Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Rindu yang Menggairahkan


__ADS_3

Logan benar membawa Anna ke apartemen mewahnya yang terletak di wilayah Gangnam. Anna tercengang kala memasuki ruangan itu, lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela besar di ruang tamu. Pemandangan kota di malam hari terlihat memukau dari sini.


Logan tersenyum melihat senyuman Anna yang tengah terpesona di sana. Ia mendekat, memeluk pinggang Anna dari belakang, mengecup pipi Anna singkat. Anna memejamkan mata menerima kecupan itu.


"Kau bohong soal tinggal di Geuimo," kata Anna pura-pura merajuk.


"Kalau aku bilang di Gangnam, kau akan tambah curiga," jawab Logan, menyandarkan dagunya pada bahu Anna.


"Dari awal penyamaranmu memang mencurigakan," sahut Anna mengolok-olok.


"Terus, kenapa kau tidak bongkar saja penyamaranku?" Logan malah menantang karena tersinggung.


Anna tergelak tanpa suara, lalu berbalik. "Orang bodoh mana yang mau membongkar penyamaran orang tanpa bukti? Lagi pula, waktu itu aku sudah menguraikan kecurigaanku padamu."


"Tapi, habis itu kau bilang kalau aku cuma hanya membuatmu salah paham." Logan mendebat, tak mau kalah.


"Ya, makanya aku bilang begitu karena kau memperlihatkan ciri-ciri khas dirimu, walaupun kau menyamar jadi pria culun. Seharusnya, kau tidak pakai parfum yang biasa kau pakai. Terus suara dan matamu tak bisa membohongiku. Dan...."


Logan tiba-tiba mengecup bibir Anna, menghentikan cerocosannya yang mungkin akan membuat perdebatan makin panjang. Anna tentu terkejut, tapi hanya sekejab, sehabis itu senyuman malu terulas di bibirnya.


"Kau dan aku sama-sama keras kepala. Aku benci berdebat denganmu. Tujuanku membawamu kan untuk..." Logan menggigit manja telinga Anna, dan berbisik lagi. "Bermesraan dengan istriku."


Pipi Anna memerah kala helaan napas Logan membelai telinganya. Wajah Logan beralih, menatap Anna yang tampak tak sabar menagih janji yang diucapkan Logan tadi. Bibirnya sengaja dibukanya sedikit, siap menerima lum4tan menggairahkan dari bibir Logan.


Pria itu menangkap sinyal itu, memberikan apa yang diharapkan. Dalam gairah, Logan mengul*um bibir bawah Anna, dan Anna membalasnya dengan *****4* bibir atas Logan.


Keduanya bergerak tanpa arah, hingga akhirnya Logan menyandarkan tubuh Anna di tembok. Tangannya sibuk membuka kancing kemeja Anna, menyingkapnya sedikit, lalu mengecup bahu Anna hingga memerah.


Ciuman dilepaskan. Kala gairah menggebu, Anna membuka kancing kemeja Logan, dan pria itu membantunya. Akhirnya kemeja itu terlepas, memperlihatkan tubuh atletis Logan yang digilai Anna.


Anna langsung memeluknya, membuat bekas kecil di dada bidang Logan dengan kecupan. Logan melenguh, memeluk erat Anna. Dilepaskannya Anna dari pelukannya. Dengan tak sabar Logan membuka kemeja Anna, lalu melemparkannya sembarang tempat.


Setelah itu, ciuman kembali dilanjutkan, sebelum akhirnya Logan menggendong tubuh Anna ke ranjang. Anna menghela napas, menatap Logan seakan tengah memohon agar segera menuntaskan gairah yang menyiksanya.


Logan tak perlu menanyakannya, ia akan memuaskannya seperti saat mereka bersama dulu. Logan bergerak di atas Anna. Semua yang dipakai di tubuh Anna, Logan lepaskan satu per satu sehingga tak ada lagi penghalang di antara mereka.


Kini tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun. Logan memasuki Anna dengan perlahan dan lembut. Anna mend3sah pelan saat Logan memasukinya. Logan bergerak perlahan, lalu lama-lama agak cepat seiring dengan irama dengusan napas mereka yang mengisi ruangan ini.


Kerinduan yang mengendap, mereka curahkan malam ini. Logan mendekatkan wajahnya ke telinga Anna, mengucapkan kata-kata yang membuat Anna tak mau melepaskan pria itu lagi.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, Anna. Bibirmu, tubuhmu, semuanya. Jangan pergi lagi, Anna," bisik Logan di antara d3sahannya. "Aku mencintaimu."


Anna membalasnya dengan kecupan. "Aku juga mencintaimu, Logan. Sangat. Aku tak mau berpisah denganmu." Setelah itu, Anna memeluk tubuh Logan.


Malam yang panjang ini mereka habiskan dengan intim dan hangat. Permainan panas ini berakhir hingga mereka mengapai puncak kenikmatan, lalu mereka tertidur di ranjang dengan saling berpelukan.


...💍...


Setelah mendengar bahwa Nina sakit, Diana tidak bisa tidur dan hanya menangis tanpa sepengetahuan suaminya. Ia tidak mau suaminya syok karena hal itu.


Pagi-pagi sekali Diana menghubungi Nina, meminta janji temu pada saat makan siang. Nina menyetujuinya. Nina mengendap keluar rumah saat mertuanya sibuk di ruang baca seraya mengobrol.


Nina menghampiri Diana di sebuah restoran. Diana sudah menyiapkan hidangan kesukaan Nina, meskipun Diana ragu jika Nina akan menyentuh makanan itu. Ia yakin, anaknya kehilangan nafsu makan sebab merenungi nasib buruknya.


"Ada, Ma?" cetus Nina sesampainya di hadapan Diana.


"Makan dulu, ya, Nak. Kamu kurus banget sekarang. Jangan dipikirin soal penyakit itu, Mama akan cari jalan keluarnya."


"Satu-satunya menyingkirkan penyakit ini hanyalah dengan operasi," gumam Nina, menunduk muram. "Tapi, aku harus rela kehilangan harapanku untuk memiliki anak."


Diana mencelus melihat mata Nina telah berlinangan air mata. Diana tahu betapa pedihnya kenyataan itu. Nina sudah putus asa, tapi tetap masih menggenggam harapan pada impiannya itu.


Diana menghela udara yang tercekat dan menyesakkan di dada. "Mama ragu Logan akan setega itu," ujarnya berasumsi. "Meskipun Logan dingin, dia pasti masih punya hati."


"Dia hanya akan memperlakukan seseorang yang dicintainya dengan lembut. Sedangkan yang dicintainya Anna, bukan aku," gumam Nina, suaranya lama-lama serak karena isakan.


Diana menelan air liurnya, lalu mengusap wajahnya dengan frustrasi. Air mata Nina semakin deras mengalir, Diana kehilangan akal untuk menuntaskan masalah ini. Cuma ini yang bisa dilakukannya, menghampiri Nina, memeluknya dengan kasih.


"Kamu tenang, Mama akan cari cara," ucapnya, berjanji sepenuh hati.


"Dengan cara apalagi, Ma?" Nina meraung, semakin frustrasi. "Tidak ada cara lagi. Buntu! Tidak ada harapan buat aku, Ma. Hidup aku akan hancur!"


"Nggak, sayang," sahut Diana, melepaskan pelukannya, lalu menatap Nina lekat. "Mama akan cari cara. Kamu yang sabar aja, dan ikutin kata Mama. Sekarang ini, yang harus kamu lakukan adalah, cari alasan untuk keluar dari rumah itu, Mama akan bawa kamu berobat diam-diam ke luar negri. Oke?"


Entah ini akan berhasil atau tidak, Nina menggangguk setuju, lantas tangisannya mereda sedikit demi sedikit. Reaksi yang ditunjukkannya, setidaknya membuat Diana lega. Ia sudah menetapkan untuk membawa Nina operasi di luar negri. Soal rencana selanjutnya, Diana akan memikirkannya nanti.


...💍...


Logan tersenyum melihat Anna sedang memasangkan dasinya. Sudah lama tidak seperti ini. Meskipun Logan bisa memasang dasi sendiri, tetapi rasanya berbeda ketika Anna yang melakukannya. Logan merasa seperti suami yang paling bahagia di dunia.

__ADS_1


"Udah rapi," gumam Anna, tetapi lambat-laun senyumannya menghilang.


Logan tertegun, ujung jemarinya menghela lembut dagu Anna agar tatapan mereka bertemu. Namun, Logan heran melihat wajah cantik istrinya dihiasi oleh kemuraman.


"Kenapa, sayang? Kok cemberut gitu?" tanya Logan, mengelus pipi kanan Anna, lalu mencandainya dengan mencubit pipinya seraya tertawa jahil.


"Ih, Logan!" protes Anna, mengelus pipinya. "Aku cuma ... ah! Nggak. Aku sedih, soalnya kamu balik ke Jakarta."


"Kalau gitu, kamu ikut sama aku, gimana?"


Anna mencubit pipi Logan gemas. "Nggak bisa lah! Kan aku ada kerjaan di sini."


Alih-alih marah, Logan tertawa renyah. "Ya, makanya itu, sayang. Aku ke Jakarta cuma mau menyelesaikan kerjaan, abis itu aku balik lagi ke sini. Nanti, kamu siapin surat cuti, ya. Aku mau bawa kamu bulan madu."


"Emangnya itu perusahaan aku? Baru aja aku cuti bulan lalu. Nggak ah!"


"Nanti aku yang bilang ke Farhat," cecar Logan, tak mau mendengar penolakan.


"Pokoknya nggak! Udah, ah! Aku mau siapkan sarapan dulu," pungkas Anna, lalu berjalan keluar kamar.


Logan tersenyum geli. Candaan pagi ini membuatnya semakin bersemangat. Tak lama Anna pergi, ponsel Logan berdering. Gerry menelepon.


"Halo, Pak. Saya sudah menemukan dia," cetus Gerry cepat, mendahului Logan yang akan menyahutinya.


"Bagus! Tahan dia, dan bawa ke Jakarta. Dia harus menemuiku dulu!" timpal Logan, tatapannya membara.


"Oh iya, Pak. Saya punya informasi lain tentang nyonya Nina."


Meskipun agak malas mendengar soal Nina, tapi Logan tetap bersedia mendengarkan. "Soal apa?" tanyanya setengah hati.


"Nyonya Nina mengidap penyakit kanker rahim stadium satu."


Baru kali ini Logan tertarik tentang Nina. Logan berseru kaget. "Apa? Nina sakit kanker rahim? Bagaimana bisa? Kenapa Nina tidak memberi tahu?"


"Saya kurang tahu, Pak."


Logan menghela napas panjang, rasa bersalah menggerogoti. "Ya udah, laporkan terus perkembangannya," kata Logan, suaranya memelan.


Ternyata, Anna mendengar percakapan terakhir secara diam-diam di samping ambang pintu kamar. Hatinya iba mendengar Nina sakit kanker. Anna goyah. Apakah ia harus mempertahankan Logan di sisinya, sementara Nina sedang melawan penyakitnya?

__ADS_1


Anna memegang dadanya yang terasa nyeri, menahan tangisan tanpa suara.[]


__ADS_2