
"Apa cuma segitu rasa cinta Anna padamu, sampai dia menggugat cerai padamu?" sindir Nina, senyuman dan ucapannya membakar hati Logan hingga membuatnya meremas selembar surat cerai itu.
Logan tak percaya Anna tega melakukan ini, ia harus mendengarnya sendiri dari mulut istrinya. Surat cerai yang sudah diremasnya, Logan buang begitu saja ke lantai, lantas ia melangkah pergi dengan hati cemas seraya menghubungi Anna.
Perasaannya lega karena Anna menerima teleponnya dengan cepat. Buru-buru ia mencecar kala terdengar suara sahutan lirih Anna. "Sayang, kau ada di mana? Aku ingin bicara denganmu."
Anna tak langsung jawab, mengalihkan sambungan telepon ke via video call. Di dalam video, terlihat Anna tengah berdiri dengan latar belakang beberapa gedung berdiri tak jauh di belakangnya.
Logan merasa tak asing pada tempat itu, dan hampir menebaknya. Tapi, Anna keburu menjawab, "Aku berada di jembatan penyebrangan."
Beberapa bulan lalu, Logan dan Anna menyelesaikan kesalahpahaman mereka dan menyatakan cinta di jembatan itu. Logan masih ingat di mana lokasinya.
"Tunggu aku, aku akan menyusul ke sana!" kata Logan, lalu memutuskan sambungan telepon.
Anna akan menunggu, karena ia memang sengaja memilih tempat ini sebagai tempat pertemuan. Anna yakin, surat gugatan cerai yang ia minta kirimkan pada firma hukum sudah sampai di tangan Nina. Melihat reaksi Logan, surat cerainya pasti sudah berada di tangannya melalui perantara Nina.
...💍...
Logan mengendarai mobilnya secepat mungkin di jalanan yang cukup padat. Ponsel yang diletakkan di dasbor mobil berdering sejak tadi. Matthew yang menelepon. Papanya khawatir Logan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun.
Logan mengabaikan telepon itu, berfokus pada jalan dan Anna yang menghantui pikirannya. Surat cerai yang datang di tangannya menbuatnya terkejut. Ia menyadari mengapa pemecatannya tertunda, dan itu karena siasat Nina. Dan surat cerai itu pasti juga karangan Nina.
Anna tak mungkin melakukan itu. Mereka sudah berjanji akan melalui pernikahan ini meski rintangan apa pun menghadang di hadapan mereka.
Begitu sampai di dekat jembatan, Logan memarkirkan mobilnya, lalu bergegas berlari meniti anak tangga satu per satu seraya melihat ke arah jembatan.
Sosok Anna tak terlihat, Logan semakin panik dan mempercepat langkahnya. Dan sesampainya di jembatan, ia menatap jalur ini sampai ke ujung jembatan.
__ADS_1
Tak ada Anna di sini. Tidak mungkin Logan salah tempat. Di video tadi, gedung di belakangnya terlihat, tentulah Anna berdiri di jembatan ini. Tapi, kenapa sosok istrinya tidak ada? Ke mana dia?
Napasnya belum teratur, tapi Logan tidak sabar ingin menuntaskan rasa keingintahuannya. Dihubunginya nomor Anna, tetapi yang menjawab hanya mesin penjawab.
"Nomornya tidak aktif!" decak Logan, mematikan ponsel, lalu menghubungi nomor ibunya Anna sembari bergumam resah. "Ke mana kau, Anna?"
Telepon Logan diangkat dengan cepat oleh mama Rina. Logan gegas berkata, padahal mama belum menyahut.
"Ma, Anna ada di rumah?"
^^^"Anna? Tidak ada. Memangnya kenapa?"^^^
"Tidak ada. Aku cuma tanya aja, soalnya nomor Anna tidak aktif dan nggak ada di rumah sekarang."
^^^"Oh, begitu. Nanti Mama hubungi kamu kalau Anna ke rumah Mama, ya?"^^^
Setelah sedikit mereda, Logan berdiri di sana, termenung, hingga lambat-laun merasa tak berdaya. Hanya Anna yang bisa membuatnya menitikkan air mata. Ia menangis seraya tertunduk. Kebising jalanan menelan suara isakkan sehingga tak ada seorangpun yang melintasi di sana menyadari tangisannya.
"Anna, di mana kau?" isaknya lirih, menyeka air mata di pipi seraya menatap jalanan yang ada di bawahnya.
...💍...
Anna mengernyit, lalu tersentak dan membuka mata. Pandangan yang dilihatnya adalah langit-langit kamar berwarna putih. Ia terkejut, sontak bangun dari pembaringan.
"Di mana ini?" gumamnya tercengang, menyisir arah pandangan ke seluruh ruangan. "Ini ... kamar siapa? Kenapa aku bisa ada di sini?"
Membingungkan. Kenapa Anna bisa berbaring di ranjang putih ini, padahal tadi ia sedang menunggu Logan di jembatan? Anna berusaha mengingatnya, dan bayangan ingatan itu ia coba rangkai pelan-pelan.
__ADS_1
Tadi, ia sedang menunggu Logan di jembatan yang saat itu sedang sepi. Tahu-tahu seseorang membekap mulutnya dari belakang. Anna meronta dan mencoba melihat wajah orang itu, tetapi Anna keburu pingsan.
"Siapa yang melakukan ini?" gumam Anna berpikir keras. Selang cukup lama, tiba-tiba ia tersentak menyadari sesuatu. "Oh, iya! Logan! Aku harus menghubunginya!"
Dengan panik Anna mencari ponsel dan tasnya. Namun, benda itu tak ditemukan di dekatnya. Anna beranjak mencari ke nakas, tetapi laci-lacinya kosong, hanya ditemukan beberapa kotak kon*dom baru.
Anna mengenyit curiga begitu melihat benda itu. Firasatnya jadi tidak enak, berpikir kalau yang membawanya ke sini adalah orang yang terlibat prostitusi, dan ia diculik untuk dijual.
Anna tak mau lemah begitu saja, meskipun ia sendiri merasa ketakutan memikirkan hal itu. Ia pun berlari ke pintu, mungkin ada harapan bisa kabur meski pintunya terkunci. Anna mendobrak pintu sekuat tenaga, mengabaikan rasa sakit pada lengan akibat membenturkannya ke pintu dengan keras.
Sia-sia, Anna hampir saja menyerah. Ia terhenyak, spontan mundur begitu mendengar suara derak kunci diputar, lalu pintu terbuka. Ia mematung di sana dengan perasaan gugup dan penasaran. Muncul sosok seorang perempuan, yang lama-lama terlihat jelas saat pintu terbuka lebar.
Anna mengernyit gusar, menatap Nina yang sedang tersenyum sinis terhadapnya. Nina masuk ke dalam ruangan, lalu seseorang di belakangnya menutup pintu.
Pintunya dikunci lagi dari luar supaya Anna tidak kabur. Kini, hanya ada Anna dan Nina di dalam ruangan itu. Nina berjalan menuju sebuah sofa, dan duduk di sana, sementara Anna masih bergeming dengan tangan terkepal.
"Kenapa kau masih duduk di sana?" tanya Nina, nada bicara lembutnya terdengar memuakkan. "Ayo, kita bicara di sini! Pasti ada yang ingin kau tanyakan padaku?"
Anna berbalik, tapi tak menghampiri Nina seperti keinginannya. Kemarahan berkilat-kilat terlihat dari tatapannya. "Apa maksudmu melakukan hal ini?" cecarnya dengan nada ucapan dingin yang dalam.
Nina sama sekali tak gentar dengan sikap yang ditunjukkan Anna. Dengan santai, ia menjawab, "Kalian sama saja, ya? Mana rasa terima kasih kalian padaku? Kalau aku tak menghalangi pertemuan kalian, sia-sia saja kau mengajukan perceraian pada Logan."
Anna melesat cepat menghampiri Nina, geram sekali mendengarnya. "Aku tidak akan berubah pikiran! Aku tetap akan bercerai, tapi secara baik-baik," sahutnya tegas dan penuh penekanan.
"Justru itu tidak mempan," timpal Nina seraya menuangkan anggur ke dua gelas yang ada di meja. "Logan justru tidak akan melupakanmu, dan bahkan dia akan berusaha membuatmu kembali."
Anna tak menjawab karena memang seperti itu faktanya. Ia sangat tahu bagaimana tulusnya cinta Logan pada wanita pilihannya. "Jadi, maumu apa?" tanyanya, mengundang Nina untuk mengeluarkan jawaban yang sudah dipersiapkannya.
__ADS_1
Nina urung mengangkat gelas anggurnya, lalu beralih menatap Anna seraya tersenyum licik. "Aku ... akan membuat Logan membencimu."[]