, kemudian kikuk. "Gitu aja nggak boleh."
Anna terkekeh. "Bilang aja kalau aku cantik."
Bibir Logan mencibir. "Iyalah cantik, kamu kan perempuan. Masa dibilang ganteng?" sahut Logan sambil menutup matanya.
"Ah, terserah," dengus Anna. "Ngomong-omong, pijitan aku terasa, 'kan?"
"Hmm ... iya, nggak terlalu kencang," gumam Logan.
"Soalnya, aku nggak berbakat memijat nggak kayak Tasya."
Di dalam hati Logan bilang kalau pijatan Anna terasa enak, tapi beda dengan ucapan yang keluar dari mulut Logan. "Rasanya lumayan enak, kok."
"Hah, apanya?" Anna memiringkan kepala sedikit, menatap Logan dengan heran.
"Pijatannya," desis Logan, gemas.
Entah, sudah beberapa menit waktu berlalu, Anna sudah selesai memijat Logan, sampai pria itu ketiduran. Lalu, Anna menepuk-tepuk lengan pria itu. "Logan! Logan! Pakai bajunya dulu," panggil Anna, berseru pelan.
Badan Logan menggeliat dan berputar telentang. "Aku mau tidur begini aja. Lagian, nggak ada nyamuk, 'kan?" lirihnya parau.
__ADS_1
"Nggak kok. Ya udah, terserah kamu." Lalu, Anna berbaring sambil menutupi badannya dengan selimut.
Lantas, lampu di kamar Anna dimatikan. Hujan di luar makin deras, keduanya tetap nyaman terlelap di tengah cuacanya cukup sejuk dan enak untuk tidur.[]