
Ruang baca yang luas, mendadak terasa sesak. Suasananya hening, tetapi kecemasan melingkupi ruangan itu. Logan membaca berkas dengan dahi mengernyit, gusar membolak-balikkan kertas-kertas itu.
Lalu, Logan melempar berkas ke meja, Gery dan Matthew menghela napas pasrah. "Kenapa tidak ada yang memberitahukan soal ini padaku?" Ia melemparkan tatapan menuding pada Gery.
Gery tertunduk. "Maaf, Pak. Saya...."
"Aku yang menyuruhnya," sela Matthew cepat, lalu menatap memelas pada Logan. "Aku ingin kau pulih dulu."
"Tapi, aku sudah sembuh sekarang," tukas Logan gusar. "Dan kalian masih tetap menyembunyikannya. Alasan apa lagi yang mau Papa pakai?"
"Karena kau sedang berduka", Matthew ingin memakai alasan itu. Tapi, tak ada gunanya dikatakan, Logan sudah benar-benar marah.
Tak ada lagi yang bicara sekarang. Logan terdiam sebab menyadari bahwa dirinya telah membentak ayahnya, ia merasa bersalah. Ia berusaha bersikap tenang lagi, walaupun hatinya masih geram.
"Lalu, apa pak Juan sudah ditangkap?" tanya Logan agak melunak.
Gery menegak dan sigap menghadap Logan. "Belum, Pak," sahutnya cepat. "Kami masih berusaha mencarinya, tapi pak Juan seolah-olah menghilang dari bumi, sulit dilacak jejaknya."
Logan menghela napas kasar. Kenapa harus terjadi saat ini? Musibah kehilangan bayinya, dan sekarang salah satu pegawai menggelapkan dana perusahaan. Tak tanggung-tanggung, uang yang diselundupkan hampir mencapai ratusan miliar!
Karena kasus ini, banyak investor yang kabur. Perusahaan start up yang ingin dibangun didesak untuk dibatalkan. Logan gusar dan cemas. Rumor beredar kalau para pemegang saham ingin Logan mangkat karena dituding tidak kompeten dalam pekerjaan.
"Apa ada yang lebih buruk lagi dari itu?" rutuk Logan seraya memijat keningnya.
"Kita kesulitan mencari investor baru. Dan utang perusahaan...."
"Cukup!" Logan mengacungkan telapak tangannya, menghentikan ucapan Gery. "Aku akan ke kantor besok!"
Logan sontak beranjak dari kursinya, tetapi Matthew menyahutinya sehingga gerakan Logan terhenti. "Kau tenang saja, teman-temanku sedang berusaha membantu kita."
Logan memutar tubuhnya sedikit. "Papa yakin?" timpalnya sinis. Matthew tak menjawab, sementara Logan mengacak rambutnya frustrasi. "Dengan reputasi perusahaan yang seperti ini, apa Papa pikir mereka berhasil mendapatkannya?"
Matthew memejamkan matanya seraya mendengus panjang. Ia juga ragu soal ini. Sudah cukup lama ia meminta bantuan pada ketiga temannya yang ada di London, tapi belum ada kabar sampai sekarang.
"Kita tunggu saja." Akhirnya, cuma jawaban yang tetap membuat Logan kecewa keluar dari mulut papanya.
__ADS_1
Logan menggebrak meja, memutar tubuhnya seraya mendengus gusar. Ia tak bisa sabar lagi. Ia sudah membuat keputusan. "Aku tetap akan pergi kerja besok!"
Matthew terkesiap, cepat-cepat memanggil Logan meski pria itu sudah melangkah cepat keluar dari ruangan. Tak mampu mencegahnya, Matthew menghela napas panjang.
Gery melirik pria tua itu seakan tengah menahan diri untuk menyampaikan sesuatu padanya. Gery merasa situasinya kurang tepat untuk membicarakan soal itu, makanya ia menunggu Matthew membahasnya.
"Gery," panggil Matthew, spontan Gery menghadap padanya. "Apa ada kabar terbaru?"
"Saya tidak tahu apa ini kabar baik atau buruk, seseorang ingin berinvestasi. Tapi...."
"Tapi apa?" Matthew mengernyit dan menegakkan badannya.
Gery menatapnya ragu.
...♡♡♡...
Kesulitan datang bertubi-tubi, ini tak pernah terjadi sebelumnya. Jika ia merasa masalah menghimpitnya, rokok dan wine pelariannya. Namun, Logan hanya memilih segelas wine, menyeruputnya sedikit demi sedikit seraya duduk di jembatan danau buatan.
Tempat ini cukup damai buatnya, dan tidak ada yang akan berpikir menemukannya di sini, termasuk istrinya. Namun, Anna terbangun setelah hanya memejamkan mata di kamar tidurnya selama 20 menit. Ia beranjak keluar, menanyai pelayan, dan menjejaki seluruh rumah untuk mencari suaminya.
Anna tak mau suaminya minum alkohol yang tak baik buat kesehatannya. Ia pun bergegas ke sana, lalu merenggut gelas wine yang sedang dipegang Logan.
Logan terkejut dan hendak marah. Tapi, ketika mengetahui bahwa istrinya yang melakukan itu, Logan langsung panik dan gugup. "Anna? Sedang apa kau di sini?" tanyanya kikuk.
Anna duduk di sampingnya, meletakkan gelas wine di sisi kirinya agar Logan tak bisa menggapainya. "Sayang, apa harus seperti ini? Jika ada masalah, katakan padaku."
Bagaimana Logan bisa membagi bebannya pada Anna yang tengah merasakan duka mendalam?
Logan tertawa kecil. "Memangnya, kalau aku minum wine, itu berarti aku sedang menghadapi masalah? Aku cuma ingin minum segelas saja kok," ia berkelit, mengalihkan pandangannya pada ujung danau buatan agar Anna tak bisa membaca ekspresinya.
Anna tak mudah percaya. Dipegangi kedua pipi suaminya, lalu dihelanya ke hadapannya. "Logan, tatap aku!" serunya tegas dan serius.
Logan menegang dan gugup. Sebenarnya, ia tak sanggup menatap Anna, tetapi ia tak mau dicurigai. Logan berdalih lagi, berpura-pura tersenyum geli seraya berseloroh. "Ini aku sudah menatapmu, sayang. Kau sangat cantik dengan riasan natural."
Logan menyingkirkan kedua tangan Anna dari pipinya dengan lembut, setelah itu tangan itu digenggamnya dan diletakkan di atas pahanya. Tapi, Anna tetap ragu dengan sikap Logan. Bercandaan Logan tak mampu menghela ekspresi murung Anna.
__ADS_1
"Kita baru saja kehilangan anak, tapi kau tidak boleh menyiksa diri seperti ini," gumam Anna meratap, tertunduk sendu.
Logan mencelus, air matanya kembali menggenang. Tapi, begitu Anna mengangkat kepalanya dan menatapnya, Logan buru-buru menyeka air mata itu dan berusaha tersenyum.
"Ya, sayang. Tapi, aku cuma sedang ingin minum anggur karena sudah lama tidak meminumnya," jawabnya, sengaja nada bicaranya agak ceria. "Habisnya, kau tidak membolehkanku minum wine, makanya aku minum diam-diam."
Logan terkekeh, tapi Anna membalasnya dengan menoyor pelan lengan suaminya itu. "Kan aku bilang, tidak baik minum alkohol," seru Anna, pura-pura kesal.
"Satu gelas aja, sayang. Boleh, ya?" Logan seolah membujuk, padahal sedang menggoda Anna.
"Nggak boleh!" sergah Anna.
Tapi Logan terus menerus mencandainya, sampai Anna kesal betulan. Mereka jadi saling menggoda dan bercanda, sehingga kesedihan Anna teralihkan.
Melihat tawa lepas Anna, membuat Logan sedikit terobati. Ia tidak akan menunjukkan beban yang sedang ditanggungnya di depan Anna yang sedang rapuh perasaannya. Untuk saat ini, ia akan membahagiakan Anna, sekaligus menyelesaikan masalah perusahaan tanpa membebani pikiran istrinya.
...♡♡♡...
"Kenapa tiba-tiba gini?" seru Tita mengomel, begitu ia dan Nina keluar dari pesawat. "Emangnya, apa yang kau cari di Jakarta? Pelatihmu sudah setuju untuk melatihmu, dan aku berusaha mencari promotor agar kau bisa tampil lagi. Tapi, apa yang kau lakukan? Kau sudah susah payah berada di pentas itu, dan kau...."
Semua celotehan Tita bagai angin lalu sebab Nina begitu bahagia kembali ke negara ini. Senyumnya terkembang di setiap langkahnya yang cepat. Rasanya tak sabar ingin melakukan sesuatu hal besar!
Mobil yang akan menjemput mereka sudah terparkir di depan pintu masuk bandara. Tita menghampiri mobil seraya menggerutu dalam hati karena Nina tak mendengarkannya.
Nina sudah masuk dalam mobil, tetapi ia tiba-tiba mencegah Tita duduk di sampingnya. "Kau pesan taksi online, dan bawa barang-barangku ke rumah. Aku ingin pergi ke suatu tempat."
Memang dasar Tita! Selalu histeris dan bereaksi berlebihan. "Sendirian? Ke mana?"
"Nggak sendirian," decak Nina. "Aku cuma mau menemui ... teman lama."
Tita mencari arti dari senyum simpul yang diperlihatkan Nina. Muncul rasa curiga dari benaknya, hanya saja tak diungkapkan.
Tita mundur tanpa protes, walaupun dari ekspresi muramnya tampak tak rela. Setelah semua koper diturunkan dan mobil yang ditumpangi Nina melaju, Tita memesan taksi online.
Driver telah ditemukan, tinggal menunggu mobilnya datang. Tapi, ada yang mengusik pikirannya. Ia begitu penasaran pada seseorang yang akan ditemui oleh Nina.
__ADS_1
"Siapa, ya, orang itu? Apa jangan-jangan ... oh, no! Semoga Nina nggak berbuat gila lagi!" serunya panik.[]