Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Savage


__ADS_3

Ucapan Anna mengenai tepat sasaran. Seakan Adam begitu syok mendengar semua penghinaan yang dilontarkan Anna. Ia tak dapat berkata, bahkan membeku di tempat duduknya.


"Tidak pantas?" gumamnya, bahkan tak menyadari kepergiaan Anna.


Meskipun merasa terhina, tapi ia segera sadar dan menyingkirkan rasa sakit hatinya dulu. Anna benar, gadis rajin sepertinya memang pantas untuk didapatkan oleh lelaki manapun. Dan ia tidak mau menyianyiakan gadis itu, sebab selama ini tidak ada wanita yang cocok dengan kriterianya, tidak termasuk Anna.


Ia bergegas beranjak dan berlari mengejar Anna yang belum jauh. Kemudian, ia memblokir laju jalannya. Anna mengernyit, menatap Adam tajam.


"Apa?" tanyanya galak.


Adam terengah-engah, mengatur napas sejenak sebelum berkata, "Saya minta maaf. Saya akan membersihkan nama baik keluarga kamu."


"Ha!" dengus Anna cepat. "Apa segitu putus asanya kamu, sampai memohon begini?"


Adam terdiam sejenak, lalu menunduk seraya berkata dengan terbata-bata, "Saya suka sama kamu sejak awal bertemu. Bagi saya, kamu sangat sempurna; cantik, rajin, dan ba ... IIIIIK! Au! Aduh!"


Adam menjerit sambil memegangi tulang keringnya yang ditendang oleh Anna. Seandainya Anna tidak berpikir jernih, mungkin yang dilakukannya lebih barbar dari yang ini.


"Heh! Simpan kata-kata sampah kamu ke cewek lain!" sergah Anna bengis. "Kalau kamu nggak membersihkan nama keluargaku, bakal aku cari kamu, terus akan aku buat kamu kehilangan 'itu' kamu! Ngerti!"


Sontak, Adam memegangi bagian bawahnya. Seram sekali gadis ini. Usahanya sia-sia, sulit meluluhkan gadis seperti Anna. Salahnya juga karena tidak menimbang-nimbang lagi ucapan yang keluar ketika berbicara dengan ibunya waktu itu.


Tak ada yang bisa dilakukan lagi selain mengangguk dan menyetujui keinginan Anna. Setelah kesepakatan itu selesai, Anna menaikkan tali tasnya yang dirasa melorot, lalu pergi dari hadapan Adam.


Karena waktu masih panjang, Anna memutuskan untuk mengunjungi Ranti, sahabatnya. Tapi sebelumnya, ia menghubungi wanita itu dulu meski ia tahu bahwa dia sedang berada di rumah.


Memang di mana lagi? Di kantor? Ranti telah jadi ibu rumah tangga seutuhnya sejak menikah. Di rumah mengurus anak semata wayang, suami dan ibu mertuanya yang bawel.


Anna kadang sedih melihat tubuh Ranti yang kurus, berbalut dengan daster longgar dan bau susu. Tidak ada polesan make up di wajahnya, rambut diikat cepol menjadi gaya rambutnya kini.


Namun, ia tidak mengomentarinya saat melihat penampilannya itu begitu Ranti membuka pintu rumah berukuran kecil itu. Ia langsung memeluknya, lalu merenggut Dito dari gendongan Ranti.


"Halo, Dito. Udah gede, ya, anak Tante," sapa Anna sambil berjalan masuk, yang didahului oleh Ranti.


Ranti mempersilakan Anna duduk, sementara dirinya membuatkannya sirup kelapa dingin dan camilan. Di saat itu pula, ibu mertuanya muncul dari dalam kamar mandi dan menghampiri Ranti. Diliriknya semua hal yang dilakukan Ranti dengan ekspresi sinis.


"Buat teman kamu yang perawan tua itu?" sindirnya.


Ranti terpaksa tersenyum sopan, walaupun sebenarnya tidak suka dengan ucapan wanita itu. "Iya, Ma," jawabnya.


Kemudian, wanita itu mendekati wajahnya sedikit, lalu berbisik, "Kamu harus hati-hati sama dia. Coba kamu lihat cerita di TV, sekarang banyak teman makan teman. Bisa jadi, dia rebut suami kamu dari dia. Apalagi, dia masih perawan dan cantik."


Astaga, ibu mertuanya terlalu banyak nonton sinetron, sehingga berpikir bahwa kehidupan rumah tangganya akan seperti itu. Ranti sama sekali tidak terpengaruh, malah menyahutinya dengan kesabaran setangguh gunung.


"Ma, Anna bukan perempuan yang seperti itu. Lagipula, mana mungkin mas Ridwan mengkhianati aku. Mama tahu, 'kan, mas Ridwan anak Mama yang paling baik."


Alih-alih mengerti, Ranti malah mendapatkan pukulan di lengannya karena tersinggung menuding Ridwan seperti itu.


"Eh! Enak aja kamu bilang anak saya begitu! Yang saya maksud itu teman kamu! Suami kamu itu ganteng. Siapa tahu teman kamu suka sama dia, terus menggoda Ridwan."


Ranti menghela napas panjang, mencoba menekan kesabarannya. Meski terasa menyakitkan mendengar ucapan itu, Ranti tetap tersenyum padanya dan berkata lembut:


"Ma, tenang aja. Teman saya itu orang baik. Sudah, ya, Ma. Aku mau mengantarkan ini dulu ke depan."


Ranti keluar dari dapur, menuju ruang tamu. Melihat ia membawa nampan berisi minuman dan camilan, Anna langsung memprotes.


"Apaan nih? Aku ke sini bukan mau minta makan dan minum. Repot-repot banget bikinin ini buat aku."


Ranti tersenyum dan akan membuka suara. Namun, ibu mertuanya masuk dan malah menyahuti dengan nada agak ketus.


"Nggak usah sungkan. Anggap aja kayak rumah sendiri."


Anna dan Ranti melirik sejenak ke arah wanita itu. Tentu saja, Anna merasa bahwa ucapan itu bernada sindiran. Akan tetapi, ia tidak menimpalinya dengan amarah, dan tersenyum terpaksa sambil meraih gelas minuman.


"Terima kasih, Tante," katanya kemudian, sebelum menyeruput minumannya.


Suasana suram itu berlangsung selama wanita tua itu berada di sana. Anna dan Ranti baru bisa menghela napas, begitu dia pergi dan masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Maaf, ya, Anna," gumam Ranti, merasa tidak enak hati.


"Ya, elah! Nggak usah dipikirin," sahut Anna riang, kemudian berbisik, "Namanya juga orang tua,"


"Ya, tetap aja aku merasa nggak enak."


Anna terkekeh pada sifat Ranti yang ada setelah menikah ini. "Ya, kalau nggak enak, tinggal kasih kucing," selorohnya.


"Oh, iya. Ngomong-ngomong, kamu sehabis dari mana? Kok, rapi banget?" tanya Ranti, melirik penampilan Anna dari atas ke bawah.


"Habis interview kerjaan, terus melakukan aksi balas dendam," jawab Anna, dengan nada menyakinkan pada ucapan terakhirnya.


"Balas dendam? Sama siapa?" Mata Ranti membulat.


Anna menceritakan kejadian hari ini, setelah memberikan Dito kembali dalam gendongan Ranti. Gadis itu terkejut sekaligus tertawa mendengarnya.


"Kamu lakukan hal itu?!" seru Ranti, tak percaya.


"Iya." Angguk Anna. "Tadinya, gue mau bikin rencana balas dendam, tapi gue mikir ulang lagi."


"Tapi gila banget kamu nendang tulang keringnya," komentar Ranti, tapi akhirnya tertawa kecil karena lucu juga kedengarannya.


"Itu nggak seberapa gila!" sahut Anna menimpali. "Maunya aku sih tadi nendang 'itunya' dia. Tapi kalau aku lakukan itu, kasihan dia. Entar dia nggak bisa bereproduksi lagi."


Selorohan Anna membuat keduanya tertawa cukup keras. Lalu, seorang wanita setengah baya hadir di tengah-tengah mereka, tampak tak senang sambil berkacak pinggang.


"Kalian bisa diam? Berisik!"


Kedua wanita muda itu saling menatap dan menutup mulutnya rapat. Anna menggerutu dalam hati. Ibu mertua sahabatnya itu sama sekali tidak ada rasa segannya marah saat ada tamu.


Wanita itu menoleh pada Ranti dengan tatapan garangnya. "Buatkan aku teh! Bawa ke kamarku, ya."


Ranti mengangguk, tak kuasa menatapnya. "Iya, Bu."


Setelah wanita itu pergi, Ranti meminta izin pada Anna untuk pergi ke dapur.


"Sini, biar gue yang gendong Dito." Anna menawarkan diri.


Selang beberapa menit, suami Ranti, Ridwan, masuk ke dalam sambil melonggarkan dasi. Ia tersenyum dan menyapa Anna begitu menyadari keberadaannya, lalu merenggut Dito dari gendongannya.


"Kapan datang, An?" tanya Ridwan.


"Tadi sore," jawab Anna seraya tersenyum simpul. "Tumben pulang cepat?"


"Iya." Lalu Ridwan menengok ke sekeliling apartemen itu, seperti sedang mencari sesuatu. "Ranti di mana?"


"Lagi buat teh untuk ibu—" Tiba-tiba ia melirik pada Ranti yang sedang memasuki ruang tamu. "Nah, tuh dia!"


Dito dikembalikan ke gendongan Anna, sementara Ridwan memghampiri Ranti.


"Sayang, tolong siapkan air hangat untuk aku mandi. Terus, bikinin aku kopi, ya," pintanya.


Anna menggelengkan kepala. Belum ada semenit Ranti bernapas, tapi Ridwan sudah menyuruhnya lagi. Anna tak mau berkomentar meski ingin. Ranti tampak tak keberatan kembali ke dapur untuk memanaskan air.


Setelah Ridwan berjalan ke kamar, Anna mengikuti Ranti ke dapur sambil membawa Dito.


"Kamu nggak capek?" tanya Anna.


"Kenapa aku harus capek?" tanya Ranti sambil menghidupkan kompor. "Kan tugas aku."


Anna menghela napas. Selalu saja Ranti mengelak. "Makanya, aku nggak mau nikah," gumam Anna selanjutnya.


"Kenapa?" Ranti meraih gula di rak, lalu menuangkan dua sendok makan gula ke sebuah cangkir. "Kamu takut kesakitan waktu malam pertama, ya?"


Wajah Anna memerah. "Ledekin aja terus! Bukan itu. Melihat hidup kamu kayak gini, aku jadi nggak kepikiran mau nikah. Lihat aja muka kamu!" Anna berseru menunjuk beberapa jerawat di wajah Ranti. "Laki kamu nggak pernah kasih duit buat beli skincare?"


Ranti terdiam sejenak. "Pelembab dan pakai masker seminggu sekali sudah cukup buat perawatan."

__ADS_1


Anna tak percaya mendengarnya, sampai mendengus kesal. "Haloooo! Siapa yang dulu saranin aku buat beli macam-macam skincare? Siapa yang bilang kalau perempuan itu harus perawatan? Termakan sama omongan sendiri kan sekarang?"


Memang, semua itu yang dikatakan Ranti saat masih melajang. Namun, ia hanya tertawa kecil menanggapi Anna.


"An, kalau kamu udah nikah, kamu bakal tahu apa yang paling penting dalam hidup kamu."


Dan Anna pun mencomooh. "It's me! Aku nggak mau hidup aku terkekang oleh komitmen pernikahan."


Anna memang keras, dan Ranti sudah cukup bosan untuk membujuknya. Terserah, jika pilihan Anna menjadi perawan tua.


🍀


Semua perhiasan mas putih di toko perhiasan langganannya sangat bagus, sampai Logan bingung untuk memilihnya. Ia sengaja ingin mencari cincin untuk pertunangannya nanti.


"Saya pilih yang ini," kata Logan, menunjuk sebuah cincin polos berpermata sapir yang berkilauan.


Sementara itu, Anna sedang berjalan-jalan di sebuah mall, mencari pakaian untuk dipakainya saat masuk kerja. Entah mengapa, tangannya sangat gatal untuk membeli beberapa helai baju.


Setelah selesai memilih dan membayar semjua barang belanjaan, Anna keluar dari toko. Ponselnya berbunyi.


"Nomer tidak dikenal?" Anna mengernyit.


"Halo—"


"Anna, masih ingat sama suara aku?" jawab seseorang di seberang sana.


"Siapa, ya?" tanya Anna, merasa tak asing dengan suara ini, tetapi tidak mengingat siapa pemiliknya.


"Coba diingat," kata pria bersuara berat itu. "Akan aku ingatkan. Aku ada di belakangmu, lho."


Anna mendelik. Stalker! Mengerikan sekali mengetahui seseorang macam itu berada di sekitarnya. Penasaran ingin lihat, tapi merasa takut. Namun, pada akhirnya ia berbalik perlahan.


Ia ingat pada suara ini. Di dalam hati, ia sembari bergumam, "Semoga bukan cowok gila itu. Semoga, ya, Allah!"


Tidak dikabulkan ternyata. Mata Anna melotot, bergidik bahwa memang cowok yang dimaksudkannya berada di hadapannya kini.


Pria itu tersenyum, membuat Anna merinding. Tangannya diturunkan, tatapannya tak terlepas dari Anna yang diam-diam ketakutan. Ia melangkah, dan Anna juga ikut melangkah mundur.


Anna tak ingin dekat-dekat dengan pria itu. Maka, ia merentangkan tangan kanannya ke depan. "SETOOOOP!"


Berhasil, pria itu menghentikan langkahnya. Anna yang perlahan menurunkan tangannya, menatap gusar, lalu mendengus.


"Ha! Ngapain lagi kamu ke sini?" tanyanya, berusaha tenang. "Kita udah putus setahun yang lalu."


"Tapi—" Pria itu kembali melangkah.


"Stay di sana!" jerit Anna, merentangkan tangannya lagi. "Ngomong di sana aja!"


"Kamu kenapa begini sih, An?" kata pria itu memelas.


"Jangan sebut nama aku!" tukas Anna, membentak. "Aku jijik sama kamu! Jangan ngikutin aku! Atau nggak, aku laporin kamu ke polisi."


Raut wajah kecewa tampak dari pria yang dikenal oleh Anna di sosmed. Ia mengepalkan tangannya. Beberapa detik Anna beranjak dari tempatnya, pria itu berlari menghampirinya.


Anna menyadarinya, lalu menoleh ke belakang dan terkejut. "Mau apa dia?" Tanpa pikir panjang, Anna langsung berlari.


"Anna! Berhenti!" seru pria itu.


"Berhenti, berhenti! Emang siapa yang mau dikejar-kejar sama cowok gila kayak dia?" gumam Anna dengan napas terengah-engah. "Kok, rasanya kayak dikejar-kejar penagih utang, ya?"


Anna menoleh ke belakang, pria itu hampir sedikit lagi mencapainya. Tanpa dapat dielak, tiba-tiba ia menabrak seorang pria yang baru saja keluar dari sebuah toko sambil melihat cincin yang ada di dalam sebuah kotak merah.


"Aduh!" pekik Anna.


"Cincinnya!" teriak Logan, melihat kotak cincin terlempar


Entah tabrakan itu keras tidaknya, sampai Anna dan orang itu terjatuh. Anna mendelik, pas tahu siapa yang ditabraknya.

__ADS_1


Logan, calon bosnya!


Takdir macam apa ini? bertemu dengan Logan dalam keadaan yang memalukan begini?[]


__ADS_2