Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Sepasang mantan kekasih


__ADS_3

Kaki jenjang Logan mengayuh pedal sepeda dengan perlahan dan hati-hati. Anna menikmati angin yang berhembus, pemandangan taman, dan hangatnya tubuh Logan yang ia dekap.


Sesekali, pandangan Anna beralih pada Logan, yang berkonsentrasi melihat jalan di depannya. Poni pria itu tertiup angin, memperlihatkan keningnya yang putih, tampak begitu tampan. Setiap orang yang tak mengenal Logan, mungkin akan jatuh cinta karena ketampanannya.


Kulit putih, rupa khas Asia Timur, dengan mata sipit yang agak bulat seperti aktor Korea. Dengan rupanya yang seperti itu, Anna kadang berpikir: Logan ini mirip siapa? Elina wajahnya khas Indonesia yang berkulit kuning langsat, sementara Matthew keturunan Inggris campur Jawa. Lalu, wajah siapa yang ditiru Logan? Apa karena dulu Elina mengidam atau sering melihat film Korea?


"Mau makan sesuatu?" tanya Logan tiba-tiba.


"Em ..." Anna berpikir, lalu sebuah ide muncul karena melihat stan burger di dekat kanal. "Boleh juga makan burger. Apa makanan di sana halal?"


Logan tak menanggapi—mungkin tidak dengar. Tapi ternyata salah, pria itu sedang mengingat sesuatu sejak tadi. "Aku lihat, ada stan burger yang penjualnya berwajah Arab. Mungkin kita bisa membeli dan menanyakannya."


Inisiatif yang bahkan tidak disangka oleh Anna. Ia pikir, Logan tidak akan memikirkan hal itu dan tak mengacuhkan ucapannya. Hatinya terasa tergelitik, senyum gelinya terkembang.


"Ya udah, terserah kamu aja," jawab Anna, malu-malu kucing.


Logan benar-benar serius membawanya ke tempat pedagang yang dimaksud. Mereka membeli dua buah burger dari pedagang keturunan Afganistan, yang kebetulan merantau ke negara ini.


Hal itu mereka ketahui karena mulut Anna yang gatal tak tahan ingin bertanya pada orang itu. Jadi, Anna pun bebas dari khawatir karena burger ini seratus persen pasti halal.


Di kedai itu, mereka disajikan tempat duduk. Bukan hanya Anna dan Logan yang ada di sana, tapi beberapa pasang orang yang tampaknya turis seperti mereka. Anna memperhatikan sekeliling dan penjualnya yang sedang melayani pembeli sambil mengunyah makanannya.


"Gitu banget ngeliatinnya?" komentar Logan, nada bicaranya yang sarkas seakan terdengar sirik pada Anna.


Gadis itu melirik sinis. "Emang kenapa? Aku yang punya mata, kenapa kamu yang nggak senang?" sahutnya ketus.

__ADS_1


"Jangan genit. Aku tahu, keponakan dari pedagang itu memang lumayan ganteng," balas Logan, mulutnya jahat sekali, hati Anna jadi panas.


Dikira, ia akan menyukai pria yang usianya lebih muda 2 tahun darinya? Anna tertawa mencemooh sambil menutup mulutnya. "Oh, astaga! Memangnya kenapa kalau aku menyukainya? Cemburu? Bilang aja!"


Logan mengunyah potongan burger-nya saat Anna mengatakan hal itu. Kertas bekas pembungkus burger dilemparkan ke tempat sampah, lalu ia menepuk-nepuk tangannya seraya berkata dengan dingin. "Jangan kege-eran jadi cewek."


Terdengar suara dengusan dan gumaman kecil dari mulut Anna. "Susah banget buat ngaku?"


Kemudian, Logan meninggalkannya begitu saja menuju ke tempat sepedanya diletakkan. Anna ketar-ketir menyusulnya. Menyebalkan! Pria itu pasti sengaja begitu, padahal sudah lihat kalau Anna belum selesai makan. Jadinya, Anna makan sambil jalan bersama dengan Logan yang sedang mengandeng sepedanya.


"Eh, tunggu sebentar!" seru Anna, meremas bungkusan burger itu. "Aku mau buang ini dulu di tempat sampah yang ada di sana!"


Logan melirik ke arah tong sampah terletak di dekat bangku taman. Pria itu menghela napas, main jalan saja meski pelan. Anna pun buru-buru menghampiri tempat sampah itu dan membuang bungkusan tadi, lalu kembali menghampiri Logan.


Anna mundur selangkah, lalu berbalik, tak ingin mengganggu momen pertemuan Logan dengan Nina, meski detik-detik itu tanpa ada kata yang terucap dari mulut mereka.


Mata Nina yang mulai tergenang oleh air mata, melirik ke belakang Logan, menyadari keberadaan seorang wanita, yang ia pastikan bahwa itu adalah Anna.


Tanpa ucapan apa pun, Nina berbalik, lalu melangkah pergi sambil terisak. Logan tahu itu, tapi ia tak mencegah. Ia sadar bahwa hubungan mereka sudah berakhir, dan memang sudah seharusnya mereka tak lagi saling menyapa.


Logan sudah memiliki Anna, berjanji akan menjadi suami yang baik untuknya. Makanya ia sadar diri, tak peduli cintanya pada Nina masih ada.


Logan teringat pada Anna, lalu menoleh ke belakang. Anna tidak ada di tempat tong sampah merah itu. Ia dibuat panik, kalau saja tak melihat sosok Anna sedang berdiri sambil membelakanginya.


Seketika, wajahnya memucat. "Apa Anna melihatku bersama dengan Nina tadi?" gumamnya cemas jika Anna sampai salah sangka. Lantas, ia bergegas menghampiri Anna yang tengah menelepon seseorang. Dari pembicaraan yang ia dengar, sepertinya Anna sedang berbicara dengan Kenan.

__ADS_1


Entahlah, apa setelah pertemuan dengan Nina yang menyedihkan, makanya pria itu langsung naik pitam. Sepeda itu ia hempaskan, kakinya yang panjang melesat cepat menghampiri Anna, lalu merenggut ponsel yang ada di tangannya. Anna terkejut dan menoleh, menatap Logan yang begitu murka sambil memutuskan sambungan telepon. Benar-benar deh pria itu! Kenapa dia seperti ini?


"Harus berapa kali kuperingatkan, jangan lagi bicara dengan Kenan! Kenapa kau tidak mengerti juga?" maki Logan.


Apaan sih? Kenapa Logan marah sampai membanting ponselnya ke aspal segala? Anna menatap benda itu, yang layarnya sudah retak. Buru-buru Anna mengambilnya, lalu mengecek kondisinya.


"Yah, mati," gumamnya panik. Genggaman tangan Anna menguat, lantas melirik geram pada Logan. "Kenapa sih, harus pakai banting hape-ku segala?" gumamnya masih menahan rasa jengkel. "Aku tidak mengganggumu bertemu dengan Nina, kenapa kamu malah marah hanya karena Kenan menanyai kabarku?"


Secepat kilat Logan berdiri di hadapan Anna, memegang kedua bahunya seakan seperti meremas dengan kuat. "Karena kau istriku! Kau seharusnya menjaga sikap!"


Anna menahan diri untuk tidak meringis kesakitan, membalas tatapan pria itu tanpa takut sedikit pun. "Aku sudah menjaga sikapku, aku tidak menggoda Kenan seperti yang kamu inginkan. Tapi, kenapa kamu masih saja marah? Kalau kamu memang cemburu, katakan saja!"


"Diam!" bentak Logan, praktis bibir Anna terbungkam. "Apa kau mau aku cium sampai bibirmu berdarah?"


Tentu saja tidak. Anna mengulum bibirnya. Sudah jelas kan apa jawabannya? Namun, Anna tak berhenti menantang pria itu meski sempat goyah tadi.


"Lakukan saja," balas Anna, tersenyum mencemooh. "Semua orang akan melihatmu sebagai pria yang suka menyakiti wanita."


Logan menyadari maksud Anna. Ternyata, ada beberapa orang yang melihat ke arah pasangan itu sejak mendengar bentakan Logan pada Anna. Namun, mereka tidak mengatakan apa pun karena tak mau ikut campur pada urusan orang lain.


Tatapan Logan kembali pada Anna dengan bibir mengulas senyum misterius, membuat Anna mendelik cemas. "Memang siapa yang peduli? Mereka hanya melihatnya, tapi enggan untuk ikut campur. Jadi, sekalipun aku menciummu, mereka akan tetap ditempatnya."


Anna menelan air liurnya. Apa itu berarti, Logan akan benar-benar menciumnya di sini? Matanya terpejam erat, terlalu takut untuk membayangkan hal seperti yang ada dalam otaknya. Namun, ternyata Logan malah melepaskan kedua bahu Anna dengan dihempaskan agak kasar. Anna mendelik, lalu melihat pada Logan yang sedang berjalan meraih sepedanya.


Apa tadi itu? Cuma ancaman? Ah! Atau dia mau melakukannya di tempat lain? Logan kan tipe pria pendendam, mungkin saja Anna akan mendapat balasan atas kelancangannya karena sudah menantang pria itu.[]

__ADS_1


__ADS_2