Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Aku (tidak) Mencintaimu


__ADS_3

Nina bertanya. Cara apa yang akan Anna gunakan agar Logan membencinya?


Hanya cara sederhana yang buktinya ada di depan mata.


Anna tahu ini akan berbahaya, dan ia akan membuat hubungan kedua pria itu kembali retak. Tapi, cuma ini yang bisa dilakukan. Bukankah, ia sudah terlihat buruk di mata Logan sekarang? Logan tidak akan menyangka bahwa wanita yang dicintainya mencium sahabatnya secara langsung di depannya.


Kenan mendelik kala Anna melingkarkan lengannya di leher, lalu Anna mendekatkan wajahnya sembari bilang, "Maaf, Kenan."


Kenan tak menghindar, malah hanya membeku menatap Anna. Entah apa yang dilakukannya dan tujuan Anna melakukan ini. Tapi kemudian, ia sadar dan bergidik begitu melihat Logan muncul dari balik pagar.


Logan mematung sejenak, tangannya terkepal kemudian, dan bentakan keras keluar dari mulutnya. "ANNA!"


Anna tak terkejut, hanya Kenan saja yang ternganga dengan wajah pucat. Pelan, Anna kembali pada posisi semula. Hatinya hancur, tapi tak menunjukkan ekspresi apa pun.


Tak kunjung berbalik, Logan meraih tangannya dengan kasar dan menghela Anna ke hadapannya. Anna tak menatapnya, pandangannya kosong ke arah lain.


"Apa yang kau lakukan? Jelaskan, Anna!" tanya Logan geram dan membentak.


Kenan merasa iba pada Anna, lalu berusaha menjelaskan. "Logan, ini nggak seperti yang kau pikir...."

__ADS_1


"DIAM!" potong Logan murka, praktis Kenan terbungkam. "Sebelum kuhajar, lebih baik kau enyah dari sini!"


Kenan tak takut pada ancaman itu, tapi yang dikhawatirkannya adalah Anna, jika ia turut campur. Logan menarik Anna ke dalam, lalu menutup pagar seraya membanting agar Kenan tahu betapa marahnya pria itu sekarang.


Logan tak membawanya langsung ke kamar, tetapi ke halaman belakang supaya papa dan mamanya tak mendengar pertengkaran mereka.


Sesampainya di sana, tangan Anna dihempaskan kasar. Logan membelakangi, berteriak kencang tapi Anna tetap bergeming dengan pandangan kosong.


Cepat Logan berbalik dan berdiri di hadapan Anna. Kedua lengan gadis itu diremasnya, menariknya lebih dekat kepadanya seraya menatap murka.


"Apa itu tadi, Anna? Surat cerai? Lalu, tadi itu ... jelaskan, Anna!" desaknya membentak.


"Sebelum kau menghamiliku, aku memang sudah menyukai Kenan. Aku terpaksa menikah denganmu karena hamil saja," jawab Anna, ekspresinya diubah seakan tak menyesal telah mengatakan hal yang membuat Logan semakin murka.


Namun, Logan malah syok dan goyah. Genggaman di lengan Anna melonggar, air matanya tergenang, dan berucap seraya terisak lirih, "Bohong. Kau bohong, Anna."


Anna mencelus. Melihatnya menangis, lebih menyakitkan. Namun, Ana berusaha bertahan demi rencana sialannya itu. "Terserah. Teken surat cerainya segera, aku akan pergi malam ini juga," kata Anna dingin, seakan menunjukkan bahwa dirinya tak memiliki perasaan.


Tangan Logan terkepal. Bukan karena marah, melainkan rasa sakit tertusuk oleh ucapan Anna. Logan menatap Anna lamat-lamat, meskipun mata Anna tak menatap matanya. Keheningan sementara itu membuat Logan tenang sedikit. Mungkin, Anna akan melunak jika Logan berkata pelan.

__ADS_1


"Anna, apa kau melakukannya karena ancaman?" tanyanya.


Anna menghela napas berat. Entah cinta pria itu begitu buta padanya, bukti yang dibuatnya di depan mata tak mempan pada Logan. "Aku memang ingin berpisah karena aku tidak bisa mempertahankan pernikahan tanpa cinta."


Logan mendengus kasar, kata-kata yang menyakitkan itu menancap lebih dalam di hatinya. "Aku tanya sekali lagi. Kau tidak mencintaiku?"


Mata Anna menyendu seraya menggenggam ujung bajunya. Bohong jika ia tak mencintai Logan. Ia tak mau berpisah dengan Logan. Rasanya, ia ingin menarik ucapannya tadi, membobol pertahannya itu. Namun....


"Iya, aku tidak pernah mencintaimu," ucap Anna, memberanikan diri untuk menatap Logan.


Logan membeku, hatinya hancur bagai kepingan puzzle yang berantakan. Meski ia pemarah, pria itu tetap rapuh, dan air mata tergenang kala cintanya pupus.


Logan mundur selangkah. "Baik. Kalau itu maumu. Malam ini, kau tidur di sini. Kau boleh pergi dari rumah ini kapanpun kau mau," katanya melunak, sebisa mungkin tak terbata karena isakan.


Anna bergeming seraya menatap ke arah lain. Walaupun ia tak melirik padanya, tetapi Anna bisa tahu bahwa Logan pergi dari hadapannya. Logan memutuskan untuk singgah di vila pribadinya malam ini juga.


Anna menunduk, air matanya mengalir perlahan di pipi. Logan telah lenyap sosoknya, Anna jatuh terduduk seraya menangis meski suaranya tak kencang. Semua air mata yang ditahannya, ia tumpahkan.


Ternyata, Matthew dan Elina mendengar percakapan dan melihat semuanya dari balik persembunyian. Elina sudah mengetahui apa yang terjadi lewat suaminya. Ia menangis melihat pasangan yang saling mencintai itu harus berpisah dengan cara yang salah.

__ADS_1


Elina ingin menghampiri Anna, membujuk gadis itu agar mengubah pikirannya. Namun, Matthew mencegah, menyarankan agar membiarkan Anna tenang dulu.[]


__ADS_2