Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Syarat Yang Tak Mudah


__ADS_3

Kemarin di ruang baca.


"Saya tidak tahu apa ini kabar baik atau buruk, seseorang ingin berinvestasi. Tapi...." Gery melirik ke arah lain, rasanya tenggorokan ini agak tercekat untuk melanjutkannya.


"Tapi apa?" Matthew mengernyit dan menegakkan badannya.


Gery menatapnya ragu. Hubungan antara keluarga Jonathan dengan keluarga si investor merenggang sejak skandal Logan dan Anna. Ia cemas jika Matthew akan berang jika ia mengungkapkannya.


"Jawab saja, Gery," desak Matthew gemas, merasakan ada hal yang membuat pria berkacamata itu menahan diri.


"Em ..." Gery menunduk. "Investor itu adalah Diana Tanuwijaya."


Jemari Gery bergerak gelisah, dan peluhnya bercucuran. Ia cemas jika kemarahan Matthew meledak. Namun, dugaannya meleset, Matthew masih tenang tapi tampak sedang berpikir keras.


"Kenapa Diana tiba-tiba..." gumam Matthew, dahinya mengernyit seraya melihat ke arah lain. "Apa tujuannya?"


...💍...


Apa-apaan ini? geram Logan dalam hati. Nina dan ibunya? Mereka investor yang dimaksud?


Logan melirik pada Matthew, tetapi ayahnya itu hanya menunduk diam tanpa berani menatapnya. Lantas, Logan menoleh pada Gery, yang juga menghindari tatapan Logan dengan menunduk.


"Hai, Logan. Apa kabar? Duduklah di sini," sapa Diana, menunjuk sebuah kursi yang ada di hadapan Nina.

__ADS_1


Logan menoleh dingin pada wanita itu sejenak, lalu kembali menatap Matthew. "Pa, jangan bilang kalau mereka...."


"Duduklah dulu," tukas Matthew, nada bicaranya terdengar tegas, tapi sebenarnya ia mengucapkannya dengan setengah hati.


Baik, Logan akan menurut meski merasa geram. Logan mengambil tempat duduk di sebelah Matthew, yang mana berhadapan dengan Nina.


Nina tersenyum lebar saat wajah tampan yang sangat dirindukan tepat di depan mata. Namun, Logan memalingkan wajahnya seakan tak sudi menatap Nina. Diana kesal dengan sikapnya itu. Tapi demi Nina, Diana berusaha tetap tenang dan ramah.


"Saya tahu, waktu itu saya sudah menghina keluarga Jonathan karena membatalkan telah membatalkan pernikahan akibat skandal Logan. Dan saya, mewakili keluarga untuk meminta maaf." Diana memulai.


Matthew tak tersenyum sedikitpun, bahkan tak menatap Diana ketika berkata, "Ya, kami sudah memaafkan, tidak perlu dipikirkan lagi."


Diana menatap Nina seraya tersenyum lega. "Ah, syukurlah. Kalau begitu, kita langsung saja membicarakan soal bisnis."


Diana menghubungi seseorang, lalu tak lama kemudian seorang pria muda masuk ke dalam ruangan ini, dan bergabung di samping Nina. Diana menyerahkan sebuah berkas yang tadi dibawa oleh sekretarisnya pada Matthew.


Matthew membacanya dengan teliti, dan lambat-laun mulai tertarik dengan proposal Diana karena di awal halaman tidak menunjukkan hal yang mencurigakan. Namun, ekspresinya mulai berubah kala Matthew membaca isi di bagian "syarat dan perjanjian".


Matthew menatap Diana seraya mengernyit marah, lalu menutup berkas dengan kasar. "Apa maksudnya ini?" sergahnya, melempar berkas di meja yang terbuat dari kaca keras.


Diana tersenyum mencemooh. "Seperti yang tertera di dalam, itu adalah syarat-syarat yang harus kalian penuhi jika perusahaan ingin saya berinvestasi."


Memangnya, syarat apa yang diajukan mereka, sampai papanya marah begitu? Penasaran, Logan meraih lalu membaca berkas itu.

__ADS_1


"Kau ingin aku menyuruh anakku menceraikan istrinya, lalu menikahkan Logan dengan Nina?" sahut Matthew keras, kemurkaannya naik ke ubun-ubun. "Kau seorang ibu. Bagaimana perasaanmu jika Nina di posisi Anna?"


Nina langsung kecewa mendengar ucapan Matthew. Digenggamnya tangan Diana, memelas seperti anak yang sedang merengek pada ibunya. Namun, Diana tersenyum dan mengangguk, mengisyaratkan pada Nina agar tenang.


"Tante, saya juga tidak bisa menyanggupi keinginan, Tante," timpal Logan, tetap tenang meski hatinya panas, seraya meletakkan berkas ke meja. "Pernikahan bukan permainan bisnis. Saya juga sangat mencintai istri saya."


Diana tersenyum menghina. "Apa yang bisa diharapkan dari istri yang tak bisa memberikan anak?"


"TANTE!" sela Logan membentak, sontak beranjak seraya menggebrak meja. "Anda tidak berhak menghina istri saya!"


Diana sama sekali tidak peduli, bahkan tak takut pada bentakan Logan. Ia menyuruh sekretarisnya mengambil berkas itu, lalu bangun dari tempat duduknya bersama dengan Nina.


"Saya sudah berbaik hati menawarkan bantuan pada kalian. Saya tidak rugi jika kalian menolak," kata Diana bernada menyindir.


"Bantuan dengan syarat seperti itu?" balas Logan murka. "Anda sama saja dengan lintah darat!"


Diana geram, tapi ditahannya karena tak ingin merusak keanggunannya. "Terserah. Tapi, sebaiknya kalian pikirkan lagi tawaran dari saya ini. Reputasi perusahaan kalian akan hancur, tidak akan ada investor yang mau bekerja sama dengan kalian."


Logan semakin tak sabar, rasanya ingin ia tabok mulut nenek sihir itu. Ia menggeram, dan akan maju seraya mengepalkan tangan. Tapi, tangan Matthew menghalangi tanpa mengatakan apa pun.


Diana pergi tanpa pamit, tersenyum menang seraya berjalan keluar dari ruangan. Setelah mereka lenyap dari balik pintu, Matthew menghela napas seraya kembali duduk di tempatnya. Logan yang sejak tadi menahan kemarahannya, menumpahkannya dengan berteriak seraya meninju meja.


"Mereka itu benar-benar...!" rutuknya geram.

__ADS_1


Matthew melirik muram pada anaknya. Kasihan Logan, hidup yang dihadapinya cukup berat untuknya saat ini. Ia sebagai ayah juga tak mampu menyelesaikan masalah ini.[]


__ADS_2