
Dua cangkir kopi dihidangkan di meja. Anna dan Nina saling bertatapan dengan berbeda ekspresi. Raut wajah Anna menegang, berbeda dengan Nina yang tengah tersenyum.
"Kau bilang, kau akan bicara jika kopinya sudah dihidangkan. Kalau gitu, mulai saja. Aku punya janji lain hari ini," kata Anna agak pedas.
Senyuman Nina semakin lebar. Tanpa menimpalinya, Nina mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. Anna melirik seraya mengernyit pada berkas itu.
"Bacalah," kata Nina, memberi isyarat dengan lirikan matanya.
Entah apa yang mau ditunjukkan, Anna melakukannya dengan setengah hati dan terpaksa. Ia membuka lembaran pertama seraya melirik sinis pada Nina sejenak. Lalu, ia membaca baris per baris, dan dilanjutkan pada lembar berikutnya.
Raut wajah Anna berubah serius, lambat laun dahinya mengernyit cemas. Setelah membaca semua isinya, Anna menatap Nina seakan sedang meminta penjelasan lebih lanjut padanya.
Tapi, Nina cuma mengatakan, "Ya, seperti yang kau lihat, perusahaan Logan dalam masalah."
Anna tercengang seraya berpikir keras menangkap maksud dari tujuan Nina. "Lalu, kenapa kau menunjukkan hal ini padaku?" tanyanya.
Pertanyaan bagus, dan timming yang tepat untuk menyudahi basa-basi ini. "Dan cara satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan adalah seorang investor yang akan menyokong dana untuk perusahaan."
Anna tahu soal itu. Tapi, yang ingin Anna dengar adalah, apa inti dari pertemuan ini. "Oke, aku paham. Lalu, apa hubungannya denganmu?"
Nina malah tertawa geli. "Ya ... seharusnya aku memang harus menjelaskan lebih detil. Jadi, perusahaan keluargaku ingin menjadi investor. Dana yang mereka butuhkan sangat banyak, tapi hal itu tidak masalah bagiku."
Anna mendengarkan dengan serius tanpa menyela. Namun, semakin arahnya jelas, Anna menduga sesuatu yang membuat hatinya berdetak tak tenang.
__ADS_1
Nina meletakkan jalinan jemarinya di meja, dan kembali menjelaskan. "Hmm ... di dunia ini, tidak ada yang gratis. Kami butuh jaminan atau sekadar balasan atas kebaikan hati kami. Jadi, kami membuat persyaratan."
"Persyaratan?" ulang Anna, alisnya naik sebelah.
Nina kembali mengeluarkan sebuah berkas, yang kemudian digeser ke hadapan Anna. Namun, Anna hanya meliriknya, perasaan takut menyergapi seolah di dalam sana terdapat sebuah kalimat yang mungkin menghancurkan hatinya.
...💍...
Anna merenung dengan tatapan lurus dan sendu. Secangkir kopi yang masih utuh tak lagi hangat. Nina sudah pergi sekitar 10 menit yang lalu, kini Anna menunggu temannya yang ingin bertemu dengannya.
Seorang wanita terburu-buru menghampiri mejanya. Dia langsung duduk seraya menyeringai malu. "Maaf, gue telat," katanya, grasak-grusuk meletakkan tasnya di meja.
Anna masih dalam posisi tadi. Wanita tertegun menyadarinya, lalu menjetik-jentikan jari beberapa kali seraya berseru.
Anna terhenyak, lalu menatap temannya yang baru disadarinya telah berada di hadapannya. Lantas, ia tersenyum kikuk dan menyapa, "Hai, Yerin. Maaf, tadi gue...."
"Lo kenapa? Kayak orang yang lagi kena masalah," celetuk Yerin seraya tertawa renyah.
Memang saat ini Anna sedang terkena masalah, yang bahkan lebih berat dari sekadar masalah ekonomi.
"Nggak kok, cuma tadi gue kepikiran sesuatu," jawab Anna berkecil hati.
"Apa yang mau lo pikirin lagi sih? Hidup lo udah enak, jadi istri dari anak pemilik perusahaan terbesar," celoteh Yerin, yang bahkan tidak tahu bahwa perusahaan ayah mertuanya tak sejaya dulu.
__ADS_1
Anna tersenyum tipis menimpalinya, tak mau membahas soal kesulitan yang sedang dialaminya. "Oh, ya? Mana si kecil Sultan? Lo tinggalin?" tanya Anna, ketimbang memilih mengalihkan topik.
Yerin selalu bersemangat jika membicarakan soal pangeran kecilnya yang gemuk dan imut itu, tepat sekali untuk mengawali obrolan reuni mereka. "Dia di rumah. Dia udah bisa jalan lho!"
Anna tersenyum getir. Kehidupan Yerin yang bahagia, apalagi memiliki seorang anak yang tampan kadang membuat Anna iri. "Coba bawa dia ke sini? Gue kan juga mau gendong," timpal Anna, mengubah mimik muramnya dengan senyuman riang.
Di sinilah, Yerin baru ingat kalau Anna baru saja keguguran. Ekspresinya berganti iba saat itu juga. "Maaf, ya, Anna. Gue nggak seharusnya sesenang itu waktu ceritain soal Sultan," gumamnya tidak enak hati.
Malah Anna yang merasa tak enak pada Yerin. Ia paham, temannya itu tak bermaksud menyinggungnya. "Apaan sih? Lo nggak salah apa-apa. Lagian, gue yang mulai duluan ngomongin Sultan," seru Anna, berpura-pura kesal. Lagi, berpikir cepat untuk mengalahkan topik pembicaraan. "Eh, iya! Gue lihat status WA lo. Itu ... beneran perusahaan suami lo lagi nyari karyawan dibagian devisi pemasaran?"
Mata Yerin membulat. "Eh, iya, bener. Emang kenapa?" sahutnya polos, lalu tersenyum menggoda Anna. "Jangan bilang, lo mau lamar kerja di sana?"
Anna hanya tersenyum kikuk, tak menjawab karena tak ingin Yerin menaruh curiga jika jawaban yang keluar dari mulutnya terucap asal. Makanya, ia mengalihkan sikap dengan menyeruput kopinya dulu, lalu perlahan mengubah sikapnya menjadi tenang.
"Ya. Siapa tahu, gue bisa rekomenin ke teman yang lain," jawab Anna, seperti yang diharapkan, sikapnya normal dan santai seraya meletakkan cangkir di meja.
"Oh. Ya udah, boleh aja kok. Cari orangnya yang kerjanya cakap, ya? Gue bakal usahain supaya dia bisa mudah dapat pekerjaan di sana," timpal Yerin, tak curiga sedikitpun.
Jika Yerin tahu, Anna lah yang membutuhkan pekerjaan itu. Hatinya yang bimbang, membuatnya mengambil sebuah keputusan berat yang menurutnya tepat.
Waktu Anna tahu bahwa dirinya tak bisa hamil, ia memang sudah menyerah pada pernikahan ini. Tak ada harapan lagi untuk mempertahankan, meski landasan cinta mereka kuat. Yang dibutuhkan Logan adalah uang dan seorang penerus.
Seperti yang Nina bilang tadi: "Hanya aku, yang bisa memberikan semua itu pada Logan."[]
__ADS_1