
Mobil melaju di jalanan yang cukup ramai. Namun, keheningan tercipta di dalam mobil. Bukannya tak berani untuk memulai pembicaraan, tapi Anna ragu untuk mengajak Logan ngobrol, sementara perasaan pria itu sedang kalut karena peristiwa ini. Namun, Anna tidak bisa melihatnya seperti ini terus.
Setelah mengantarkannya pulang, Logan akan kembali ke rumah sakit untuk gantian jaga dengan ayahnya, dan pasti tidak akan kepikiran untuk makan. Makanya, Anna berinisiatif untuk mengajaknya makan malam sebelum mobil ini mencapai rumah. Anna melirik, tersenyum setelah ilham itu masuk dalam otaknya.
"Logan, aku mengidam ingin makan pecel ayam. Apa kamu bisa menghentikan mobilnya di warung yang aku tunjuk?"
Pria itu menoleh datar pada Anna, kemudian melirik pada perutnya yang tengah dielus. Hanya helaan napas, tapi tidak mendecak, Logan terpaksa mengalah pada keinginan Anna.
"Baiklah. Di mana warungnya?"
Berhasil! Sorak girang dalam hati. Senyum semringah terkembang di bibirnya. "Jalan aja terus, aku akan menunjukkan tempatnya."
Tanpa menginterupsi, Logan membelokkan setirnya ke arah jalan yang diinstruksikan oleh Anna. Dalam 10 menit, mereka sampai di sebuah warung pecel ayam pinggir jalan yang sering Anna kunjungi.
Begitu keduanya masuk ke dalam warung, bapak pemilik warung langsung menyapa Anna dengan ramah. "Eh, Mbak Anna. Udah lama nggak mampir nih. Apa kabar, Mbak?"
"Baik, Pak," jawab Anna, tersenyum, sambil duduk di depan meja panjang. Logan sendiri duduk di sampingnya, memperhatikan keakraban Anna dengan si penjual.
"Ngomong-omong, siapa cowok ganteng yang di sebelah Mbak?" tanya pria paruh baya berkulit sawo matang itu, melirik pada Logan.
"O, dia ..." Anna menoleh bingung mau menjawab apa, takutnya Logan tidak setuju jika jawab jujur.
"Teman kantor?" tebak bapak itu spontan.
Logan tak setuju, tapi ia tak melakukan apa pun. Anna yang bingung lantas tersenyum terpaksa sambil mengangguk. Iya kan sajalah ucapan bapak itu. Namun, tetap saja serba salah. Saat ia menoleh, tatapan seram Logan membuatnya terhenyak.
"Mbak, Mas. Ngomong-omong mau pesan apa nih?" Pertanyaan si bapak penjual pecel menyelamatkan Anna dari tatapan Logan. Anna langsung menoleh dan tersenyum.
"Oya! Em ... saya pesan pecel ayam, nasi uduk 2, teh manis es 1, terus air kosong 1."
Lagi-lagi Logan tidak setuju. Apa gadis ini memesan semuanya untuk dirinya sendiri? Ia tercengang heran, tapi sedikit jengkel juga. Pasalnya, ia tidak dipesankan hidangan apa pun.
"Ayamnya satu aja?" tanya si bapak, menyakinkan Anna. "Masnya pesan apa?"
"Dia nggak makan," sambar Anna, lebih cepat dari Logan yang baru saja membuka mulutnya. Anna tersenyum simpul ketika Logan menoleh padanya sambil ternganga.
Apa dia salah lagi? Kalaupun pria itu melesatkan tatapan seram lagi, Anna tidak akan takut dan santai saja menanggapinya.
__ADS_1
Dalam hitungan menit, pesanan Anna siap disajikan. Anna suka melihat ayam goreng di piring dalam keadaan asap masih mengepul. Tangannya dicuci dulu di westafel dekat kompor seperti kebiasaanya. Lalu, menyomot secuil ayam, yang kemudian dicocolkan sambal terasi dan dicampurkan dengan nasi setelah kembali duduk di tempatnya.
Logan hanya memperhatikan sejenak sebelum memalingkan wajah. Alih-alih Anna memasukkan makanan ke dalam mulutnya, ia menyodorkan suapan pertama ke mulut suaminya sambil berseru.
"Logan, nih!"
Pria itu kembali memutar kepalanya ke arah Anna, lalu tertegun melihat tangan Anna menyodorkan makanan itu ke dekat mulutnya. "Apa nih?"
"Malah pakai tanya?" protes Anna memelas. "Ya nasi, sambel terasi, sama ayam. Tenang aja, sambelnya nggak pedas kok."
Meski sudah diyakini seperti itu, tetap saja Logan memandang skeptis padanya. "Nggak, kamu aja yang makan. Kan, semua makanan itu buat kamu."
Ketus sekali! Merajukkah dia? Anna tersenyum mencemooh. Ucapan dingin pria itu tidak akan membuatnya menyerah. "Udah, jangan bawel! Makan nih!"
"Suka banget maksa orang," gerutu Logan jengkel, tapi akhirnya mengalah juga. Pria itu terpaksa membuka mulutnya, lalu Anna menyuapkan makanan itu padanya.
Logan mengunyah, sementara itu Anna menunggu reaksinya meski tak sabar ingin mencecarnya. "Gimana? Enak, 'kan?" tanyanya, tersenyum percaya diri.
Sangat enak! Puji Logan dalam hati. Namun, ia enggan menyatakannya karena gengsi. Akhirnya, ia hanya berkomentar, "Yah ... lumayan."
Mata pria itu membulat menatap kedua piring itu, lalu mengalihkan pandangannya lagi pada Anna. "Bukannya ini buat kamu?"
"Nggak. Aku sengaja memesannya dua buat kamu. Tapi kalau ayamnya kurang, aku akan memesan sepotong ayam lagi." Cara membujuk yang tak terduga.
Logan tak segan mengulum senyum sebagai pujian. "Oke, pesankan satu ayam untukku. Aku akan menemani anakku makan."
Anna merayakan keberhasilan rencananya dengan senyuman. Piring berisi ayam sepenuhnya digeser ke meja Logan, lalu ia berseru, "Pak! Pesan pecel ayam lagi, ya, buat saya. Yang dada montok."
Eh! Jadi, ayam goreng yang udah sompel ini buatnya? Logan merasa tidak adil. Curang sekali gadis itu. "Lho? Kok gitu? Kamu kasih saya ayam bekas kamu?" protesnya.
"Siapa bilang bekas saya? Kan tadi yang makan ayam sama nasinya kamu. Ya jadi, ayam itu milik kamu lah!" balas Anna, tersenyum menang.
"Ah! Licik sekali wanita ini!" rutuk Logan, tapi terpaksa menikmati makanan itu. Lagi pula, ada benarnya juga ucapan Anna, makanan ini yang makan duluan adalah Logan. Jadi, pecel ayam ini memang miliknya. Ia juga makan sesuai dengan cara Anna; mencuci tangan di westafel, dan menyuapkan makanan dengan tangan. Logan begitu lahap makanannya, dan Anna meliriknya dengan bibir tersenyum lebar.
Syukurlah, pria itu mau makan. Ia cemas jika Logan terlalu tenggelam dalam kesedihan, lalu menyiksa diri dengan perut kosong. Yang ada dia malah sakit, alih-alih menjaga Elina yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Ternyata, lama-lama sambal terasi ini cukup pedas. Satu gelas air putih telah habis ditenggak. Ia melihat Anna sedang menyeruput teh manis es dengan nikmatnya. Jadi kepingin juga.
__ADS_1
"Pak! Bisa pesan segelas teh manis es?" seru Logan, terkadang mendesah karena kepedasan.
Anna menyadari hal itu, dan jadi iba. "Kepedasan, ya? Nih, minum dulu!"
Logan melirik curiga. Nanti, Anna mengerjainya lagi dengan cara liciknya. "Nggak usah, aku sudah pesan minuman."
Namun, penolakan itu membuat Anna semakin cemas. Logan terbatuk setelah mengatakannya. "Tuh, kan! Udah minum deh!" Paksanya, terus menyodorkan gelasnya lebih dekat.
Batuknya semakin tak tertahankan, dan Logan tak bisa lagi menolak Anna. Sambil menatap curiga kalau-kalau Anna menertawakannya, Logan menerima gelas berisi teh manis es dari tangannya, lalu meminumnya.
Logan jadi tidak enak hati karena telah suudzon pada Anna. Istrinya itu benar-benar tulus memberikan minuman itu padanya. Bahkan setelah minuman pesanannya telah datang, Anna sama sekali tidak mengklaimnya seperti yang dipikirkannya tadi.
Makanan di masing-masing piring telah habis. Kini, Logan kembali melanjutkan perjalanan ke rumah setelah membayar makanannya. Mereka kembali terdiam di dalam mobil, apalagi Anna juga mengantuk dan hampir tertidur.
Kemudian, sampailah mereka di rumah. Anna tidak perlu dibangunkan karena ia sudah membuka matanya sebelum mobil mencapai di depan rumah.
Anna membuka sabuk pengaman, terdiam sejenak sambil memikirkan sebuah saran. "Em ... mending kamu mandi dan ganti baju dulu sebelum ke rumah sakit. Nggak nyaman kan pakai baju ginian ke sana?"
Kalau dipikir benar juga. Keringat Logan mengucur ketika berlari di lorong rumah sakit menuju kamar Elina di opname, dan ketika makan di warung pinggir jalan. Badannya terasa lengket, kurang nyaman rasanya.
"Baiklah kalau begitu," sahutnya setuju, lalu memarkirkan mobil ke dalam rumah.
Anna mempersilakan Logan untuk memakai kamar mandi duluan, sementara dirinya menuju lemari pakaian untuk mengambil kaus biru dongker berlengan panjang dan celana chino warna abu-abu. Begitu Logan selesai mandi, giliran Anna yang masuk ke dalam kamar mandi. Logan akan berjalan menuju lemari, tetapi ia tertegun melihat pakaiannya tergeletak di tepi ranjang.
Gadis itu kembali menyentuh hatinya, menyadari bentuk perhatian Anna lagi padanya. Bibirnya mengulas senyum sambil meraih pakaiannya, lalu ia memakainya dengan perasaan begitu senang.
Pria itu sudah selesai bersiap bertepatan dengan keluarnya Anna dari kamar mandi. Anna yang telah memakai piyama, menghampiri Logan. "Em ... ada yang kurang?" gumam Anna, tangan kanannya menyentuh dagunya.
Logan tertegun. Baginya, tidak ada yang salah dari pakaiannya. Anna ingin menambahkan apalagi?
Logan melongok penasaran ketika Anna menghampiri lemari, lalu membawa sebuah mantel putih. Tanpa diminta, Anna memakaikan mantel itu. Logan sendiri dengan mudahnya menuruti Anna.
Rasa hangat menjalar ke hatinya, mengulas senyum lagi sambil menatap lama pada Anna. "Udah," gumam Anna, setelah merapikan sedikit mantel Logan.
Anna mendongak, kini tatapannya bertemu dengan mata Logan. Ia tertegun, Logan tidak menghindari tatapannya sama sekali ketika kepergok. Malah, pria itu perlahan merapatkan tubuh Anna dalam pelukannya.
Mata Anna mendelik kaget.[]
__ADS_1