
Meski langit di luar cerah, hari terasa kelabu baginya. Anna termenung menatap pemandangan di luar jendela, matanya menyendu.
Hatinya berkabung. Sekalipun ingin menangis, air mata tak dapat keluar lagi. Ia tahu, menangis tak dapat mengembalikan bayi mungil yang telah diimpikannya dapat terlahir ke dunia untuk melengkapi kebahagiaan pernikahannya dengan Logan.
Dan sampai kapanpun, pernikahan ini tidak akan bisa lengkap karena dokter memvonis Anna yang akan sulit memiliki anak lagi.
Logan menata hatinya yang rapuh sejak Anna pingsan. Ia membiarkan Anna sendirian dulu untuk menenangkan diri. Namun, ia tak bisa menyiksa diri melihat istrinya seperti ini. Makanya, ia memutuskan untuk menemuinya.
Logan tertegun saat membuka pintu ruang rawat Anna. Ia mencelus, hatinya kembali diselimuti kesedihan. Ia tak kuat menatapnya karena dirinyalah yang membuat mereka kehilangan bayi dalam kandungan Anna. Logan pun urung untuk masuk, tetapi suara Anna memanggilnya dengan lembut dan lirih.
"Logan, kenapa berdiri di sana?"
Logan melirik sekejab, mendapati mata indah Anna tengah menatapnya.
"Masuklah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Anna lagi.
Meski Anna bersedia menemuinya, nyalinya tetap menciut. Logan mendekati Anna dengan langkah ragu dan pelan. Anna memutar penuh tubuhnya ke hadapan Logan, yang akan mencapai ke sisi kanannya.
Anna memperhatikannya, sementara Logan berusaha tak menatap matanya. Anna mengerti apa yang telah terjadi, dan ia tersenyum lembut.
"Itu bukan salahmu," ucap Anna, Logan tertegun.
Perlahan, Logan mengangkat kepalanya, mendapati senyuman getir dari wajah pucat Anna. Logan tak menyangka, Anna tak berprasangka buruk seperti yang dipikirkannya sejak mengetahui bahwa bayi mereka meninggal dalam rahim Anna.
Air matanya keluar lagi, tapi tetap merasa bersalah meski terharu mendengar ucapan bijak Anna. "Maafkan aku," gumamnya sesal.
"Tidak ada yang salah dalam kejadian ini. Semuanya sudah jadi takdir." Anna menggenggam lembut tangan Logan, senyum getirnya terulas lebar. "Mungkin, Tuhan memang belum mempercayakan kita untuk menjaga anugrah terbesar itu."
Hati Logan justru semakin terperosok, dan tangisannya semakin kencang sampai Logan perlahan bersimpuh dan menempelkan kepalanya pada punggung tangan Anna.
"Tetap saja, kau jadi menderita. Kau tidak bisa punya anak lagi," isaknya, kadang suaranya tercekat.
Itu memang kenyataan pahit yang harus diterima. Dada Anna sempat merasa sesak kala mendengar hal itu. Tapi, ia sudah janji pada dirinya sendiri agar tetap kuat dan tak lagi menangis. Ia menahan semua kepedihan itu.
"Karena itu, aku minta maaf," katanya, suara isakan terdengar samar. "Aku tidak bisa memberikan keturunan untuk keluargamu."
__ADS_1
Logan beranjak, tangisnya berhenti. Tangannya meluncur cepat menggapai pipi Anna, mengelusnya lembut dan penuh kasih. "Aku tidak peduli jika kita tidak bisa punya anak. Mama dan papa juga tidak mempermasalahkannya."
Anna menggeleng, janjinya untuk tidak menangis dilanggar. Air mata tumpah begitu saja. "Tidak, Logan. Bagaimanapun juga, keluarga Jonathan perlu memiliki seorang penerus. Dan aku ... aku nggak bisa memberikannya."
Kepala Anna tertunduk dalam seraya sesegukan. Jemari Logan menghela lembut dagu Anna, sehingga tatapannya kembali ke arahnya. Logan berusaha menenangkan tangisannya, menatap lamat-lamat dan penuh kasih.
"Anna, jangan putus asa. Aku juga bukan anak kandung papa dan mamaku. Kita akan mengadopsi anak jika kau mau," ucap Logan, menghibur Anna dengan senyuman dipaksakan.
Tangisan Anna berhenti, tapi hati masih sendu. Ia menenangkan diri dan menyeka air matanya. Sebelum kembali berkata, Anna menghela napas panjang. "Logan ... mari kita bercerai...."
Logan membeku, jemari yang menggenggam tangan Anna melonggar. Ia terkejut dan tak percaya ucapan itu bisa-bisanya terucap dari bibir Anna. Ini menyakitkan, melebihi rasa sakit luka di keningnya yang berdenyut.
"Anna, jangan pernah mengatakan itu," ucapnya geram tertahan.
Anna tahu Logan sulit menerimanya, dan ia tetap bersikeras mengatakan, "Logan, kita menikah karena anak itu...."
"JANGAN MENGATAKAN ITU, ANNA!" bentak Logan, sontak berdiri. "Jangan mengatakan hal itu! Kau pikir, pernyataan cintaku waktu itu lelucon? Dan kau ... kau juga mencintaiku, 'kan?" Logan memelas.
Sangat, Anna sangat mencintai Logan. Tapi....
Namun, Logan bersikeras untuk tak mempercayainya. Ia ingin Anna menarik ucapan bohongnya tadi. Kedua tangan Logan menyergap lengan Anna, menatapnya lamat-lamat dan murka.
"Tatap aku, Anna. Tatap aku! Katakan kalau kau berbohong! Aku tidak percaya dengan semua ucapanmu itu!"
Anna tetap bergeming dan semakin mempererat pejaman matanya. Logan tak tahan lagi, ia melakukan cara kasar karena terbakar amarah. Didorongnya Anna di atas ranjang, Logan berlutut di atas tubuhnya. Anna terkesiap dengan mata mendelik.
Dan, Logan mencium bibirnya dengan buas seraya memegangi tangan Anna yang sedang berusaha mendorong tubuh pria itu. Anna mencoba berucap, tetapi Logan tak memberikan kesempatan padanya, dan terus mencumbunya sampai kehabisan napas.
Yang dilakukan Logan membuat hati Anna semakin pedih. Pria itu tak ingin kehilangannya, dia melakukan ini untuk membuktikan bahwa dirinya sangat mencintainya.
Anna juga mencintainya, hanya saja ia merasa tak pantas di samping Logan. Ia tak bisa menjadi istri yang memberikannya anak.
Ciuman itu terhenti, Logan menjauhkan wajahnya sedikit dari wajah Anna. Keduanya sama-sama mengatur napas seraya saling menatap. Lambat laun, napas mereka kembali teratur, dan mata mereka menyendu dalam keheningan.
"Anna, kumohon, tetaplah di sisiku. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Cuma kematian yang memisahkan kita, Anna," ucap Logan, kekangan pada pergelangan tangan Anna melonggar, meninggalkan bekas merah akibat genggaman tangannya yang kuat.
__ADS_1
"Logan ... aku..." Anna menjawab, suaranya bergetar karena isakan.
Logan menyela ucapannya dengan kecupan di kening, hidung, lalu turun ke bibir dengan sedikit lum*tan lembut yang terasa memilukan hati. Kemudian, Logan turun dari ranjang, dan setelahnya menutupi tubuh Anna dengan selimut.
Logan menatap Anna, tersenyum tipis, dan mengelus kepalanya dengan sayang. Ia duduk di kursi yang ada di samping ranjang, membungkus jemari Anna dengan genggaman hangat yang menenangkan hati.
"Aku berkonsultasi dengan dokter, dan katanya kita masih bisa punya anak ... walaupun butuh waktu," kata Logan, yang dikatakannya bukan sebagai penghiburan ataupun harapan belaka. Ia benar-benar menanyakan hal itu pada dokter, sebab harapannya untuk memiliki anak sangat besar.
"Entahlah, Logan," kata Anna, setelah terdiam sedih. "Aku tidak yakin."
"Aku tidak akan memaksamu." Logan mempererat genggaman untuk menghalau keresahan Anna. "Oke! Kita jangan bahas soal ini dulu, ya? Em ... aku berpikir untuk membawamu pergi bulan madu ke luar negri."
Anna meringis. "Kita sudah dua kali bulan madu," sahutnya kurang setuju.
"Emangnya kenapa? Bulan madu tidak terbatas mau dilakukan beberapa kalinya. Kalau bisa, kita bulan madu sampai 100 kali, seumur hidup kita!" Ucapan Logan semangat dan polos, tetapi berhasil membuat senyum kecil Anna terkembang.
Logan turut tertawa kecil, kembali mengelus rambut Anna, lalu mengobrolkan hal lain, dan melupakan kesedihan itu.
Jangan sedih lagi, Anna, gumam Logan dalam hati.
...♡♡♡...
Daripada mengurung diri, Tita menarik Nina keluar kamar, mendudukinya di depan piano kesayangan Nina. "Nih piano udah kangen sama lo. Mainin sebuah lagu gih! Lo harus latihan lagi supaya jari-jari cantik lo itu nggak kaku," cerocos Tita, gayanya seperti ibu-ibu yang sedang mengomeli anaknya.
Nina menurunkan jemari-jemarinya dari tuts piano. "Lagi nggak mood," gumamnya menghela napas.
Tita mendengus, akan marah lagi. Tapi, suara seseorang membuat dua wanita muda itu menoleh pada sosok itu.
"Mau Mama bikinin sesuatu biar bisa mood lagi?"
Tita terkejut, langsung menyapa. Sementara Nina menyambutnya dengan seruan dan senyuman riang. "Mama? Kok Mama di sini?"
Wanita itu terus mendekati anaknya, tersenyum lebar ketika mengatakan hal ini:
"Ada kabar bagus buatmu, Nina."[]
__ADS_1