
Logan tertidur di sofa karena duduk di sana demi membiarkan suasana hati Anna tenang. Ia tersentak karena tidak ada yang menopang kepala, lalu ia memperhatikan di sekitar.
Sudah gelap, waktu di arlojinya juga telah menunjukkan pukul 7 malam. Mulutnya menguap lebar sembari merenggangkan badan, lalu menyeret kakinya ke bilik tempat tidur untuk memeriksa keadaan Anna.
Logan melongokkan kepalanya sedikit, tanpa suara memperhatikan Anna yang tengah duduk di ranjang sembari termenung. Logan beringsut kembali ke balik tembok, berpikir sejenak.
"Ngomong nggak, ya? Apa bicarakan soal basa-basi aja?" gumamnya. Napasnya dihelanya berat. "Kayaknya, dia masih marah. Tapi, jam segini kan udah waktunya makan."
Apa menanyakan soal menu makanan bisa dijadikan alasan untuk mengetes keadaan terbaru wanita itu? Akhirnya, keputusan itu diambil dengan mantap. Maka, ia pun keluar dari balik dinding, berjalan mendekati Anna dengan sikap yang terlihat tenang. Respons Anna baik sekali ternyata. Ia langsung mengarahkan pandangannya, begitu mendengar suara langkah kaki.
"Em ... apa kamu mau makan sesuatu? Aku akan memesankannya untukmu," kata Logan, ternyata tidak bisa menghilangkan rasa canggungnya.
Anna memalingkan wajah, tak tertarik. "Aku nggak lapar."
Belum reda juga marahnya. Logan memelas. "Kamu nggak ingat pesan dokter? Kamu harus jaga kesehatanmu dan bayi itu," ujarnya, merendahkan harga diri demi memohon pada Anna.
"Sejak kapan kamu peduli sama aku?" gerutu Anna, sangat pelan dan hanya melirik.
"Kamu ngomong sesuatu?" tanya Logan, memperhatikan juga gerakan bibir Anna tadi.
Mood-nya buruk untuk menanggapi pria itu. Anna pun berbaring, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya, dan berbalik membelakangi Logan. Kesabaran hampir habis, Logan mendengus seraya berkacak pinggang.
"Tidak bisa begini!" gerutu Logan, geram.
Logan menyingkap selimut Anna, dengan kasar membalikkan tubuhnya, lalu menahan kedua bahunya agar tidak meronta dan mencoba membelakanginya. Anna terkejut, tapi tetap menantang mata pria itu.
"Aku tidak tahan lagi! Ayo, kita bicara sekarang! Apa yang kamu mau? Apa yang membuatmu marah?"
Anna meronta, tetapi Logan semakin kuat menekan bahunya. "Kamu menyakitiku," kata Anna tercekat.
__ADS_1
Logan tertegun, merasa bersalah. Maka, ia melepaskan tangan yang menahan bahu Anna. Sikapnya melunak, dan ia duduk di samping Anna yang telah beranjak dari pembaringan. Anna merenggut waspada, sementara Logan memasang wajah memelasnya.
"Tolong, sekarang jawab. Jangan buat aku bingung, Anna," mohon Logan.
Ekspresinya datar ketika Anna meraih sebuah laptop di dalam laci nakas. Laptop itu ia nyalakan, jemarinya dengan cepat mengetik di keyboard, sementara Logan memperhatikan tanpa menginterupsi. Kemudian, laptop itu diberikan pada Logan.
"Nomor asing mengirimkan ini padaku," kata Anna, dingin tapi menahan kemarahannya.
Logan mengernyit, membaca isi pesan Whatsapp versi web. Matanya sontak terbelalak, begitu tertuju pada foto yang disematkan pada pesan itu.
"I-ini ... ini nggak benar. Ini nggak benar, Anna!" pekik Logan, tatapannya sontak diarahkan pada Anna. "Anna, aku dan Nina tidak melakukan hal ini. Sungguh!"
Anna memejamkan matanya erat, semua ucapan Logan berusaha tidak didengarnya. "Logan!" serunya, pria itu hening dan mendengarkannya. "Aku ingin bercerai."
Logan membeku, begitu terkejut dan tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. "Apa?"
Anna yang tercekat, menelan air liurnya agar lancar mengucapkan, "Setelah aku melahirkan, aku ingin kita bercerai. Hak asuh anak akan kuberikan padamu. Dan selama aku mengandung, kita tidur pisah ranjang. Kalau perlu, sekalian beda kamar."
"Anna ... apa kau lebih percaya pada foto itu dibanding aku?" gumam Logan, tercekat, antara marah dan sakit hati. "Kemarin aku ingin mengatakan alasan yang sebenarnya padamu penyebab aku pulang malam."
"Aku tidak mau mendengar kebohonganmu itu," tukas Anna dingin, seolah sudah mati rasa.
Logan mengatup mulutnya, seketika hening sesaat. "Baik, jika kau menganggapku begitu. Tapi, aku tetap menyangkal foto itu—malam itu aku tidak melakukan apa pun dengan Nina."
"Terserah," sela Anna cepat, sudah cukup mendengar kebohongan itu lagi. "Pokoknya, aku ingin kamu melakukan kesepakatan yang udah aku buat itu."
Anna merasa sesak berada di ruangan yang sama dengan pria ini. Maka, ia pun memutuskan untuk beranjak dari ranjang untuk pergi dari sini. Namun, Logan dengan cepat meraih tangannya, sontak memeluk tubuhnya.
Anna terkejut, lalu meronta seakan memprotes perlakuan kasar ini. Logan tak peduli, malah semakin beringas dengan memaksa mencium bibir istrinya. Ciuman ini sama sekali tak terasa manis, justru membuat hatinya terluka.
__ADS_1
Sebisa mungkin Anna melepaskan ciuman itu, tetapi pada akhirnya menyerah karena Logan semakin keras padanya. Air mata mengalir dari sudut matanya, mengingat foto tak senonoh suaminya dengan wanita lain.
Apa ini hukuman untuknya karena tak sengaja merebut kekasih orang? Kini, wanita itu akan merebut kembali pria yang sudah menjadi suaminya. Namun, yang membuatnya pedih adalah perlakuan pria ini.
Apa maksud dari ciuman ini? Apa semua perhatian yang diberikan padanya hanya semu untuk menyakitinya?
Logan melepaskan ciuman itu, mengatur napasnya yang terengah-engah sambil menatap Anna dengan mata sendunya. Anna tak menunduk, diam-diam terisak, tak sanggup beradu mata dengan pria itu.
Logan mengerti, dan ia tidak akan memaksa jika mau Anna seperti itu. "Anna, tidak akan perceraian ataupun tidur beda ranjang. Aku akan buktikan padamu bahwa aku dan Nina tidak melakukan apa yang kamu lihat di foto itu!" kata Logan, suara bassnya serak dan dalam, menegaskan tanpa bisa dibantah.
Lalu, Logan pergi dari kamar ini. Ia akan memberikan Anna waktu lagi untuk menenangkan diri. Selain itu, ia juga sekalian memesankan makanan untuk Anna. Tapi, ia tidak akan makan bersama dengannya. Ia berencana makan di restoran, meneguk beberapa gelas wine, dan merokok di luar untuk melepaskan penat.
Namun, ketika ia sedang di lobi, ia bertemu dengan Tita yang sedang memapah Nina yang sedang mabuk. Gadis itu terhuyung dan kesulitan untuk berjalan. Karena ia kesal pada Nina, maka ia melengos ketika berpapasan, tak peduli pada Tita yang dalam kesusahan.
Namun, Tita tetap melihatnya, lalu tertegun seraya memanggil, "Logan!"
Mau tidak mau, Logan berpapasan dengan kedua gadis itu. Ia mendecak, menoleh dengan acuh tak acuh. "Apa?"
Tita mencibir dan menyipit. "Aku hanya ingin menyapa, bukan untuk meminta bantuanmu memapah Nina," sahutnya sinis.
"Baguslah. Aku juga tidak ingin bertemu dengan Nina," dengus Logan, dingin sekali bagai gunung es yang sulit mencair.
"Ih, gitu banget ngomongnya. Kenapa sih? Atau ..." Tita terhenyak, sesuatu hal firasat tak enak menyentil hati dan pikirannya. "Tunggu dulu! Kamu ke sini lagi honeymoon atau urusan kerja?"
"KE-DUA-NYA!" sahut Logan menahan geram.
"Ah, jadi benar! Apa Nina mengganggu bulan madumu dengan Anna?" seru Tita, matanya membulat.
Logan menghela napas, semakin jengkel jika mengingat Nina yang menjebaknya dan membuat Anna salah paham. "Ya!"
__ADS_1
Tita kaget, dan cukup lama baginya untuk hening. "Logan, apa kau ... ah, tidak! Habis aku mengantarkan Nina ke kamar, apa bisa kita mengobrol sebentar? Ada yang ingin aku bahas."[]