Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Akhirnya....


__ADS_3

..."Tak sadarkah dirimu ku selalu rindu....


...Kan ku sembunyikan luka sampai kau tak melihatnya...


...Meski ku tak tahu mungkinkah aku bertahan...


...Adakah kesempatan memulai kembali."...


...💍...


Notifikasi masuk ke dalam ponsel Anna. Sepertinya bukan hanya dia yang mendapatkan notifikasi, karyawan lain juga. Setelah itu, terdengar suara riuh, termasuk dari Gaeun.


Dia mendekat, lalu berbicara agak berbisik. "Eonni, imi jibul (udah gajian nih!) Kajja shopping!"


Anna menggeleng tegas. "Andwe! Naneun jeojanghago sipda (Aku lagi pengin menabung)."


"Mwol? (Menabung buat apa?) gyeolhonhada (untuk menikah?) Jebal! Jigeum, 'single is better!' Geuraeseo, kajja shoppiiiiiing! (Ayolah! Jaman sekarang 'single is better!' Jadi, Eonni ... Ayo, shopping iiiiing)."


Gaeun merengek seraya tak mau melepaskan gandengan tangannya pada Anna sampai wanita itu setuju. Namun, Anna tak menghiraukan dengan meraih ponselnya dan mengecek notifikasi yang masuk tadi.


Anna tertegun kala melihat saldo ditransfer ke rekeningnya. Heran, kenapa saldo yang diterimanya lebih banyak dari kesepakatan gaji yang ada di kontrak.


Nama Yerin terpikirkan olehnya. Ia berpikir bahwa wanita itu mungkin yang telah melakukan hal ini. Anna bergegas keluar kantor, lalu pergi ke taman belakang.


^^^"Halo...."^^^


"Yer!"


^^^"Akamchaga! Kenapa Mbak? Langsung ditodong gitu?"^^^


"Sibuk nggak?"


^^^"Nggak. Kenapa?"^^^


"Kamu minta tambahi gaji aku? Kok banyak banget gaji yang aku terima?"


^^^"Oh ... keuge ..."^^^

__ADS_1


"Wae? Wae?"


^^^"Idih! Galak banget kayak penagih utang! Itu ... mungkin kamu dapet bonus kali dari kantor?"^^^


"Oh! Ya udah, nanti aku tanyain ke..."


^^^"Nggak usah! Aduh ... kenapa nggak terima aja sih? Itu kan rezeki kamu, An. Terima aja, nggak perlu curiga-curiga gitu ah!"^^^


"Aku bukannya curiga, cuma aku pengin tahu aja."


^^^"Itu udah aku kasih jawaban! Nggak usah mikir jauh-jauh deh, ya?"^^^


"...."


"Ya udah. Maaf ganggu kamu. Bye."


Ada yang aneh. Yerin menyembunyikan sesuatu, atau memang Anna yang terlalu curigaan? Pasalnya, Anna merasa selama 6 bulan ini ada transaksi masuk dari rekening yang tidak dikenal. Ia pikir itu dari rekening kantor.


"Ah! Mungkin emang aku yang terlalu berpikiran negatif," gumam Anna. "Yerin bener, emang uang itu udah rezeki buat aku kali, ya?"


Anna memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya. Ia pun berbalik, tapi ia terhenyak karena sosok Woojin berada di hadapannya. Pria itu ... ah! Seperti hantu saja tiba-tiba muncul. Tadi itu hampir saja ia menabrak tubuh pria itu, lalu spontan meminta maaf.


"Kamu ... sedang apa di sini?"


"Kebetulan aku mau beli kopi kalengan di vending mechine. Aku nggak sengaja lihat kamu di sana. Aku mau menyapa, tapi aku memilih menunggumu sampai selesai menelepon."


Senyuman ramah yang justru membuat Anna semakin curiga padanya. Anna sudah bertekad untuk menghindari pria itu, dan mencari alasan untuk buru-buru pergi sebelum pria itu melakukan hal yang membuatnya risi.


Sebisa mungkin Anna menghindari pria itu hari ini, dan sepertinya pria itu dan tak mengusiknya entah karena disibukkan oleh pekerjaan, atau memang sudah mengerti bahwa Anna merasa tak nyaman padanya?


Namun, pria itu membuat Anna bertanya-tanya kala Woojin tak masuk keesokkan harinya. Anna melirik meja kerja di sebelahnya yang kosong. Gaeun memperhatikan, instingnya yang cukup peka dijadikan alat untuk menggoda Anna.


"Dia nggak masuk," celetuk Gaeun dengan bahasa Korea. "Eonni, bogosipda ... keu-namja? (kangen ya sama dia?)"


Anna menyeringai sarkas. "Nde! Na geugeos-eul chaj-attda. Ajig gwang-go dijain-ui gyeolgwaleul allyeojuji anh-assseubnida. Geu ttaemun-e nae jag-eob-i neulyeojibnida! (Ya, aku memang mencarinya. Dia belum selesai melaporkan hasil desain iklan yang mau kita pakai. Gara-gara dia pekerjaanku jadi lambat)" gerutunya seraya membereskan berkas. "Aaaaah! Jib-e gago sip-eo! (Ah, sudahlah! Aku mau pulang!)"


Baru saja mengangkat tasnya, ponsel Anna yang tergeletak di meja berdering. Gaeun melirik pengin tahu, dan Anna menyambarnya dengan heran karena Yerin yang meneleponnya.

__ADS_1


"Yeoboseo?"


^^^"Alah! Pakai bahasa Korea segala. Udah pulang kerja belum?"^^^


"OTW. Kenapa?"


^^^"Makan malam, yuk! Mumpung aku lagi di Seoul nih."^^^


"Masa? Ya udah, aku OTW, ya. Share lokasinya!"


^^^"Oke!"^^^


Telepon ditutup, dan Anna bergegas berlari pulang tanpa mengindahkan Gaeun yang menanyakannya setelah pembicaraan Anna dengan Yerin berakhir.


Yerin mengajaknya makan malam bersama dengan suaminya. Yerin bilang, tak perlu pulang untuk ganti baju, yang terpenting pakaian yang dikenakannya sopan.


Anna hanya merapikan rambut dan sedikit memperbaiki riasan agar tak terlihat seperti orang yang kelelahan habis bekerja. Rencana mau makan enak di rumah batal, karena Yerin akan mentraktirnya santapan restoran mahal.


Ah! Memang sudah lama tidak ke sana! Anna harus berhemat karena biaya di Seoul tidak murah. Ia saja tinggal di Goshiwon yang cukup untuk dirinya sendiri karena biaya sewanya lebih murah daripada di apartemen. Untuk makan ... ia memasaknya sebab sulit mencari makanan halal di sekitar kantor. Makanya, ia selalu membawa bekal ke kantor.


Restoran ini terdapat di sekitar Ilsan, lumayan agak jauh dari tempatnya. Yerin dan suaminya sudah sampai di sana sejak 10 menit yang lalu. Anna jadi merasa bersalah, dan buru-buru turun dari taksi begitu sampai di depan restoran itu.


Setengah berlari Anna menghampiri pintu masuk restoran tanpa melihat seorang pria yang juga sedang menghampiri pintu. Praktis, Anna menabrak tubuh pria itu, lalu sontak membungkukkan badan.


"Cheoseonghamnida," ucapnya agak pelan.


Kemudian, Anna mengangkat kepalanya dan menatap wajah pria yang menabraknya. Anna tercengang karena sosok yang ada di hadapannya adalah pria yang selama ini ia coba hindari.


Anna pikir, dengan bersembunyi di Seoul pertemuan mereka tidak mungkin terjadi. Nyatanya, ia tetap akan melihat wajahnya lag, meskipun setelah 6 bulan kemudian.


"Logan?" gumamnya tanpa suara.


Air mata bocor begitu saja, dan menggenang di pelupuk. Namun, Anna buru-buru memalingkan wajah untuk menghilangkan air mata itu. Lalu, ia menunduk menghadap Logan seraya berkata.


"Maaf, Pak. Permisi."


Anna melewatinya, dan Logan tak menghentikannya. Anna sendiri tak mengharapkan hal itu, karena ia sadar bahwa Logan pasti sudah melupakannya dan sudah bisa menerima cinta Nina.

__ADS_1


Ia bersyukur jika memang begitu, tetapi hatinya sangat sakit sebab Anna masih memiliki cinta untuknya.[]


__ADS_2