Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Red flag


__ADS_3

..."Andai kau tahu...


...ku tak pernah mampu tuk lupakanmu...


...Tak bisa kupaksa hati ini tuk membencimu."...


...💍...


Park Woojin? Kenapa dia....


Anna tersentak dan spontan beringsut. Woojin tertegun sejenak, lalu tersenyum kikuk seraya berkata, "Maaf, saya nggak bermaksud buruk pada Sunbae."


Anna memalingkan wajah karena gugup. Perlakuannya ini mengingatkannya pada Logan yang pernah melakukan hal sama padannya. Tapi, kenapa pria itu melakukan hal ini dan menjadi followers-nya?


"Nggak apa-apa," jawab Anna bergumam. "Kamu kenapa di sini? Nggak ikut makan malam bareng?"


"Aku ... hari ini aku capek," jawab Woojin seraya memalingkan wajahnya ke langit. "Pengin istirahat di rumah aja."


Anna tersenyum mencemooh. "Kamu nggak melakukan pekerjaan apa pun dari tadi," sindirnya pelan, tapi Woojin mendengarnya, sehingga pria itu buru-buru membantah.


"Siapa bilang? Aku tadi mengambilkan kopi, mengkopi beberapa berkas, terus..." Namun, Anna tetap mencemoohnya, dan ia kembali membela diri dengan bergumam pelan. "Bukankah hal itu juga melakukan pekerjaan?"


Pekerjaan remeh lebih tepatnya. Tapi, Anna kasihan juga melihatnya begitu, tak seperti dirinya yang langsung mendapatkan tugas di hari pertama karena kualifikasinya yang sudah pengalaman.


"Ya udah, besok aku akan memberikan tugas sesuai dengan keahlianmu," kata Anna, tak tega meledeknya terus. "Aku sudah melihat data-datamu, dan aku pikir ada pekerjaan yang cocok denganmu."


"Jeongmalyo?" seru Woojin senang dan penuh harap. "Terima kasih, Sunbaenim."


Pria yang polos. Anna tersenyum melihat reaksi berlebihannya itu. Kemudian, ia jadi teringat pada suatu hal yang membuatnya penasaran. Anna akan menanyakannya, tetapi pria itu berseru kala melihat bus yang akan mengantarkannya ke tempat tujuan sedang mendekat.


Mobil itu berhenti, dan Anna bergegas menaikkinya. Anna melirik curiga pada saat Woojin ikut masuk. Anna berpikir, apakah pria ini penguntit?

__ADS_1


"Kamu tinggal di mana?" Anna lantang berani bertanya, dan untungnya Woojin tak tersinggung, menjawab dengan polos.


"Di Issadong."


"Oh," gumam Anna pelan. Tempat yang dikatakan pria itu juga merupakan daerah tempat tinggalnya.


Bus terus berjalan, keduanya hening. Anna tidak tahu sedang apa pria itu, sejak percakapan terakhir ia selalu menatap ke arah jalan dari jendela bus. Namun, Park Woojin sedang berusaha menghilangkan keheningan dengan sebuah pertanyaan.


"Sudah berapa lama tinggal di Seoul?"


Anna tercengang sesaat seraya menoleh padanya, berpikir apakah pertanyaan itu untuknya? Namun, melihat pandangan Woojin, sepertinya pertanyaan itu memang untuknya.


"Udah 6 bulan," jawab Anna, kemudian sontak mengajukan pertanyaan lain pada Woojin. "Kau sendiri ... pernah ke Indonesia? Bahasa Indonesiamu lancar sekali."


Park Woojin mengangguk. "Aku pernah 6 tahun tinggal di sana, tapi kembali ke negara ini karena ibuku meninggal."


Pria itu menunjukkan raut wajah sendu meski sempat tersenyum getir di akhir kalimatnya. Dan itu mempengaruhi Anna, sehingga rasa bersalah terbesit.


Park Woojin seakan membeku. Anna menyadari keheningan itu, dan menatapnya lamat-lamat. Pria yang selalu kikuk dan ceria itu menunjukkan ekspresi dingin meski tatapannya lurus ke depan.


Akan tetapi, tak berlangsung lama, Woojin kembali tersenyum sambil menoleh padanya, walaupun senyum itu terlihat dipaksakan. "Pria yang aku sebut ayah itu sudah aku sebut tiada sejak lama."


Anna tercengang tak berkedip, ucapan Woojin membuatnya ingin bergeser darinya. Kerceriaan yang tiba-tiba dibuatnya terkesan aneh, apalagi mengingat semua kebetulan yang datang hari ini juga. Ia berpikir akan menjaga jarak dengan pria itu, tak menerima pertemanan di media sosialnya, apa pun itu alasan yang dia punya!


...💍...


Pagi yang hening di ruang makan. Di sana hanya ada Nina, Elina, dan Matthew. Logan tak menemani mereka sarapan sebab pria itu sudah tak di Jakarta beberapa waktu lalu.


Namun, bukan hanya ini saja suasana muram di rumah ini berlangsung, lebih tepatnya sejak pernikahan Nina dan Logan. Rumah ini jarang disinggahi Logan, bahkan Nina dan Logan tak pernah sekamar. Pria itu menjaga jarak dengan sikapnya yang dingin. Menyakitkan, tapi Nina berusaha bertahan. Harapnya, Logan akan luluh suatu saat nanti.


Sikap mertuanya juga cukup membuatnya sedih. Mereka terasa asing, walaupun Elina masih memperlihatkan sikap lembut dan ramahnya pada Nina. Sesekali, Elina mengajaknya mengobrol karena iba. Tapi tetap saja, rasanya canggung.

__ADS_1


"Ma," panggil Nina setelah makanannya habis. "Aku ingin ke butik. Mama mau ikut?"


Elina tersenyum tipis. "Em ... Mama sedang kurang enak badan, kamu aja yang pergi," jawab Elina, berusaha agar tak menyakiti perasaan Nina.


Tapi, Nina tetap saja sedih. Senyuman paksanya cuma untuk menutupi perasaan itu. "Ya udah, tidak apa-apa. Mama istirahat di rumah aja, ya."


Elina tak sanggup menatap Nina dan tetap menimpali dengan anggukan. Ia merasa bersalah memperlakukan Nina begini. Ia masih belum bisa menerimanya sebagai menantu, apalagi tentang Anna masih membekas dalam benak.


Matthew berangkat kerja setelah sarapan, dan Elina mengantarkannya sampai pintu. Sementara Nina pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Nina menatap ke sekeliling kamar, ekspresi wajahnya memelas. Kamar luas ini terasa hampa dan dingin. Tiap malam ia selalu berbaring sendirian dengan bergelung kesedihan. Air mata selalu keluar.


Teringat saat malam pertama pernikahan mereka. Logan meninggalkannya setelah berganti pakaian. Nina memohon agar jangan pergi, tetapi Logan menghempaskan pelukan Nina, lalu berjalan menjauh. Logan tahu bahwa Nina pasti akan mencarinya ke vila pribadinya, tapi Nina tak menemukannya. Sepertinya, Logan sudah mempersiapkan tempat persembunyian lain untuk menghindarinya.


"Dan sekarang," gumam Nina seraya duduk di ranjang. "Dia pergi ke luar negri tanpa boleh aku tahu di mana keberadaannya. Apa aku harus memaksamu lagi agar kau di sisiku, Logan?"


Air mata mengalir di pelupuk mata. Nina menyekanya agak kasar, lalu mengalihkan perhatian pada ponselnya yang berdering. Diana menelepon.


Nina beranjak, meraih mantel, lalu turun ke bawah. Mobil yang mengantarkannya sudah siap, tinggal melaju membawa Nina ke tempat tujuan.


Mamanya sudah sampai di sana, dan Diana heran melihat Nina pergi sendirian lagi ke tempat ini. Nina duduk di sebuah kursi, sementara Diana tengah memilah dua setel pakaian yang dipilih oleh karyawan butik.


"Apa sulit buat membujuknya datang?" tanya Diana menyindir, kadang melirik sejenak.


"Mama Elina sedang tidak enak badan," jawab Nina, membela diri agar terhindar dari rasa malu.


Diana mencemooh. "Alasan andalan untuk menolakmu. Kau benar-benar bodoh mempercayainya."


Nina tak menjawab. Memang begitu kenyataannya. Titel "menantu" hanya di atas kertas, tapi hati mereka masih tak rela posisi Anna digantikan olehnya.


"Logan masih di luar negri?" cecar Diana, mengalihkan topik yang justru membuat hati Nina semakin terluka.

__ADS_1


"Ma," panggil Nina, Diana pun menoleh. "Kesabaranku sudah habis. Apa Mama punya cara supaya Logan mau pulang?"[]


__ADS_2