
"Ke Manchester."
Anna tertegun sejenak, kemudian menyipit. Senyuman pria itu aneh, ia jadi merasakan sesuatu keganjilan. Ke kota sejauh itu, mau apa dia? Apa dia berencana ingin meninggalkan Anna di sana, sementara Logan ingin mengejar cintanya di London?
"Ke Manchester?" seru Matthew, mengernyit. "Bukannya ada pertemuan dengan Mr. Hans di sana lusa besok?"
"Benar, Pa," sahut Logan, tersenyum dan mengangguk.
Itu berarti, Logan bermaksud membawa Anna ke sana untuk sekalian bekerja, alih-alih bulan madu? Dasar anak ini! Mendidih lagi darah Matthew karenanya.
"Papa tidak setuju!" sergah pria keturunan bule itu. "Papa suruh kamu bawa Anna bulan madu, bukannya mengurus perusahaan!"
Melihat suaminya naik darah lagi, Elina menegur Matthew dengan lembut. Akan tetapi, Matthew menggubrisnya dan terus mengomel.
"Ini sudah keterlaluan! Kamu boleh tidak mencintai Anna, tapi kamu tidak bisa memperlakukan Anna seperti itu!"
Logan menunduk, tak kuasa melawan papanya itu karena tidak mau membuat penyakit darah tinggi Matthew kambuh meski ia merasa geram. Ia menghela napas, mendinginkan hati yang panas secara perlahan, sementara Elina menenangkan suaminya.
"Pa, pertemuan dengan Mr Hans hanya sebentar. Sehabis itu, aku akan fokus pada acara bulan maduku dengan Anna," sahutnya dengan tenang dan hati-hati, agar tidak menimbulkan amarah Matthew.
Logan berhasil menyurutkan kemarahan Matthew, yang perlahan tenang. Barulah saatnya baginya untuk kembali menjelaskan.
"Aku akan bawa Anna ke manapun selayaknya pasangan yang lain."
Kenapa perasaan Anna jadi aneh? Pipinya memerah, dan sekarang malah jadi deg-degan gini. Apa ia terlalu terbawa perasaan karena ucapan Logan?
"Benar, kamu akan melakukan bulan madu tanpa mencampuradukan pekerjaan setelah melakukan pertemuan dengan Mr. Hans?" tanya Matthew menegaskan.
Logan mengangguk selayaknya pria sejati yang memegang janjinya. "Iya, Pa. Semua pekerjaanku akan diambil alih oleh sekretarisku setelah kesepakatan dengan Mr. Hans selesai."
"Baik." Matthew melunak. "Papa pegang janji kamu. Anna, nanti bilang sama Papa, kalau Logan mengabaikan kamu dan tidak menepati janjinya."
__ADS_1
Tak peduli dengan mata sinis Logan yang mengarah padanya, Anna mengangguk sambil tersenyum. "Baik, Pa," sahutnya.
Bulan madu hanya judulnya saja. Perjalanan selama 16 jam dengan pesawat cukup melelahkan. Untung saja, Anna hanya membawa sebuah koper besar. Pasalnya, saat sampai di bandara, Logan main melengang pergi gitu saja, membawa kopernya sendiri, lupa kalau istrinya sedang hamil.
Anna mendengus sambil menggeleng-gelengkan kepala, heran bercampur kesal. Pria itu benar-benar tidak mempedulikannya.
Kalau memang begitu, oke! Terserah. Pergi saja ke hotel sendirian, Anna akan menyeret kopernya ke tempat lain. Uang pemberian dari mertuanya masuk ke dalam rekeningnya. Ia bisa menggunakannya untuk jalan-jalan sendirian, menginap di hotel yang diinginkannya.
Namun, sebelum ia kabur, mungkin Logan sudah tahu niatnya. Makanya, pria itu berbalik, memanggil Anna yang mematung karena pelarian diam-diamnya telah ketahuan.
"Apa yang kaulakukan di sana?" seru Logan, kemudian tangannya melambai bagai sedang memanggil seekor anak anjing. "Kemarilah! Cepat sini!"
Anna memanyunkan bibirnya, kesal sambil menghampiri pria itu. "Ya, udah. Ayo, jalan!" katanya setengah ketus.
Entah kesambat setan apa, pria itu tiba-tiba meraih pegangan koper milik Anna. Wanita itu tercengang. Kenapa baru sekarang pria itu sadar dan melakukan hal ini?
Anna menoleh ke segala arah. Apa Logan melakukan ini karena ada orang sewaan mertuanya untuk mengintai mereka? Ya, memang mereka pergi bukan hanya berdua, tapi bertiga bersama dengan sekretaris yang sama kakunya dengan Logan.
Meskipun begitu, sifatnya tetap tak berubah, main pergi meninggalkan Anna tanpa mengatakan apa pun. Anna merengut lagi, menyusul pria itu dengan derap langkah kencang karena sangking kesalnya.
Tak berhenti sampai di situ, Logan mendiamkan Anna, sibuk dengan ponselnya selama perjalanan. Untung saja, Tasya mengirimkannya pesan, setidaknya ada pengalihan pikiran sampai mobil yang ditumpanginya tiba di hotel.
Anna tercengang ketika mobil berhenti di depan hotel mewah. Hatinya melompat riang karena akan tidur di kamar sendirian, sementara Logan pasti memilih memesan kamar lain.
"Tuan, saya akan melakukan check in dulu. Silakan Tuan dan Nyonya tunggu di sini," kata sekretaris Logan, setelah mereka turun dari mobil.
Syukurlah. Gumam Anna dalam hati sambil duduk. Lalu, Anna melirik Logan yang masih berdiri. Pikirnya, apa pria itu tidak lelah berdiri menunggu? Ah, biarkan saja! Terserah apa maunya pria itu.
Tak lama kemudian, sekretaris Logan datang bersama dengan seorang pelayan pria. Tas mereka dibawa dengan troli oleh pelayan itu, sambil membawa mereka ke kamar yang dipesan.
Mereka diantarkan ke kamar 703. Si pelayan membuka pintu kamar, mempersilakan mereka untuk masuk. Tak disangka, di saat seperti ini Elina menghubungi Logan. Mungkin ingin menanyakan kabar mereka.
__ADS_1
"Anna, masuklah!" perintahnya, sebelum mengangkat telepon.
Anna melirik ponsel Logan sejenak. Oh, mau angkat telepon di luar? Entah seberapa penting harus menerima telepon sampai menjauhinya. Anna menghela napas panjang, lalu berjalan masuk ke kamar hotel.
Ia sudah biasa masuk ke hotel karena sering menerima klien dari luar negri yang sedang menginap. Kamar yang luas, ranjang yang lebar, dan pemandangan indah kota Manchester yang terlihat dari jendela kamar dianggap biasa oleh Anna.
Matanya sudah berat, melihat ke arah ranjang yang seakan tengah melambai-lambai ke arahnya. Si pelayan sudah meletakkan semua barang di dalam kamar, saatnya untuk merebahkan diri.
"Ah! Nyamannya," gumam Anna, merasakan empuknya ranjang beralaskan seprai putih. Tapi kemudian, ia terkesiap. "Eh! Seharusnya mandi dulu, ya? Tapi udah ngantuk, mager ke kamar mandi. Besok sekalian aja mandinya."
Mata terpejam. Dalam beberapa detik, Anna tertidur pulas.
...☘...
Logan menerima telepon sambil menuju ke lift, sekalian saja mencari segelas wiski di restoran hotel ini untuk diteguknya sebelum tidur.
"Sudah sampai, Nak?" tanya Elina pada ujung sambungan telepon.
"Sudah, Ma," jawab Logan seadanya.
"Anna mana? Apa dia dalam keadaan baik?"
Karena dia sedang tidak di sampingnya, terpaksa Logan berbohong. "Dia baik-baik saja. Sekarang dia lagi tidur."
"Oh, dia pasti lelah. Kalian sudah makan malam?" tanya Elina.
"Sudah, Ma. Di dalam pesawat tadi." Lift sudah sampai membawanya ke lantai bawah, lalu ia keluar dari lift.
"Nak, tolong jaga Anna, pastikan dia makan yang teratur dan minum vitaminnya," saran Elina, tutur katanya lembut. "Ya, sudah. Sekarang, kamu juga sebaiknya istirahat," pungkas Elina, lalu mematikan sambungan teleponnya.
Logan menghela napas, lalu termenung setelah meletakkan ponsel di sakunya. Memang, bukan pertama kalinya ia berbohong, tapi tetap saja rasa bersalah menggelayutinya.[]
__ADS_1