Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Datang lagi yang lain


__ADS_3

Kenan keluar dari gerbang bandara seraya tersenyum. Senangnya kembali ke Jakarta! Ia mendongak, menatap langit cerah kota.


"Malas pergi ke kantor. Lagian, udah siang. Apa makan siang aja sama Logan?" gumamnya seraya melirik arlojinya.


Mobil yang dikirim untuk menjemputnya datang. Sopir keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuknya. Akan tetapi, Kenan tetap bergeming, malah mengulurkan tangannya pada sopir.


"Pak, berikan kunci mobilnya sama saya," katanya, sopir itu tercengang. "Saya mau berkendara sendiri, ada teman yang mau saya kunjungi."


Tanpa banyak tanya, sopir itu mempersilakan Kenan menuju ke kursi pengemudi. Kenan memberikan beberapa lembar uang kertas pada sopir itu. Katanya untuk ongkos pulang, sekalian upahnya membawa barang-barang bawaannya.


...💍...


Anna membuka pagar seraya menelepon Logan. Ia mendecak karena Logan tak mengangkat teleponnya. Meski begitu, ia tak kesal. Pikirnya, mungkin suaminya sedang sibuk.


"Ya udah, pesan taksi online aja deh!" gumamnya.


Anna memainkan ponsel sembari berjalan keluar dari area perumahan. Ia memutuskan untuk menunggu driver di depan gapura perumahan.


Sebentar lagi, ia akan mencapai tempat itu. Sebuah mobil Fortuner warna putih tengah melewati gapura, tapi Anna tak menyadarinya, terus berjalan seraya memainkan ponsel.


Namun, mobil itu tiba-tiba berhenti di sampingnya. Si pemilik mobil membunyikan klakson, sontak Anna terhenyak dan menoleh.


Anna memperhatikan mobil itu dengan seksama. "Mobil siapa ini? Perasaan aku belum dapat driver," gumamnya heran.


Dan Anna akan segera mengetahuinya begitu jendela mobil itu diturunkan. Terlihatlah seorang pria tampan berkulit putih yang tampak tak asing di kursi pengemudi.

__ADS_1


Pria itu tersenyum seraya melambaikan tangan. "Hai, Anna. Apa kabar?" sapanya.


Ini kejutan yang tak pernah diduganya. Kenan yang berbulan-bulan lalu di Amerika kini sudah kembali. Anna tersenyum riang, mendekati mobil itu seraya membalas sapaan Kenan.


"Baik banget. Kabarmu bagaimana, Kenan? Terus, kapan balik ke Jakarta?" cecar Anna.


Kenan tertawa renyah. "Masih bawel aja, sama kayak yang dulu," sahutnya berseloroh. "Aku baik-baik aja. Baru aja sampai. BTW, kau mau ke mana?"


"Mau ke rumah orangtuaku," jawab Anna polos, suara notifikasi mengalihkan pandangannya pada layar ponsel. "Oh! Driver-nya udah dapat. Aku jalan dulu, ya?"


"Cancel aja, biar aku yang mengantarkanmu," timpal Kenan cepat, menghentikan gerakan Anna.


"Em ... gimana, ya?" gumam Anna ragu sambil menggosok-gosokkan lengannya. "Emang kau mau ke mana? Takutnya, nggak searah."


Dering notifikasi dari ponsel Anna berbunyi lagi, spontan keduanya melirik pada ponsel itu. Kenan terkekeh, lalu berkata, "Cancel aja driver-nya dulu, kasihan kalau di-PHPin driver-nya. Nanti aku ceritain sambil jalan."


Kenan memutar setir mobil kembali keluar dari area perumahan dengan melewati gapura. Seraya mobil melaju, Kenan mulai cerita tentang hal-hal yang dilakukannya selama di New York, dan memberitahukan alasannya berada di perumahan tadi.


"Iya, aku mau mengunjungi rumah Logan. Eh, ternyata dia nggak di rumah," pungkas Kenan, mengakhiri ceritanya.


"Sekarang kan hari kerja, dia memang nggak di rumah," timpal Anna.


"Aku pikir dia belum kembali bekerja pasca kecelakaan...." Kenan terhenyak, menyadari celetukkannya membuat Anna mengingat hal menyedihkan yang terjadi pada Anna.


Soal kecelakaan Anna dan Logan, Kenan telah mengetahuinya dari ayahnya, yang merupakan pengacara sekaligus teman Matthew. Kembalinya Kenan ke Jakarta bukan lantaran ingin menjenguk Logan dan Anna, tapi murni karena pekerjaannya di New York sudah selesai.

__ADS_1


Namun, ia tetap menyayangi sahabatnya itu, makanya ia langsung ke rumah Logan dengan maksud menjenguk Anna dan Logan.


"Maaf, ya?" gumam Kenan kemudian, melirik sekilas pada Anna yang tengah menunduk muram. "Aku nggak maksud menguak lukamu."


Anna tersenyum getir. "Jadi kau juga sudah tahu soal itu, ya?" gumamnya lirih. "Nggak apa-apa, kau tidak perlu minta maaf."


Hanya saja, Kenan masih merasa bersalah. "Tapi, kau jadi teringat pada bayimu."


"Iya, sih." Anna mengangguk, lalu mengangkat kepalanya dan menatap Kenan seraya tersenyum. "Tapi, aku baik-baik saja. Bagaimanapun juga, kenangan buruk tidak bisa dihapus."


Anna selalu menunjukkan ketegarannya, walau Kenan tahu bahwa hati gadis itu tengah rapuh. Ia tak mau membahas hal itu lagi, mengalihkan topik pembicaraan lain selama perjalanan.


...💍...


Logan berlari menuju tempat parkir begitu keluar dari lift. Nina ditinggalkan di tempat semula dengan hati hancur, sebab Logan lebih memilih istrinya dibandingkan Nina.


Terburu-buru ia melajukan mobilnya tanpa melihat pesan yang baru masuk ke ponselnya. Ia mengemudi dengan resah, tatapanya terbelah antara ke jalan dan arloji di tangannya.


Anna pasti menunggunya, cemasnya dalam hati.


Sekitar 15 menit, ia sampai juga di depan rumah. Tak terlihat sosok Anna sedang menunggu di sana. Maka, Logan mengambil ponselnya, akan menghubungi Anna.


Namun, ia urung kala melihat pesan yang dikirim Anna sejak tadi di layar ponselnya. Ia mengernyit membaca pesan dari istrinya yang berisi:


"Logan, apa kau sibuk? Nggak apa-apa, aku pergi sama Kenan. Tapi, nanti kalau kau sempat, jemput aku di rumah orangtuaku, ya? Hubungi aku dulu kalau kau sempat menjemputku nanti, ya? Love you."

__ADS_1


Logan meremas ponselnya kuat. Kenan. Bagaimana dia bisa bertemu dengan Anna? Bukannya dia akan menetap di Jakarta? Jangan bilang, kedatangannya kemari untuk merebut Anna?[]


__ADS_2