Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Geuliwohada? Jeongmal?


__ADS_3

Para karyawan mengejek Anna sebab rumor itu, tapi Anna memilih diam. Baginya, itu akan berlalu seiring berjalan waktu, walaupun lama-lama cukup mengganggunya.


Anna melirik Woojin. Pria itu tampak tenang mengerjakan pekerjaannya seakan tak terusik oleh ucapan-ucapan karyawan yang tertangkap oleh telinganya.


Anna berpikir sejenak, memiliki sebuah ide untuk meredam rumor itu. Maka, ia mengetik sebuah pesan, yang kemudian dikirimkan ke nomor Woojin.


Respons pria itu sangat cepat. Begitu pesan itu masuk, Woojin membacanya, lalu menoleh tercengang pada Anna. Tanpa berkata apa pun, Woojin mengirimkan balasan pesan padanya, dan Anna bergegas membacanya begitu masuk ke ponselnya.


"Ya, kita ketemuan di taman belakang saat makan siang."


Anna menghela napas lega, kembali ia mengerjakan tugasnya secepat mungkin, sampai akhirnya waktu makan siang tiba.


"Eonni, kajja!" ajak Gaeun sembari beranjak dari kursinya.


"Neo honja ga, najunge ttalajab-eulge (pergilah sendiri, nanti aku nyusul)," jawab Anna.


"Ong ... (ya)." Gaeun bereaksi ragu, lalu terpaksa pergi.


Anna pergi setelahnya, dan Woojin sejak tadi meninggalkan mejanya. Seperti yang sudah dijanjikan, mereka bertemu di halaman belakang. Pria itu sudah menunggu di sana, dengan dua kaleng minuman di tangannya. Begitu Anna muncul, Woojin tersenyum.


"Waseo? Cha (sudah datang? Ambilah)," kaya pria itu seraya menyodorkan minuman kopi kaleng.


Anna menggambilnya dengan setengah hati karena pikirannya terfokus pada ucapan yang disampaikannya. "Woojin, kayaknya kita memang benar-benar harus menjaga jarak deh!" ucap Anna sebisa mungkin santai dan tanpa menyinggung.


Woojin yang tengah mendengarkan seraya mendengak minumannya terhenti sejenak. "Karena rumor?" celetuknya ringan.


"Ya!" sahut Anna cepat. "Jadi, kita tidak perlu bertemu ... dan kalau berpapasan, sebisa mungkin terlihat biasa aja sikapnya."


Woojin berpikir dengan wajah polosnya seraya menimbang-nimbang minuman kalengnya. "Oke! Mudah soal itu."


Mata Anna membulat. Sesantai itu dia berkata? Tidak ada kata protes atau bertanya alasannya gitu? Wah! Permasalahan satu sudah selesai tanpa banyak drama.


"Cuma itu yang mau diomongin, 'kan? Boleh aku pergi?" tanya Woojin polos, dan itu membuat Anna tercengang untuk beberapa saat.


"Oh, ya ... ya boleh. Silakan."


Woojin pergi, dan benar-benar bersikap biasa, bahkan seperti orang asing. Cepat sekali penyesuaiannya, Woojin tak mengganggunya, tak berusaha bersikap akrab padanya. Akan tetapi, itu terasa mengganjal di hati Anna.


Pria itu bukan hanya menuruti permintaan Anna, bahkan Woojin kembali menghilang keesokkan harinya. Anna tertegun melihat meja pria itu kosong, padahal waktu masuk jam kerja sebentar lagi.

__ADS_1


"Apa dia terlambat?" gumam Anna pelan sembari duduk di kursinya.


"Keuge annira (kurasa tidak)," celetuk Gaeun, ternyata telinganya hebat juga bisa mendengarkan gumaman Anna.


Anna berbalik padanya dengan wajah cemberut. "Musun suriya? (Maksudmu?)," sahutnya.


"Keureuse... geuegeseo sosigi eobsda (entahlah ... tidak ada kabarnya." Setelah menyinggung Anna, Gaeun menanggapinya dengan polos, lalu menyeringai lucu. "Jigjeob mul-eoboseyo (tanyakan saja sama orangnya)."


"Mwoya (apaan tuh!)," gerutu Anna seraya duduk. "Al-attdamyeon mudji anhasseul tende (kalau aku tahu, aku tidak akan tanya padamu)."


Gaeun terkekeh, disangka Anna itu adalah ledekan. Gaeun tak menanggapinya beberapa saat, lalu kembali mengisengi Anna. "Injeonghae. Eonni geuliwo, keu saram? (Akui aja. Kakak merindukannya, 'kan?)"


Merindukannya? Konyol! Anna mencemooh dan menyangkal di awal. Namun, ia terus memikirkan hal itu lagi.


Jika memang ia memang merindukannya, lantas apa alasannya?


...💍...


Setengah berlari Gerry menuju ruangan Logan yang tengah ditempati oleh Matthew selama anaknya di luar negri. Pria itu tergesa-gesa dengan membawa sebuah pemberitahuan darurat yang baru saja didapatkannya.


Matthew tertegun melihat Gerry masuk dalam keadaan napas tersenggal-senggal. Setelah membungkuk hormat, Gerry gegas menghampiri.


"Apa Ketua sudah mendapatkan kabarnya?" tanya Gerry, tak biasanya berbasa-basi begini.


Matthew menatapnya dengan mengernyit. "Kabar apa?"


"Baru saja saya mendapat pemberitahuan akan ada rapat dadakan para anggota dewan direksi. Mereka ... ingin membahas pemecatan pak Logan dari posisi presdir."


"Apa?!" Sontak Matthew beranjak dari kursi, terkejut sekaligus murka.


Berkas ditinggalkan, Matthew buru-buru Matthew berjalan menuju ruang rapat dengan ditemani oleh Gerry. Saat sampai di sana, para dewan sudah berkumpul, termasuk Diana.


Tatapan tajam Matthew langsung mengarah pada Diana. Namun, wanita itu mengabaikannya, dan bahkan tersenyum mencemooh padanya. Matthew yakin, ini pasti kerjaan wanita itu.


Seorang pria paruh baya bernama Tio beranjak dari kursinya. "Baik. Karena Ketua Matthew sudah di sini, kita mulai saja rapatnya," kata pria itu memulai.


Matthew menghela napas panjang, tegang mendengarkan rapat itu.


"Jadi, kita akan membahas soal pemecatan Presdir Logan," kata Tio lagi. "Para dewan direksi sudah setuju mengenai ini. Selama ini, saya mendengar bahwa Presdir Logan sering keluar negri tanpa tujuan dan pekerjaan yang dilakukannya kurang jelas selama di sana."

__ADS_1


"Siapa yang bilang?" seru Matthew, menggebrak meja. "Kalian dengar dari mana soal itu? Apa kalian sudah mengeceknya?"


Para dewan terdiam, dan mendeham kikuk. Matthew merasa menang, tetapi Diana membalasnya.


"Kalau dia kerja di sana, kenapa Gerry tidak ikut? Bukankah, Gerry selalu diikut sertakan ketika Logan dinas di manapun?" timpal Diana, senyum piciknya terulas.


Matthew mengepalkan tangan, matanya menatap Diana dengan murka. Gerry yang duduk di sampingnya ingin turut bicara, tetapi Matthew langsung menyela.


"Gerry di sini karena dia dibutuhkan. Anda pikir, sekretaris kepercayaan Logan hanya Gerry?" Matthew memukul telak Diana. Melihat Diana terdiam kesal, senyum percaya diri Matthew semakin lebar. "Lagi pula, apa kalian yakin kalau Logan pergi di luar negri untuk mengabaikan pekerjaan? Huh! Yang mengadukan hal itu paling orang yang kekanak-kanakkan."


Ruangan AC ini tak mampu menyejukkan hati Diana yang memanas. Diana memalingkan wajah, dan tangannya terkepal. Sakit hati sekali Nina dihina oleh orang yang sudah menjadi mertuanya!


...💍...


Setiap malam, Nina tidak bisa tidur. Ia selalu termenung di sisi jendela seraya menatap pemandangan di bawah. Di tempat itu seakan ia bisa mengharapkan Logan muncul di rumah ini, dan menemuinya.


Baru saja ia menerima sebuah telepon. Kabar pemecatan Logan gagal telah sampai ke telinganya. Tangannya melemas setelah Diana menyudahi obrolan. Matanya menyendu dengan tatapan lurus.


Suara derak pintu terbuka terdengar. Nina hanya melirik sekejab, mendengarkan derap langkah yang semakin mendekat seraya menunggu.


Namun, alih-alih mendapat pelukan, kedua lengannya malah diremas kuat oleh tangan kekar seseorang, lalu mendorong tubuhnya sampai membentur ke dinding.


Dalam sinar temaram, Nina melihat wajah tampan Logan, di mana mata pria itu memperlihatkan kilatan murka yang menyala-nyala. Bibir Nina mengulas senyuman getir, tetapi tak ada rasa iba di hati Logan. Pria itu mengguncang kasar tubuhnya.


"Apa maksud semua ini, Nina? Kau kan yang membuat drama itu?" tuding Logan, nada suaranya dalam dan dingin.


Nina menggapai pipi Logan, melebarkan senyuman. "Akhirnya kau mau pulang, Sayang," ucapnya lirih. "Sudah lama aku menantimu."


Mata Logan melotot, menghempaskan kuat tubuh Nina. "Dasar *******!"


*******? Hati Nina seakan tertusuk dalam mendengarnya, hingga air matanya tergenang. Ucapan kasar itu baru pertama kali didengarnya dari mulut Logan selama mereka berhubungan.


"Logan, aku sudah bilang akan melakukan apa pun supaya kau kembali ke sisiku. Dan aku berhasil, 'kan?"


Logan mendengus sinis. Perlahan memajukan tubuhnya ke arah Nina. "Malang sekali, kau pakai cara konyol untuk menarik perhatianku? Nina, aku juga sudah bilang padamu." Logan mendekatkan wajahnya perlahan, yang kemudian mengarah ke telinganya. Ia pun berbisik, "Aku juga sudah bilang padamu. Mau pakai cara apa pun, kau tidak akan bisa membuatku jatuh cinta padamu lagi. Kau tahu? Kau ... sangat memuakkan!"


Nina mendelik, hatinya kembali dihujam oleh ucapan setajam pisau. Nina syok, hampir terjatuh jika tidak berpegangan pada nakas di sampingnya.


Logan menjauhkan wajahnya, lalu tersenyum sinis begitu melihat ekspresi terpuruk Nina. Logan meninggalkannya, kakinya yang jenjang melangkah cepat keluar dari ruangan ini.[]

__ADS_1


__ADS_2