
Serius, pria ini mau menciumnya di sini? Apa yang harus Anna lakukan? Tetap tak bergerak? Namun, kenapa pikirannya ingin melawan? Rasanya, tangannya ingin mendorong pria itu menjauh. Hanya saja, tidak ia lakukan. Jemarinya terkepal, berusaha menahan diri untuk tidak menolak keinginan pria itu.
Akan tetapi, kenapa malah jantungnya berdetak semakin tak keruan, ya? Bukankah Anna tidak menyukai pria ini?
Sepertinya, yang menunggu momen itu terjadi cukup banyak. Gadis-gadis muda yang mengapit mereka tersipu, bergumam "so sweet", memuji pasangan baru itu.
Namun, detik mendebarkan tak terjadi, Logan hanya mengusap-usap bibir Anna sambil bergumam, "Kayak anak kecil, makan masih berantakan."
Anna mendelik tajam, rasanya pengin dijitak aja cowok ini. Apa pria itu tahu kalau jantung Anna hampir mau copot? Seenaknya saja Logan mempermainkannya!
Lalu, Logan pun menjauhi wajahnya dari Anna, membuat gadis-gadis itu menghela napas kecewa. Dikira mereka akan menonton tayangan gratis kemesraan pasangan ini. Pikir mereka, mungkin Logan merasa malu mencium Anna di depan orang banyak.
"Ada yang punya tisu?" tanyanya pada teman-teman Tasya. "Beri saya dua helai."
Seorang gadis berkerudung putih yang memberikannya. Logan mengambil 2 helai tisu, kemudian yang sehelai untuk mengelap bibir Anna.
Namun, saat Logan akan mengarahkan tisu ke bibirnya, Anna beringsut dengan ekspresi kesal sambil berbisik agak ketus, "Nggak usah, biar saya saja."
Logan mendecak, dengan sigap menjauhkan jangkauan Anna. "Berisik!" bisiknya.
Anna mendengus, pasrah akhirnya, membiarkan pria itu mengelap bibirnya dengan pelan dan lembut. Namun, Logan malah kembali terjebak dalam sensasi yang dilakukannya itu.
Bibir wanita itu ... benar-benar menyihirnya! Dengan susah payah Logan menahan diri agar tidak tergoda untuk menciumnya. Untuk keluar dari jebakan hasrat itu, maka Logan buru-buru menyudahinya.
Wajah tak senang terlihat pada wajah Anna. Dramatis?! Pria itu sengaja melakukan hal itu untuk menarik simpati para tamu undangan. Muak rasanya! Padahal, ia sempat menahan napas tadi.
Logan sudah selesai mengelap bibirnya. Anna buru-buru memutar tubuhnya ke hadapan para tamu, sementara Logan membersihkan tangannya dengan tisu yang satunya. Saat Logan mengelap, tidak sengaja lirikan matanya mengarah pada Kenan. Ia tersenyum mencemooh sambil berkata dalam hati: "Apa kamu lihat itu, Kenan?"
Kenan memang melihatnya, ekspresinya berubah kesal dengan rahang mengeras dan kepalan tangannya yang menguat. Hatinya benar-benar membara tadi. Siapa yang tidak cemburu melihat gadis yang disukai bermesraan dengan sahabatnya?
Namun, apa daya? Kenyataannya, gadis itu bukan takdirnya. Tak tahan melihat mereka, ia memilih pergi dari sana dan tidak akan kembali ke dalam pesta. Melihatnya beranjak, Logan tersenyum menang.
Sesi foto bersama dilakukan setelah itu. Skenario pernikahan dramatis berlangsung cukup lama bagi Anna. Apa bisa segera disudahi saja? Apa ia pura-pura pingsan saja supaya pesta ini cepat selesai?
...☘...
London, pukul 13.00
Puding cokelat dengan fla meleleh di atasnya terhidang di sebuah meja, lalu disusul secangkir teh yang asapnya masih mengepul di udara. Seorang pelayan wanita berwajah bule tersenyum sambil menunduk sedikit. Dia berkata dengan Bahasa Inggris pada pelanggan itu:
"Selamat menikmati."
Wanita itu mengulum senyum tipis, dan menjawab dengan bahasa yang sama, "Terima kasih."
Pelayan itu pergi setelahnya. Jemari Nina mengarah pada telinga cangkir, tetapi ia malah mematung sambil melirik puding dengan tatapan sendu. Kemudian, ia menghela napas, mengalihkan pandangan pada jendela restoran.
Meski kehidupannya sudah mulai tenang, apalagi keberhasilannya mendapatkan kemenangan yang diinginkan, pikiran Nina masih tertuju pada Logan.
Selama 3 tahun menjalin hubungan, tidak akan mudah bagi seseorang untuk melupakan dalam waktu hampir sebulan. Kadang, masih saja terlintas kenangan manis yang membuat air matanya meleleh. Jika rindu meradang, yang dilakukannya adalah menatap foto-foto yang tersimpan di ponsel, atau mengintip akun Whatsapp—melihat kapan terakhir Logan terlihat di aplikasi itu.
Nina terkesiap. Melamun hanya akan memenuhi otak dengan bayangan mantan. Maka dari itu, ia mengalihkan perhatiannya ke arah lain seperti menyesap teh yang mulai dingin, mencicipi manisnya puding, atau melihat media sosial.
Ia teringat pada foto kemenangannya yang di-posting di Instagram. Itu adalah hal yang membahagiakan dan membuat senyumnya mengembang. Apalagi, postingan itu telah disukai oleh para followers-nya, mendapat pujian dan serta ucapan selamat.
Namun, sebuah foto memudarkan senyumnya, foto terakhir yang diabadikannya dengan Logan. Ia mengetuk foto itu, memunculkan beberapa buah akun yang ia tandai di foto. Salah satu akun yang ia tandai adalah akun Logan.
Jarinya membeku. Ia mulai terhasut sedikit, tapi tidak begitu berhasil karena masih ragu. Ia menghela napas, meletakkan jemarinya di meja, lalu termenung lagi hanya beberapa saat karena hatinya mulai menggelitik untuk melirik ponsel.
__ADS_1
Prinsip tetap prinsip! Nina melipat kedua tangannya di dada, melawan keinginan hati, dan tetap bergeming sampai layar ponsel meredup. Bagaimanapun juga, pertahanan yang selama ini ia lakukan dalam sebulan untuk melupakan Logan tidak boleh runtuh. No way!
Tapi, apa iya?
Ia kembali melirik, meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Apa salah kalau cuma mau tahu kabarnya? Tapi, Logan kan jarang posting. Pasti tidak akan ada apa pun di akunnya."
Tawa cemoohannya itu hanya untuk membantah kalau yang dilakukannya bukan karena rasa rindu atau penasaran, melainkan karena hanya ingin sekadar tahu.
"Tapi, siapa tahu kalau dia posting kabar terbarunya?" gumamnya lagi, tergoda pada akhirnya.
Baiklah, hanya untuk mengetahui kabar. Kalau tidak ada postingan, ia akan berhenti mengintip akunnya Logan. Ia memasang wajah biasa, seakan memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja. Ternyata, akun itu memposting beberapa buah foto yang memperlihatkan keadaan sebuah pesta yang meriah.
Nina membeku, tangannya bergetar saat melihat sebuah foto yang memperlihatkan Logan sedang berfoto dengan seorang pengantin wanita. Jantungnya berdetak tak beraturan, hatinya seperti dihantam oleh sesuatu—berdenyut, begitu perih. Apa ini foto pernikahan Logan?
Dari tanggalnya, terkirim malam ini waktu Indonesia. Bukan hanya foto itu, 5 foto lainnya di-posting di waktu yang sama. Keteguhan hatinya runtuh, air mata meleleh di pelupuk matanya.
Ia belum melihat sepenuhnya dari postingan itu, jadi belum memastikan bahwa apa yang dipikirkan benar atau tidak. Akan tetapi, ia tidak berani untuk melihatnya. Tidak bisa menerima kenyataan bahwa Logan bukan miliknya lagi.
Nina melempar ponselnya di meja, menutup mulut, menangis keras tanpa suara. Dadanya yang terasa sakit ditepuk-tepuknya agar sakitnya mereda, walau ia tahu hal itu tidak akan berhasil.
Baru saja layar ponsel mati, ada notifikasi yang masuk dari Tita. Gadis itu kembali ke Indonesia karena ada urusan. Pesan Whatsapp ini, apa pertanda bahwa Tita akan kembali ke London?
Lantas, ia berhenti menangis, memeriksa pesan itu. Seperti biasa, gadis itu menanyakan kabarnya. Sebelum ia mengetik pesan, disekanya dulu air matanya.
"Baik. Gue lagi makan," balasnya.
"Bagus deh! Habis itu, istirahat, oke. Gue bakal balik ke London secepatnya."
Balasan dari Tita, setidaknya mengobati hatinya. Sudah seminggu gadis itu meninggalkannya sendirian di London.
"Gimana di Jakarta? Ngapain aja lo?"
Nina yakin, yang dimaksud Tita pasti Logan. Mungkin Tita diundang ke pernikahan Logan, tapi dia tidak memberitahukannya karena tidak mau menyakitinya. Terlambat, hati Nina sudah hancur lebur. Ia sudah keburu tahu.
Tangisnya kembali pecah. Sambil menangis, ia membalas pesan Tita. "Jangan ghibahin orang terus. Udah, cepat balik ke London, gue butuh elo nih."
"Iya, bawel!"
Nina tak membalas lagi, percakapan mereka berakhir. Puding di atas piring tinggal setengah, teh di cangkir juga sudah dingin. Nafsu makannya juga hilang, tak ada niat untuk menghabiskannya. Lalu, Nina mengambil tas dan ponselnya, meninggalkan restoran sambil menangis.
...☘...
Pesta usai, Anna dan Logan dibawa ke kediaman keluarga Jonathan. Logan dan Anna tercengang saat memasuki sebuah ruangan.
Kamar yang tadinya ditempati oleh Logan, disulap menjadi kamar pengantin penuh bunga, cahaya remang, dan lilin. Mereka penasaran, ide siapa ini?
"Norak!" gumam Logan dingin, lalu berjalan menuju ranjang, menghempaskan kelopak bunga mawar yang menghiasi selimut. Anna dengan canggung menghampiri sebuah sofa, lalu duduk di sana.
"Pak—eh, maksudnya Logan. Apa Anda punya handuk lagi?"
"Ada di dalam lemari," jawab Logan, kini sedang berbaring sambil memijat batang hidung.
"Saya duluan yang mandi, ya?"
"Terserah."
Anna mencari sebuah handuk yang ada di lemari yang begitu besar, dengan empat pintu. Ia menoleh karena ada yang mengetuk pintu.
__ADS_1
"Siapa sih?" gumam Logan merasa terganggu, lalu spontan beranjak untuk membuka pintu.
Ternyata, yang di balik pintu adalah Elina. Tampak ia membawa beberapa helai pakaian wanita. Lantas, ia masuk ke dalam kamar, menghampiri Anna sambil berkata:
"Ini baju ganti buat kamu."
Pas sekali! Anna dengan senang hati menerima. Ia memang membutuhkan baju ganti karena pakaiannya belum dibawa ke sini.
"Terima kasih."
"Maaf, kalau saya memberikan baju-baju bekas saya waktu masih muda," kata Elina tampak tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, kok, Nyonya ... maksud saya Mama. Baju ini kelihatan masih bagus."
"Iya, saya jarang memakainya." Elina tersenyum senang. "Dan Anna, mulai sekarang, kamu harus terbiasa panggil saya Mama. Kalau begitu, Mama permisi. Selamat istirahat."
"Selamat malam, Ma," sapa Logan.
"Malam," balas Elina, lalu lenyap di balik pintu kamar.
Anna membawa pakaian-pakaian itu ke sebuah sofa, memilih pakaian yang nyaman untuk dipakaianya. Namun, dahinya semakin mengkerut dan tercengang saat melihat-lihat pakaian-pakaian itu.
"Lingerie?" gumamnya heran, merentangkan pakaian itu di depan wajahnya.
Logan yang sejak tadi memperhatikannya, sengaja tertawa agak keras. "Aku tidak percaya mama mengusulkan pakaian itu untukmu."
Elina berpikir bahwa Anna dan Logan akan melakukan malam pertama sejak menikah. Anna tidak mau pakai ini. Dengan wajah masam, ia singkirkan pakaian itu ke dalam lemari.
Logan kembali terkekeh, lalu beranjak menuju lemari. Entah apa yang dicarinya, Anna tidak tahu dan tidak mau tahu. Ia sudah pusing karena tak ada pakaian yang bisa dipakainya. Lebih baik, ia mandi.
Di dalam kamar mandi, ia mulai membuka gaunnya. Namun, sulit sekali meraih retsleting yang ada di bagian belakang.
"Percuma. Apa aku minta bantuan sama Logan, ya?" gumamnya sambil berpikir keras. "Tapi...."
Dibukannya pintu kamar mandi perlahan, melongokkan kepala, mencari keberadaan Logan. Ternyata pria itu sedang berbaring di ranjang, tapi dia beranjak karena mungkin mendengar suara derit pintu.
Logan memandang tanpa ekspresi, lalu bertanya, "Apa yang kamu inginkan?"
"Maaf, tapi bisa tolong bukakan retsleting gaun saya?"
Logan mendecak. "Memangnya tidak bisa buka sendiri?"
"Kalau saya bisa, saya nggak akan minta bantuan Anda."
Logan menghela napas, berjalan sambil merutuk di dalam hati. Ia menyuruh Anna untuk berbalik, lalu mulai menurunkan retsleting gaun itu.
"Buka sedikit saja. Nanti, sisanya saya sendiri yang buka."
Seakan tak mendengar, Logan malah menurunkan retsleting
sampai ke bawah. Matanya mendelik, tertegun melihat punggung Anna yang mengingatkannya pada kejadian malam di kapal pesiar.
Ia menarik tangannya dengan tiba-tiba, terhenyak. Bergegas ia berbalik untuk menyembunyikan pipinya yang memerah sembari berkata agak gugup, "Sudah saya buka."
"Oh, terima kasih." Bergegas Anna masuk ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintu.
Logan memegangi dadanya. Kenapa detak jantungnya kencang lagi? Sewaktu di pelaminan, hal sama juga dialaminya. Bibir dan punggung Anna membuatnya teringat pada kejadian itu, lalu membangkitkan gairahnya.
__ADS_1
"Gila!" rutuknya, bergumam sangat pelan sambil berjalan ke arah ranjang. "Bisa-bisanya pikiran kotor itu melintas di kepalaku!"
Tidur dengan Anna? Logan menatap ragu pada ranjang, lalu menghempaskan pikiran itu. Tidak! Malam ini tidak akan terjadi apa pun di ranjang ini![]