
Kenapa tiba-tiba....?
Anna bingung, tapi kemudian paham. Matanya perlahan menyendu, menepuk pelan pundak Logan beberapa kali. Pria itu pasti ingin menumpahkan kesedihan sejenak pada dirinya. Itu menurut Anna.
Beda dengan Logan. Pelukan ini tanda bahwa ia ingin menyatakan perasaan terdalam yang tak bisa diucapkan. Seluruh perhatian Anna menyentuh hatinya. Namun, ia belum bisa menyimpulkan perasaan itu. Apa ini hanya sekadar terkesan pada ketulusan yang diberikan Anna?
Beberapa menit kemudian, Logan melepas pelukannya. Ia kembali pada kesadarannya, canggung karena sikap tiba-tibanya ini. Cukup lama berpikir baginya tanpa menatap Anna untuk membuat sebuah keputusan. Perlukah ia mengatakan alasan dari sikapnya tadi?
Anna juga canggung, tapi tak perlu lama baginya untuk seperti ini terus. "Ya udah, pergilah ke rumah sakit. Papa pasti sudah menunggu sejak tadi."
Logan mengangguk kikuk. Untungnya gadis ini cepat tanggap untuk mengeluarkannya dari situasi ini. "Baiklah, aku pergi dulu."
Anna mengangguk, dan Logan berjalan kaku meninggalkannya. Namun, baru 3 langkah, Logan berbalik. "Hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa, katakan pada bi Rima, atau telepon saja aku," kata Logan, kali ini Anna baru melihat pria itu segrogi ini. "Lalu, jangan begadang, dan pintunya....
"Pergilah," potong Anna, tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Hati-hati ketika menyetir, oke?"
"Oke." Logan mengangguk dan tersenyum kaku.
Meski Anna meyakinkannya dengan sikap tenangnya, Logan tetap saja melangkah pergi dengan hati cemas. Bagaimana bisa tenang meninggalkannya yang tengah hamil sendirian di dalam rumah besar ini? Padahal, di rumah ada pembantu, seorang sopir, lalu dua orang satpam.
Ouh! Apa ia terlalu berlebihan?
...đź’Ť ...
Elina sadar pada keesokan harinya. Senyumnya tampak, setelah seorang suster membantunya membersihkan badan dan mengganti pakaian.
Hal yang mengembirakan ini langsung Logan sebarkan pada papanya. Anna turut senang, lantas ikut bersama Matthew ke rumah sakit untuk sekalian membawakan baju ganti Logan.
Logan saat ini sedang berada di luar kamar inap ibunya karena suster dokter tengah memeriksa lanjutan kesehatan ibunya. Anna dan Matthew datang tepat pada saat itu, dan Logan beranjak dari kursi untuk menghampiri mereka.
"Bagaimana kabar mama?" tanya Matthew, langsung mencecar.
"Sudah agak mendingan kok, Pa," Jawab Logan disertai senyuman semringah, lalu Matthew menghela napas lega karena bersyukur.
"Kamu udah makan?" tanya Anna, setelah menunggu gilirannya berkata.
__ADS_1
"Belum." Logan menjawab seraya tersenyum tipis.
"Aku bawa baju ganti buat kamu." Anna langsung menyodorkan paperback warna hijau yang dibawanya ke tangan Logan. "Ganti bajunya dulu, habis itu kita sarapan di restoran dekat sini."
Logan menerima perhatian itu dengan canggung tapi senang. Tak ada yang bisa dikatakan selain "terima kasih", dan senyuman tulus meski hanya sekejap.
"Oya, kamu sama papa udah sarapan?" tanya setelahnya.
"Udah kok," sahut Anna, yang diamini oleh anggukan Matthew.
Lega bahwa suasana mulai membaik, Logan pun juga akan menjalani kegiatan ini dengan kekalutan yang telah dihempas. Ia pun beranjak ke kamar mandi setelah percakapan itu untuk berganti pakaian, sementara Anna menggandeng ayah mertuanya untuk menemui Elina di ruang inapnya.
Dokter telah selesai memeriksa Elina, tepat pads saat pintu kamarnya dibuka oleh Anna. Raut wajahnya cerah melihat suami dan menantunya datang, seakan tenaganya langsung terisi penuh dengan kehadiran mereka.
"Apa kabar, Ma?" sapa Anna, memeluknya, setelah Elina memeluk sang suami yang begitu sangat mencemaskannya.
"Mama udah baikkan, apalagi setelah melihat kamu datang," jawab Elina, riang sekali.
"Masa? Kalau begitu, aku vitaminnya Mama dong?"
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Meski keadaan istrinya sudah membaik, suara seraknya menandakan kecemasan.
"Nyonya Elina sudah membaik. Saran saya, tolong jangan biarkan nyonya Elina dalam keadaan tertekan ataupun stress. Obatnya terus diminum, lalu istirahat yang cukup," jawab dokter itu, tersenyum ramah. "Nanti sore, nyonya Elina bisa pulang ke rumah."
"Terima kasih, Dokter," kata Matthew, lega bercampur sedikit khawatir. Dokter dan suster yang menemani undur diri untuk keluar ruangan.
Ketiganya mengucapnya terima kasih sebelum mereka pergi. Kemudian, Matthew berkata pada istrinya, setelah cukup lama menahan diri.
"Kau dengar kan kata dokter? Kau harus banyak-banyak istirahat. Jangan memikirkan hal yang membuatmu terbebani?"
Elina hanya tersenyum geli mendengar nasihat suaminya—ia tahu, betapa cemasnya pria itu padanya. Namun, rasa tidak enak hati membuat Anna terlihat muram dan menunduk.
"Maaf, ya, Pa. Kalau aja aku menjaga mama dengan benar waktu itu, pasti nggak bakal begini?" gumam Anna, sesal.
"Hei!" Elina menegur sambil menepuk pelan punggung tangan Anna. "Jangan salahkan dirimu. Saat itu kan Mama yang ninggalin kamu tanpa bilang-bilang. Udah, jangan dipikirin."
__ADS_1
"Iya, Anna. Kamu bukan penyebab mama begini," timpal Matthew setuju.
Yang membuat Anna terasa diterima di rumah ini adalah kedua mertuanya yang sangat baik. Mereka begitu tulus menyayanginya, begitu juga dengan sebaliknya.
Senyuman getir Anna menandakan bahwa rasa bersalahnya berkurang, setidaknya sedikit. Selanjutnya, pintu kembali dibuka oleh Logan yang telah berganti pakaian. Anna mendekatinya seraya tersenyum, lalu melingkarkan tangannya ke lengan Logan.
Anna kemudian berbalik menghadap kedua mertuanya, berkata dengan senyum lebar, "Pa, Ma, aku mau ngajak Logan sarapan dulu, ya."
"Ajak saja, Anna. Sejak tadi Logan belum makan," sahut Elina, seruan riangnya menandakan kegembiraan karena melihat hubungan Anna dan Logan yang mulai membaik.
Namun, Logan ingin di samping mamanya. Anna pun tak membiarkan penolakan itu, langsung saja menarik Logan keluar. Akhirnya, ia tidak kuasa menghentikan Anna. Ia berjalan berdampingan di lorong dengan wajah tercengang menatap Anna yang tengah tersenyum lebar.
"Kau sengaja?" tuding Logan, tapi tidak sengit.
"Kalau nggak gitu, kamu nggak akan sarapan," aku Anna, mengangguk mantap, tetap menatap ke depan.
"Ya, aku pengin dengar soal hasil pemeriksaan mama dulu." Logan tetap protes, tapi langkahnya tetap mengiringi Anna.
"Mama dalam keadaan baik, dan sore ini mama bisa pulang ke rumah," jawab Anna.
Oke, ini melegakan. Tapi tunggu dulu, Logan merasa sedikit janggal dengan posisi ini. Ia melirik lengannya yang tengah digandeng manja oleh Anna. Senyum gelinya terkembang diam-diam, membiarkan Anna tak sadar akan sikapnya ini untuk beberapa saat. Barulah, ketika mereka berbelok ke kanan pads ujung lorong ini, Logan berkata dengan nada sarkas.
"Syukurlah, mama udah boleh pulang. Tapi omong-omong, kayaknya kamu betah, ya, gandeng tangan aku?"
Ting!
Anna baru saja terhenyak, lalu perlahan melirik lengannya yang erat melingkar pada lengan Logan. "Eh!" serunya, sontak melepaskan gandengan tangannya, dan nenjauh.
Malu sekali, sampai Anna cuma bisa menunduk dan tak berani menatap Logan. Gadis ini begitu lucu, Logan memalingkan wajah sambil terkekeh tanpa suara.
"Oh! Logan?"
Tiba-tiba terdengar seruan dari suara tak asing. Keduanya menoleh ke arah datangnya suara. Seketika, wajah mereka memucat, dengan mata membulat ketika menemukan sosok seorang wanita yang sedang berdiri tak jauh di hadapan mereka.
Nina. Gadis itu tersenyum lebar, matanya berbinar menatap Logan yang tercengang dengan mulut setengah terbuka. Kemudian, kaki mungilnya berlari cepat menghampiri Logan, dan langsung memeluk pria itu tanpa memperhatikan sekitarnya.
__ADS_1
"Logan, aku merindukanmu."[]