
Dokter menggerakkan tranducer pada perut Anna yang telah diberi gel. Matanya memandang ke layar. Anna dan Logan melihat ke arah yang sama. Namun, yang paling penasaran adalah Logan.
"Oke ... nah, yang titik kecil itu adalah janinnya," tunjuk sang dokter mengarah pada layar.
Logan mendekatkan pandangannya sedikit dengan mata melebar. "Kok kecil banget sih, Dok?" tanyanya.
Dokter paruh baya itu tertawa kecil. "Iya, namanya juga masih 15 minggu. Tapi, kita udah bisa dengar detak jantungnya, lho?"
Perasaan takjub terlihat jelas di wajah Anna dan Logan. "Benarkah?" tanya Logan, sebenarnya bukannya tidak percaya tapi karena merasa sangat antusias.
Tanpa bicara, dokter itu sibuk dengan alat USG, memindai rahim Anna lagi dengan tranducer. Lalu, suara seperti detak jantung terdengar. Anna dan Logan tercengang mendenganya, kemudian takjub dan gugup sampai kegirangan. Bahkan sampai gemasnya, Anna meremas selimut dan tersenyum dengan air mata meleleh di ujung matanya.
"Di masa ini, bayi juga bisa mendengar suara orangtua. Jadi, Tuan dan Nyonya bisa berbicara dengan bayi," kata dokter.
"Oh. Jadi kalau saya menyapanya, apa dia akan mendengarnya?" tanya Logan memalingkan wajahnya pada dokter.
"Tentu. Tuan coba saja," sahut dokter, sangat yakin sekali.
Tapi, Logan terlalu gengsi untuk melakukan itu, apalagi di depan Anna. Hanya saja, hatinya begitu ingin menyapa buah hati saat ini. Beberapa kali, ia mencuri pandangan ke arah perut Anna yang sedikit terbuka, akan membuka mulut, tapi urung lagi. Pada akhirnya, ia hanya dapat menggerutu kesal dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.
Sesi USG sudah selesai, Logan buru-buru menggendong Anna lagi dan membawanya sampai ke depan meja dokter. Perlakuan yang memalukan di mata Anna, tapi bagi dokter dan suster itu terlihat manis. Mereka tak dapat menahan senyum mereka.
"Baik, janinnya terlihat sehat, ya Tuan dan Nyonya. Tapi, pola makan tetap harus dijaga. Jangan melakukan aktifitas yang berat. Olahraga boleh, tapi ringan saja dan jangan sampai terlalu lelah," kata dokter, tangannya sibuk menuliskan sesuatu di kertas kecil.
Pasangan awam itu hanya mendengarkan saja karena penjelasan itu cukup jelas untuk dicerna. Kertas kecil tadi, lalu dokter berikan ke tangan Logan sambil berkata:
"Itu resep vitamin. Pastikan istri Anda meminumnya sesuai dosis. Dan jangan lupa untuk minum susu khusus untuk ibu hamil."
"Baik, Dokter." Angguk Logan, seakan begitu mantap menjalankan peran sebagai suami siaga bagi Anna. "Oiya, tidak ada yang ingin ditanyakan semisal soal 'hubungan intim saat kehamilan'?"
Anna dan Logan terhenyak, perlahan rona wajah mereka memerah sambil menatap wajah sang dokter. Soal 'itu', apa yang mau ditanyakan? Mereka saja tidak pernah melakukannya meski tidur seranjang.
__ADS_1
...š ...
Logan berkonsetrasi menyetir, tetapi Anna menatapnya terus-menerus dengan serius. Menyadari hal itu, Logan menjadi grogi, meski berusaha tidak menoleh padanya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Logan, akhirnya tak tahan.
Anna menyipit dan mendesis. "Sssshh ... nggak. Cuma ... kenapa kamu tadi tiba-tiba datang ke ruang dokter kandungan? Bukannya kamu bersama dengan Nina tadi?"
"Kenapa? Tidak senang jika aku ada di sana?" sahut Logan ketus, untuk mengalihkan kegugupannya.
"Aku cuma memikirkan soal Nina," balas Anna jengkel, lalu bergumam sambil memalingkan wajah. "Tanya aja nggak boleh."
"Untuk apa memikirkan dia? Pikirin aja diri sendiri dan bayi kita." Logan tambah gusarātopik pembicaraan ini membuatnya tak senang.
Bayi kita? Anna tercengang dan langsung menoleh pada Logan dengan mulut agak terbuka. Logan terhenyak. Aduh, keceplosan mengatakan hal yang tak biasa. Anna pasti mencemoohnya karena dirinya akhirnya luluh karena anak itu.
Logan yang gugup melirik beberapa kali. Anna menunggu maksud celetukannya tadi. Tapi, akhirnya ia menoleh perlahan, berusaha bersikap tenang dan dingin seperti biasa.
"Kenapa? Aku nggak ngomong yang salah kok," katanya lagi, ketus.
"Memangnya bayi yang kamu kandung itu bayi siapa lagi? Bayi orang lain?"
Anna membanting tubuhnya pada sandaran jok. "Ih, ketus lagi! Kenapa sih? Apa nggak bisa ngomongnya biasa aja gitu?"
Logan tersentak. Apa Anna menyadari kalau sikap anehnya ini karena menyembunyikan kegugupannya? Ketahuan kah?
Hening lagi. Mood Anna berubah bete dalam sekejab, sementara Logan menata kembali gejolak perasaan menjadi lebih tenang. Namun, Anna kembali membahas sesuatu hal, yang membangkitkan kegusarannya lagi.
"Terus, Nina gimana sekarang? Kamu biarkan dia pulang sendiri?" tanya Anna bergumam, tapi pandangannya diarahkan ke luar jendela sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Aku suruh Kenan buat mengantarkannya," jawab Logan, emosinya masih stabil.
__ADS_1
Anna menegakkan badan dan tertegun. "Lho? Bukannya Kenan pulang karena ada klien? Apa tadi kamu yang menghubunginya saat aku akan masuk ke ruang dokter?"
Kenan dan Nina, dua nama yang saat ini sedang tidak ingin dibahas. Akan tetapi, Logan tetap menjawab dengan dingin. "Aku datang ke sana setelah Nina masuk ke ruang dokter dengan alasan menerima telepon dari klien. Lalu, aku buru-buru berlari ke ruang dokter kandungan, lalu meminta Kenan untuk mengantarkan Nina pulang."
Bingung, tapi bukan karena cerita Logan, melainkan sikapnya. "Kenapa kamu lakukan itu?" cecarnya, tak berharap jawaban yang membuat hatinya melambung tinggi.
Tapi, kurang kepekaan Logan menyahutinya begini, "Apanya?"
Anna mendecak jengkel. Masa gini aja tidak paham? "Ya ... kenapa kamu meninggalkan Nina, lalu mendatangiku?"
Logan dibikin terjebak lagi agar harga dirinya runtuh. Ia tak mau bilang kalau ia sangat peduli pada bayi itu. Ah! Ia harus cari alasan apa? "Karena ...," gumam Logan, bola matanya bergerak gelisah. "Gini, coba kamu pikir, yang jadi istriku itu kamu atau Nina?"
Pertanyaan apa itu? Anna tertegun, heran, tapi tetap dijawab. "Ya, aku lah!"
"Ya udah, itu! Karena kamu istri aku!" sahut Logan, jarinya diayunkan ke bawah seakan menegaskan.
"Ya ... terus, emang kenapa? Nina kan membutuhkanmu. Kamu tahu sendiri kan, kalau dia lagi sakit?"
Kenapa harus bahas ini? Jadi kesal Logan dibuatnya, sampai akhirnya ia mendadak membanting setirnya. Anna terkejut, hampir tubuhnya terhuyung ke depan. Untung saja, ia pakai sabuk pengaman dan mendekap perutnya. Bisa-bisa ia celaka karena terbentur dashboard. Lantas Anna menoleh, melihat Logan yang terengah-engah dengan kepala bersandar pada setir mobil. Anna cemas, berpikir pria itu terluka.
"Logan? Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka?" cecar Anna, bukan main paniknya.
Perlahan, Logan mengangkat kepala, menoleh pada Anna yang langsung menghela napas lega karena pria itu dalam keadaan baik. Hening, keduanya larut dalam tatapan dan pikiran masing-masing. Mata Logan yang menyimpan amarah, perlahan memudar dan menyendu.
"Anna, aku lelah. Aku tidak ingin berpura-pura terus. Aku ingin mengatakan pada Nina bahwa hubungan kami sudah berakhir. Bagiku, Nina masa lalu. Aku tidak mengharapkan melihat ke belakang lagi, mengenang momen tahun-tahun yang aku lalui bersamanya," lirih Logan, setiap kata adalah helaan beban yang dipikul dalam hati yang menyesakkan tapi melegakan sedikit demi sedikit.
Anna mengatup bibirnya, mengernyit dengan otak yang berusaha mencerna setiap kalimat. Inikah isi hati pria itu? Kasihan, tapi sebagai seorang wanita, hatinya juga memihak pada Nina. Bagaimanapun, ini juga menyangkut nyawa seseorang.
"Tahanlah sedikit. Kamu tahu kan, kesehatan Nina memburuk kalau dia tahu soal itu?" kata Anna perlahan, mencoba memberi pengertian.
Namun, Logan tetap tidak menerima dan bersikeras pada pendiriannya. "Anna, kenapa kamu harus memikirkan orang lain? Kenapa tidak kamu pikirkan diri kamu sendiri dan bayi ini?!" katanya, semakin lama nada ucapannya meninggi sambil menunjuk ke arah perut Anna.
__ADS_1
Lama-lama, Anna tertunduk dengan mata sendu dan gelisah. "Aku ... hanya khawatir jika sampai Nina...."
"Dia tidak akan mati!" sentak Logan, meraih kedua bahu Anna, lalu sontak menghadapkan tubuhnya ke arahnya. "Sudah, jangan bahas ini lagi!" Logan melepaskan pengangannya dari bahu Anna dengan sisa kemarahan tanpa melihat raut wajah Anna yang kuyu dan muram. Ia kembali mengendarai mobilnya, menyetir tanpa bicara sampai ke rumah.[]