
Tangan Anna bergetar memegang test pack ketiga yang hasilnya menunjukkan dua garis merah yang sangat jelas. Benda itu terlepas dari tangannya, dan tubuhnya oleng, hampir jatuh jika tidak bersandar di dinding. Ia terisak sambil menutup mulutnya agar tangisannya tak terdengar oleh penghuni rumah.
"Bagaimana ini? Kalau mama sama ayah tahu...," lirih Anna menghela napas, dadanya terasa menyempit, lalu duduk di atas kloset.
Suara ketukan pintu dari luar mengejutkannya, disusul seruan dari mama.
"Ada orang di dalam?"
Anna buru-buru menyeka air matanya, menenangkan diri agak tidak terdengar isakannya, lalu menyahut, "Ini Anna, Ma. Sebentar lagi Anna selesai kok."
Supaya tidak terlihat sehabis menangis, Anna mencuci mukanya. Sebelum keluar dari kamar mandi, dibereskan semua alat kontrasepsi itu, lalu disimpannya di dalam saku celana panjangnya. Dibukanya pintu kamar mandi sedikit, baru perlahan melebarkan pintunya.
Anna tercengang cukup lama saat melihat mamanya berdiri di depan pintu. Matanya kembali digenangi oleh air mata, tapi ia sembunyikan dengan menundukkan kepala sambil lalu di samping mamanya.
"Anna," panggil mamanya, membuat Anna berhenti dan menoleh sedikit. "Kamu nggak solat? Udah mau azan sebentar lagi."
Anna tersenyum tipis. "Nanti, Ma. Aku mau ambil handuk, sekalian mandi."
"Ya, udah. Mama mau buang air kecil dulu." Lalu, mama berjalan masuk dan menutup pintu kamar mandi.
Langkah Anna pelan, lalu meraih sebuah hanger besi yang menggantungkan handuk miliknya berwarna toska. Ia duduk pada salah satu anak tangga sambil memangku dagu. Tadinya, ia hanya menatap sebuah mug bergambar wajah kuda nil. Namun, lama-kelamaan pikirannya melayang dalam lamunan.
Tanpa sadar ia mengelus perutnya, di mana sebuah janin telah tumbuh. Akan tetapi, ia tak menginginkan bayi ini, tidak pula ingin menggugurkannya. Ia sudah berdosa karena zina, masa harus melakukan dosa lagi dengan membunuh bayi yang tidak berdosa?
Selain itu, ada hal lain yang dipikirkannya. Logan. Bagaimana reaksi pria itu kalau tahu soal kehamilannya? Dilema rasanya dengan dua pilihan yang ada di benaknya. Apa ia harus memberitahu soal ini pada Logan, atau tidak?
"Kalau ayah anak ini tahu, apa dia mau tanggung jawab?"
Ia sendiri ragu dengan jawabannya, mengingat pria yang menghamilinya telah bertunangan. Sementara dirinya hanya wanita salah kamar.
Ia melamun sampai tak mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Mama mengernyit mendapati anak gadisnya tengah melamun sambil mengelus perutnya.
"Kamu lapar, An?" tanya mama, membuat Anna terlonjak kaget.
Anna gelagapan. Mamanya salah paham pasti karena ia sedang mengelus perut. Makanya, ia bergegas menjauhkan tangannya dari perut.
"Em ... iya, Ma," sahutnya asal, padahal ia sendiri tak mendengar ucapan wanita itu. "Mama kan kemarin bawa buah-buahan, Mama beliin aku mangga, nggak?"
Mama jelas heran, kenapa tiba-tiba anaknya menanyakan hal itu? "Mangga? Kamu mau minum jus mangga?"
"Nggak. Makan kayak biasa aja," sahut Anna sambil menuruni anak tangga dan berdiri menghampirinya.
Dahi mama yang mengernyit itu. Awalnya bingung karena tak seperti biasanya Anna minta mangga yang tidak di jus, tapi perasaannya berubah menjadi curiga. "Tumben banget. Bukannya kamu nggak suka mangga yang dimakan langsung?"
Anna masih tidak menyadari kecurigaan mama, dan masih terus membuat alasan. "Ya ... nyobain aja sih? Kalau nggak enak, Mama kan masih bisa bikinin aku jus mangga."
Umur sudah 27 tahun, tapi gadis ini masih bergelayut manja pada ibunya sambil melingkarkan tangannya ke lengan wanita itu. Dan pada akhirnya mama menuruti keinginannya.
"Iya deh, nanti Mama kupasin. Tapi, makan nasi dulu. Mama nggak mau dengar perut kamu sakit gara-gara makan-makanan asam."
Anna menegakkan kepalanya sedikit. "Emang mangganya asam?"
"Nggak sih. Tapi kemungkinan sih ada, kalau kamu lagi sial."
"Nggak mungkin!" sahut Anna, mengibaskan tangan. "Mama kan paling hebat milih buah-buahan yang manis."
Bisa saja anak ini! Mama sampai tersipu. "Udah, sana mandi! Habis itu, solat!"
__ADS_1
Anna tersenyum, menjauh dari sandaran lengan sang mama. Setelah itu, barulah Anna beranjak ke kamar mandi. Meskipun masih terlalu pagi, Anna tetap bersiap untuk bekerja. Masih ada waktu yang panjang sebelum pergi, sehingga bisa santai memakan nasi uduk yang telah mama belikan.
Di atas meja makan, disusun aneka buah. Entah kenapa, ia malah tertarik mengambil jeruk dan mengupasnya. Isinya dilepaskan satu per satu, lalu diletakkan di atas piring sambil bergumam "bilang atau tidak" sampai buahnya habis.
Pada buah terakhir, kata yang terucap adalah: "bilang."
Anna menghela napas, lemas. Berarti, ia harus mengungkapkan kehamilan ini pada Logan. Namun, kenapa rasanya berat hati untuk melakukannya. Ia khawatir, jika pria itu akan bilang begini:
"Kamu yakin itu anak saya?" Atau "Saya kan sudah punya tunangan, mana mungkin bertanggung jawab atas kehamilan kamu. Gugurkan saja!"
Anna menghela napas panjang.
"Kak!" seru Adnan, yang entah sejak kapan ada di belakangnya. Dia menyeringai, tidak peka melihat kakaknya terkejut lalu melotot marah padanya.
"Apaan!" sahut Anna kesal.
Adnan menggeser kursi yang ada di dekat Anna, lalu duduk di dekatnya. "Kurang kerjaan banget, ngupas jeruk tapi nggak dimakan."
Anna menggeser piring yang terdapat jeruk tadi ke hadapan Adnan. "Gue bukain buat lo. Baik kan gue?"
"Apaan!" cibir Adnan, menyomot sebuah jeruk.
Adik bungsunya ini suka meminta yang aneh-aneh, padahal gaji belum turun. Daripada begitu, lebih baik Anna segera beranjak dari sana sambil menenteng tasnya.
"Mau ke mana, Kak?" tanya Adnan, mendongak.
"Cari duit lah!" sahut Anna agak ketus. "Bye!"
"Hati-hati, ya, Kak. Bawa pulang duit yang banyak, ya," celetuk Adnan seraya tertawa jail.
Ia sudah memikirkan matang-matang untuk memberitahukan pada Logan soal ini. Maka dari itu, ia butuh bukti supaya pria itu tak lagi menuduhnya. Dan buktinya adalah surat pemeriksaan yang dikeluarkan oleh dokter kandungan.
Ia juga sudah meminta izin untuk datang kerja agak siang, dengan alasan ingin berobat. Ia pergi ke sebuah klinik itu dengan laju motor pelan karena pikirannya cukup kalut. Namun, ia justru takut dan ragu. Sesampainya di sana, ia malah tetap bergeming di atas motor, alih-alih masuk ke dalam rumah sakit.
"Aduh, kenapa gue jadi was-was gini?" gumamnya, jemarinya digerakan gelisah.
Tidak. Ia tidak bisa jadi pengecut begini! Tenangkan diri, Anna! Hirup napas dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan! Setelah itu, ia melangkah memasuki klinik itu, meskipun langkahnya masih gamang.
Klinik yang cukup ramai dan besar. Anna sampai waspada karena takut ada yang mengenalnya. Ia pun mendatangi meja pendaftaran, mengambil nomer antrean.
Gilirannya cukup lama. Dengan waktu yang panjang itu, Anna sempat ingin beranjak dari sini. Namun, ketika ia akan melangkah pergi, giliran nomor antreannya yang dipanggil.
Tak bisa menghindar lagi, Anna pun akhirnya mendaftarkan diri sebagai pasien. Setelah proses itu selesai, perawat tadi menunjukkan arah di mana ruang dokter kandungan berada.
🍀
Sifa melihat meja kerja Anna yang kosong. Tadi, wanita itu menghubunginya untuk meminta izin terlambat masuk kantor. Namun, ia sedih karena pekerjaan yang akan dikerjakannya ini kurang ia mengerti. Mau tanya sama karyawan lain, ia segan.
"Em ... Aku tanya sama kak Ervan aja kali, ya?" gumamnya, lalu beranjak dari kursinya sambil membawa sebuah berkas.
Bertepatan dengan itu, hampir saja ia menabrak tubuh seorang pria yang cukup tinggi. Ia mendongak, menatap terpana pada ketampanan pria blasteran Indonesia‐Turki itu.
"Ma ... Maaf, Pak," jawab Sifa gugup.
Kenan tersenyum. "Nggak apa-apa. Oh, iya. Kamu kenal sama Anna, asistennya bu Eka?"
Oh, jadi kenalannya Anna? Atau mungkin pacarnya. Sifa agak kecewa jadinya. "Kak Anna datangnya siang, Pak," jawabnya. "Kak Anna mau berobat dulu."
__ADS_1
Berobat? Gadis itu sedang sakit? Kenan langsung cemas mendengarnya. "Anna sakit? Sakit apa?"
"Nggak tahu." Sifa menaikkan kedua bahunya. "Kemarin kak Anna pingsan di depan ruang rapat, Pak. Wajahnya pucat banget. Katanya kepalanya pusing."
Kenan semakin mengkhawatirkannya. "Terima kasih, ya," katanya, lalu pergi sambil menghubungi nomor Anna. Akan tetapi, Anna tak mengangkatnya.
Karena sudah berada di sini, ia berpikir untuk menemui Logan di ruangannya. Diketuknya sekali pintu ruangan itu, dan seperti kebiasannya, sebelum Logan menyahut, ia main masuk ke dalam ruangan.
Kenan ingin berseru menyapa pria itu, begitu memasuki ruangan. Namun urung, karena tak biasanya Logan termenung di meja kerjanya.
"Kenapa lo?" tanyanya Kenan seraya menghampirinya. "Mukanya sedih gitu kelihatannya. Ada masalah sama Nina?"
Tak usah ditanya kenapa Kenan bisa menebaknya. Masalah yang hanya membuat Logan galau hanyalah masalah percintaan saja. Kalau perusahaan, pria itu bisa mengatasinya.
"Iya, emang ada sedikit masalah," jawab Logan, menghela napas panjang.
"Cerita dong."
Logan hanya menatapnya sambil menimbang-nimbang. Namun, bukannya menjawab, ia malah bertanya, "Ngapain lo ke sini?"
"Mau ketemu sama Anna dong," sahut Kenan, semangat.
Logan menimpali sambil membaca sebuah berkas dengan acuh tak acuh. "Dia lagi kerja. Ngapain lo datang ke sini buat gangguin dia?"
"Tadinya, gue mau nungguin dia di luar gedung, tapi dia nggak muncul-muncul. Akhirnya, gue datengin aja ke meja kerjanya. Tapi ternyata dia masuk siang," jawab Kenan, pada akhir kalimat bernada kecewa.
"Oh." Hanya kata itu saja yang keluar dari mulutnya.
Meski tak ditanya, Kenan tetap memberikan informasi tentang kejadian yang dialami Anna kemarin. Logan langsung mengalihkan pandangan dengan mata terbelalak saat mendengar bahwa Anna pingsan.
"Sakit apa dia?" tanya Logan.
"Nggak tahu," sahut Kenan, kedua bahunya dinaikkan.
Logan merasa bahwa firasat buruk yang dipikirkan sejak pemerkosaan yang dilakukannya pada Anna sebulan yang lalu, mungkin akhirnya terjadi. Sama halnya dengan Anna, ia sempat cemas jika Anna sampai mengandung anaknya. Namun, ia buru-buru berkilah, menyakinkan diri bahwa hal itu tidak akan terjadi. Apalagi, mereka baru sekali berhubungan badan.
Namun, mendengar cerita Kenan, ia kembali cemas. Kalau benar perempuan itu hamil, bagaimana ini?
🍀
Anna kembali ke kantor lebih lambat dari perkiraannya. Saat memasuki kantor, tatapannya kosong dan jalannya pelan. Ternyata, test pack itu tidak salah. Anna memang hamil, dan itulah yang membuatnya syok.
Entah sadar atau tidak, ia menekan tombol lift yang bukan menuju ke ruangan kerjanya. Bahkan, ia menuju ke ruangan Logan, meski sempat terhenti beberapa meter dari ruangan itu.
"Aku nggak boleh ragu," gumamnya dalam hati. "Apa pun reaksinya, pria itu harus tahu!"
Anna mengelus perutnya pelan, seakan meminta kekuatan untuk menghadapi pria itu. Barulah, ia memantapkan diri untuk melangkah dan memasuki ruangan Logan.
Logan cukup tercengang dengan kedatangannya, tetapi tidak diperlihatkan dengan jelas ekspresinya itu. Dengan acuh tak acuh, ia berkata, "Ada apa ke sini?"
Lagi-lagi suaranya seakan tercekat dan ragu. Lama sekali baginya untuk mengambil langkah ini.
"Kenapa diam? Ada apa?" tanya Logan sekali lagi, tatapannya dialihkan sepenuhnya pada Anna.
Anna memegang perutnya. "Nak, beri Mama kekuatan untuk bicara," gumamnya dalam hati.
Ia menghela napas, tatapannya serius. "Pak, saya hamil."[]
__ADS_1