
Sudah sekitar 2 jam Anna tertidur. Ia tersentak bangun karena terbatuk dan tenggorokkannya kering. Posisi tidurnya menyamping ke kiri. Matanya tak langsung terbuka saat terbangun, jadi ia bisa melihat bahwa Logan sedang berbaring miring sambil menatapnya lekat.
Namun, Anna justru malah terkejut dan spontan mendelikkan mata seraya membaca istighfar dengan keras, lalu ia terduduk dan beringsut mundur sedikit.
Alis Logan dinaikkan sebelah, menopang kepalanya dengan tangan. "Lebay banget kagetnya. Seperti habis lihat hantu."
Sambil memalingkan wajah, Anna bergumam sangat pelan. "Memang kamu seperti hantu, tiba-tiba membuat orang terkejut." "
Hei, kalau bicara itu yang jelas, jangan sambil berbisik dan melihat ke arah lain," tegur Logan. "Aku ada di depanmu tau."
Anna memasang wajah jengkel sambil melirik sejenak ke arah lain. Kenapa sih pria ini? Tumben banget bahas hal sepele begitu?
"Kamu sudah sadar? Pengarnya sudah hilang?" tanya Anna, basa-basi saja untuk mengalihkan.
"Memangnya, aku dari tadi pingsan?" sahut Logan dingin, terdengar menyebalkan di telinga.
"Iya. Kamu mengigau minta ditemani," jawab Anna, tidak menatapnya.
"Makanya, kau tidur di sampingku?" balas Logan cepat.
"Memangnya aku harus apa? Duduk di bawah lantai sambil mengawasimu? Kau menarik tangan ... ah, sudahlah!" Anna tidak mau melanjutkan karena nanti Logan akan membantahnya, lalu menyebutnya sebagai tukang halu, atau kege-eran dan menyangka bahwa Anna menyukainya. Oh!
"Kalau kau duduk di lantai, aku akan memarahimu," sahut Logan setelahnya, Anna menoleh dengan tercengang. "Ide bagus jika kau tidur di sampingku. Tumben, kau melakukan hal yang benar."
Rahang Anna membeku. "Tumben katanya"? Memangnya, selama ini Anna tidak pernah melakukan hal yang benar? Anna mendengus, mengibas-kibaskan tangannya.
"Suka-suka kamu saja lah!" sahut Anna, lalu beranjak dari ranjang.
"Mau ke mana? Aku tidak menyuruhmu pergi," seru Logan.
Akan tetapi, Anna tetap beranjak sambil menjawab dengan agak berseru, "Aku mau mandi, terus membantu tante Aurellie untuk menyiapkan makan malam."
Seharusnya, Logan tidak peduli. Tapi kenapa ia merasa lega karena gadis itu tetap di kamar ini, meskipun hanya sekadar untuk mandi. Logan menunggu Anna keluar dari kamar mandi sambil memainkan ponsel, mengecek kabar terbaru dari Gery.
Tidak ada kabar yang terlalu genting, kecuali tentang pertemuan ayahnya dan Charlote besok di perusahaan. Logan tidak mencemaskan soal itu karena ayahnya pasti bisa memenangkan kasus itu, apalagi ayahnya ditemani oleh pengacara andal seperti ayahnya Kenan.
Suara pintu kamar mandi terbuka, dan Anna pun muncul dengan tubuh basah dan dililit oleh sehelai handuk. Ah! Seksi sekali dia. Dada dan pundaknya yang putih terlihat. Handuknya yang kecil memperlihatkan pahanya yang mulus. Jantung Logan berdebar melihatnya. Perasaan yang sering muncul ketika sedang bersama Nina.
__ADS_1
Ya! Perasaan yang dimiliki oleh setiap laki-laki, dan itu normal. Melihat penampilan Anna begini, hasratnya terketuk. Namun, ia mengenyahkan perasaan itu, buru-buru menyadarinya, lalu menoleh ke arah lain. Di dalam hati, ia menggerutu kesal. Lama sekali wanita itu mencari baju di kopernya dengan penampilan seperti itu. Jadi gemas sekaligus geram.
"Ngapain sih? Lama banget cari bajunya?" tanya Logan tiba-tiba, ketus.
"Emang kenapa? Kamu mau pakai kamar mandinya? Ya, pakai aja," sahut Anna santai, seolah tidak mengerti situasinya.
"Kenapa kamu nggak pakai piyama handuk? Apa tidak dingin seperti itu?"
Anna tertegun, lalu melirik tubuhnya yang terlilit handuk. Awalnya, ia tidak paham dengan pertanyaan Logan. Namun, saat melihat pria itu memalingkan wajahnya, dan berpura-pura melirik ponselnya, Anna tersenyum jail.
Lantas, ia berdiri, menghampiri Logan untuk menggodanya dan berpura-pura polos. "Piyama handukku agak lembab, nanti gatal kalau aku pakai," jawab Anna. "Memangnya, kenapa? Kamu tergoda melihatku seperti ini?"
Apa kedatangan Anna di hadapannya untuk sengaja menantangnya? Baik, Nona. Akan ia ladeni.
Logan meletakkan ponsel di atas nakas, tak lagi segan menatap wanita itu. Ia mendekat, dengan cepat meraih tangan Anna, menariknya sampai dia terjatuh ke dalam pelukannya. Anna terkejut. Niat jail, malah jadi seperti ini. Apa Logan benar-benar melahapnya sekarang?
"Wajar dong. Aku seorang pria, tentu saja aku tergoda. Tidak salah kan, Istriku?" balas Logan, sensual tapi bernada sarkas.
Anna merasakan debaran jantungnya begitu kencang. Pipinya merah padam, dan matanya membulat menatap Logan yang sedang tersenyum misterius. Ia terjebak oleh perangkapnya sendiri.
"Ah, dingin!" seru Anna tiba-tiba dengan kikuk, meronta perlahan. "Aku mau pakai baju sekarang—"
Tidak! Ia tidak mau berhubungan badan dengan pria itu meskipun mereka sudah menikah. Uh! Jadi menyesal main-main dengan pria yang masih mabuk ini.
Logan mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Anna, lalu berbisik, "Istriku, kita belum pernah melakukan malam pertama sejak menikah. Mungkin sekarang waktunya."
Meski gugup, Anna mencoba bersikap tenang. "Hentikan! Aku tahu, kamu hanya ingin menjailiku saja. Mana mungkin kamu mau melakukan hal itu. Kamu tidak mencintaiku, bahkan sedikit rasa suka padaku saja tidak ada. Sekarang minggir! Aku mau pakai baju!"
Makin lebar senyum Logan. Lengan Logan ditekuk, sehingga sikunya menyentuh ranjang. Posisi mereka semakin intim, Anna bisa merasakan beban di atas tubuhnya, merasakan perut Logan menyentuh perutnya meski masih terhalang oleh kain.
"Kau tahu, punyaku saat ini tengah...." Logan memperlihatkan jari telunjuknya yang ditegakkan pada Anna.
Benarkah yang dikatakan pria itu? Sontak Anna mendelik, sepertinya mempercayainya.
"Anna, yang namanya nafsu, meskipun tidak saling suka, tidak akan terpengaruh. Itu sifat alamiah manusia," kata Logan lagi. "Asal nafsu itu bisa terpuaskan, kenapa tidak?"
Anna semakin gemetaran, kedua lengannya direntangkan di depan dadanya untuk menghela pria itu. Namun, Logan malah semakin tak mau kalah. Anna tidak bisa menghindari kalau pria itu mencium lehernya yang harum.
__ADS_1
"Logan, please, hentikan. Kamu menang. Aku ngaku salah, aku nggak akan menantang kamu lagi. Please, lepasin aku," mohon Anna, hampir menangis.
Hal ini mengingatkannya lagi pada malam pemerkosaan yang dilakukan Logan di kapal pesiar itu. Entah Logan mendengarnya atau tidak, ia tetap melanjutkannya meski Anna terus merengek.
Tangan Logan mengarah pada ujung handuk Anna, tetapi gerakannya terhenti karena mendengar isakan Anna. Logan menjauhkan tubuhnya, mendelik menyaksikan Anna menangis sambil mendekap dirinya sendiri.
Kenapa dia menangis? Apa traumanya belum hilang?
Ucapan maaf terucap dalam hati. Dalam diam, pria itu menjauh dari tubuh Anna, lalu duduk membelakanginya sambil menunduk. Tangisan Anna membuatnya tak tahan, lalu ia beranjak ke dalam kamar mandi.
Anna masih menangis di tempatnya, memiringkan tubuhnya, memeluk erat tubuhnya. Sementara itu, Logan sengaja berlama-lama di kamar mandi, berdiri sambil menunduk, membiarkan tubuh berototnya disirami oleh air dari shower.
Ia pikir, Anna mungkin sudah berpakaian dan keluar dari kamar. Namun, perkiraannya salah. Anna sedang duduk di depan meja rias, menoleh pada Logan yang keluar dari kamar mandi.
Logan tak berani menatapnya. Terlihat tenang saat melangkah ke kopernya, tetapi sebenarnya ia sedang gugup. Anna diam saja melihat apa yang dilakukan pria itu, tak malu lagi melihat pria itu bertelanjang dada di depannya.
Anna menunduk, muram. "Maafkan aku," lirihnya. Ucapannya membuat Logan membeku saat meraih sehelai kaus berwarna krem, yang kemudian diletakkan di atas ranjang.
"Kenapa harus minta maaf?" tanya Logan dingin.
Anna menjalin jemarinya. "Karena aku belum bisa berhubungan intim denganmu. Aku masih trauma."
Tak ada yang diucapkan Logan untuk beberapa saat. Ia menjawabnya setelah memakai baju. "Kenapa kau mengatakan hal itu?"
"Aku ..." Anna melirik lirih ke arah lain. "Aku hanya ingin mengatakannya saja, jika suatu saat terjadi hal seperti ini lagi."
Logan menuju meja rias, dan Anna berbalik ke depan. Sebenarnya, Logan juga mencemaskan hal itu. Takutnya, nafsu itu muncul lagi, atau mungkin tidak terkendali ketika ia mabuk.
"Itu tidak akan terjadi," jawab Logan, berusaha bersikap acuh tak acuh seperti biasa sambil mengoleskan pelembab di wajahnya. "Makanya, jangan menantangku seperti tadi. Bersikap jadi istri yang penurut bisa, 'kan?"
Lagak pria itu menyebalkan, tapi Anna tahan. Sehabis menangis tadi, tenaganya menghilang untuk melawan Logan.
Logan yang sudah selesai, beringsut sedikit menghadap Anna. "Ayo, kita turun ke bawah."
Anna menoleh, lalu mendongak menatap wajah Logan dengan tercengang. Anna pun berdiri, Logan berjalan duluan menuju pintu setelahnya. Anna mengekor, keluar dari kamar ini.
Namun, mereka tertegun saat melihat Aurellie sudah bersiap sambil membawa sebuah koper. Anna dan Logan buru-buru menghampirinya.
__ADS_1
"Tante mau ke mana?" cecar Logan, sebenarnya di dalam hati sudah menebak-tebak.
Aurellie tersenyum tipis. "Aku akan ke Jakarta."[]