Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Harus aku akui, dia memang cantik!


__ADS_3

Mama duduk di ruang tamu dengan gelisah; kadang menengok ke pintu, kadang bolak-balik mengintip ke jendela, sampai tidak fokus menonton sinetron kesukaannya. Ayah dan Tasya memperhatikan mama dengan heran. Siapa yang tidak cemas? Hari sudah malam, Anna belum juga pulang.


"Elisa, sebaiknya kamu mengaku saja, kalau kamu yang membunuh Romi. Ya, 'kan?" Suara TV, yang menampilkan dialog antar tokoh di sinetron terdengar.


Tasya tersenyum karena sebuah ide muncul. Kemudian, ia menegak, memajukan tubuhnya sedikit, setelah itu berseru memanggil mama.


"Ma! Itu lihat deh! Elisa udah mulai terjebak!"


Tasya tahu, mamanya sangat suka dengan sinetron ini, sampai tidak mau ketinggalan di setiap episodenya. Elisa adalah tokoh yang membuat mama gemas karena peran antagonisnya. Mendengar hal itu, tentu saja mama beranjak ke kursi, mantengin adegan yang sangat ditunggunya.


"Aku ..." kata Elisa, membuat mama menunggu dengan gemas. "Aku...."


Sayangnya, adegan itu terputus karena waktunya siaran menayangkan iklan. Mama berseru kesal sambil menepuk paha Tasya.


"Yah! Tanggung banget! Malah iklan, pula," gerutu mama.


"Iya. Tapi, jangan pukul paha aku juga kali, Ma," protes Tasya, mengelus pahanya.


Ayah menggelengkan sambil menahan senyumnya. "Ma, dari tadi kok Mama mondar-mandir aja? Kenapa? Tungguin Anna?" tanyanya kemudian.


"Iya, Yah," sahut mama. "Habis, udah malam gini Anna belum pulang."


"Biarin aja kali, Ma. Kan kak Anna lagi sama bang Logan. Kak Anna pasti dijagain kok sama calon suaminya," timpal Tasya ikut nimbrung.


Mama diam saja, tak lama kemudian terdengar suara deru mobil di luar rumah. Tasya berseru:


"Itu pasti suara mobilnya bang Logan. Benar kan aku bilang, bang Logan pasti bawa pulang kak Anna dengan selamat."


Keresahan hati mama berakhir, ia langsung menuju pintu untuk menyambut mereka. Di balik wajahnya yang lelah, Anna tersenyum sambil menghampiri mama yang sedang berdiri di ambang pintu.


Anna meraih tangan mama, lalu menciumnya. Logan pun melakukan hal sama setelahnya. Dan mama begitu senang sekali menyambut mereka. Setelah itu, Anna masuk ke dalam rumah sambil menenteng kantong berisi novel.


"Logan, yuk, masuk dulu. Kita makan malam bersama." Mama menawarkan, membuat Anna berhenti melangkah dan menoleh padanya dan Logan.


"Nggak usah, Bu. Saya mau langsung pulang aja. Soalnya capek," tolak Logan, alih-alih sungkan, tapi karena memang begitu keadaannya.


"Justru itu!" sahut mama, masih berusaha memaksa. "Kamu capek, 'kan? Kamu duduk dulu sebentar—nggak makan bareng juga nggak apa-apa—paling nggak minun teh aja dulu, ya?"


Logan melirik ke arah Anna. Namun, gadis itu malah menaikkan kedua bahunya. Maksudnya, itu keputusan Logan, Anna sendiri tidak melarangnya jika pria itu menginjakkan kakinya ke dalam rumah ini.


"Iya, Bang. Duduk sebentar di sini," timpal Tasya.


Kalau memang begitu, Anna tidak punya pilihan. "Silakan duduk, Pak. Saya akan buatkan tehnya untuk Bapak."


Sebuah undangan bagi Logan untuk masuk ke dalam rumah itu meski enggan. Ia duduk di sebuah sofa panjang, sementara Anna berjalan masuk ke dapur, meletakkan kantong plastik belanjaannya di atas meja makan.


Anna meraih tiga cangkir teh dan piring tatakan, mengeluarkan tiga kantong teh dari kotak, memasukkannya gula, lalu menuangkan air panas dari dispenser ke dalam cangkir itu. Sementara ia melakukan hal itu, mama masuk ke dalam dapur. Tak sengaja, ia melihat kantong yang dibawa Anna tadi, lalu memeriksa isinya.


"Kamu beli novel lagi?" tanya mama dengan nada bicara protes.


"Iya," sahut Anna, yang sedang mengaduk minuman sambil menoleh. "Hiburan pas lagi dipingit."


Sindiran Anna dibalas oleh mama sambil berjalan menghampirinya. "Kan ada drama Korea yang kamu unduh di hape kamu?"


"Ya, kalau lagi bosan nontonnya, aku baca novel aja."


Ada saja alasannya, mama sampai tak bisa menangkisnya lagi. Tiga cangkir teh telah siap disajikan, kemudian ditata di atas nampan. Akan tetapi, saat Anna akan mengangkat nampan itu, tiba-tiba mama merenggutnya.


"Biar Mama aja yang bawa. Kamu duduk aja deh di sana," katanya.


"Nggak ah! Aku mau ke kamar aja," bantah Anna.


"Idih! Nih anak!" tegur mama seraya memukul lengan Anna. "Dia calon suami kamu, sekaligus tamu kamu. Nggak boleh ditinggal kayak gitu."


Anna merengut sambil mengelus lengannya. "Iya, tapi aku ngapain juga di sana? Bengong aja ngeliatin dia minum gitu?"


"Jangan banyak protes! Ke ruang tamu sana!" perintah mama, lalu berjalan duluan sambil membawa nampan.


Anna mengikuti di belakangnya dengan wajah ditekuk dan langkah berat. Mau tidak mau, biar kata jadi kambing congek di sana, Anna tetap ke ruang tamu, lalu duduk di samping ayahnya.


Mama datang, kemudian menyajikan teh di atas meja. Ia melirik ke arah Anna setelah selesai menghidangkan teh. Dengan nada menegur, ia berkata:


"Anna, duduk di sebelah Logan."


Gadis itu tercengang, lalu melirik tempat kosong di samping pria itu. Sebenarnya Anna segan, tapi akhirnya ia duduk juga di sana tanpa protes.


Seperti yang dibilangnya, tak akan ada hal yang mau dibicarakannya. Logan duduk tenang sambil menyeruput teh, sementara Anna menonton TV meski terpaksa karena tidak suka sinetron. Habis, ia tidak diizinkan ke kamar.


"Oya, Anna. Kata ibu Elina, kamu besok mau fitting gaun pengantin bareng Logan," kata mama.


"Hah?" Anna melongo, kemudian melirik Logan, yang dari ekspresinya juga tidak tahu-menahu.

__ADS_1


"Ya, udah. Nanti, saya akan jemput Mama dan Anna pas makan siang," timpal Logan, seakan mengerti.


"Nggak usah. Mama sama Anna jalan sama ibu kamu," ujar mama, tersenyum simpul. "Kamu datangnya dari kantor aja."


Logan tak bicara lagi. Teh yang ada di cangkirnya sudah habis. Ia terlalu canggung di sini, meskipun ia akui bahwa keluarga ini sangat baik. Ia kira, orangtua Anna tidak akan menerimanya, apalagi karena ia telah memperkosa Anna. Biasanya, keluarga korban akan sulit menerima.


"Maaf, Bu, Pak, tehnya sudah habis. Saya mau permisi pulang," kata Logan, setelah meletakkan cangkirnya ke meja.


"Loh, kok terburu-buru sekali, Nak Logan?" protes mama dengan lembut, merasa kecewa sekali.


"Maaf, ya, Bu. Karena tadi ada berkas yang harus saya periksa malam ini juga."


Anna tersenyum lega. Akhirnya, dia pergi juga. Mungkin, Logan mengerti pada situasi yang tak nyaman ini. Atau mungkin, dia memikirkan kesehatan Anna dan bayinya?


Ah, terserah!


...☘...


Malam itu, Anna tidak langsung tidur, baca novel dulu setelah membersihkan badan dan berganti pakaian. Susu hamilnya sudah habis, tapi novel yang dibacanya belum selesai. Lantas, Anna turun ke bawah sambil membawa ponsel. Rencananya, ia mau menghubungi Ranti. Sudah lama ia tidak mengobrol dengan sahabatnya itu.


Nomornya telah ditemukan, tinggal menekan tombol "dial". Namun, ibu jarinya membeku di atas tombol itu, termenung lama memikirkan dua pilihan: "telepon atau tidak". Soalnya, ini sudah malam. Takutnya, ia malah mengganggu Ranti.


"Ah, coba kirim pesan aja," gumamnya sambil menuruni tangga.


Jemarinya begitu cepat mengetik sebuah pesan di sebuah aplikasi yang bernama Whatsapp. Pesannya yang dikirimnya, bertuliskan begini:


"Ran, lo udah tidur?"


Saat Anna sudah sampai di dapur dan meletakkan gelas di westafel, Ranti membalas pesannya. "Ada apa, An?"


Anna meraih sebuah kursi yang ada di meja makan, kemudian ia duduk, dan mengetik pesan. "Gue mau curhat. Ganggu, nggak?"


Tidak ada balasan setelahnya. Namun, setelah sekitar dua menit kemudian, teleponnya berdering. Ranti menelepon. Anna begitu senang, sampai buru-buru untuk mengangkatnya.


"Halo, Ranti. Apa kabar lo?" cetus Anna langsung.


"Baik. Kabar lo gimana?"


Suara Ranti terdengar serak dan lemah, aneh sekali kedengarannya. Anna mengernyit curiga. Firasatnya, pasti telah terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.


"Lo kenapa? Suara lo kok kedengarannya kayak tikus lagi kejepit gitu?" tanyanya sekalian berseloroh.


Ranti hanya tertawa kecil, itu juga seperti dipaksakan. "Lo mau curhat apa?"


Ranti hening sejenak, memunculkan berbagai spekulasi di otak Anna. "Tenggorokan gue sakit."


Yakin? Kayaknya itu cuma alasan. Namun, jika Ranti memilih untuk menyembunyikannya, Anna tidak akan mendesak.


"Oh. Em ... tapi nggak keberatan kan kalau gue curhat sekarang?"


"Enggak. Cerita aja."


"Ran...."


Tiba-tiba, Anna berhenti sejenak karena merasa sangsi untuk mengatakan prihal kehamilannya. Namun, bagaimanapun juga hal itu tidak selamanya sembunyikan. Lagipula, Ranti adalah sahabat yang bisa dipercaya. Jadi, ia tidak pernah merasa takut untuk berbagi cerita padanya.


"Ranti," ulang Anna, setelah mempersiapkan hatinya. "Gue lagi hamil."


Barulah, keluar suara Ranti. Ia berteriak kaget, sampai Anna menjauhkan ponsel dari telinganya. "Kok bisa?"


Anna terkekeh, kembali mendekatkan ponsel ke telinga. "Ceritanya panjang. Jadi, lo harus tahan rasa ngantuk, ya."


Semua kejadian dari awal, terkuaknya kehamilan Anna, sampai keputusan final Logan yang harus menikahinya diceritakan tanpa terlewat sedikitpun. Ranti mendengarkan dengan setia, tak menyela ucapan Anna sampai ceritapun usai diuraikan.


Ranti hampir tak percaya mendengarnya. Mulutnya ternganga di sepanjang cerita. Tidak menyangka temannya akan mengalami nasib unik dalam mendapatkan jodoh.


"Wah! Seberapa kerasnya kamu menghindar, pada akhirnya kamu menikah juga. Skenario Tuhan buat lo benar-benar antimainstream," komentar Ranti, sampai membuat Anna tertawa keras.


"Lebay lo! Yang kayak gue ada juga kali," sahut Anna setelah reda tawanya.


"Tapi, di balik kemalangan lo, terdapat sebuah keberuntungan. Gue kira, nasib Cinderella cuma hanya ada di sinetron doang."


Anna tertawa lagi. "Oh, jadi sekarang lo hobi juga nonton sinetron? Pasti racun dari ibu mertua lo."


Selorohan Anna sepertinya tidak membuat Ranti tertawa. Bukannya tidak lucu, tapi ada sesuatu hal yang membuat Ranti menimpalinya dengan tersenyum hambar.


Sudah cukup tertawanya, Anna jadi sakit perut dibuatnya. Ia menghela napas, termenung sejenak, baru berucap, "Ran, makasih udah dengarin cerita gue."


"Gue cuma bisa bilang, 'congrats' sama lo. Gue harap, pernikahan lo langgeng," timpal Ranti ceria.


"Amin. Tapi, kasih ucapan selamatnya nanti aja, gue bakal kirim undangannya ke rumah lo."

__ADS_1


Entah ada apa dengannya? Sejak tadi, Ranti kebanyakan terdiam terus dalam beberapa saat.


"Lo kasih tahu gue lewat WA aja. Gue bakal dateng."


Agak aneh mendengar ucapan itu. Semakin curigalah Anna padanya. Ia ingin menanyakan semua dugaannya. Tapi, kayaknya bukan untuk hari ini karena ia mendengar suara seseorang sedang berjalan menuju dapur.


"Udah dulu, ya. Nanti, gue kabarin lagi," kata Anna.


"See you," tutup Ranti.


...☘...


Elina menjemput mama dan Anna sekitar jam 11 pagi. Tadinya, mereka janjian jam 10, tetapi ditunda karena Elina ada keperluan mendesak. Mobil Porche hitam terparkir di depan rumah, mama langsung keluar untuk menyambut si pemilik mobil.


"Bu Elina, apa kabar?" sapa mama. "Ayo, masuk dulu."


"Aduh, maaf. Sepertinya, kita langsung pergi saja, yuk. Soalnya, teman saya yang punya butik itu ada urusan sekitar jam 1 siang," jawab Elina.


"Oh, ya sudah. Saya panggil Anna dulu, ya, Bu."


Bergegas mama kembali ke dalam rumah, memanggil Anna. Beberapa menit kemudian, Anna keluar dari dalam rumah bersama dengan mamanya.


"Anna? Apa kabar, Nak?" sapa Elina, ketika Anna mencium tangannya.


"Baik, Nyonya," jawab Anna, tetapi tersenyum tipis.


"Jangan panggil 'Nyonya' dong. Mulai sekarang, panggil saya dengan sebutan 'mama', oke?"


Terserahlah. Untuk membuat wanita senang, Anna menganggukkan kepala. "Iya, Mama."


Elina tersenyum semringah, begitu senang. "Yuk, masuk mobil!"


.


.


.


Mereka sampai di sebuah butik milik kenalan Elina. Kali ini, bukan butik yang sama dengan tempatnya membeli gaun untuk Nina. Elina ingin memberikan desain gaun baru untuk menghapus jejak Nina, yang hampir menjadi calon menantunya.


Elina memperkenalkannya pada seorang wanita bernama Ivon. Wanita seumurannya itu menyambut Anna dan calon besannya, lalu membawa mereka ke ruangannya.


"Elina, calon menantumu ini cantik banget. Pakai gaun model apa pun terlihat cocok," puji Ivon, setelah mereka duduk di sebuah sofa. "Aku punya banyak koleksi desain gaun yang bagus."


Ivon meletakkan sebuah buku desain yang diberikan oleh pegawainya. Ada banyak gambar desain di sana, tapi ia merekomendasikan 5 desain. Elina cukup tertarik dengan semua desain itu, hanya saja mama terlihat kurang suka.


"Bagaimana, Bu? Yang mana Ibu suka?" tanya Elina, memperlihatkan buku desain itu.


"Maaf, Bu," ucap mama pelan dan berhati-hati. "Kayaknya, saya penginnya Anna pakai kebaya saja."


"Kebaya? Tapi, Bu. Kalau Anna pakai kebaya, ia akan kesulitan berjalan." Elina berpendapat.


"Tapi, Bu. Kalau pakai gaun, takutnya Anna tersandung." Mama ngotot, tapi tetap bicara pelan tanpa menyinggung.


Ivon angkat bicara untuk menengahi. "Kita bisa ubah desainnya, kok Bu. Kalau pendapat calon pengantinnya bagaimana? Lebih suka yang mana? Gaun atau kebaya?"


Pandangan penuh harap dari ibu dan mama mertuanya mengarah padanya. Anna jadi bingung. Sebenarnya, ia tidak memasalahkan pakai yang mana saja. Toh, ia tidak menginginkan pernikahan ini.


"Em ... gimana kalau kita coba satu-satu? Mama pilih kebaya yang mama mau, mama Elina juga gitu," kata Anna, memutuskan.


Kedua wanita itu setuju. Keduanya langsung beranjak ke jejeran etalase gaun dan kebaya, sementara Anna duduk di tempatnya sambil mengobrol dengan Ivon.


Mereka sudah memilih dua kebaya dan gaun, kemudian kedua wanita itu memberikannya pada masing-masing pelayan untuk dibawa ke ruang ganti bersama dengan Anna sekalian.


.


.


.


Logan baru datang ke butik tepat pukul 12 siang. Elina menerornya terus dengan meneleponnya. Untung saja, rapat hari ini dilakukan lebih cepat dari yang dijadwalkan.


Elina beranjak dan tersenyum ketika Logan sudah berada di sini. Logan datang menghampirinya, menyapa Elina dan ibu mertuanya dan menyalami mereka.


"Logan, Anna sedang mencoba gaun pilihan Mama. Tolong, kamu kasih pendapat, ya?" kata Elina.


Baru saja Logan mengangguk setuju, pintu ruang ganti terbuka. Anna keluar dari ruang ganti dengan memakai gaun putih yang bagian rok depan hanya selutut, sementara bagian buntutnya panjang.


Elina dan mama menoleh. Senyum puas Elina terkembang. Segala bentuk pujian tersebut dalam hatinya. Ia mendekat pada Logan, yang juga tengah menoleh pada Anna.


"Bagaimana pendapat kamu, Logan?" tanyanya setengah berbisik. "Cantik, 'kan?"

__ADS_1


Entah dengar atau tidak, Logan terpesona begitu lama memandang penampilan Anna. Harus ia akui, bukan hanya gaunnya, Anna juga terlihat sangat cantik.[]


__ADS_2