Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Yu ar Everiting


__ADS_3

Anna tercengang melihat sosok Logan yang semakin mendekat padanya dan orangtuanya. Logan memasang senyum ramahnya, mencium tangan kedua orangtua Anna.


"Ma, Ayah. Apa kabar?" sapa Logan setelahnya.


"Kabar baik," sahut mama dan ayah bersamaan sembari mengembangkan senyum.


Lalu, mama langsung mencecar. "Kamu apa kabar? Katanya kamu udah mulai kerja?"


"Kabar aku juga baik. Iya, Ma. Soalnya kasihan papa, jadi lebih sibuk karena nggak ada aku," jawab Logan berusaha tidak gugup agar alasannya itu tidak terdengar seperti kebohongan.


"Oh, gitu," jawab mama seadanya karena tak terlalu paham soal pekerjaan menantunya jika ia menanyakan lebih lanjut. "Oh iya, Logan. Masuk dulu, yuk! Mama buatkan teh."


Dengan nada halus, Logan menolak. "Maaf, Ma. Bukannya aku mau nolak. Cuma ... lain waktu aja deh aku mampir ke rumah."


Tapi, orangtua Anna sama sekali tidak kecewa, mereka paham bahwa Logan sedang lelah, apalagi besok dia pergi bekerja. "Ya udah, nggak apa-apa."


Sekarang, bagi Anna untuk menyela. Ia cemas jika mama dan ayah akan menahan Logan lagi dengan obrolan lain. "Kalau gitu, kami pulang dulu, ya, Ma, Yah," katanya buru-buru.


"Oh, ya udah. Hati-hati di jalan, ya," sahut mama.


"Bawa mobilnya juga hati-hati." Ayah tak mau kalah menasihati pasangan itu. "Logan tahu jalan yang aman dari begal, 'kan? Sekarang ini, begal lagi berkeliaran."


"Tenang aja, Yah," sahut Logan renyah. "Akan aku pastikan, Anna pulang ke rumah dengan selamat."

__ADS_1


Ini maksudnya sarkas atau bagaimana? Logan tersinggung dengan saran dari ayah dan mamanya? Anna menegur Logan dengan menyenggol lengan pria itu seraya tersenyum palsu di hadapan orangtuanya.


"Ma, Yah. Kami pamit, ya," seru Anna, buru-buru menarik lengan Logan setelah bersalaman dengan orangtua Anna.


Logan terpana karena Anna menggendeng lengannya. Hatinya lega, berpikir bahwa Anna tidak lagi marah padanya. Namun, gandengan tangan itu hanya sampai mereka melewati pagar. Anna menghela tangan Logan dengan kasar, lalu menghampiri mobil dengan sikap dingin.


Anna diam saja ketika berada di dalam mobil, duduk seraya melipat kedua tangannya di dada, menoleh ke arah lain seakan tak sudi menatap Logan.


Perasaan senang Logan berubah jadi muram. Ia turut jengkel melihat wajah masam Anna. Apa cemburu sebuah dosa besar, sampai Anna bersikap dingin begini?


Jika maunya begitu, Logan akan bersikap sama. Wanita itu harus tahu seberapa marahnya dia sekarang. Logan menghidupkan mesin mobil dan memindahkan tuas perseneling dengan kasar.


Anna melirik, menyadari apa yang dilakukan pria itu. Kemarahannya goyah sedikit, kini cemas jika Logan mulai marah. Entah, apa yang akan dilakukan pria itu untuk menuntaskan kemarahannya. Apa dia mau berbuat kasar lagi padanya?


Lebih gila dari itu! Logan melajukan mobilnya dengan mengebut. Anna langsung panik, menatap pria itu dengan was-was.


Logan seolah tak mendengarnya, tetap melajukan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa menoleh pada Anna sedikitpun.


"Logan, hentikan! Apa maumu? Jangan seperti ini? Kau mau membunuhku?" jerit Anna semakin panik.


Logan membelokkan setirnya ke jalan yang agak sepi. Dikira mereka akan menepi, tetapi Logan mengarahkan mobil pada sebuah tiang pembatas.


"LOGAAAAAAN!" teriak Anna seraya memejamkan mata.

__ADS_1


Tiba-tiba mobil berhenti. Anna tertegun seraya menahan napas, lalu membuka matanya perlahan. Ia mendelik melihat mobil mereka hampir menabrak tiang pembatas itu. Hampir saja, jantungnya mau copot!


Apa-apaan pria ini? Dongkol, Anna menoleh pada Logan yang tengah menatap lurus tanpa ekspresi. "Kau gila, ya? Kenapa kau melakukan ini? Dasar kekanak-kanakkan!" omel Anna dengan bentakan.


"Ya, aku memang kekanak-kanakkan," gumam Logan dingin, dan Anna terperangah dengan napas masih terengah-engah. "Aku pencemburu. Dan seharusnya kau paham."


"Ya, tapi ... nggak harus melakukan hal ini, 'kan?" Bentakan Anna perlahan melunak. Ia menyadari bahwa dirinya juga yang membuat pria itu seperti ini. "Kau boleh cemburu, tapi juga nggak berlebihan. Aku bukannya membela Kenan. Kau tahu dia temanmu, dan dia tahu aku sangat mencintaimu, jadi dia tak mungkin merebutku darimu."


Bukannya merasa tenang, Logan justru semakin gusar. Tanpa diduga, Logan menyergap kedua tangan Anna, lalu menghelanya kasar dalam dekapannya.


Anna bertambah bingung dengan sikapnya ini. Ia mendengar napas terengah-engah Logan, dan dekapannya semakin erat. Ada apa dengan pria ini, kenapa dia seperti ini? Apa ada masalah?


"Aku tidak mau kehilanganmu, Anna. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku sangat mencintaimu. Kau istri pertama dan terakhirku," gumam Logan, terdengar seperti ceracauan.


Ucapannya memang manis. Tapi, jika dalam keadaan begini, Anna malah jadi curiga dan memunculkan dugaan. Entah itu apa, yang pasti Anna tidak akan bertanya sekarang.


Tangannya yang tadinya membeku di samping tubuhnya, kini diletakkan ke punggung Logan. Dielusnya punggung pria itu dengan lembut dan limpahan rasa sayang.


"Kita bicarakan di rumah, ya?" ucap Anna di telinga Logan, membuai hatinya yang perlahan tenang.


Logan melepaskan pelukannya, lalu mengecup sekali bibir Anna. "Maafkan aku, sayang," sesalnya.


Anna mengangguk seraya tersenyum lembut. "Aku nyetir aja, ya? Pikiran kamu lagi kalut."

__ADS_1


Logan menoleh dengan mata menyendu. "Aku tidak apa-apa. Beri aku waktu sedikit. Aku akan menyetir setelah merasa tenang."


Anna menurutinya sebab tahu bahwa Logan sangat keras kepala. Dan ia membantunya dengan menggenggam jemari Logan, lalu merebahkan kepalanya di pundaknya.[]


__ADS_2