
Seakan sudah lama sekali tak melakukannya, Anna sampai hampir lupa menu sarapan kesukaan Logan. Anna berpikir untuk membuat roti lapis isi sosis atau daging. Namun, saat Anna memeriksa kulkas, ia tertegun.
"Nggak ada bahan makanan di kulkas?" gumamnya tercengang. "Kalau kayak gini, gimana mau bikin sarapan?" Anna menutup pintu kulkas, kecewa. "Tumben banget Logan nggak punya persediaan? Apa karena tinggal sendirian, makanya dia lebih milih makan di luar? Ya udah, pesan makanan aja deh!"
Anna memiliki restoran halal langganannya. Ia berpikir untuk memesannya di restoran itu. Akan tetapi, ponselnya masih ada di kamar. Maka, Anna bergegas kembali kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya. Namun, langkahnya terhenti kala tak sengaja mendengar percakapan Logan di telepon.
"Apa? Nina sakit kanker rahim? Bagaimana bisa? Kenapa Nina tidak memberi tahu?"
Anna membeku, terkejut bukan kepalang. Tubuh terasa lemas setelah mendengarnya, dan Anna bersandar di samping ambang pintu dengan air mata telah tergenang.
Iba hati ini. Anna sedang berbahagia dengan Logan, tetapi Nina malah menderita. Anna merasa bersalah. Hatinya terlalu lembut, sehingga air mata tak tahan lagi mengalir deras tanpa suara.
"Ya udah, laporkan terus perkembangannya."
Terdengar Logan menyudahi pembicaraannya. Anna buru-buru menghapus air matanya, bergeming agak lama di sana, barulah keluar menemui suaminya sembari tersenyum.
"Nggak ada bahan makanan ya, sayang? Pesan makanan aja nggak apa-apa, ya?" kata Anna seraya menghampiri Logan, lalu meraih ponselnya di atas nakas.
"Em ... gimana kalau kita makan di kafe terdekat. Kita cari makanan halal, gimana?" Logan menyarankan.
"Boleh juga," timpal Anna, senyumnya lebih lebar agar Logan tak curiga bahwa ia telah mengetahui penyakit Nina.
Setelah mengambil tasnya, Anna dan Logan keluar dari apartemen. Logan menyetir mobilnya sendiri, menawarkan diri untuk mengantarkan istri tercintanya dengan selamat. Hal itu sangat membahagiakannya, apalagi setelah ini mereka akan berpisah sementara karena Logan akan ke Jakarta.
Hanya saja, Anna terlihat murung sejak berada di mobil seraya menatap ke jendela mobil. Senyum Logan menghilang. Digenggamnya tangan istrinya hingga Anna menoleh padanya, lalu Logan bertanya.
"Ada apa? Kok kelihatan sedih?"
Mata Anna melirik ke arah lain. Ya, Anna memang sedih, merasa berdosa telah bahagia dia atas penderitaan Nina.
"Ah, iya. Aku sedih karena kau akan ke Jakarta," jawab Anna berkilah.
__ADS_1
Logan tertawa geli. "Oh, karena itu? Ya udah, kalau gitu aku pesan tiket untukmu. Kita ke Jakarta bersama, eotte?"
"Sembarangan!" tegur Anna, memukul ringan punggung tangan Logan yang sedang menggenggam tangannya. "Emang perusahaan itu punya nenek moyang aku? Baru aja bulan kemarin aku cuti liburan."
Logan tahu. Diam-diam Logan membuntutinya saat Anna berlibur di pulau Jeju dengan menyamar memakai jaket hoodie hitam, berdiri agak jauh seraya mengamati Anna.
"Terus, kau rela menahan rindu selama seminggu?" goda Logan, senyum jahilnya berusaha disembunyikan.
"Mau nggak mau. Apalagi, kerjaanku lagi banyak," sahut Anna, pura-pura murung seraya menghempaskan diri. "Oh iya! Gimana sama penyamaranmu menjadi Woojin? Apa kau akan terus berpura-pura dan bekerja di sana?"
"Aku akan bilang pada Farhad bahwa penyamaranku sudah terbongkar. Jadi, dia akan mengeluarkanku dari perusahaannya."
"Oh. Kukira, kau akan menjalani kehidupan gandamu, dan melakukan romansa perkantoran denganku," seloroh Anna, tertawa kecil sembari menutup mulutnya.
"Ide bagus sih? Nanti kau harus siap diolok-olok karena berpacaran dengan pria aneh dan cupu." Logan menimpali dengan nada mencemooh.
"Memangnya kenapa kalau cupu? Aku tak pernah melihat orang dari penampilan, tapi dari sifatnya tahu!" balas Anna sedikit menyindir.
"Nggak gitu juga kali!"
Logan malah tertawa walaupun pipinya sakit dan memerah akibat cubitan gemas dari Anna. Kemudian, mereka saling memandang lagi, dan Logan menggenggam tangan Anna, menciumnya. Suasana hatinya begitu bahagia, tetapi Anna tidak meski senyuman menghiasi bibirnya.
"Sayang, sabar, ya? Setelah masalahku selesai, aku akan kembali padamu, tidur bersama, bermesraan, berlibur keliling Korea kapanpun kau inginkan," ucap Logan, tatapan lembutnya melelehkan hati Anna.
Tapi, jika seperti itu, bagaimana dengan nasib Nina yang tengah berjuang dengan penyakitnya? Anna murung lagi, tetapi hanya sekejab karena tak ingin membuat Logan bertanya-tanya.
"Terus, kau akan jadi pengangguran?" sahut Anna meledek. "Aku nggak pengen punya suami pengangguran."
Logan tertawa terbahak-bahak. "Ya, nggaklah. Aku nggak akan jadi pengangguran. Ketika kau bekerja, aku akan sibuk membereskan rumah, dan memasak untuk istriku."
"Bisa aja deh ngelesnya." Anna tersenyum malu, tersanjung mendengar ucapan yang entah akan terlaksana tidaknya.
__ADS_1
Apa yang menimpa Nina, Anna jadi ragu untuk hidup bersama dengan Logan seperti dulu. Sebagai sesama perempuan, Anna paham bagaimana sakitnya jika di posisi Nina. Namun, Anna tahu Logan tidak akan pernah menyerah padanya.
Apa yang harus dilakukannya? Apa ia harus melanggar janji lagi untuk pergi dari hidupnya agar Logan terus bersama dengan Nina?
...💍...
Seorang pria berjaket hoodie berjalan di tengah malam di pinggiran kota Istanbul. Ia melangkah seraya menunduk, tetap tenang tanpa terlihat mencurigakan.
Namun, dia merasa seperti ada yang mengikuti di belakang. Langkahnya terhenti untuk menyakini bahwa dia mendengar suara langkah sepatu, lalu menoleh ke belakang.
Senyap, tak terdengar apa pun. Apa dia salah mendengar? Atau....
Pria itu bergidik. Langkahnya yang tadinya pelan, lama-lama dipercepat, kemudian berlari panik. Orang yang mengikuti keluar dari persembunyian, mengejarnya, takkan dibiarkan pria itu lolos.
Pria itu berlarian dari gang ke gang, hingga akhirnya dia menemui jalan buntu. Dia bergeming panik, menoleh ke belakang kala mendengar suara langkah orang yang mengejarnya hampir dekat.
Dia mencoba menghindar dengan kembali berlari. Sayang, orang yang mengejarnya telah tiba di hadapannya, dan menghadangnya. Pria itu panik, mundur selangkah dengan kaki gemetaran.
Orang yang menguntitnya mengeluarkan pistol dari sakunya, mengacungkan ke hadapannya pria itu setelah menarik hammer.
"Saya mohon, jangan bunuh saya. Tolong, ampun," mohon pria itu, jatuh bersimpuh di atas tanah yang becek.
Mata gelap di balik topeng pria bersenjata itu berkilat. Telunjuknya bersiap menekan pelatuknya. Wajah pria itu memucat, debaran jantungnya secepat rollercoaster. Sebentar lagi, ajal akan menjemputnya.
"Tolong, Pak!" jerit pria itu, bahkan sampai bersujud beberapa kali. "Saya akan lakukan apa pun. Membuat keterangan palsu ... saya akan menutup mulut saya. Saya akan berjanji."
"Baik. Pak Juan tenang saja, saya yang akan membuat Anda menutup mulut selamanya," kata pria itu, suaranya teredam oleh masker hitam yang menutupi mulutnya, tetapi masih jelas terdengar.
Pria paruh baya yang bernama Pak Juan itu mendelik, kedua tangannya diangkat di samping kepalanya. "TOLONG! TIDAAAAAK!!!"
Dor!
__ADS_1
...[]...