Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Ya Sudah


__ADS_3

Sesampainya di rumah, tidak ada yang dilakukannya selain masuk ke dalam kamar. Anna melangkah ke sofa, duduk di sana sejenak, lalu termenung menatap foto pernikahannya yang terpajang di dinding. Notifikasi pesan masuk, membuatnya terkesiap dari lamunan. Ia tidak mengharapkan Logan yang mengirim pesan, karena ia tahu bahwa pria itu sedang sibuk dengan Nina.


Pesan itu dikirim dari dokter kandungannya, yang menyatakan bahwa besok sore ada jadwal periksa kandungan. Anna menghela napas sembari meletakkan ponsel, menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa, dan termenung lagi seakan seperti sedang banyak pikiran.


"Besok pergi sama siapa? Sama mama? Nggak mungkin." Ia bergumam dan menggeleng cepat. "Nggak mungkin minta Logan buat nganterin. Dia pasti lagi sibuk. Apa Tasya aja?"


Beginilah nasib perempuan hamil yang tidak dicintai suaminya. Sebenarnya, ia tak perlu terlalu risau. Hanya saya, yang dipikirkannya adalah soal tanggapan orang-orang, apalagi keluarganya. Mereka akan tahu bahwa selama ini ia hanya berpura-pura bahagia menjadi istri seorang pria tampan yang kaya seperti Logan. Kehidupannya itu dianggap beruntung, padahal aslinya justru kesialan bagi Anna.


Sebentar lagi mau masuk waktu Zuhur dan makan siang. Ia bermaksud menunggunya sambil berbaring di sofa dan memainkan ponsel. Namun, karena bawaan bayi, tahu-tahu matanya berat untuk terus terbuka.


Lama kelamaan ponsel tergeletak di atas perutnya, lalu ia tertidur dalam hitungan detik. Sangking ngantuknya, ia tak mendengar pembantu mengetuk pintu untuk memanggilnya makan siang.


Akhirnya, waktu pun molor sampai sore tiba. Bahkan, mobil Logan telah sampai di rumah, membawa Elina dan Matthew kembali dari rumah sakit. Sang pembantu bergegas membantu membawa barang majikan yang dikeluarkan dari bagasi mobil. Hal yang ditanyakan oleh Elina padanya adalah menantunya.


"Mana Anna? Apa kau sudah menyiapkan makan siang untuknya?"


Ibu Rima menjawab seraya berjalan di sisi Elina. "Nyonya Anna sepertinya sedang di kamar. Tapi, saat saya menyuruhnya untuk makan siang, nyonya tidak keluar juga dari kamar."


Logan yang mendengarnya juga, sontak menoleh dan mengernyit. "Apa? Kenapa tidak lapor ke saya? Kalau terjadi apa-apa sama dia bagaimana? Ck!"


Dalam keadaan marah dan cemas, Logan berlari ke dalam kamarnya, setelah mengantar kedua orangtuanya sampai di ruang tamu. Pintu kamarnya terkunci dari dalam, tumben sekali. Logan menggedor-gedor dan menekan knop pintu dengan kasar.


"ANNA! ANNA! BUKA PINTUNYA!" teriaknya sambil menggedor. Logan menempelkan telinganya ke pintu—tak terdengar sahutan.


Matthew telah berada di sampingnya untuk memeriksa apa yang telah terjadi. "Bagaimana?" tanyanya.


"Pintunya dikunci dari dalam, Pa." jawab Logan seraya menoleh, wajahnya telah dipenuhi oleh keringat.


Mau tidak mau, ia mendobrak pintu itu. Logan melangkah mundur, mengambil ancang-ancang, lalu akan membenturkan tubuhnya ke pintu. Namun, pintunya terbuka dari dalam, Logan pun tak bisa menghentikan tubuhnya yang telah menumpukan ke pintu, sehingga ia pun tersungkur jatuh karena Anna berdiri di samping pintu. Anna tertegun menatap Logan yang terjatuh. Tapi, diam-diam tersenyum geli hanya sekilas.


"Kamu nggak apa-apa? Kok bisa jatuh?" tanya Anna polos, lalu membantu Logan untuk bangun. Kemudian, Anna dan Matthew membantu Logan untuk mengantarkannya sampai di sofa, lalu duduk di sana.


"Ini gara-gara kamu, tau nggak!" omel Logan, tak peduli jika nanti ditegur oleh ayahnya. "Kamu itu ngapain sih di dalam? Pintu dikunci. Aku udah gedor-gedor pintu, tapi kamu nggak buka juga pintunya. Dan kamu juga sudah melewatkan waktu makan siang."


Melewatkan waktu makan siang? Anna terkejut. Jadi, ia sudah cukup lama tertidur di sini?


"Ah, itu. Aku tadi ketiduran."


"Ketiduran?" sahut Logan, berseru marah. Pria itu mendengus, memutar tubuhnya sedikit, lalu berbalik lagi pada Anna. "Kamu tidur apa mati? Masa, sejak tadi bi Rima bangunin kamu, tapi kamu nggak dengar? Terus, ngapain pintunya dikunci?"

__ADS_1


Matthew yang tak tega melihat Anna dimarahi—meskipun Anna sendiri cuek saja—akhirnya menegur Logan. "Udah, Logan. Namanya juga lagi ngantuk. Kadang sampai nggak sadar."


Anna merasa menang mendapat pembelaan, ingin menyahuti papa mertuanya dalam hati. "Nah, betul kata Papa!".


Akan tetapi, Logan merasa tidak senang, sampai berpikir: "Sebenarnya, anak Papa itu, dia atau aku sih?"


"Papa sama mama udah pulang? Mama mana?" tanya Anna, mengalihkan topik.


"Mama sudah diantar ke kamarnya," jawab Matthew, lalu beranjak dari sofa. "Ya udah, Papa mau balik ke kamar lagi, ya. Mau lapor sama mama kamu. Soalnya dia cemas banget tadi."


Anna mengangguk seraya tersenyum. "Hmm! Nanti aku ke sana buat jenguk mama, ya, Pa."


"Iya," jawab Matthew sambil mengangguk dan tersenyum, lalu keluar dari kamar ini.


Sunyi lagi, Anna juga jadi canggung di dekat Logan. Maka, ia pun beranjak untuk mencari sebuah alasan. Dan yang terpikirkan olehnya adalah keluar dari kamar ini.


Logan mengikuti arah jalannya, bertanya dengan heran. "Mau ke mana?"


Tangan yang menyentuh knop pintu, berhenti bergerak. Lantas, Anna berbalik dengan wajah yang telah diubah menjadi jutek. "Mau ke ruang makan, lapar. Kamu udah makan?"


"Gimana mau makan, ada aja gangguannya," celetuk Logan, sangat pelan.


Logan ingin menyahut begini: "Ocehan Nina membuatnya tidak nyaman. Kehadirannya justru membuatku tak nafsu makan". Tapi, ucapan yang keluar dari mulutnya:


"Ya udah, aku akan makan bersamamu. Suruh bi Rima untuk mengantarkan makanannya ke sini. Kita makan bersama."


Ah, terserah! Anna menghela napas, keluar dari kamar tanpa membantah perintah Logan tadi. Bi Rima memang membantu Anna menyiapkan makan siang terlambat ini di atas nampan, tetapi Anna sendiri yang mengantarkannya ke kamar.


Logan menunggu di kamar, tiduran di sofa sambil memainkan ponsel. Ketika pintu dibuka dan Anna yang muncul, sontak ia terbangun, meletakkan ponsel di atas meja.


"Kok kamu yang bawa makanannya?" cecar Logan, cerewet sekali dia! Tidak lihat kalau Anna sedang kerepotan bawa nampan berat itu?


Anna sampai merengut dan merutuk dalam hati karena pria itu lebih memilih mengomel daripada membantunya. "Aku tidak mau merepotkan orang. Lagi pula, aku kan sekalian ke kamar," balas Anna sambil menata makanan di meja.


Logan juga membantunya. Setelah selesai menata, pria itu menepuk sisi sofa yang ada di sampingnya. "Duduk sini!"


Mata Anna yang bulat, semakin melebar. Aneh sekali tiba-tiba begini? Apa dia merasa bersalah karena bermesraan dengan Nina di depannya?


"Nggak usah, aku mau duduk di sini." Jari telunjuk Anna mengarah pada sofa kecil di samping sofa panjang tengah ditempati oleh Logan.

__ADS_1


Tapi, keputusan itu membuat Logan gusar. Anna perlu dipaksa dulu supaya mengerti. Maka dari itu, ia menarik tangannya, menghela Anna agar duduk di sampingnya.


"Duduk di sini! Jangan pernah kepikiran untuk pindah!" Logan menegaskan.


Ya sudah, Anna menyerah meski dibikin tercengang. Ia akan meraih sepiring nasi untuknya, tetapi Logan dengan cepat merenggutnya untuk diisi oleh sepotong ayam bakar, sedikit sambal, dan sayuran yang cukup banyak. Anna cuma terheran-heran melihatnya.


"Nih, habiskan!" Logan meletakkan piring yang sudah penuh oleh macam-macam lauk ke tangan Anna.


Gadis itu melirik piringnya, tercengang. "Banyak banget," keluhnya. "Aku nggak serakus ini kalau makan."


"Nggak usah malu. Memangnya aku nggak tau kalau kamu makannya banyak?" sindir Logan, kini mengisi piringnya dengan lauk pilihannya.


"Ya, emang. Tapi ngambilnya nggak perlu langsung seabrek juga!" timpal Anna, gemas tapi jengkel.


Setelah melihat piring Anna sekali lagi, Logan berpikir bahwa yang dikatakan Anna ada benarnya. Tapi ia tidak mengakui, dan alih-alih mencari solusi untuk Anna.


"Jangan banyak protes. Udah, makan aja!"


Terpaksa. Anna menghela napas, memulai dengan sepotong ayam yang dicampur nasi dalam suapan pertamanya. Diam-diam Logan mencuri pandang dan tersenyum. Pipi Anna yang menggembung saat mengunyah terlihat lucu baginya. Lalu, ia kepikiran akan sesuatu, ingin rasanya ia mengatakan pada Anna.


Namun, ia ragu karena gengsi yang terlalu menanjak dari keinginan hati. Sambil makan, ia berpikir. Berulang kali mau membuka ucapan, tapi malah urung. Aduh, betapa ribetnya memiliki sifat ini!


"Logan," panggil Anna tiba-tiba, yang sejak tadi tenang mengunyah makanannya.


"Hmm? Apa?" Sahutan Logan terdengar dingin, tapi di dalam hati rasa penasaran sangat besar.


"Dokter kandungan kirim pesan WA. Katanya, besok ada jadwal check kandungan."


Jadi, bukan hanya Logan yang dikirimi pesan oleh dokter itu? Mencengangkan. Topik pembicaraan yang bagus ini. Kenapa nggak dari tadi kek, dibahasnya? Logan jadi semangat dan menggembangkan senyum meski sekejab karena ingin mempertahankan martabatnya di depan Anna.


"Terus?" tanyanya, pura-pura datar seperti biasa.


"Cuma kasih tahu aja sih."


Really? Logan membeku. Dikira Anna akan memintanya untuk mengantarkannya ke dokter kandungan. Gadis itu sengaja bikin dia meruntuhkan harga dirinya, atau memang tidak peka?


"Oh," gumam Logan pelan. "Ya udah, kalau gitu kita pergi bareng."


Sontak Anna mematung dengan tangan menyendokkan makan ke mulutnya yang terbuka. Gadis itu tercengang, sementara Logan menutupi groginya dengan melahap makanan tanpa melirik Anna sama sekali.[]

__ADS_1


__ADS_2